The Legend Of Chunfei

The Legend Of Chunfei
FRAGMEN 67: BERMAIN TRIK



“Aku ingin menangkapnya,” ucap Permaisuri Yi.


Ibu Suri menyesap aroma tehnya dengan pelan. Dia setuju pada rencana menantunya, namun dirinya khawatir kalau itu akan berbalik menyerang Permaisuri Yi. Saat ini, Wei Linglong bukanlah seorang wanita biasa yang bisa dihadapi hanya dengan gertakan dan trik kecil. Wanita itu seperti ular yang licin dan sulit ditangkap, lalu bisa menggigit kapan saja.


Dia juga mendengar kabar kalau Kaisar Mingzhu sakit dan dirawat di Istana Fenghuang. Ini adalah kesempatan emas untuk melemahkan dia dengan cara mematahkan salah satu sayapnya. Jika Wei Linglong masuk penjara, maka Murong Qin bisa dengan mudah dia kendalikan karena Ibu Suri yakin kalau sang kaisar akan melakukan apapun untuk menyelamatkannya.


“Aku setuju. Tapi, apakah kau sudah mempertimbangkannya dengan matang?” tanya Ibu Suri.


Permaisuri Yi tersenyum misterius.


“Tentu. Jika tidak, aku tidak akan berani meminta Yang Mulia datang ke sini,” jawab Permaisuri Yi begitu yakin.


Di dalam istana ini, tidak boleh ada wanita yang lebih kuat daripada dia atau Ibu Suri. Meminjam tangan kaisar untuk menjatuhkan lawannya adalah salah satu cara terbaik yang bisa dilakukan saat ini. Cara ini lebih baik ketimbang menyuruh seseorang untuk membunuh Wei Linglong secara langsung. Tidak perlu bukti, hanya dengan perkataan saja semuanya bisa diselesaikan.


“Aku sudah bertekad. Karena aku tidak bisa mendapatkan Yang Mulia, maka tidak seorang pun yang bisa mendapatkannya,” tegas Permaisuri Yi.


Ada keyakinan yang begitu dalam dalam perkataannya. Permaisuri Yi sudah bertekad. Dia akan melakukan apapun untuk menyingkirkan seseorang yang menghalangi jalannya dan mengganggu kenyamanannya. Lebih baik tidak seorang pun bisa memiliki Murong Qin karena di dunia ini hanya dia yang boleh bersama pria itu meskipun tidak pernah dianggap.


“Baik. Ikuti saja rencanamu,” putus Ibu Suri.


Entah cara ini akan berhasil atau tidak, semuanya bergantung pada kemampuan Permaisuri Yi sendiri. Ibu Suri hanya bisa melindunginya dari belakang, tidak bisa terjun secara langsung karena dia tidak bisa berkonfrontasi secara langsung dengan kaisar. Jika Permaisuri Yi berhasil, maka jalan di depan sana akan dipenuhi dengan bunga. Namun jika gagal, maka jalan di depan sana hanya bisa dilalui dengan kaki berdarah-darah.


Permaisuri Yi menyiapkan rencana untuk memfitnah Wei Linglong. Dia memanfaatkan situasi Yang Mulia Kaisar yang sedang sakit untuk menjatuhkannya. Segala sesuatu tentang kaisar adalah hal yang besar. Jika seseorang menyembunyikannya, maka itu adalah sebuah pelanggaran. Selama Murong Qin tidak sadar, maka pergerakan Permaisuri Yi akan lebih mudah.


“Xiaoyao, siapkan pengawal. Ikut aku ke Istana Fenghuang sekarang!”


Permaisuri Yi bergegas menuju Istana Fenghuang bersama beberapa pengawal. Langkah kakinya begitu cepat. Orang-orang yang melihatnya mungkin menganggapnya sebagai seorang iblis wanita yang kejam hendak menindas iblis kecil yang lemah. Kilatan kemarahan bercampur dengan senyum misterius tergambar di wajah yang cantik tersebut. Keanggunannya menyapu setiap mata yang memandangnya dengan takut.


“Salam kepada Permaisuri,” ucap para pelayan yang berpapasan dengannya.


Ketika sampai di Istana Fenghuang, Permaisuri Yi langsung masuk tanpa mengindahkan peringatan para penjaga pintu gerbang yang mengatakan bahwa Permaisuri Yi tidak bisa masuk tanpa izin Kaisar Mingzhu. Sang permaisuri menerobos masuk ke dalam istana sambil berteriak memanggil Wei Linglong dengan kasar.


“Selir Chun, keluar sekarang!”


Wei Linglong yang sedang mengelap wajah Murong Qin terkejut. Di istana yang damai ini, mengapa tiba-tiba ada penyihir yang begitu berisik?


Begitu Permaisuri Yi tiba di dalam kamarnya, Wei Linglong langsung diseret dan disuruh berlutut di lantai tanpa melihat situasi terlebih dahulu. Wei Linglong menggeram kesal karena ditarik dan dipaksa dengan begitu kasar. Selama ini, dia tidak pernah mendapatkan kekerasan fisik seperti ini. Namun, Wei Linglong mencoba untuk bersabar agar dia bisa melihat sejauh mana wanita gagak di hadapannya akan bertindak.


Permaisuri Yi duduk di pinggir ranjang. Wajah Murong Qin yang terpejam membuat tatapan matanya yang ganas sedikit melembut. Perlahan, tangannya terulur untuk mengelap sisa air yang belum kering. Kemudian, tatapan matanya kembali ganas dan tajam. Permaisuri Yi tidak menyangka kalau Kaisar Mingzhu yang dicintainya akan sakit separah ini.


“Selir Chun, kau benar-benar berani!” seru Permaisuri Yi.


Wanita itu mendekat, lalu menampar pipi kiri Wei Linglong dengan keras. Wei Linglong hanya tertawa meremehkan.


“Permaisuri, apa kau sudah gila?” tanya Wei Linglong.


“Kau yang gila! Selir Chun, apa kau pikir kesalahamu kecil?”


“Memangnya apa kesalahanku? Merawat Yang Mulia?” tanya Wei Linglong dengan wajah menantang.


Sang Permaisuri semakin marah. Dia kembali menampar pipi Wei Linglong.


“Menyembunyikan penyakit Yang Mulia Kaisar dan menahannya di istana sendiri, apa kau pikir itu adalah kesalahan kecil? Jika sampai terjadi sesuatu pada Yang Mulia, seluruh negeri ini akan menanggung penderitaan! Kau yang akan menerima seluruh hinaan itu!” seru Permaisuri Yi berapi-api.


Dasar bodoh, teriak Wei Linglong dalam hati.


Jika dia tidak memiliki persiapan, mana mungkin dia membiarkan Permaisuri Yi datang ke sini dan menamparnya dua kali. Ini hanyalah permulaan. Permaisuri Yi sungguh tidak tahu kalau tamparannya yang keras ini akan berbalik kepadanya dua kali lipat. Wei Linglong masih tersenyum meremehkan, dia menertawai kebodohan Permaisuri Yi.


“Memang benar-benar gagak yang belindung pada perkutut!” ucap Wei Linglong. Wanita itu kemudian tertawa sangat keras.


“Apa katamu?”


Permaisuri Yi ingin sekali mencabik-cabik wanita yang ada di hadapannya dan menghancurkannya hingga berkeping-keping. Di saat seperti ini, wanita yang dibencinya malah tetap tenang dan berani menertawakannya. Dia pikir dia siapa? Apa dia punya sembilan nyawa? Hah, Permaisuri Yi benar-benar dibuat geram.


“Apa kau tidak menyayangi nyawamu lagi? Di istana ini, kau hanya seorang selir rendahan yang tidak punya dukungan. Untuk apa melawanku mati-matian? Oh, apa kau mencoba memanfaatkan Yang Mulia agar kelak kau bisa menjatuhkanku? Selir Chun, aku tidak bodoh. Aku adalah permaisuri bangsa ini, apa yang tidak bisa aku lakukan?” tambah Permaisuri Yi.


“Aku rasa kau sama bodohnya dengan Wei Hongxue. Keturunan keluarga Wei benar-benar memiliki takdir buruk!”


“Benarkah? Bukankah dia berhasil memberikan seorang pangeran untuk kekaisaran ini? Permaisuri Yi, lalu apa yang sudah kau berikan untuk Yang Mulia selain berpura-pura baik dan bersandiwara setiap saat?” tanya Wei Linglong. Dia sebenarnya sudah sangat marah karena sang permaisuri menyinggung nama sepupunya yang telah meninggal itu.


“Jangan kau pikir karena Yang Mulia menyukaimu, kau bisa terbebas dari hukuman? Selir Chun, jika kau berpikir demikian, maka kau salah besar. Aku adalah penguasa harem, penguasa pengadilan wanita. Kau adalah wanita istana, jadi kau tidak akan bisa melepaskan diri dari kuasaku,” Permaisuri Yi mencoba mengintimidasi Wei Linglong.


Wei Linglong memutar bola matanya karena malas. Trik mengancam dengan kekuasaan, sungguh sangat membosankan. Apa Permaisuri Yi tidak punya trik lain untuk menjatuhkannya? Wei Linglong sudah hatam perkara hal seperti itu. Jadi, dia tidak akan membuang-buang tenaga untuk meladeni wanita bodoh di hadapannya.


“Apa Permaisuri Yi sudah salah paham? Aku tidak pernah mengandalkan perlindungan dari Yang Mulia. Aku berdiri di atas kakiku sendiri, aku tidak membutuhkan orang lain untuk menyokongku. Sebaliknya kau, Permaisuri. Kau mengandalkan keluargamu yang kuat di pemerintahan dan bekerja sama dengan Ibu Suri untuk memperkuat posisimu, kau benar-benar lintah penjilat yang licik!” seru Wei Linglong.


Permaisuri Yi mengepalkan tangannya. Baik, wanita ini memang tidak mudah dihadapi. Di saat seperti ini pun, wanita itu masih bisa memprovokasinya. Permaisuri Yi sudah memendam terlalu banyak kebencian, tidak ada celah kosong yang bisa tenang di dalam hatinya. Setiap inci perasaannya adalah keinginan untuk balas dendam dan membalas sakit hati yang selama ini dia terima.


“Kenapa? Permaisuri marah? Ayo marah! Marah dan hukum aku agar semua orang tahu kalau seorang permaisuri Dinasti Yuan membunuh seorang selir kecil untuk mempertahankan posisi dan membalas sakit hatinya. Ayo! Bunuh aku agar hatimu puas dan kau bisa


“Wanita sialan!” Hardik Permaisuri Yi.


Xiaoyao memperingatkan bahwa tujuan mereka datang ke sini adalah untuk menangkap Selir Chun, bukan mengumbar amarah dan berdebat dengannya. Ibu Suri sudah mewanti-wanti agar Permaisuri Yi bersikap hati-hati dan harus bisa mengendalikan diri. Sang permaisuri hampir melewati batas itu.


“Selir Chun, kita lihat apakah kau masih bisa seangkuh ini ketika dipenjara!”


Permaisuri Yi melirik para pengawal, kemudian menatap Wei Linglong dengan seringaian yang sangat menyeramkan.


“Pengawal! Selir Chun mengabaikan aturan, menyembunyikan penyakit Yang Mulia Kaisar dan membahayakan nyawanya. Bawa dan tahan dia hingga penyelidikan lebih lanjut!” Sang permaisuri mengeluarkan titahnya.


Para pengawal yang datang langsung memaksa Wei Linglong untuk berdiri, lalu memegang tangannya dengan kuat ke belakang. Wei Linglong meringis karena bahunya sedikit terkilir, namun dia masih kuat. Ini hanya hal kecil, menghadapi gagak betina di hadapannya jauh lebih penting.


Xiaotan dan Xiaolan berlutu memohon agar Permaisuri Yi membebaskan majikan mereka. Kedua pelayan itu meminta agar mereka saja yang menggantikan Wei Linglong untuk dihukum. Alih-alih menyetujuinya, Permaisuri Yi malah menyuruh Xiaoyao untuk mencambuk kedua pelayan itu. Katanya, pelayan yang kurang ajar seperti itu harus dihukum bersama dengan majikannya.


Wei Linglong menahan amarah ketika cambuk kulit dari Xiaoyao mengenai punggung Xiaotan dan Xiaolan. Sang selir menggertakkan gigi, berusaha menahan gejolak kemarahan yang ada di dalam dadanya. Keterlaluan Permaisuri Yi bahkan berani melibatkan orang-orangnya yang tidak berdosa!


“Permaisuri Yi,” panggil seseorang dengan begitu dingin.


Suara itu seketika membuat para pengawal dan Permaisuri Yi terdiam. Xiaoyao yang hendak melayangkan cambukan menggantungkan tangannya di udara. Ada hawa dingin yang menusuk tulang punggung Permaisuri Yi. Ada panah es yang melesat ke tubuhnya lewat tatapan mata tajam nan dingin dari belakang.


Murong Qin bangkit dari tempat tidur. Sejak tadi, dia terus menyaksikan pertunjukan permaisuri dan selirnya dari tempat tidur sambil berpura-pura tidak sadarkan diri. Ini adalah rencana yang dia buat bersama Wei Linglong. Wei Linglong menyuruhnya berpura-pura


masih tidak sadarkan diri untuk memancing Permaisuri Yi dan memintanya untuk bangun pada saat yang tepat.


“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Murong Qin.


Permaisuri Yi membeku. Lidahnya terasa kelu.


“Y-Yang Mulia, a-aku-”


“Yang Mulia! Hamba mendengar bahwa Selir Chun menyembunyikan kondisi Yang Mulia dan membahayakan nyawa Yang Mulia. Permaisuri datang untuk memberinya pelajaran agar tidak mengulangi kesalahannya,” ucap Xiaoyao mencoba membela majikan tercintanya.


Murong Qin menyeringai.


“Oh? Memberi pelajaran sampai membawa pengawal dan mencambuk pelayan?” tanya Murong Qin lagi.


“Mereka bertindak tidak sopan. Aku hanya menghukum mereka,” jawab Permaisuri Yi setelah berpikir cukup lama.


“Kedua pelayan ini milik Istana Fenghuang. Kau tidak punya hak untuk mengurus mereka,” ucap Murong Qin.


Permaisuri Yi meremas pakaiannya hingga kusut. Ternyata, menghadapi perkataan Kaisar Mingzhu jauh lebih sulit daripada membunuh seorang selir. Tidak disangka sang kaisar akan bangun secepat itu. Permaisuri Yi sekarang mulai khawatir, dia khawatir jika suami sahnya mendengar semua perkataannya pada Wei Linglong.


Tetapi sebagai seorang permaisuri, dia tidak boleh kalah. Ini adalah pertarungan yang baru saja dimulai.


“Yang Mulia, aku adalah permaisuri. Apa Yang Mulia lupa kalau semua wanita istana ada di bawah pengaturanku?” tanya Permaisuri Yi sambil berusaha mengesampingkan perasaannya.


“Permaisuri Yi, apa kau baru saja memberitahuku identitasmu?” Murong Qin bertanya balik.


“AKu tidak berani. Aku hanya melaksanakan tugasku. Harap Yang Mulia tidak mempersulitku lagi,” Permaisuri Yi menjawab dengan senyuman jahat.


“Melaksanakan tugas? Apa kau sudah menyelidiki kebenarannya?”


Wei Linglong yang menyaksikan Murong Qin dan permaisurinya berdebat dan saling bertarung lewat perkataan hanya bisa menghela napas. Arah pertarungan ini sudah berubah, dia berubah menjadi penonton pada saat ini. Orang yang menjadi tokoh utamanya sekarang adalah Murong Qin dan Permaisuri Yi.


“This pair of emperor and empress is really crazy,” gumam Wei Linglong.


Murong Qin dan Permaisuri Yi masih saling berbicara dan saling melawan. Suasana di dalam Istana Fenghuang berubah tegang. Para pengawal dan para pelayan tidak berani menyela karena inilah pertama kalinya mereka menyaksikan kaisar dan permaisuri mereka berbicara bertatapan mata dan saling melawan satu sama lain.


“Apa Yang Mulia berusaha menentang otoritasku sebagai permaisuri?”


Murong Qin memalingkan muka.


“Tidak. Hanya saja Permaisuri perlu tahu kalau aku datang ke sini atas kehendak sendiri. Permaisuri, aku mendengar kau menyebut Selir Chun sebagai selir endahan. Apa itu artinya kau juga merendahkanku karena memiliki pandangan buruk hingga mengangkat seorang selir sepertinya?”


Seketika, Permaisuri Yi langsung mematung. Celaka, Murong Qin sepertinya mendengar semua perkataannya. Meskipun dirinya sudah menahan perasaan dan melawan Murong Qin, tetapi jika pria itu mendengar semuanya, dia tidak akan bisa mengelak. Permaisuri Yi tidak bisa berpikir apa-apa pada saat ini.


“Kaisar sepertinya sudah salah paham,” ucap seseorang yang datang dari luar.


Wei Linglong ikut mengalihkan perhatian pada seseorang yang baru datang dari luar.


“Untuk apa dia datang?”


...***...


...Haloo kesayangan Author! Hihi, buat hari ini segini dulu ya, Authorkau UAS dulu biar nggak diomelin dosen. Nanti kalau udah beres Author up lagi deh. Nah, itu permaisuri udah mulai bertindak, tapi kayaknya dia kurang pertimbangan. Penasaran siapa yang bakal menang? Stay tune terus yaa! ...