
Rumor adanya agen pengawas rahasia di kekaisaran muncul di mana-mana. Para pejabat tinggi negara seketika menjadi waspada. Keberadaan misterius sosok pengawas tersebut membuat sebagian besar dari mereka mengalami sakit kepala dan kekhawatiran yang tiada tara.
Karena sosok itu begitu misterius, mereka jadi menduga-duga. Para menteri tinggi dan pejabat lainnya saling mencurigai, saling menebak apakah orang yang ada di dekat mereka adalah musuh atau bukan. Mereka yang merasa telah melakukan kejahatan memilih mundur sebelum tertangkap basah dan kejahatan mereka terungkap ke publik.
Ya, mereka memilih menyerahkan diri terlebih dahulu.
“Hahaha. Mereka seperti kucing yang ketahuan mencuri ikan!”
Wei Linglong tertawa terbahak-bahak ketika Murong Qin memberitahunya situasi di pengadilan istana akibat penangkapan orang-orang pelaku kejahatan hari kemarin. Wanita itu menganggap bahwa mereka seperti lelucon untuknya, yang memberinya tawa dengan tingkah bodoh mereka.
Salahkan mereka yang serakah. Jika hati nurani mereka masih ada sedikit, tidak akan ada celah untuk menumbuhkan iblis. Wei Linglong hanya membantu menyingkirkan iblis itu dan mencegahnya menulari yang lain, karena iblis di hati manusia seperti virus yang mudah menyebar.
“Situasi pengadilan sekarang agak kacau. Tetapi, aku senang,” ucap Murong Qin sembari menatap bunga-bunga indah di halaman Istana Fenghuang.
“Mereka menuai apa yang mereka tanam. Sebaliknya, kalau saja mereka bersikap baik, aku mungkin tidak akan menemukan kesalahan mereka,” seloroh Wei Linglong dengan begitu ringan seolah-olah dia adalah pahlawan sejati.
Murong Qin menghela napas panjang. Sungguh tidak disangka, di dalam pemerintahannya yang begitu stabil ternyata terdapat banyak tikus-tikus pencuri ulung yang pandai menggunakan topeng. Akar penyakit harus dibasmi, dan satu persatu keinginan itu mulai terwujud berkat bakat pekerjaan Wei Linglong.
Kemarin, para pelaku kejahatan yang namanya tertera dalam daftar diboyong ke penjara, ditahan dan diinterogasi. Untuk mencegah adanya manipulasi, Murong Qin menyuruh Kepala Penjara memperketat penjagaan hingga siapapun tidak diizinkan masuk selain petugas. Ini bisa mencegah kemungkinan pembungkaman pelaku oleh dalang yang lebih besar.
“A-Ling, apa kau masih ingat kasus Gubernur Qian dari Jiangzhou?” tanya Murong Qin. Raut wajahnya tiba-tiba berubah serius.
“Si bulat sialan yang seperti bola itu?”
Murong Qin mengangguk.
“Ada yang aneh dari kasusnya. Setelah aku membaca ulang laporan yang kau berikan, lalu mencoba mencocokannya dengan data dari beberapa kementrian, aku baru tahu kalau dana yang dia korupsi selama ini menghilang tanpa jejak.”
“Menghilang? Bagaimana bisa? Apa hantu telah mencurinya?” tanya Wei Linglong. Dia tiba-tiba tertarik.
“Tidak ada satu pun yang mencatat ke mana semua uang itu pergi.”
Ini aneh. Gubernur Qian mengkorupsi harta rakyat dan negara begitu banyak, bagaimana mungkin semuanya hilang tanpa jejak? Wei Linglong jadi berpikir seseorang mungkin telah memindahkannya sebelum mereka tiba di Jiangzhou. Saat penggeledahan, hanya ada beberapa peti uang perak di kediaman pribadi gubernur itu.
Berdasarkan jumlah ini, seharusnya masih ada belasan yang lainnya. Jadi, inilah alasan mengapa kasusnya begitu aneh dan tidak selesai bahkan setelah berbulan-bulan. Ke mana perginya semua uang itu, kekaisaran belum mengetahuinya. Semua orang yang terkait dengan Gubernur Qian juga sudah ditangkap dan dimintai keterangan, tetapi tidak satu pun dari mereka ada yang tahu.
Wei Linglong mendesah pelan.
“Tampaknya, ada ikan yang lolos dari umpan,” ucapnya setengah bergumam.
“Tidak apa, itu bukan kesalahanmu. Ada skema yang mungkin lebih besar dari balik kasus ini.”
“Tentu saja pasti ada. Yang Mulia, skema besar itu sepertinya sangat menarik. Bagaimana jika aku menyelidikinya diam-diam?” pinta Wei Linglong.
“Apa kau punya cara?”
“Aku selalu punya banyak cara. Asal Yang Mulia mengizinkannya, aku pasti akan melakukannya sampai tuntas!”
Diam-diam, Murong Qin kembali berdecak kagum. Wanita ini selalu membuatnya terkejut setiap saat. Tekad dan keberanian yang dimilikinya langka. Dia memang tidak salah memilih orang. Terlepas dari segala perasaan yang dia miliki untuk wanita itu, Murong Qin masih tetap menghormatinya sebagai rekan kerja yang baik. Ini adalah cara agar dia selalu berada di sisi wanita itu, juga satu-satunya cara untuk membersihkan segala bentuk kecurangan di dalam pemerintahan.
Senja membayang di langit daratan Yuan. Musim semi sudah berakhir. Hujan sering datang, tetapi sore ini, langit malah begitu cerah. Murong Qin masih betah berdiam diri di ayunan bersama Wei Linglong meskipun topik pembicaraan mereka sudah habis.
“Aih, musim semi sudah berakhir. Yang Mulia, apa kau tidak akan mengadakan perjamuan?” tanya Wei Linglong sambil menyandarkan punggungnya di papan penahan ayunan.
“Tahun ini sepertinya tidak. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Aku tidak ingin membuang banyak waktu untuk hal-hal yang tidak berguna. Apa ada yang ingin kau katakana, A-Ling?”
“Tidak juga. Sebenarnya Yang Mulia bisa menggunakan perjamuan musim semi untuk memancing mereka. Tapi, itu akan sedikit sulit karena sekarang mereka pasti sangat waspada.”
Murong Qin mengangguk setuju.
“Aku punya A-Ling yang membantuku. Aku yakin A-Ling milikku bisa mengatasinya dengan baik,” ucap Murong Qin.
Percaya atau tidak, wajah Wei Linglong sedikit memerah ketika pria itu mengatakannya. Wei Linglong menyembunyikan wajahnya di belakang, lalu mendengus kesal. Pria ini sekarang sudah bermulut manis hingga Wei Linglong kesulitan menghadapinya.
“Siapa yang milikmu! Diriku adalah milikku sendiri!” seru Wei Linglong setelah berhasil mengamankan wajah dan detak jantungnya.
“Marah? Jangan marah! Percaya padaku, suatu saat aku pasti berhasil. Aku pasti akan membuatmu membalas perasaanku.”
Wei Linglong justru semakin kesal. Mengapa ada kaisar yang tidak tahu malu seperti ini? Citra kaisar yang selalu dingin dan berkata tajam tampaknya hilang sudah dari pria ini setiap kali berada di hadapannya. Wei Linglong malah khawatir suatu saat Murong Qin akan berubah menjadi cabul.
“Yang Mulia, besok aku akan keluar istana. Mungkin, aku bisa mendapatkan beberapa petunjuk.”
“Ke mana kau akan pergi? Kau tidak akan pergi ke rumah bordil kan?” tanya Murong Qin, membuat Wei Linglong seketika berubah masam.
Bisakah dia tidak menyebutkan rumah menyebalkan itu? Rasanya dia seperti mengulang memori memalukan beberapa bulan yang lalu.
Murong Qin melihat perubahan ekspresi tersebut, kemudian baru tersadar kalau dia mungkin sudah salah berkata. Wei Linglong punya ingatan buruk dengan tempat itu, seharusnya dia tidak menyebutkannya. Wanita itu sekarang merajuk. Sulit bagi Murong Qin untuk memperbaiki mood wanita itu.
“Yang Mulia, apa kau minta dihajar?” ucap Wei Linglong dengan wajah masam, nadanya juga setajam silet.
“A-Ling-”
Sebelum Murong Qin menyelesaikan perkataannya, Wei Linglong mencubit pinggang Murong Qin hingga pria itu meringis. Tidak hanya itu, Wei Linglong juga memukul pelan lengan pria itu sebagai bentuk protesnya. Murong Qin sebisa mungkin melawan dengan menghindar.
Murong Qin berdiri dari ayunan, kemudian hendak lari. Namun, jubahnya ditarik Wei Linglong. Wanita itu kembali mencubit pinggangnya.
“A-Ling cepat lepaskan!” seru Murong Qin sambil berusaha melepaskan diri.
“Siapa suruh Yang Mulia memperburuk suasana hatiku!”
“A-Ling kau berani! Aku akan menghukummu!”
Wei Linglong seketika melepaskan cengkramannya begitu mendengar kata hukuman. Dia lantas berlari sekencang mungkin, masuk ke dalam istananya tanpa menoleh. Saat berlari, dia mengangkat roknya. Napas Murong Qin masih memburu, kulit pinggangnya terasa sakit.
Dia menatap wanita yang lari terbirit-birit sambil menghela napas.
“Larimu cepat juga!” seru Murong Qin.
Setelah menenangkan diri, Murong Qin kemudian meninggalkan Istana Fenghuang.