The Legend Of Chunfei

The Legend Of Chunfei
FRAGMEN 75: LONGQIN DALAM PURNAMA



...[Konten sensitif, di bawah umur menjauhlah dari hal-hal yang mengkontaminasi pikiran! Jadilah pembaca yang bijak!]...


...***...


“Kalau begitu, berusahalah, Yang Mulia..”


Wei Linglong tak lagi ragu untuk menerima Murong Qin segenap hatinya. Bahkan jika pria itu menginginkan melenyapkannya malam ini, dia akan dengan pasrah menyerahkan dirinya. Hatinya terlalu penuh sesak oleh perasaan cinta yang baru dia sadari hingga seluruh pikirannya dipenuhi kabut.


Wei Linglong kesulitan mengimbangi permainan Murong Qin. Dia yang tidak punya pengalaman merasa kewalahan mengimbangi permainan suaminya yang seperti dilanda gelombang pasang itu. Murong Qin menyasar setiap inci wajahnya.


Perlahan, gelenyar aneh mulai menjalari tubuhnya. Wei Linglong panas dingin. Jantungnya berdegup kencang dan mulutnya tak sengaja melontarkan lenguhan ketika bibir Murong Qin turun menyasar leher dan bagian belakang telinganya. Tubuhya seperti dibakar api, panas namun tidak menghanguskan.


Murong Qin semakin bersemangat. Air matanya yang tadi mengalir kini kering, tergantikan oleh keringat basah yang mengucur dari tubuhnya. Perasaannya yang membuncah tak lagi membiarkan dia diam tak melakukan apapun. Murong Qin terus menerus menyerang wanitanya, memberikan gigitan kecil di sana hingga memerah semerah bunga persik.


“Yang Mulia, jangan mengigitnya,” ucap Wei Linglong parau.


Dia tidak tahan dengan rasa geli yang dibaluri sebuah sensasi aneh itu. Rasa panas tidak hanya menjalari tubuhnya, namun bergerak ke wajahnya hingga Wei Linglong memerah. Seluruh urat syarafnya terasa menegang setiap kali bibir itu menyentuh dan menggigiti kulitnya seperti permen manis.


“A-Ling, aku menginginkanmu,” ucap Murong Qin di sela-sela serangannya.


Perlahan, tangan Wei Linglong bergerak meraih simpul yang mengait pada jubah tidur berwarna emas Murong Qin, menariknya tanpa sadar hingga terbuka. Gerakan itu membuat Murong Qin sedikit tercengang, tidak disangka kalau wanita ini ternyata begitu berani. Dengan kelihaian tangannya, Murong Qin juga telah berhasil melepas pita gaun Wei Linglong, menariknya perlahan tanpa wanita itu sadari.


Wei Linglong hanya merasa kalau kulitnya tiba-tiba terasa dingin. Dia terlonjak ketika tahu kalau beberapa bagian tubuhnya sudah terbuka. Kepala Murong Qin bergerak menurun, melewati ceruk leher.


Pria itu sengaja mempermainkannya seperti ini. Wei Linglong membalikkan serangan, mendorong tubuh Murong Qin untuk telentang dan memaksanya melepaskan permainan panasnya itu.


Dengan napas memburu, Wei Linglong melakukan serangan balik. Kedua tangannya memegangi wajah Murong Qin, tidak membiarkannya kelayapan ke bagian tubuh yang lain.


Sensasi seperti sengatan listrik menjalar ketika kulit mereka saling bersinggungan satu sama lain. Darah panas di tubuh Murong Qin semakin mendidih, dia menikmati serangan wanitanya sembari memeluk pinggang wanita itu dengan erat, lalu perlahan melorotkan kain penutup tubuhnya ke bawah.


Murong Qin membalikkan serangan. Karena Wei Linglong hendak meronta, tangannya terpaksa mengunci tangan wanitanya ke atas hingga dia lebih leluasa bergerak.


“Yang Mulia, tolong,” keluhnya. Dia sungguh tidak tahan disiksa seperti ini.


“Panggil namaku, A-Ling,” ucap Murong Qin dengan pelan.


“Murong Qin, jangan mempermainkanku terus menerus!”


Murong Qin melepas cengkramannya. Dia membiarkan Wei Linglong menyusupi rambut panjang di kepalanya dengan tangan. Suhu tubuh keduanya memanas, ada gelombang api yang datang seperti deburan ombak di dalam dada, membakar rasa keduanya dengan begitu membara.


Wei Linglong seperti kehilangan akal, kepalanya sangat pusing dan tubuhnya sangat panas. Sekarang, Murong Qin kembali melancarkan serangan brutalnya ke bagian lain sehingga Wei Linglong seperti cacing kepanasan. Dia benar-benar merasa terbakar oleh api.


Entah sadar atau tidak, kini mereka seperti dua bayi besar yang baru lahir. Wei Linglong dan Murong Qin sama-sama tak mengenakan sehelai benang pun. Pakaian mereka jatuh di sisi ranjang, teronggok seperti kain yang tidak terpakai. Tidak penting, kedua insan itu tengah memadu kasih di peraduan.


“Yang Mulia, aku ingin buang air kecil,” ucap Wei Linglong terbata-bata.


“Keluarkan saja, A-Ling. Tidak apa-apa,” ujar Murong Qin.


Wei Linglong berusaha menarik selimut sutera yang ada di pinggirnya, namun Murong Qin tak memberinya kesempatan. Pria itu selalu mendominasi dalam hal apapun.


“Jangan bergerak, A-Ling,” ucapnya.


Naluri sepasang suami istri itu mengantarkan mereka menuju permainan panas tanpa ujung. Murong Qin dan Wei Linglong seperti dua orang penjelajah yang haus akan kepuasan, terus menerus mencari dermaga tempat menepi. Tidak peduli sekeras apapun ombak itu menghantam kapal, mereka tetap teguh berdiri di atas samudera yang luas.


Kobaran api di dalam tubuh mereka turut merambat ke dalam aula. Seluruh atmosfer Istana Yanxi tiba-tiba memanas. Aroma cendana yang terbakar dari tungku pewangi membuat kedua insan yang sedang memadu kasih semakin terhanyut dalam gelombang surga yang sedang dicoba diraih.


“A-Ling, apa kau takut?” tanya Murong Qin sembari menatap lembut wanitanya.


Wei Linglong tidak menjawab. Dia sudah tenggelam di dalam lautan itu, dia tidak menemukan jalan untuk kembali selain pria ini yang menuntunnya. Di matanya hanya tersisa kabut penuh cinta, yang mendamba pria yang sedang bersamanya kini. Wei Linglong seperti kehilangan dirinya, terbang di atas awan-awan putih yang sangat banyak.


Murong Qin tak bisa lagi menahan diri begitu lama. Gelora di dalam dadanya memuncak, dia begitu menginginkan wanita ini. Dia ingin menjadikan Wei Linglong wanita miliknya seutuhnya, selamanya. Perasaannya yang terbalas telah menuntunnya menemukan sebuah gerbang surga yang membuatnya melayang di udara.


Wei Linglong meringis. Wei Linglong mencengkeram bahu Murong Qin.


Murong Qin merengkuh bahu istrinya, berusaha memberikan ketenangan. Dia mencintai wanita ini, dia tidak ingin memberikan kesan buruk dengan menyakitinya.


Deburan ombak itu terus menerus menghantam batu karang yang selama ini berdiri begitu kukuh di tengah lautan. Wei Linglong tak lagi merasakan sakit. Seluruh tubuhnya terasa melayang di udara, terbang bersama Murong Qin.


Keduanya seperti penjelajah yang menemui titik akhir tujuan mereka. Kapal mereka menepi di sebuah garis pantai yang indah, yang di sekelilingnya terdapat hamparan pasir putih yang lembut.


Murong Qin menjatuhkan dirinya di samping Wei Linglong. Keduanya sama-sama berusaha mengatur kembali napas dan detak jantung. Murong Qin memeluk tubuh wanitanya dengan erat, tidak ingin melepaskannya karena ia begitu bahagia.


“A-Ling, terima kasih. Terima kasih karena kau sudah membalas perasaanku,” ucap Murong Qin dengan emosi penuh.


Murong Qin semakin mengeratkan pelukannya. Tubuh keduanya yang tanpa sehelai benang itu tertutup selimut sutera emas. Keduanya kelelahan setelah penjelajahan panjang yang begitu menggoda. Dermaga tempat mereka berlabuh akan menjadi dermaga satu-satunya yang mereka singgahi.


Wei Linglong membalas pelukan suaminya. Rasa sakit itu hilang tanpa jejak, berganti dengan kebahagiaan yang membuncah tiada bandingannya.


Pada akhirnya, Murong Qin hanyalah seorang pria di hadapannya. Pria hebat yang membuatnya jatuh cinta, yang membuatnya menyerahkan diri tanpa syarat. Di saat seperti ini, tidak ada lagi status selir atau kaisar, karena keduanya hanyalah sepasang suami istri yang menjalin hubungan atas dasar cinta yang murni, yang tulus, yang datang dari lubuk hati yang terdalam.


Hari sudah menjelang fajar, namun di luar masih sangat gelap. Purnama di atas langit masih menggantung dengan indah, seperti ikut tersenyum atas bersatunya dua insan di bumi sana.


...***...


Xiaotan terjaga di luar pintu. Pelayan itu mengerjapkan mata, lalu terlonjak ketika dia melihat pemandangan langka yang ada di depan matanya. Bunga-bunga di taman Istana Yanxi telah mekar, padahal ini adalah pertengahan musim panas. Meskipun masih gelap gulita, tapi dia bisa melihatnya dengan jelas.


Pelayan itu buru-buru membangunkan Liu Ting.


“Kasim Liu, cepat lihat! Bunga-bunganya bermekaran dengan indah!”


Liu Ting terperanjat. Kasim tersebut mengucek kedua matanya, lalu mengikuti arah pandang Xiaotan. Dia juga sangat terkejut ketika bunga-bunga yang seharusnya gugur itu kini malah mekar dengan indah. Kemudian, Liu Ting memandang langit, lalu bergumam,


“Takdir baik telah datang kepada Yang Mulia dan Nyonya Chun.”


Fajar yang segar, bunga yang indah. Yuan yang agung benar-benar telah terberkati!


...***...


...Huft! Mohon maaf jika kalian merasa tidak nyaman dengan bagian ini, Author bukan orang berpengalaman jadi menulis seadanya. So, pada akhirnya cintanya Murong Qin terbalas setelah banyak adegan berdarah-darah dan dipenuhi drama. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Stay tune terus para pembaca kesayangan Author!...