The Legend Of Chunfei

The Legend Of Chunfei
FRAGMEN 28: DESA KECIL JIANZHU



Wei Linglong dan Murong Qin tiba di desa terdekat ketika sore hari. Musim dingin yang tiba lebih awal membuat rumah-rumah penduduk dipenuhi salju di atap dan halaman. Melihat bentuk bangunan rumah-rumahnya, Wei Linglong menebak kalau kebanyakan penduduk di sini bukanlah orang kaya.


Rumah-rumah mereka memiliki halaman yang sempit dan tidak berpagar. Sebagian bahkan ada yang tidak memiliki halaman sama sekali. Jarak antar rumahnya cukup dekat, namun masih bisa memberikan ruang untuk berjalan atau untuk bermain anak-anak kecil.


Beberapa orang penduduk sedikit terkejut ketika kuda mereka meringkik di tengah jalan pedesaan. Para penduduk memusatkan pandangan pada dua orang pemuda yang sedang menunggangi kuda yang sama. Bagi mereka, ini aneh. Bagaimana bisa dua pemuda duduk di satu kuda yang sama?


Bukankah itu terlihat… tidak terlalu pantas?


Meskipun satu pemuda yang memakai busana putih terlibat lebih kecil, kurus dan berwajah cantik, tidak membuat pemandangan tersebut menjadi enak untuk dipandang.


Salah seorang penduduk berusia tiga puluh tahunan, laki-laki, memakai pakaian sederhana berwarna cokelat tua, berkulit kuning langsat, berjalan mendekat lalu bertanya,


“Permisi, tuan-tuan. Bisakan Anda turun sebentar? Penduduk kami tidak terbiasa melihat pemandangan seperti ini.”


Wei Linglong sedikit terkikik. Oh, penampilannya yang seperti ini rupanya telah menipu mereka. Mereka bahkan tidak bisa mengenali seorang wanita dalam busana ini, padahal jelas-jelas hanya dengan melirik saja, seharusnya sudah ketahuan kalau dia seorang wanita.


Dia lantas bergegas turun dari kuda. Orang yang tadi bertanya kemudian membawa mereka ke sebuah kedai sederhana di pinggir jalan, sementara kudanya ditinggal di tengah jalan begitu saja. Mereka yang tadi melihat dengan aneh sekarang sudah membubarkan diri.


“Saudara, bolehkah saya bertanya?” ucap Wei Linglong pada orang itu.


“Ya, Tuan?”


“Apa kau benar-benar tidak bisa melihat dengan baik?”


“Ah?”


“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin meminta bantuan saudara ini untuk memberitahu mereka bahwa kami tidak gay. Ini adalah kakak keduaku, bukan begitu, Qin gege?”


Melihat wanita itu pandai sekali berbicara dan mengatasi masalah dengan cepat, Murong Qin hanya mengangguk meskipun dia sedikit keberatan disebut sebagai kakak kedua.


Dulu, dia disebut sebagai paman oleh wanita ini, sekarang tiba-tiba berubah menjadi kakaknya. Entah esok atau lusa, dia mungkin akan menjadi kakek atau eyang dari wanita ini.


“Oh, baiklah, Tuan. Penduduk desa kami memang tidak menerima sesuatu tersebut. Ya, mereka bilang kami tidak berpikiran terbuka, tetapi bagi kami, pasangan seperti sejenis itu tidak bisa diterima. Mohon maafkan kami jika telah menyinggung tuan-tuan sekalian.”


Orang itu bercerita panjang lebar mengenai kehidupan sosial di desa ini. Katanya, desa ini bernama Jianzhu, merupakan sebuah desa yang letaknya di perbatasan antara prefektur Jiangzhou dengan hutan willow.


Desa ini paling dekat dengan aliran sungai beku, hingga menjadi desa pertama yang terendam ketika terjadi banjir di awal musim semi. Mereka biasanya mengungsi ke atas gunung, tetapi terlalu merepotkan hingga harta benda mereka terkadang ditinggalkan begitu saja.


Desa ini tidak terlalu luas. Di wilayah barat Jianzhu, terdapat sebuah bukit yang memisahkan desa dengan prefektur lain, jauhnya sepuluh ribu mil. Kata orang itu, mata pencaharian penduduk desa adalah petani dan peternak.


Setiap tahun selalu bisa memasok padi, gandum, daging dan kulit hewan ke ibukota. Entah mengapa, sepuluh tahun terakhir kerap terjadi gagal panen dan bencana selalu datang silih berganti hingga desa yang awalnya kaya raya sekarang seperti sebuah kawasan miskin yang tertinggal.


Wei Linglong dan Murong Qin hanya saling pandang saja. Sejujurnya, mereka tidak meminta orang ini menjelaskan apapun, karena mereka sudah tahu kondisi di desa ini. Wei Linglong hanya tidak ingin menyia-nyiakan niat baik orang ini saja sehingga dia tetap diam dan mendengarkan sampai ceritanya berakhir.


“Yang Mulia, orang ini sangat cerewet,” bisik Wei Linglong.


“Ssstt… Kecilkan suaramu!”


Murong Qin menyenggol lengan kiri Wei Linglong hingga gadis itu diam. Tidak dipungkiri, dia sebenarnya juga tidak ingin mendengar kisah desa yang sudah dia hapal di luar kepala.


Tetapi, orang ini sepertinya adalah seorang tokoh masyarakat di sini, jika bukan maka tidak mungkin dia berani menegur dia dan Wei Linglong, apalagi sampai membawa mereka ke dalam kedai ini untuk berbicara.


Seorang pelayan kedai datang menyuguhkan teh hangat. Udara di desa yang mengalami musim dingin lebih awal ini sedikit lebih hangat daripada saat berada di pinggir sungai beku tadi.


Di sini, ada beberapa tungku api yang dinyalakan di sudut-sudut ruangan. Selain pelayanan yang ramah, yang lainnya tidak ada yang istimewa. Pengunjung kedai ini kebanyakan laki-laki.


“Apakah tuan-tuan ini dari ibukota?”


“Ya, kami dari ibukota.”


“Oh, begitu. Ah, andai saja surat permohonan kami sampai kepada Yang Mulia Kaisar Mingzhu, mungkin keadaan di desa ini jauh lebih baik. Tidak tahu apa yang sebenarnya dilakukan oleh gubernur hingga belasan surat permohonan pun tidak menerima balasan bahkan hanya satu kata saja.”


Kini, Wei Linglong dan Murong Qin saling pandang. Ada sesuatu yang tidak beres. Seingat Murong Qin, dia hanya menerima dua buah surat laporan bencana, itu pun jangka waktunya cukup lama. Orang ini berkata bahwa ada belasan surat yang diajukan, lantas ke manakah jumlah sisanya?


Murong Qin ingin mendapatkan informasi lebih. Dia ingin tahu lebih jelas mengenai masalah lain yang terjadi di tempat ini dan mungkin di tempat-tempat sepanjang aliran sungai hingga ke tengah kota Jiangzhou. Dia lantas menanyakan beberapa hal kepada orang itu. Sambil menghangatkan tubuh, mereka berbincang-bincang mengenai situasi terkini di wilayah ini.


Wei Linglong tidak terlalu paham akan politik dan sosial. Sepanjang hidupnya sebagai seorang manusia dan sebagai seorang mahasiswa, dia paling membenci politik. Sungguh, Wei Linglong sama sekali tidak berminat pada semua topik yang berkaitan dengan satu kata yang selalu menjadi bahan perebutan di mana-mana, di seluruh dunia. Kepalanya kini terasa pusing karena tidak mengerti.


Dia ingin beranjak sebentar, namun gelagat Murong Qin telah membuktikan bahwa dia tidak diizinkan pergi ke manapun. Murong Qin tidak bisa membiarkan Wei Linglong berkeliaran sendirian di tempat asing ini.


Orang-orang di sini kebanyakan bertemperamen kasar dan keras. Kalau dia sampai salah menyinggung orang di saat Murong Qin tidak mengawasinya, dia mungkin berada dalam bahaya.


“Tahun lalu, dana bantuan bencana yang dikirimkan istana hanya cukup untuk bertahan selama beberapa hari di musim dingin. Saat pasokan pangan dan sandang habis, kami harus berjuang kembali. Tuan, musim dingin di sini selalu tiba lebih awal dan berakhir lebih lambat daripada wilayah yang lain.”


“Bukankah istana telah menurunkan perintah untuk mengirimkan bahan makanan dan pakaian sepanjang musim dingin untuk  prefektur Jiangzhou? Jumlahnya mungkin setara dengan dua juta tael emas,” ucap Murong Qin. Dia yakin, tahun lalu dia telah memerintahkan Biro Perbendaharaan Istana dan Kementrian Sosial untuk memberikan bantuan tersebut dengan jelas.


“Benarkah? Tapi, mengapa jumlah yang kami terima tidak sebanyak itu?”


“Aneh.”


“Tuan, mengapa tuan bisa mengetahui hal ini? Apa orang tua tuan adalah pejabat istana?”


“Saudara, kuberitahu kau ya. Sebenarnya, kami adalah utusan dari ibukota,” ucap Wei Linglong sambil berbisik. Orang itu sangat terkejut.


Wei Linglong mengangguk antusias.


“Wah, tuan-tuan pasti orang hebat. Usia kalian masih muda, tetapi sudah menjadi utusan istana dan diberi tugas ke tempat yang sangat jauh,” puji orang itu.


“Ah, sebenarnya kakakku ini orangnya Yang Mulia Kaisar Mingzhu.”


Seketika, cara bicara orang itu yang semula non formal kini berubah menjadi percakapan formal. Kata-katanya baku dibarengi dengan tatakrama persis seperti para pejabat yang ketika bertegur sapa atau mengobrol dengan atasan. Sangat terlihat rasa sungkan dari orang itu. Ya, dia tiba-tiba berhati-hati pada perkataan dan tingkal lakunya.


Murong Qin menghela napas, menggelengkan kepala. Dia tidak habis pikir pada tindakan selirnya yang selalu tidak terduga. Awalnya, dia ingin melihat sejauh mana orang ini bisa memberikan informasi padanya, tetapi pada akhirnya semuanya seperti lenyap karena tindakan Wei Linglong yang mengakibatkan pria di hadapan mereka seketika berubah seperti itu.


“Mohon maafkan ketidaksopanan rakyat ini, Tuan. Harap tuan tidak marah,” mohon orang itu.


“Tidak perlu formal. Bersikaplah biasa,” tukas Murong Qin.


“Pak, bisa kau tunjukkan sebuah tempat yang bisa kami tinggali selama di sini?” tanya Wei Linglong.


“Tentu. Mari, tuan-tuan, saya akan mengantarkan Anda semua ke pos persinggahan.”


“Tunggu!” seru Wei Linglong.


“Ya, Tuan?”


“Siapa namamu?”


“Saya Lu San, Tuan.”


“Baiklah. Tuan Lu, silakan lanjutkan perjalanan.”


Lu San membawa kedua orang itu keluar dari kedai. Di sepanjang jalan, dia tidak berhenti menceritakan kehidupan penduduk di sini. Meskipun termasuk pekerjaan kasar dan berada di kelas bawah, tetapi mereka hidup sederhana.


Kesederhanaan mereka membuat tali kekeluargaan di desa ini terjalin sangat erat. Satu rumah dengan rumah lainnya mempunyai hubungan yang sangat baik. Sungguh jauh berbeda dengan penduduk ibukota yang hidup masing-masing dan dalam lingkungan masing-masing.


Persamaan nasib para penduduk desa Jianzhu telah membawa berkah. Mereka semua tidak tinggi hati, tidak ada kasta, bahkan antara rakyat biasa dengan hakim pun dianggap setara. Pada saat-saat tertentu jika bukan karena bencana, penduduk di desa ini sering mengadakan perjamuan kecil di aula kantor hakim sebagai bentuk kerja sama dan menjalin komunikasi yang baik dengan pihak pemerintah.


Akan tetapi, semua itu terkadang tidak terlihat ketika terjadi bencana. Tahun ini, panen mereka gagal dan musim dingin sudah tiba lebih awal. Persediaan pangan seperti gandum, beras, dan ransum menipis. Beberapa penduduk bahkan sudah menutup lumbung mereka karena persediaan sudah habis. Jika ingin membeli dari yang lain juga sulit karena semua orang di sini mengalami hal yang sama.


“Tuan Lu, kapan biasanya terjadi banjir?” tanya Wei Linglong sembari berjalan mengikuti Murong Qin dan Lu San.


“Pada ujung musim dingin, ketika cuaca mulai menghangat, air sungai biasanya sudah mencair. Wilayah di bagian hulu sungai biasanya sudah terendam lebih dahulu, kemudian merambat ke desa-desa sepanjang aliran sungai.”


“Lalu?”


“Para penduduk biasanya langsung mengungsi selama beberapa hari. Kemudian, baru kembali dan memperbaiki rumah-rumah dan ladang pertanian yang terendam.”


“Kalau seperti itu terus menerus, tidak akan ada hasil yang baik. Kalian hanya akan mengulangi siklus yang sama.”


“Apa tuan punya solusi?”


“Em, biar nanti kakakku yang pintar ini yang memikirkannya.”


Ketiga orang itu sampai di depan sebuah kediaman berhalaman luas. Pintu gerbangnya terbuka. Saat orang yang ada di dalam sana melihat Lu San datang bersama dua orang pemuda, orang itu langsung bergegas keluar menyambut mereka. Dia tersenyum ramah.


“Tuan Lu, apakah dua tuan ini adalah utusan dari ibukota?” tanya orang itu.


“Benar. Tuan-tuan, ini adalah Pengurus Xie, pengurus pos persinggahan ini.”


“Pos persinggahan semewah ini?”


“Tuan, Tuan Gubernur berkata bahwa pos adalah rumah sementara untuk para utusan. Mereka adalah tamu terhormat, mana boleh diberikan kediaman yang bobrok dan sempit.”


“Hm, gubernurmu pengertian juga.”


Keempat orang itu melangkah masuk. kediaman itu begitu besar, persis seperti kediaman bangsawan di ibukota. Kayu-kayunya berkualitas. Gubernur prefektur Jiangzhou sepertinya sangat memperhatikan pembangunan pos ini. Biayanya bisa menghabiskan ribuan tael. Desa sekecil itu, yang setiap tahun dilanda bencana, mana mungkin punya biaya sebesar itu.


Ada dua bangunan utama di pos tersebut. Pertama adalah aula, kedua adalah kamar. Di bagian belakang, ada beberapa kamar kecil yang ditempati para pengurus dan pelayan. Kamar yang lainnya terletak di sebelah timur, berbatasan dengan rumah penduduk yang dipisahkan oleh tembok yang tinggi.


Halamannya cukup luas dan tampak terawat.


“Maaf, mengapa hanya ada satu kamar utama?” tanya Wei Linglong.


“Apakah tuan ingin kamar lebih besar yang lain?”


“Bukan hanya besar, tapi juga bersih.”


“Ah?”


“Kakakku ini menderita misofobia. Harus selalu bersih dan rapi.”


Murong Qin mendelik. Misofobia? Apa itu? Apakah seperti kereta?


...***...