The Legend Of Chunfei

The Legend Of Chunfei
FRAGMEN 89: MEDAN YANG SESUNGGUHNYA



Satu minggu kemudian, peperangan yang sesungguhnya benar-benar datang. Jenderal Yang mendapat kabar dari pasukan penjaga di luar bahwa pasukan musuh berada dalam jarak lima kilometer dari markas utama pasukan Yuan. Diperkirakan jumlah pasukan musuh sebanyak dua ratus ribu orang.


Kavaleri Huang, kavaleri yang diserahkan Murong Yan kepada Wei Linglong berada di garis depan. Mereka berjumlah lima puluh ribu pasukan dengan persenjataan lengkap.


Di tanah lapang yang sangat luas, pasukan Yuan berbaris memanjang. Semangat mereka menggelora, tidak sabar ingin segera membunuh musuh. Di depan mereka, Jenderal Fu, Jenderal Yang, Jenderal Cui, Jenderal Sui, Murong Yan dan juga Wei Linglong duduk tegap di atas kuda mereka masing-masing, menghadap ke depan ke arah pasukan musuh.


Wanita itu pulih dengan cepat. Ketika seluruh tubuhnya sudah membaik, dia langsung berhadapan dengan musuh yang pasti lebih banyak dan lebih kuat dari sebelumnya. Pasukan barbar itu pasti sudah tidak sabar ingin membalas dendam atas kematian rekan mereka satu minggu lalu.


Di garda pasukan musuh, sepuluh orang jenderal hebat juga sudah siap. Mereka semua adalah orang terpilih yang paling terampil dalam peperangan. Badan mereka jauh lebih tegap dan gagah, juga tenaganya lebih besar. Selain itu, kuda perang yang mereka tunggangi juga lebih tinggi dan kuat.


Mereka merangsek memperpendek jarak hingga satu kilometer. Panas terik di musim gugur membakar semangat mereka hingga membara. Gemuruh tabuhan gendang perang bertalu-talu, menambah suasana panas di tanah lapang itu naik berkali-kali lipat.


"Ternyata Kaisar Mingzhu kalian sangat lemah hingga mengirimkan seorang wanita untuk memimpin pasukan!" teriak salah satu jenderal. Walau cukup jauh, namun teriakan itu terdengar sangat jelas.


Apa jenderal itu baru saja menghinanya?


Wei Linglong tertawa hambar. Ketidakadilan bagi wanita di zaman ini ternyata sangat jelas. Apa salahnya jika wanita memimpin pasukan? Tidak masalah jika seorang wanita juga ikut berperang, selama kemampuannya hebat dan bagus, dia tidak kalah dari laki-laki.


"Jenderal busuk! Aku akan membuatmu tidak bisa bicara lagi! Kavaleri Huang, bersiap!"


Seluruh pasukan kavaleri Huang siaga. Dalam hitungan menit, mereka berlari ke garis depan. Pada saat itu pula, pasukan musuh juga bergerak. Beberapa saat setelah mereka saling berhadapan, kedua pihak langsung berperang dan menyerang satu sama lain.


Lima puluh ribu pasukan Kavaleri Huang melawan lima puluh ribu pasukan musuh. Siang hari yang kering menjadi basah oleh keringat dan darah. Korban salong berjatuhan dari dua belah pihak. Suara senjata beradu dan teriakan menggema ke segala penjuru.


Ketika gerakan pasukan musuh bergerak brutal, Wei Linglong sebagai pemimpin pasukan lalu memerintahkan yang lainnya untuk bersiap. Pasukan langsung siaga.


"Formasi Chaihua!"


Seorang prajurit yang bertugas memberi tanda pengarah formasi mengibarkan bendera dan menggerakkan tangannya membentuk sebuah formasi sesuai dengan perintah Wei Linglong. Dalam sekejap, pasukan di sayap kiri Wei Linglong berbaris membentuk formasi teratai raksasa dan menyerang musuh secara bersamaan.


Saat pasukan bertarung menggunakan formasi Chaihua, seorang asisten jenderal Kong melapor kalau pasukan musuh yang lain sedang bergerak menuju markas utama. Wei Linglong kemudian memerintahkan prajurit khusus untuk menyalakan suar.


Ketika melihat suar, Jenderal Kong yang tengah bersiap di tanah yang lembab langsung beraksi. Dia dan pasukannya menjatuhkan batu-batu besar dan menyiapkan ranjau yang telah dibuat sebelumnya. Tanah di sana sudah basah. Lalu, ketika rombongan pasukan musuh datang, mereka langsung melepaskan batu-batu itu dan pasukan musuh tumbang. Tidak hanya itu, mereka juga kesulitan bergerak karena kaki kuda mereka terjerembab ke dalam lubang dan terjebak di tanah berlumpur.


Jenderal Kong langsung memerintahkan pasukan untuk menyerang. Pasukan musuh yang berjumlah tiga ribu itu seperti dikepung dalam lingkaran darah. Mereka musnah dalam sekejap. Mati. Semua pasukan musuh yang hendak menyerang markas utama mati sebelum sampai.


Usai menangani pasukan musuh, Jenderal Kong bergegas pergi ke gerbang kota untuk bergabung bersama Jenderal Jin, sesuai dengan perintah Wei Linglong. Dia dan pasukannya langsung bergerak cepat.


Di lapangan pertempuran, Kavaleri Huang dan pasukan Yuan yang membentuk formasi langsung mengepung musuh. Pasukan musuh banyak yang terbunuh. Formasi Chaihua yang dibuat Wei Linglong begitu kuat dan suljt ditembus.


Jenderal-jenderal pasukan musuh berang. Mereka marah karena seorang wanita yang memimpin pasukan ternyata telah mengajari prajurit sebuah formasi yang sulit ditembus. Padahal, jelas-jelas mereka datang dengan persiapan yang matang.


"Pasukan sayap kanan, serang!" Jenderal paling gagah berseru. Pasukan yang ada di sayap kanan kemudian maju mengepung formasi pasukan kekaisaran.


"Heh, hanya ini saja kemampuanmu, wanita? Mengapa kau tidak menyerah saja dan ikut bersamaku ke Mongolia? Aku akan menjadikanmu selirku yang ketujuhbelas dan memberimu banyak harta, hahahaha..."


"Jenderal, jangan memberinya posisi terlalu tinggi. Jadikan dia pelayan ranjang saja!"


Wei Linglong menggertakkan giginya menerima semua hinaan itu. Dia memang wanita, seorang selir, namun tidak pernah ada orang yang pernah menghinanya seperti itu. Medan perang ini benar-benar kejam. Wei Linglong ingin segera menebas leher para jenderal musuh tersebut.


Murong Yan yang berdiri di sampingnya langsung menenangkannya. Di situasi ini, menuruti emosi dan langsung menyerang bukan solusi tepat.


Wei Linglong mendecih. Gegabah atau tidak, bukankah akhirnya sama saja?


"Pasukan! Formasi Tapal Kuda!"


Sang komando formasi kembali menggerakkan tangan. Sebagian prajurit maju, lalu membentuk barisan seperti tapal kuda raksasa. Pasukan musuh terkepung di dua sisi. Mereka saling mengepung satu sama lain.


Jenderal pasukan musuh terbelalak. Pasukannya dikepung di segala arah. Dalam sekejap, pasukan itu sudah musnah. Lima puluh ribu pasukan pertama ditambah dua puluh ribu pasukan kedua, semuanya sudah gugur.


Melihat kekahalan sudah di depan mata, para jenderal berpikir untuk menarik kembali pasukan. Perang hari ini sudah cukup sampai di sini. Mereka tidak mau mengorbankan pasukan yang tersisa.


"Mundur!" teriak para jenderal.


Pasukan yang tersisa segera bergerak meninggalkan lapangan terbuka yang sudah menjadi lautan mayat tersebut. Kuda para jenderal berbalik, lalu berjalan meninggalkan medan perang.


"Ingin kabur, ya? Mimpi saja!"


Wei Linglong mengambil busurnya. Dia membentangkannya, lalu menaruh tiga buah anak panah. Dengan kekuatan penuh, dia membidik punggung seorang jenderal yang tadi menghinanya. Lalu, dia melesatkannya.


"Ah..."


"Jenderal!"


Ketiga anak panah tersebut menancap di punggung sang jenderal, menembus hingga ke dada. Tubuh jenderal itu langsung jatuh dan darahnya menggenang. Setelah beberapa detik, jenderal itu mati mengenaskan.


Sembilan jenderal lainnya murka. Mereka tidak terima atas kematian rekan mereka yang mengenaskan seperti ini. Tidak mati di medan perang, tetapi malah mati ketika hendak mundur. Ini adalah kematian paling memalukan bagi seorang perwira tinggi militer.


"Aku ingin membunuh wanita itu!" seru jenderal lain.


"Tidak! Jangan sekarang!" cegah yang lainnya lagi.


"Kita tidak bisa meremehkan wanita itu!" ucap yang lain.


Beberapa prajurit membawa mayat jenderal mereka ke kereta perang dan membawanya kembali ke markas untuk dimakamkan. Pasukan Mongolia pulang membawa kekalahan. Bukan hanya mundur, mereka juga kehilangan salah satu pemimpin mereka.


Melihat musuh mundur, Wei Linglong juga menarik pasukannya. Perang hari ini cukup sampai di sini. Masih ada hari esok untuk bertarung lagi dan yang pasti akan lebih ganas dari sebelumnya. Dia perlu merencanakan strategi lagi.


"Mundur! Bubarkan formasi dan kembali ke markas!" seru Wei Linglong. Seluruh pasukan kemudian kembali ke barisan masing-masing.


"Apa Jenderal Kong dan pasukannya sudah sampai di gerbang kota?" tanya Wei Linglong.


"Jika menghitung waktu, seharusnya sudah sampai sejak lama, Nyonya," jawab Jenderal Sui.


Jenderal Yang dan yang lainnya mengikuti Wei Linglong. Kemenangan di hari ini adalah sebuah awal bagus yang membangkitkan semangat para prajurit. Meskipun banyak rekan yang gugur, namun jumlah yang tersisa jauh lebih banyak. Itu menandakan bahwa Yuan itu kuat, tidak lemah seperti perkiraan mereka.


"Nyonya, perang hari ini, saya benar-benar puas. Baru kali ini saya berperang dan menang secepat ini," ucap Jenderal Cui.


Jenderal Sui, Jenderal Fu, dan Jenderal Yang mengangguk setuju. Murong Yan juga menganggukan kepalanya.


"Jangan puas. Ini hanya permulaan, ini belum berakhir," Wei Linglong memperingatkan mereka. Benar, ini hanya permulaan. Esok atau lusa, musuh akan kembali dengan kekuatan yang lebih besar dan kuat.