The Legend Of Chunfei

The Legend Of Chunfei
FRAGMEN 97: SATU LANGKAH LEBIH DEKAT



Pagi-pagi sekali, komplek Istana Dalam sudah ribut. Di tengah halaman yang masih berembun, semua selir dan Nona Kekaisaran berkumpul membentuk sebuah kerumunan yang ribut. Di tengah halaman itu, seorang pelayan dipaksa berlutut tanpa alas. Penampilan pelayan itu sudah acak-acakan.


Di depannya, Wei Linglong berdiri dengan tegap sambil menatap datar pada pelayan itu. Pelayan tersebut adalah pelayan pribadi Permaisuri Yi. Kemarin, Murong Qin diam-diam menangkapnya dan menginterogasinya. Xiaoyao, si pelayan itu sudah tidak akan selamat kali ini.


"Hanya seorang pelayan, tetapi seberani itu. Xiaoyao, kau pikir nyawamu ada berapa? Meskipun kau pelayan pribadi Permaisuri Yi, dia tidak akan bisa melindungimu sampai mati!" seru Wei Linglong.


"Selir Chun, memangnya apa yang diperbuat oleh pelayan ini?" tanya Selir Kekaisaran Su.


"Benar, apa dia sudah melakukan kesalahan yang besar?" tanya Nona Kekaisaran Zhe.


"Bukan besar, tetapi sangat besar. Apa kalian pernah mendengar tentang mantan Gubernur Jiangzhou dan pelayan istana yang ditahan di penjara rahasia?" tanya Wei Linglong.


Semua wanita yang ada di sana saling melempar perkataan dengan sesamanya. Mereka memang pernah mendengarnya. Mereka juga mendengar kalau kedua orang itu sudah mati. Lalu apa hubungannya dengan Xiaoyao, si pelayan Permaisuri Yi yang sangat setia itu?


"Pelayan ini adalah orang yang telah membunuh mereka. Kalian tahu? Mereka tidak mati bunuh diri, melainkan diracuni! Adipati Jing sudah memeriksanya!"


Sontak saja semuanya terkejut. Bagaimana mungkin seorang pelayan berani membunuh tahanan penting kekaisaran? Kecuali, jika dia punya dukungan kuat dari orang di belakangnya. Permaisuri Yi meskipun sangat licik, tidak mungkin menyuruh pelayannya membunuh tahanan kekaisaran yang sangat dijaga, pikir mereka. Namun, itu semua tidak berlaku bagi Wei Linglong.


Baginya, penjahat tetap penjahat. Meskipun dia tidak bisa menggulingkan Permaisuri Yi sekaligus, setidaknya dia bisa melemahkannya lewat pelayan ini. Xiaoyao yang tampak ketakutan bergetar, namun mulutnya tetap rapat.


"Katakan! Siapa yang sudah menyuruhmu melakukan tindakan keji itu?" tanya Wei Linglong dengan tegas.


Dari arah samping halaman, Permaisuri Yi dan Ibu Suri yang merasa terganggu dengan keributan bergegas menghampiri kerumunan. Sang permaisuri membelalakkan mata ketika melihat pelayannya dalam keadaan mengenaskan. Kepalanya terkepal, dia hendak menolongnya namun Ibu Suri menghentikan pergerakannya.


"Kau bisa mati," ucap Ibu Suri pelan. Kemudian, Permaisuri Yi mundur dari langkahnya. Dia menatap Wei Linglong dan pelayannya secara bergantian.


"Selir Chun, ada apa ini? Mengapa pelayanku kau siksa seperti itu?" tanya Permaisuri Yi.


"Oh, Permaisuri, kau sudah datang. Begini, pelayanmu ternyata membunuh dua tahanan penting kekaisaran. Apa Anda juga baru tahu?"


Permaisuri Yi dan Ibu Suri berusaha keras untuk tidak terkejut. Sialan, dari mana wanita ini tahu kalau pelayannya adalah pembunuh mantan Gubernur Jiangzhou dan pelayan di penjara rahasia?


"Selir Chun, meskipun kau mendapat dukungan Kaisar, kau juga tidak bisa memfitnah orang lain sembarangan. Apa kau punya bukti?" tanya Permaisuri Yi.


Wei Linglong kemdian mengeluarkan surat pengakuan yang dia dapat dari Murong Qin sebagai hasil interogasi hari kemarin. Dia langsung menyerahkannya kepada Permaisuri Yi, membiarkan musuhnya membacanya sampai habis. Setelah itu, barulah dia kembali melanjutkan perkataannya.


"Buktinya sudah jelas. Ada saksi dan semua pengakuannya sudah dicatat di Kementrian Kehakiman. Permaisuri Yi, kau tidak mungkin melindungi pelaku kejahatan seperti dia, bukan? Kecuali, jika itu semua ada hubungannya denganmu."


Permaisuri Yi tidak bisa melindungi Xiaoyao. Kata-kata Wei Linglong sangat tajam dan menjebak. Dia melihat ke sekeliling dan mendapati bahwa semua orang di halaman itu mengiyakan perkataan Wei Linglong. Ini membuatnya semakin terdesak dan tidak punya pilihan lain selain membiarkan Xiaoyao dihukum karena dia akan terlibat jika terus melindunginya.


"Jika buktinya sudah jelas, kau bawa saja dia!" seru sang permaisuri.


"Wah, secepat ini? Aku yakin jika orang lain punya majikan sepertimu, mereka akan ketakutan dan lari," ejek Wei Linglong. Permaisuri mencoba bersabar.


"Xiaoyao, katakan! Siapa yang sudah menyuruhmu?"


Xiaoyao yang sudah tidak berdaya masih mempertahankan kesetiaannya. Pelayan itu dalam keadaan payah dan terluka kemudian menunjuk pelayan di samping Ibu Suri, yang membuat semua orang kembali tercengang, termasuk Wei Linglong sendiri.


Tidak kusangka, dia menjebak majikan lain untuk menemaninya menerima hukuman, ucap Wei Linglong dalam hati.


"Dia! Selir Chun, tidak, Nyonya Permata, He Li yang menyuruhku! Dia punya hubungan gelap dengan mantan Gubernur Jiangzhou dan berteman baik dengan pelayan itu! Dia menyuruhku membunuh mereka karena takut terseret!"


"Ada apa ini?" tanya sang kaisar.


"Yang Mulia, mohon ampuni aku! Dia, He Li yang memintaku membunuh tahanan kekaisaran!" Xiaoyao langsung berlutut di hadapan Murong Qin. Xiaoyao tahu ini pasti tidak sesuai harapan Murong Qin, namun dia juga tidak ingin mati sendiri. Karena dia tidak bisa melibatkan majikan dan mengatakan yang sebenarnya, dia hanya bisa mencari orang lain untuk menemaninya menerima hukuman.


"Pelayan kurang ajar! Apa maksudmu? Yang Mulia, Xiaoyao berbohon! Hamba tidak pernah menyuruhnya bertindak keji seperti itu!" pelayan Ibu Suri melawan. Tidak terima dengan tuduhan tersebut, dia juga ikut berlutut meyakinkan Kaisar Mingzhu.


"Pengawal! Tangkap kedua pelayan ini dan masukkan ke penjara! Atur waktu untuk menginterogasi mereka!" titah Murong Qin. Pengawal langsung menyeret Xiaoyao dan He Li ke penjara. Ibu Suri dan Permaisuri Yi tampak syok melihat pelayan pribadi mereka dibawa pergi menjemput kematian.


"Yang Mulia, apa kau punya keperluan hingga datang kemari?" tanya Permaisuri Yi.


"Kenapa? Apa aku tidak boleh berjalan di istanaku sendiri? Bahkan jika aku tidak pernah menyentuh kalian pun, tempat ini masih milikku. Permaisuri, apa kau keberatan?" Murong Qin bertanya balik, tentu saja untuk menghindari kecurigaan.


"Tidak. Bukan itu maksudku. Hanya saja kemunculan Yang Mulia terlalu mendadak hingga kau menyaksikan lelucon seperti ini," tukas Permaisuri Yi.


"Permaisuri, apa kau mencurigaiku?"


"Tentu tidak, Yang Mulia. Aku tidak berani."


"Karena kau punya hati yang baik, mengapa kau tidak mencoba mengintrospeksi diri dan merenungkan kesalahanmu bersama Ibu Suri karena tidak mendidik pelayanmu dengan baik?"


Di akhir kalimatnya, Murong Qin menatap Permaisuri Yi dan Ibu Suri bergantian.


Seketika Pemaisuri Yi terkejut. Perkataan barusan menyiratkan bahwa dia harus mengurung diri dan merenungkan kesalahan karena tidak mendidik pelayan pribadinya hingga bertindak keji dengan membunuh. Bukan hanya dirinya, bahkan Ibu Suri juga harus merenungkan kesalahannya. Tidak, tidak bisa! Dia tidak bisa dikurung lagi!


"Yang Mulia, mengapa kau seperti itu?" tanya Permaisuri Yi.


"Kenapa? Permaisri keberatan? Kau tidak ingin menjadi contoh yang baik untuk anggota harem? Bagaimana jika ada yang meniru pelayanmu dan majikannya melepas tanggungjawab? Bukankah namamu akan tercoreng dan dianggap sebagai permaisuri yang tidak kompeten?" Murong Qin menjebaknya dengan pertanyaan bertubi-tubi.


Semua wanita di sana menunduk, terkesima dengan wibawa kaisar mereka. Permaisuri Yi tidak punya pilihan lain selain mengiyakan perkataan Murong Qin. Sembari berjalan pergi membawa amarah, dia tak henti-hentinya menggertakkan gigi. Begitu pula dengan Ibu Suri yang berjalan tanpa sepatah kata pun terucap dari mulutnya. Keduanya benar-benar masuk ke dalam jebakan Kaisar Mingzhu dan Selir Chun!


"Apa yang kalian lihat?" tanya Murong Qin kepada semua selir dan Nona Kekaisaran yang masih berkerumun. Mereka langsung bubar ketika mendengar pertanyaan Murong Qin. Takut akan wibawa dan keagungannya. Setelah itu, Murong Qin bergegas pergi dari Istana Dalam, meninggalkan Wei Linglong dan Murong Yan yang tengah berdiri bersebelahan sembari menyaksikan kaisar pergi.


"Ck... Tidak kusangka dia tega menjebak orang lain karena tidak ingin majikannya ketahuan. Benar-benar pelayan yang setia!" decak Murong Yan. Wei Linglong mengerutkan dahi.


"Ah Yan, dari mana kau tahu?"


"Kakak Kaisar sudah memberitahuku semuanya. Sekarang aku adalah Pangeran Guangping, bukan lagi pangeran yang tidak tahu apa-apa."


Wei Linglong menepuk pundak adik iparnya seperti kepada teman.


"Bagus. Lihatlah, Xiaoyao malah membantu kita mematahkan satu sayap musuh," ucap Wei Linglong.


Murong Yan mengangguk. Dia sungguh berharap ibunya akan berhenti berbuat jahat. Kejadian hari ini memberikan pukulan cukup keras, namun belum cukup untuk menghancurkan kerasnya hati Ibu Suri dan Permaisuri Yi. Kakak kaisar dan kakak iparnya masih harus bekerja keras untuk membuat kedua wanita itu kapok sebelum bencana besar benar-benar datang.


"Ayo! Ah Yan, kita masak di Istana Fenghuang untuk merayakan kemenangan hari ini!"


...***...


...Yeah, Longqin sudah mulai bertindak duluan. Berhubung cerita yang ini akan selesai, Author mau mengucapkan terima kasih dulu kepada kalian yang sudah setia dari awal sampai ke episode ini. Sampai jumpa di episode berikutnya! ...