
Desa Jiazhu mendapatkan sebuah kehormatan yang sangat besar. Saking besarnya, para penduduknya bahkan harus menjamu para tamunya dengan rasa takut dan penyesalan yang luar biasa dahsyatnya. Para penduduk harus membayar dengan harga yang cukup mahal atas kehormatan yang mereka dapatkan di musim dingin tahun ini.
Bukan hanya Kaisar Mingzhu dan Selir Chun yang datang, tetapi juga seorang petinggi kerajaan yang namanya terkenal di mana-mana ikut meramaikan suasana. Para penduduk belum habis ketidakpercayaannya, kini mereka harus menerima kenyataan kalau desa kecil mereka didatangi oleh tiga orang penting di Dinasti Yuan tanpa mereka sadari.
Wei Linglong menatap dua pria yang tengah duduk dengan tenang di aula utama pos persinggahan dengan tatapan menelisik. Dia menatap Murong Qin yang tenang dan dingin bagaikan es, kemudian beralih menatap seorang pria berjubah hitam yang tengah menikmati secangkir teh melati yang masih panas.
Saat para penduduk dipersilakan bangun beberapa waktu lalu, Wei Linglong langsung mengalihkan perhatian pada pria berjubah hitam di belakang sana. Ada suasana familier sekaligus asing menghampirinya secara tiba-tiba, terlebih ketika dia melihat wajah pria berjubah hitam itu.
Saat itu, Murong Qin hanya menatapnya tanpa berbicara, seolah dia sudah memprediksi bahwa semua ini akan terjadi dan dia mengetahui siapa orang itu. Karena itulah, usai menenangkan para penduduk dan menangkap beberapa provokator, Wei Linglong langsung menarik Murong Qin dan orang berjubah hitam ke kediaman di pos persinggahan untuk dimintai penjelasan.
“Yang Mulia, ayo katakan apa yang sebenarnya terjadi!”
Mendengar Wei Linglong memerintah Murong Qin, pria berjubah hitam itu tertawa kecil. Lucu sekali wanita ini. Dia bisa melihat betapa besarnya kebingungan dan rasa penasaran yang ada di diri Wei Linglong. Orang itu meletakkan cangkirnya, kemudian membenarkan posisi duduknya.
“Adik, beberapa bulan tidak berjumpa, kau sudah melupakanku?” tanya orang berjubah hitam dengan nada jenaka.
“Adik? Siapa adikmu?”
Xiaotan yang berdiri di samping Wei Linglong kemudian menghampiri pria berjubah hitam diikuti tatapan aneh Wei Linglong. Ada apa ini? Mengapa pelayannya menghampiri orang aneh itu? Apa di sini hanya dia sendiri yang tidak mengenal pria aneh itu?
“Tuan, nyonya tidak bisa mengingat beberapa hal. Dia mungkin melupakan Tuan juga,” ucap Xiaotan pada pria berjubah hitam.
“Tidak apa-apa. Aku sudah mengetahuinya.”
“Adipati Jing, lama tidak berjumpa,” ujar Murong Qin secara tiba-tiba, seperti sengaja ingin memberitahu Wei Linglong.
Sepertinya Wei Linglong pernah mendengar sebutan ini beberapa kali. Jika tidak salah, Xiaotan pernah bercerita kalau dia adalah adik dari Adipati Jing, Wei Shiji. Oh, Wei Linglong langsung membelalakkan matanya ketika dia mengingat siapa sosok Adipati Jing.
“Kau… Kakakku?”
Wei Shiji tergelak. Adiknya sungguh lucu. Ekspresinya ketika terkejut sungguh menggemaskan. Selama beberapa bulan ini, dia belum bertemu dengan adik semata wayangnya karena dia sibuk. Sejak ayahnya mengirimya ke istana, Wei Shiji sama sekali belum sempat mengunjunginya.
Meskipun begitu, dia mengetahui segala situasi yang terjadi kepada Wei Linglong. Wei Shiji selalu mendapatkan kabar dari orang kepercayaannya mengenai keadaan Wei Linglong setiap hari. Kebanyakan dari kabar itu adalah kabar baik hingga dia tidak merasa khawatir.
Wei Shiji senang karena adiknya itu mendapatkan tempat di sisi Kaisar Mingzhu. Dia dan keluarganya sama sekali tidak menaruh harapan tinggi kalau Kaisar Mingzhu-nya akan menerima dan memperlakukan Wei Linglong dengan baik.
Tidak disangka, takdir justru berkata sebaliknya. Wei Linglong telah mendapat tempat tersendiri di sisi Murong Qin. Wei Shiji juga mengirimkan kabarnya kepada ayahnya di kampung halaman sana agar ayahnya yang baru saja pensiun tidak khawatir dan tidak sakit karena putrinya. Dengan kata lain, Wei Shiji diam-diam selalu memantau keadaan Wei Linglong dari kejauhan.
“Yang Mulia terlalu sungkan.”
“Apa yang dilakukan Adipati Jing di desa kecil ini?”
“Aku baru saja mengunjungi teman lamaku di Jiangzhou. Kebetulan mendengar kabar kalau Yang Mulia singgah di Jiazhu.”
“Mengunjungi teman lama? Kabar untuk Adipati ternyata cepat juga.”
Wei Linglong yang masih belum bisa mencerna semuanya harus kembali dibuat kebingungan. Dua pria berbeda karakter di depannya sungguh membuatnya ingin menenggelamkan diri saja. Satu pria bertemperamen bagai es di ujung bumi, satu lagi seperti musim semi yang hangat.
Murong Qin dan Wei Shiji seperti air dan api. Mereka memiliki karakter yang berlawanan. Tiba-tiba, Wei Linglong merasakan aura ketegangan yang menjalar dari pundaknya. Suasana di dalam aula berubah menjadi tegang tatkala dia melihat kakak dan suaminya tengah saling beradu tatap.
Keadaan itu telah minimbulkan sebuah tanda tanya besar di benak Wei Linglong. Murong Qin dan Wei Shiji seperti musuh yang sedang berhadapan secara langsung. Dilihat dari situasi yang terjadi, bisa disimpulkan bahwa Murong Qin dan Wei Shiji memiliki hubungan yang kurang baik. Jika tidak, situasi canggung nan tegang tersebut tidak akan terjadi.
“Ya. Tapi, Yang Mulia tenang saja. Aku akan segera pergi dari sini, tidak berani menganggu urusan Yang Mulia. Adik, tidak, Selir Chun, jaga dirimu baik-baik, jangan biarkan ayah khawatir lagi. Kalau begitu, aku pamit.”
Wei Shiji pergi begitu saja tanpa menunggu Wei Linglong mengucapkan salam perpisahan. Entah mengapa, hati Wei Linglong merasa tercubit. Kakaknya pergi seperti itu, tetapi bahkan Murong Qin tidak menunjukkan ekspresi yang baik. Terlebih, Wei Linglong semakin merasa aneh ketika dia melihat Wei Shiji pergi masih dengan wajah jenakanya.
Sepeninggal Wei Shiji, ketegangan di dalam aula sedikit memudar. Atmosfer tidak lagi sedingin es. Wei Linglong masih bergelung dengan rasa penasarannya yang tinggi, tetapi tidak ada seorang pun yang bisa memberinya jawaban pasti. Dia ingin bertanya pada Murong Qin, namun urung dia lakukan karena ekspresi Murong Qin lebih menakutkan pada saat seperti ini.
Murong Qin lantas pergi begitu saja. Suasana hatinya sedang tidak baik. Kedatangan Wei Shiji diam-diam telah membuatnya terusik. Wei Shiji, putra sulung Jenderal Yun merupakan tuan muda nomor dua setelah Murong Qin. Dia diangkat menjadi adipati pada usianya yang ke-20 tahun, ketika umur pemerintahan Murong Qin baru berlangsung dua tahun.
Wei Shiji berusia dua tahun lebih tua darinya. Di umurnya yang masih muda, Wei Shiji telah memiliki tempat tersendiri di hati para pejabat istana. Tidak hanya mahir dalam militer, dia juga sangat berbakat dalam politik. Wei Shiji menunjukkan kemampuannya kepada semua orang dengan baik. Dia kerap membantu ayahnya, Jenderal Yun, berperang melawan musuh di beberapa wilayah.
Mengetahui bahwa Kaisar Mingzhu tidak begitu menyukainya, Wei Shiji kemudian memilih mundur dari pengadilan istana. Sebagai seorang adipati, dia meninggalkan tugasnya dan memilih hidup sebagai seorang penerus keluarga Wei. Agar dia tidak dicemooh rakyat dan dianggap meninggalkan tanggungjawab, Wei Shiji diberikan tugas tersendiri secara rahasia.
Murong Qin tidak pernah memaksa Wei Shiji untuk berhenti dari pekerjaannya. Mungkin, Wei Shiji mewarisi sifat ayahnya yang tenang dan tidak terburu-buru. Menjauh dari urusan politik di dalam istana merupakan jalan terbaik dalam mencari kedamaian hidup, meskipun dia harus dipermalukan berkali-kali.
Meskipun telah menjauhkan diri dari istana, Murong Qin tahu kalau Wei Shiji masih suka berkomunikasi dengan beberapa pejabat dan berdiskusi perihal situasi yang terjadi. Dia sering mendengar kabar bahwa mereka kerap bertemu di beberapa tempat.
Murong Qin juga tahu kalau Wei Shiji memiliki bawahan setia yang tersebar di mana-mana, yang memberikan akses informasi kepadanya dengan cepat.
Apa yang dikhawatirkan oleh Murong Qin hanyalah tentang permasalahan waktu. Orang mungkin menganggap kalau Wei Shiji telah melemah, namun di balik itu semua, Murong Qin tetap tidak bisa melepaskan kewaspadaannya. Bagaimana jika suatu saat Wei Shiji memilih jalan salah dan berbalik memusuhinya?
Perangainya yang jenaka memang membuat orang sekilas tertipu. Wei Shiji pandai menyembunyikan emosi. Pria itu datang ke desa kecil ini, bukankah terlalu aneh? Selain itu, waktu kemunculannya juga terlalu pas. Murong Qin tidak percaya kalau Wei Shiji hanya sekadar lewat saja.
Murong Qin sebenarnya tidak mau berprasangka buruk terhadapnya. Akan tetapi, sebagai seorang Kaisar yang musuhnya di mana-mana, dia dituntut harus selalu waspada kepada siapapun. Pejabat istana atau orang manapun yang memiliki kekuatan berlebih lebih berpotensi menjadi pengkhianat.
Murong Qin hanya tidak ingin kekuatannya sebagai seorang Kaisar diinjak-injak oleh pejabatnya sendiri. Dia harus selalu kuat menduduki kursinya, menjalankan misinya dan membuat seluruh rakyat Dinasti Yuan sejahtera.
“Yang Mulia,”
Murong Qin menolehkan kepalanya. Wei Linglong berdiri menatapnya. Sorot matanya menyiratkan berbagai pertanyaan yang telah berkumpul di kepala mungil itu. Benar, Wei Linglong telah kehilangan ingatannya. Dia mungkin lupa atau bahkan tidak tahu seperti apa hubungan Murong Qin dengan Wei Shiji sebelumnya.
“Apa kau memiliki hubungan yang kurang baik dengan kakakku?”
“Kau menyadarinya?”
“Ya. Sejak dia datang, raut wajahmu selalu mengkerut seperti karet. Saat di depan penduduk, aku tahu kau sedang berusaha bersikap tenang. Tetapi, itu tidak bisa membohongiku. Apalagi ketika kalian berada di dalam aula beberapa saat yang lalu.”
“Kau sama sekali tidak ingat?”
“Aku bahkan tidak tahu apapun.”
Apakah Wei Linglong akan membencinya jika dia tahu kalau hubungannya dengan Wei Shiji benar-benar tidak baik? Apakah wanita itu akan menghindarinya dan menjauh darinya, serta membatasi komunikasi dengannya? Atau wanita itu akan marah dan memaksanya berbaikan dengan Wei Shiji?
Wei Linglong juga memiliki pemikirannya sendiri. Jika hubungan kedua pria ini tidak baik, tidak apa-apa. Wei Linglong hanya sebuah jiwa yang terdampar, segala sesuatu yang berkaitan dengan pemilik tubuh asli sebenarnya tidak ada hubungannya dengan dirinya. Selama Murong Qin tidak membunuh kakaknya, itu sudah cukup bagi Wei Linglong.
“Yang Mulia, tidak apa-apa jika memang itu benar. Aku tidak akan memaksamu berbaikan dengannya.”
Murong Qin mengerutkan kening. Benarkah wanita ini tidak keberatan? Nada bicaranya begitu jujur, tidak mungkin berbohong. Apa yang telah diajarkan oleh Jenderal Yun pada putri kesayangannya ini? Bahkan jika itu seorang permaisuri dan raja daerah, hubungan keluarga biasanya lebih dekat karena darah lebih kental daripada air. Wei Linglong, justru menganggap semuanya biasa saja.
“Sungguh?”
Wei Linglong menganggukkan kepala.
“Asalkan Yang Mulia tidak mempersulitnya. Aku tahu dia datang bukan hanya sekadar lewat saja. Aku juga bukan orang bodoh. Kakakku pasti memiliki pemikirannya tersendiri.”
Betapa bagusnya jika semua wanita di istana memiliki pemikiran seperti Wei Linglong, yang terbuka dan tidak memaksa. Kehidupan di dalam istana mungkin tidak akan begitu rumit jika semuanya bisa saling mengerti. Sayang sekali, hanya ada satu Wei Linglong di dunia ini. Hanya ada satu wanita yang pemikirannya seperti berasal dari seorang wanita dari masa yang berbeda.
“A-Ling, kita harus segera pergi dari sini.”
Seketika, Wei Linglong langsung terdiam.
“Kau barusan memanggilku apa?”
“A-Ling.”
Entah mengapa, wajah Wei Linglong tiba-tiba memerah.
...***...