
Istana Yanzhi, tahun kedelapan pemerintahan Kaisar Mingzhu.
Musim gugur sudah menuju puncak. Suhu udara perlahan menurun dari hari ke hari. Pada tahun ini, musim gugur terasa lebih lama dari biasanya. Jadwal rapat pengadilan yang biasanya diperpendek kini berlangsung seperti biasa layaknya musim-musim sebelumnya. Tampaknya, sang kaisar sengaja memperpanjang waktu agar para menterinya ikut merasakan hari yang melelahkan seperti yang dia alami.
Murong Qin sudah bergegas menuju aula pengadilan ketika matahari masih berada dalam pelukan pagi. Liu Ting mengekorinya dari belakang, berjalan menunduk melewati pelataran istana yang megah di pagi hari. Pelayan-pelayan dan pengawal sibuk bekerja, para pemilik istana baru saja terbangun dari tidur mereka.
Sebelum masuk melalui pintu samping, Murong Qin berdiam diri terlebih dahulu di sebuah koridor Istana Yanzhi yang letaknya tak jauh dari pintu masuk. Dia berdiri sejenak dengan tangan bersandar pada pagar istana, lalu memandang ke cakrawala yang masih ditutupi kabut. Karena Istana Yanzhi letaknya paling tinggi, maka dia bisa melihat seluruh komplek istana dari sini.
Lalu, pandangannya tertuju pada sebuah istana megah yang tinggi menjulang di dekat Danau Dongting sana. Murong Qin menarik napasnya, lalu membuangnya perlahan seolah helaan napas itu seperti sebuah besi yang telah lama membelenggunya. Istana Fenghuang, istana tempat wanita tercintanya sudah lama sepi.
Murong Qin menyesal telah memberikan izin pada wanita itu. Dia menyesal telah membiarkan Wei Linglong yang keras kepala pergi sendirian ke medan perang. Dua musim hampir berlalu, namun wanita itu tak kunjung kembali. Semua hari Murong Qin kembali terasa sepi seperti tahun-tahun sebelumnya. Tidak ada suara tawa mengejek, tidak ada perdebatan, juga tidak ada perkataan kasar dan sarkas yang memenuhi telinganya sejak Wei Linglong tidak ada.
Dia terlalu lama pergi. Murong Qin merindukan wanita itu setiap hari. Setiap selesai mengurusi urusan istana, dia kerap menyendiri di Istana Fenghuang, menikmati sisa hari dengan berayun di ayunan kayu atau pergi ke ruang rahasia sampai malam hari. Dia tak tahu apakah di sana, Wei Linglong baik-baik saja atau tidak. Murong Qin ingin menyusulnya, namun Wei Shiji berkali-kali menyadarkannya bahwa istana tidak boleh tanpa pemimpin. Kakak iparnya memintanya untuk selalu percaya bahwa Wei Linglong baik-baik saja.
Tetapi, apa yang dia tahu tentang perasaannya? Murong Qin mencintai wanita itu dari lubuk hatinya yang terdalam. Berpisah seperti ini seperti tulangnya ditarik dengan paksa, lalu dikubur hidup-hidup. Napasnya kerap terasa sesak. Untung saja Murong Yu sering datang mengunjunginya, mengajaknya bermain dan memintanya mengajari banyak hal. Murong Qin terkadang merasa kalah dari bocah kecil itu.
“Yang Mulia?”
“Yang Mulia?”
Murong Qin tersadar ketika Liu Ting memanggilnya dua kali. Dia melihat sekeliling, harinya ternyata sudah agak siang. Dari kejauhan, dia bisa melihat menteri-menterinya berjalan menuju Istana Yanzhi. Jubah mereka berkibar terbawa angin. Murong Qin kemudian berbalik menuju pintu samping, bersiap menyambut para menterinya yang kerap kali kurang ajar kepadanya.
Beberapa menit kemudian, pintu aula Istana Yanzhi terbuka lebar. Para menteri nampak terkejut ketika mendapati kaisar mereka sudah duduk di singgasananya dengan tenang. Malu, tentu saja. Mereka terlambat beberapa menit dari atasan mereka sendiri. Dengan wajah merah dan kaki bergetar, perlahan mereka mulai berbaris sesuai dengan fraksi masing-masing.
Murong Qin menatap mereka dengan tenang. Dia tahu bahwa para pejabatnya ini merasa malu, namun Murong Qin sengaja tidak menunjukkan bahwa dia marah. Ada sesuatu yang ingin dia sampaikan kepada para menterinya, lalu dia ingin memarahi mereka habis-habisan karena tidak becus bekerja.
Sang Kaisar terlebih dahulu menunjuk Menteri Keamanan, Hu Jia. Menteri yang ditunjuk terkejut karena tidak biasanya sang kaisar menunjuknya seperti ini.
“Yang Mulia, apakah Anda memiliki sesuatu untuk disampaikan?” tanya sang menteri ragu.
“Ya. Menteri Hu, apa kau tahu apa kesalahanmu?”
Menteri Hu menggeleng.
“Sebagai Menteri Keamanan, kau bahkan tidak mampu menciptakan keamanan bagi lingkungan kerjamu sendiri. Menteri Hu, bagaimana caramu mendidik para bawahanmu?”
“Maksud Yang Mulia?”
“Kasus penculikan para nona dan pemuda di ibukota tidak pernah selesai. Kau tidak pernah memberiku laporan apapun. Menteri Hu, apa kau menganggap aku ini bodoh dan akan berdiam diri saja?”
Mendapat pertanyaan yang begitu mengintimidasi, Menteri Hu seketika berlutut. Kemampuan bersilat lidahnya tiba-tiba hilang. Sang menteri tidak tahu apa yang harus dikatakan karena otaknya langsung buntu. Perkataan tajam kaisar membuatnya seperti kucing yang ketahuan mencuri ikan. Dia memang bersalah, namun tidak menyangka kalau kesalahannya akan diketahui oleh kaisar secepat ini.
Menteri Lan kemudian maju untuk membela Menteri Hu. Walaupun dia sudah tidak terlalu mendominasi, namun perkataannya masih mempunyai pengaruh pada orang lain dan bisa merubah pandangan orang terhadap kaisar. Pria tua itu memberi hormat, lalu berlutut di samping Menteri Hu dengan susah payah.
“Yang Mulia, mohon berbelas kasihlah! Menteri Hu sudah tua, dia mungkin lalai dalam tugasnya. Kasus penculikan itu memang belum menemui titik terang, mungkin Menteri Hu juga tidak ingin melaporkan laporan palsu. Harap Yang Mulia tidak marah.”
Murong Qin juga balas menatap Menteri Lan. Pria tua yang menjadi ayah mertuanya ini pandai sekali berkata-kata. Sang kaisar mendecih, lalu melambaikan tangannya. Liu Ting berjalan membawa sebuah buku laporan berwarna emas, lalu melemparkannya ke hadapan Menteri Hu dan Menteri Lan dengan keras. Kedua menteri itu langsung mengambilnya dan membukanya.
“Adipati Jing telah menemukan markas pelaku penculikan ini. Menteri Hu, selama ini apa yang kau lakukan?” todong Murong Qin.
“Aku tidak membutuhkan orang yang suka bermalas-malasan sepertimu. Pergi, ambil gaji terakhirmu dan kembalikan jubah menterimu ke Kementrian Personalia!”
Menteri Hu langsung terduduk lesu. Di hadapan kaisar dan semua orang, dia menangis tersedu-sedu, meratapi nasibnya yang malang. Karirnya sebagai pejabat tinggi selama puluhan tahun kandas pagi ini, bahkan sebelum dia melaporkan sesuatu. Murong Qin terlalu tegas dan kejam. Orang lalai sepertinya langsung ditindak di tempat tanpa mempertimbangkan banyak hal lagi.
“Yang Mulia, mohon maafkan kelalaian hamba! Mohon pertimbangkan pengabdianku selama puluhan tahun ini kepada negeri! Yang Mulia, mohon jangan memecatku!” mohon Menteri Hu.
Sayang, Murong Qin yang hatinya tidak pernah lunak di hadapan pejabat memalingkan wajahnya. Dia sudah sangat marah karena Menteri Hu tidak pernah bekerja dengan benar. Jika bukan karena Adipati Jing, selamanya Murong Qin tidak akan mendapatkan petunjuk terkait kasus penculikan misterius yang terjadi selama beberapa bulan ini.
Keputusannya sudah bulat. Orang malas seperti Menteri Hu harus ditindak agar menjadi cermin bagi yang lain, bahwa bermalas-malasan dan mengabaikan tugas adalah sebuah pelanggaran berat yang tidak bisa dimaafkan. Biarpun Menteri Hu adalah menteri senior yang telah bekerja selama puluhan tahun, namun itu tidak bisa menutupi kesalahannya yang dirasa sangat fatal ini.
“Jika semua orang sepertimu, mengandalkan jasa selama puluhan tahun mengabdi, apa kau masih bisa disebut sebagai pejabat? Menteri Hu, apa kau lupa bahwa seorang pengabdi tidak pernah menghitung jasa dan tidak pamrih?” tanya Murong Qin, yang membuat seisi aula langsung terdiam.
“Apa tujuanmu menjadi pejabat? Apa kau hanya ingin kaya? Atau hanya menginginkan status dan kedudukan yang lebih tinggi dari yang lain?” tanyanya lagi.
Menteri Hu membisu. Selama ini, dia telah salah dalam menilai dirinya sendiri. Dengan langkah berat dan gontai, dia berjalan meninggalkan aula Istana Yanzhi. Beruntung karena kaisar hanya memecatnya saja, tidak menyita seluruh kekayaan dan menghukum keluarganya. Menteri Hu yang keluar penuh penyesalan tidak henti-hentinya menangis, tidak peduli tatapan tanya dan tertawaan orang-orang yang melihatnya.
Di aula Istana Yanzhi, suasana menjadi tegang. Kemarahan sang kaisar yang berujung pemecatan Menteri Keamanan membuat semua orang bergidik ngeri. Mereka merasa kaisar mereka sekarang jauh lebih kejam dan dingin. Tidak ada yang berani mengangkat kepala mereka, kecuali Wei Shiji. Hanya pria itu yang tetap berdiri tegap dengan kepala terangkat.
“Jangan pernah berpikir bahwa kalian akan luput dari pengawasanku. Kalian pikir aku tidak tahu siapa yang telah mengacaukan pengadilanku beberapa bulan ke belakang?”
Seketika, wajah Menteri Lan dan beberapa menteri lain yang bekerja sama dengannya langsung pias.
“Kalian berpikir aku tidak tahu siapa yang telah memprovokasi agar Selir Chun dilepas dari posisinya? Kalian berpikir aku tidak tahu apa yang kalian lakukan di belakang?”
Hening. Tegang. Kaisar Mingzhu sekarang lebih menakutkan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Mereka yang merasa bersalah semakin salah tingkah. Dari atas singgasana, Murong Qin tersenyum remeh. Nyali para menterinya ternyata hanya sampai seperti ini.
“Yang Mulia, mungkin sekarang bukan saatnya menghukum atas kesalahan yang mereka perbuat,” Wei Shiji menyela.
“Apa yang ingin kau laporkan, Adipati Jing?” tanya Murong Qin penuh wibawa.
Wei Shiji mengeluarkan sebuah buku laporan. Liu Ting segera mengambilnya, lalu menyerahkannya kepada Murong Qin. Sang kaisar tersenyum bangga sekilas, lalu kembali menatap tajam semua menterinya satu persatu.
“Yang Mulia dan juga tuan-tuan menteri yang terhormat, itu adalah laporan peperangan dari perbatasan utara Jiangzhou. Selir Chun memimpin seratus dua puluh ribu pasukan untuk melawan pasukan Mongolia. Selain itu, pasukan bantuan Kavaleri Huang dari Kerajaan Dongling juga datang membantu dan bergabung bersama pasukan kekaisaran. Minggu kemarin, Selir Chun dan enam jenderal perbatasan berperang melawan musuh tanpa henti. Langit memberkahi, pasukan kekaisaran menang dan berhasil memukul mundur pasukan musuh,” terang Wei Shiji. Ada kilatan kebahagiaan di matanya yang bening.
“Pangeran Kedua sebagai perantara pasukan Kerajaan Dongling untuk Yuan juga turut serta dalam pertempuran. Selir Chun membentuk formasi peperangan yang sukar ditembus hingga pasukan kekaisaran menang telak. Yang Mulia, seluruh detailnya ada pada buku laporan yang Anda baca,” tambahnya lagi.
Murong Qin sangat bahagia. Setelah sekian lama, akhirnya dia mendapatkan kabar dari perbatasan utara sana. Wei Linglong, istrinya itu berhasil memenangkan peperangan bersama pasukan! Itu membuat Murong Qin hampir limbung karena terlalu gembira. Liu Ting sebagai kasim hanya bisa menitikkan air matanya mengetahui kabar kemenangan untuk kekaisaran.
Para menteri yang semula diam otomatis tercengang. Selir Chun yang mereka remehkan berhasil memenangkan pertempuran, mengendalikan pasukan dan membawahi enam jenderal hebat yang terkemuka. Perasaan malu menjalar ke hati mereka. Sebagai pejabat tinggi, mereka seharusnya mendukung penuh siapapun yang berjasa pada negara, bukan berdebat dan berusaha memundurkannya.
“Persiapkan penyambutan kepulangan mereka!”
***