
"Yang Mulia, mantan Gubernur Jiangzhou ditemukan tewas gantung diri."
Pernyataan Bu Guanxi sontak membuat kuas di tangan Murong Qin terjatuh. Apa? Tahanan korupsi penyiksa rakyat di Jiangzhou mati gantung diri?
Murong Qin memijat pelipisnya. Dia belum mendapat pengakuan dan penjelasan mengenai ke mana perginya semua uang yang dikorupsi orang itu karena begitu sulit untuk menginterogasinya. Bukan hanya tidak mau membuka mulut, dia bahkan sering melawan petugas dan sipir penjara dengan segala cara hingga penyelidikan harus tertunda. Tidak peduli bagaimana siksaan yang dia terima, mantan gubernur itu tetap tidak mau mengaku. Sekarang malah mati, otomatis semua petunjuk langsung terputus.
"Selidiki kembali!" serunya tegas.
Baginya, kematian mantan gubernur Jiangzhou aneh. Tidak mungkin orang itu gantung diri di saat seperti ini. Murong Qin tidak percaya. Jika mau mengakhiri hidup, kenapa tidak dari dulu? Lebih jauh, mengapa tidak melakukannya saat dia ditangkap atau dalam perjalanan ke penjara kekaisaran?
Bu Guanxi sang komandan pengawal kekaisaran juga turut merasa aneh. Dia tahu betul seperti apa perangai mantan gubernur Jiangzhou. Orang itu memang keras kepala, tetapi sama sekali bukan manusia bertipe putus asa yang gampang mengakhiri hidup. Apalagi, banyak keuntungan yang bisa didapatkan jika dia mau mengaku dan memberitahu ke mana perginya semua uang yang dia kumpulkan dari korupsi bertahun-tahun.
"Baik, Yang Mulia."
"Jangan biarkan Selir Chun tahu."
"Baik, Yang Mulia."
Sang komandan pamit untuk menyelidiki kembali kematian mantan gubernur Jiangzhou. Meskipun tidak tahu mengapa kaisarnya tidak boleh memberitahu Selir Chun, tapi Bu Guanxi yakin itu adalah hal baik. Terlalu banyak masalah yang terjadi akhir-akhir ini. Kalau Selir Chun tahu, dia mungkin akan terpengaruh.
Setelah komandan pengawal kekaisarannya pergi, Murong Qin kembali pada pekerjaannya. Tapi, dia tidak bisa fokus karena pikirannya terus menerus terganggu. Beberapa permasalahan yang terjadi akhir-akhir ini sangat aneh dan misterius. Sepanjang malam, dia kerap terbangun karena bayangan masalah itu selalu datang hingga ke mimpinya.
Hanya saat Wei Linglong tidur di sisinya, dia baru merasa nyaman. Wanita itu sudah banyak melakukan pekerjaan berat yang menyita waktunya. Kemarin saja dia begitu khawatir. Murong Qin tidak ingin membebani pikiran wanita tercintanya dengan kematian mantan gubernur Jiangzhou.
"Sebenarnya siapa yang sedang bermain di belakangku?" Murong Qin bertanya pada dirinya sendiri. Firasatnya mengatakan seseorang tengah berkomplot untuk melawannya.
Beban pikirannya semakin terasa berat tatkala dia ingat bagaimana perilaku menteri-menteri tinggi kekaisaran di pengadilan istana. Dengan angkuh dan arogan, para menteri itu meminta Murong Qin untuk menaikkan gaji para pejabat. Selain itu, beberapa menteri lain mengkritik beberapa kebijakan yang dia buat sebagai bentuk penyengsaraan jangka panjang untuk rakyat.
Padahal, selama ini mereka selalu diam tanpa komentar. Kalau ingin mengkritik, kenapa tidak dari dulu saja? Para menteri itu punya banyak waktu dan kesempatan untuk menyampaikan keluhan padanya setiap hari. Tidak dengan waktu saat ini.
Seolah-olah, mereka telah merencanakan ini. Ya, Murong Qin curiga para menteri itu telah berencana melawannya sejak awal. Mereka hanya perlu menunggu waktu yang tepat untuk melancarkan aksinya. Meskipun pengadilan masih dikuasai olehnya, namun perilaku para menteri itu tetap saja menyebalkan dan membuatnya marah.
Terutama Menteri Lan. Ayah mertuanya itu tiba-tiba jadi hebat dalam berbicara. Sebelumnya, pria tua itu tidak pernah banyak berkomentar dan sering kalah dalam berdebat. Namun, entah mengapa akhir-akhir ini Menteri Lan jadi begitu mendominasi.
Murong Qin sempat berpikir ini semua pasti ada hubungannya dengan Ibu Suri dan Permaisuri Yi. Tapi, setelah dipikirkan kembali, kedua wanita itu tidak melakukan suatu hal yang membuatnya curiga. Mata-matanya di Istana Dalam melaporkan bahwa Permaisuri Yi hanya diam mengatur para selir sehari-hari, jarang bertemu Ibu Suri. Ibu Suri juga begitu. Usianya yang sudah tua membuat kesehatannya sedikit memburuk. Ibu Suri kerap berbaring di tempat tidurnya karena kondisinya yang lemah.
Lelah memikirkan itu semua, Murong Qin meletakkan kuasnya sejenak. Dia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, menghirup udara. Ruangan luas Istana Yanxi ini sekarang tiba-tiba terasa pengap. Mungkin karena hatinya sedang diliputi kegundahan.
"Yang Mulia, Pangeran Sulung datang berkunjung," ucap Liu Ting dari pintu depan.
"Biarkan dia masuk."
Tidak lama kemudian, Murong Yu datang diantar Liu Ting. Bocah kecil itu langsung berlari ke pangkuan ayahnya, memeluk lehernya dengan erat. Sepasang anak dan ayah tersebut berpelukan. Liu Ting meneteskan air mata. Setelah tujuh tahun, akhirnya hubungan Kaisar Mingzhu dengan Pangeran Sulungnya membaik.
"Putraku, mengapa kau datang kemari?"
Kepala Murong Yu menengadah, menatap ayahnya polos.
"Ananda hanya merindukan ayahanda. Ayahanda tidak datang ke Istana Fenghuang, jadi ananda hanya bisa datang ke Istana Yanxi untuk mengunjungi ayahanda."
"Anak manis. Ayahanda yakin bukan itu satu-satunya tujuanmu kemari, kan?"
Murong Yu tertawa kecil. Ayahnya ini memang kaisar, dia tidak bisa menyembunyikan apapun darinya.
"Ibumu tidak tidur?"
Murong Yu mengangguk. Murong Qin menghela napasnya. Rupanya, Wei Linglong juga tidak bisa tidur dengan nyaman akibat masalah akhir-akhir ini.
"Kami sedang menghadapi masalah yang cukup besar. Putraku, kau tidak perlu khawatir. Biarkan ayahanda dan ibumu menyelesaikannya. Kau hanya perlu belajar dengan baik." Murong Qin mencubit hidung mungil putranya dengan gemas. Usianya baru akan genap delapan tahun di bulan depan, belum saatnya dia memikirkan masalah orang dewasa.
Murong Yu masih perlu menempuh studinya bersama guru-gurunya. Permasalahan pengadilan yang berat hanya akan menghambat pertumbuhannya jika dia tahu. Murong Qin tidak ingin putra sulungnya menderita, terlalu banyak hal yang dia lewatkan bersama putranya itu. Murong Qin ingin menebusnya dengan memberikan limpahan kasih sayang dan memberikan semua yang terbaik untuk Murong Yu.
"Tidak bisa. Ananda sebagai pangeran kekaisaran, tidak boleh diam. Ibu pernah bilang bahwa laki-laki harus bertanggungjawab. Guru Xu juga bilang kalau seorang pangeran harus bisa membantu kekaisaran. Ananda tidak boleh menyia-nyiakan keistimewaan status dan kedudukan yang ananda dapat sejak lahir. Ayahanda, menjadi seorang pangeran bukannya harus menjadi manusia berguna?" tanya bocah kecil itu dengan semangat.
"Lalu, apa kau tahu apa artinya kekuasaan?"
"Ya. Kekuasaan berarti menggunakan kekuatan untuk kebajikan. Seorang raja, kaisar, pangeran, punya kekuasaan. Kalau tidak digunakan untuk kebajikan dan membantu orang, orang itu tidak pantas menyandang status itu, Ayahanda."
Murong Qin memeluk putranya lagi. Buah hati yang lahir tanpa direncanakan itu tumbuh dengan baik. Tujuh tahun ini dilalui dengan sulit. Bocah kecilnya sekarang sudah sangat pintar dan mengerti banyak hal. Kelak, Murong Qin tidak akan khawatir lagi karena masa depan putranya begitu menjanjikan.
"Anak pintar. Tunggu kamu besar, kamu akan menjadi orang hebat. Pangeran yang hebat. Ibundamu dan ibumu akan bangga. Ayahanda juga. Kami akan bangga padamu."
Murong Yu melepas pelukan ayahnya. Bocah itu berbalik, lalu menatap selembar kertas berisi sebuah karakter yang ditulis dengan tinta hitam tebal dan sangat besar.
"Ayahanda, ini apa?" tunjuk Murong Yu. Murong Qin mengikuti arah pandangnya, lalu tersenyum.
"Bagaimana menurutmu, putraku?"
Karakter itu bertuliskan kata wang yang berarti raja. Kata tersebut menyiratkan banyak hal karena ketika seorang kaisar menulisnya, kata tersebut menjadi keramat dan bermakna ganda. Itu bisa berarti mencari penerus atau ada pengkhianat yang mengincar takhta yang masih didudukinya.
"Ananda masih bodoh. Ananda belum bisa memahami artinya," ucap Murong Yu.
"Tidak apa-apa. Kelak, kau akan mengetahuinya, putraku."
Murong Yu mengambil kuas, lalu mencoret karakter tersebut dengan tinta. Tangan kecilnya bergerak menuliskan sesuatu, membentuk rentetan huruf runyam namun masih dapat terbaca.
"Kaisar, putra mahkota, permaisuri, selir, pangeran, bahagia. Ayahanda, apa tulisan ananda bagus?"
"Mengapa kamu menulis seperti itu?"
Dengan polosnya bocah itu menjawab,
"Di istana ini, orang-orang bergelar ini yang punya kekuasaan. Di Istana Dalam, ada permaisuri dan selir, sementara di istana lainnya ada kaisar dan putra mahkota serta pangeran."
"Lalu apa arti kata bahagia ini?" tanya Murong Qin lagi.
"Konflik. Permasalahan. Seperti yang sedang dihadapi ayahanda dan ibu. Juga permaisuri. Itu membuat kalian tidak bahagia," jawab Murong Yu.
Murong Qin memuji kepandaian putra sulingnya, lalu memangkunya. Dia membawa bocah kecil itu keluar dari Istana Yanxi. Pengap di dalam sana tergantikan oleh segarnya udara dari luar.
Di taman Istana Yanxi, sepasang ayah dan anak tersebut menikmati waktunya dengan bermain berdua.
...***...
...Aduh, badai besar telah datang! Badai besar telah datang!...