
Murong Yan tidak terlalu menyukai situasi formal di dalam istana. Sesuatu yang membuatnya bertahan dalam kondisi canggung dan menyebalkan itu adalah etiket yang dia miliki sebagai seorang pangeran Dinasti Yuan.
Sebagai putra dari Ibu Suri yang tidak memiliki hak mewarisi takhta, Murong Yan setidaknya masih memiliki status dengan martabat tinggi sebagai pangeran, bahkan di masa depan dia akan diberi gelar sebagai Pangeran Agung.
Jadi, pagi-pagi sekali, para pelayannya mengetuk pintu istana miliknya, memintanya segera bersiap untuk pergi ke perjamuan. Tamu agung dari negara tetangga sudah sampai kemarin, hari ini baru akan disambut secara resmi di Istana Yuyang.
Dengan pakaian resminya, Murong Yan datang ke Istana Yuyang lebih awal. Para pelayan yang tengah mempersiapkan semuanya lalu memintanya duduk di tempatnya, tepat di sebelah kiri kursi kaisar.
Beberapa pelayan itu tersenyum manis karena keramahan dari Murong Yan yang membuat seluruh penghuni istana merasa nyaman, walau terkadang merasa takut tatkala pangeran tersebut berhadapan dengan ibu kandungnya.
Hubungan yang tidak harmonis antara Pangeran Yan mereka dengan ibu kandungnya bukan lagi rahasia. Topik itu terkadang menjadi perbincangan hangat di setiap pertemuan. Bukan hanya pelayan yang statusnya rendah, bahkan pejabat tinggi istana pun terkadang ikut membicarakan mereka.
Tentu saja, ada dua kubu yang saling bertentangan. Mereka yang mendukung Murong Qin memilih menyetujui ketidakharmonisan hubungan tersebut, sedangkan mereka yang berpihak kepada Ibu Suri memanas-manasi yang lain dengan berbagai kebohongan.
Ibu Suri memang terlalu memaksakan kehendak. Seandainya dia bisa menerima takdir dan berdamai dengan Kaisar Mingzhu, betapa baiknya hal tersebut. Semua orang tidak akan khawatir berlebihan lagi akan gejolak di dalam keluarga istana yang berlangsung dari generasi ke generasi.
Ya, siapa yang tidak tahu sejarah keluarga kerajaan. Di masa-masa pemerintahan, para pangeran saling berebut takhta sampai menumpahkan darah, membunuh sesama saudara atau mengasingkannya ketika seseorang berhasil menaiki takhta. Sejarah kelam tersebut menjadi noda hitam yang abadi, yang terus terulang setiap generasi dan menodai kesucian keluarga istana.
Alangkah baiknya jika semuanya bisa saling menerima dan mengalah. Dunia tidak akan menemui kekacauan, hanya ada kedamaian dan keharmonisan yang terjalin. Konflik, sekalipun ada, mungkin tidak akan sampai berlarut-larut hingga menumbuhkan dendam yang mendalam. Dunia damai dan pemerintah yang objektif, siapa yang tidak menginginkan itu.
Akan tetapi, harapan tersebut harus ditelan bulat-bulat. Persaingan keluarga kerajaan menjadi lelucon publik, menjadi bahan perbincangan orang di jalan dan menjadi topik paling populer untuk diceritakan para pendongeng jalanan. Tidak ada yang benar-benar bisa menghindari hal tersebut.
Beberapa orang datang setelah beberapa lama. Orang-orang yang baru datang tidak menduga kalau Pangeran Kedua, Pangeran Yan telah datang lebih dulu dari mereka. Sesaat batin mereka berkata mereka malu, bagaimana bisa pejabat istana yang penting bisa lebih lambat dari seorang pangeran pengangguran?
Aneh juga, mengapa sang pangeran bisa begitu bersemangat hari ini. Beberapa bulan setelah kepulangannya, para pejabat bahkan tidak pernah melihat batang hidung Murong Yan di istana, terutama di pengadilan. Mereka hanya mendengar kabar kalau Pangeran Yan sudah kembali, tetapi belum pernah menjumpainya satu kali pun. Sekarang, mereka bertemu dengannya di sini.
“Pangeran Yan, lama tidak bertemu,” sapa Perdana Menteri Xu.
Murong Yan menyambutnya dengan senyum ramah. Siapa sangka di balik senyum ramah itu, Murong Yan menyimpan rasa kesal dan benci yang besar. Bagaimana tidak, Perdana Menteri Xu sering berkomplot dengan ibunya untuk mempersulit kakaknya di pengadilan istana. Belakangan dia mendengar kalau Perdana Menteri Xu menyinggung Kaisar dengan berbicara sembarangan perihal Selir Chun.
Kalau saja Perdana Menteri Xu tidak terlalu banyak bicara, dia mungkin bisa sedikit toleran padanya. Sayangnya, Perdana Menteri Xu terlalu picik. Di dalam otaknya tersimpan beribu cara untuk memprovokasi ibunya, mengatakan ini itu hingga ibunya terpengaruh dan larut dalam keinginan mustahilnya yang jahat. Jika bisa, dia ingin sekali membuat Perdana Menteri Xu tidak bisa bicara selama-lamanya. Dia ingin sekali membuat Perdana Menteri Xu merasakan akibat dari segala perbuatan liciknya.
“Ya, Perdana Menteri Xu.”
“Tidak tahu mengapa Pangeran begitu bersemangat hari ini?”
“Aku hanya keluar untuk menyambut tamu agung kakakku.”
Ada raut kecewa di wajah Perdana Menteri Xu. Seandainya anak dari sahabatnya ini memiliki sedikit ambisi, dia bisa membantunya membuka jalan dan mengantarnya menuju kursi agung yang ada di pengadilan sana.
Dirinya sudah sering berdiskusi dengan Ibu Suri, membicarakan banyak hal dan mengatur siasat agar keinginan mereka bisa tercapai. Sayang sekali, Perdana Menteri Xu harus menemui jalan buntu. Orang yang selama ini berusaha dia perjuangkan bersama Ibu Suri malah tidak menginginkan apapun.
Ini adalah momen yang tepat untuk mencari sekutu. Kalau saja Murong Yan bisa menunjukkan bakatnya di hadapan tamu agung, mereka mungkin bisa berpikir dan bersedia membantunya. Tetapi mendengar pernyataan yang tegas itu, semua harapannya buyar dalam seketika. Pangeran Kedua mereka benar-benar tidak ingin terlibat apapun.
Tiga puluh menit setelah rombongan pertama masuk, rombongan kedua datang. Yang kedua ini adalah Ibu Suri dan Permaisuri Yi, serta beberapa pejabat wanita yang melayani mereka.
Tiga puluh menit kemudian, kasim penjaga di luar Istana Yuyang memberitahu mereka kalau Kaisar Mingzu, Raja dan Ratu Dongling serta anak-anak mereka sudah tiba. Benar saja, mereka yang tiba lebih dulu melihat Kaisar beserta tamu agungnya berjalan memasuki aula perjamuan.
Para tamu dibuat terkejut dengan kehadiran seorang wanita yang berjalan di belakang Ratu Li. Wanita itu memakai gaun istana berwarna biru muda dengan ekor kain yang panjang. Beberapa orang mengenali wanita itu, yang lainnya hanya bisa bertanya pada sesamanya.
“Mengapa Selir Chun ada di sini?” tanya Ibu Suri setelah semua orang duduk di tempat masing-masing.
Belum ada orang yang menjawab pertanyaan itu. Rasa penasaran memenuhi pikiran mereka. Benar, mengapa Selir Chun ada di sini? Perjamuan resmi negara seperti ini biasanya hanya dihadiri keluarga inti dan menteri tinggi kerajaan. Selir kecil dan lemah seperti Selir Chun tidak diperbolehkan menghadiri perjamuan seperti ini. Selir Agung saja tidak diizinkan.
Yang lebih mencengangkan, Ratu Li yang seharusnya duduk di samping Raja Long malah berjalan ke seberang, ke tempat Wei Linglong berada. Tempat duduk Wei Linglong bersebelahan dengan Murong Yan, yang membuat kejutan di hati orang-orang di dalam sana semakin besar.
“Pangeran Yan, bisakah kita bertukar tempat duduk?” tanya Li Anlan yang lebih mirip seperti permintaan.
“Tentu, Ratu Li.”
Setelah kedua orang itu bertukar tempat duduk, tanda tanya menjadi semakin besar. Apa yang membuat Ratu Li menukar tempat duduknya dan memilih duduk di samping Selir Chun? Bukan, apakah Selir Chun atau Wei Linglong pantas duduk sejajar dengan Ratu Kerajaan Dongling?
Siapa yang tahu kalau semua itu adalah pengaturan yang dibuat oleh Ratu Li, Li Anlan. Teman lamanya itu memiliki sifat yang tidak terlalu menonjol dengan keberanian yang tidak konsisten. Li Anlan ingin memberitahu semua orang bahwa dia, Ratu Dongling yang dipuja dan dipuji serta dicintai, memiliki seseorang di dataran Yuan yang tidak bisa disinggung orang.
Sudah susah payah berjumpa dengan teman lama dari dunia yang sama, dia tidak bisa membiarkan orang menindasnya begitu saja!
Kehadiran Selir Chun saja sudah membuatnya marah, ditambah dengan perilaku Ratu Dongling yang seperti itu, dia sebagai permaisuri Dinasti Yuan tentu saja merasa dipermalukan.
Ratu Li bahkan tidak menyapanya dan tidak berbicara kepadanya. Wanita yang hatinya dinodai dengan rasa iri tersebut kemudian menatap Ibu Suri, namun tatapan tersebut dibalas dengan gelengan kepala. Ibu Suri yang telah puluhan tahun menghadapi banyak orang tentu tahu kalau ini bukan saat yang tepat untuk bertindak. Dia tidak bisa mengorbankan keselamatan Dinasti Yuan untuk menyinggung Wei Linglong di acara penting ini.
“Raja Long, apa Ratu Li adalah sahabat Selir Chun?” tanya Murong Yan dengan ramah. Suaranya kecil hingga hanya Long Ji Man saja yang bisa mendengarnya.
“Lebih dari sahabat,” jawab Long Ji Man singkat.
“Oh. Pantas saja.”
“Pangeran Yan, kau mau menonton sebuah pertunjukan bagus?”
“Pertunjukan apa?”
“Sebentar lagi akan dimulai.”
Long Ji Man mengetahui hubungan antara Murong Yan dengan Ibu Suri dari Murong Qin. Awalnya dia tidak percaya, tapi setelah dia melihat dengan matanya sendiri hari ini, dia menjadi yakin. Murong Yan bahkan tidak menyapa ibunya saat masuk, juga tidak berbicara dengannya. Jadi, tidak apa-apa jika Long Ji Man memberitahunya perihal pertunjukan kecil yang akan ditunjukkan istrinya beberapa saat lagi.
Sepasang suami istri tersebut sepakat untuk memberikan pelajaran kecil kepada wanita-wanita nomor satu di Yuan sebagai balasan atas perbuatan mereka kepada Wei Linglong tanpa sepengetahuan Murong Qin.
Mereka berharap setelah wanita-wanita ini mendapatkan pelajarannya, mereka tak lagi menganggu Wei Linglong. Dengan begitu, saat mereka sudah kembali ke Kerajaan Dongling nanti, Li Anlan tidak perlu khawatir teman lamanya akan mati ditindas.
Tepat saat tari-tarian dari penari istana dan suara sitar serta alat musik lain berhenti, Li Anlan berdiri sambil memegang cangkir teh. Dia menghadap singgasana tempat Murong Qin dan Permaisuri Yi duduk bersama Ibu Suri, kemudian sedikit membungkukkan tubuh. Hiasan di kepalanya bergetar.
“Aku berterima kasih atas penyambutan yang luar biasa dari Kaisar Mingzhu dan Permaisuri Yi. Kalian telah bekerja keras,” ucap Li Anlan.
“Aku bersulang untuk Yuan,” sambungnya lagi, kemudian meminum teh di cangkirnya.
“Terima kasih, Ratu Li. Yuan kami bisa menyambut Raja dan Ratu Dongling merupakan berkah yang luar biasa,” ujar Permaisuri Yi. Wajah merahnya kembali ke semula, hatinya senang karena pada akhirnya tamu agung tersebut berbicara dan minum bersamanya.
Li Anlan berteriak dalam hatinya, menyebut kalau Permaisuri Yi sangat bodoh dan naif. Saking bodohnya, permaisuri dari Yuan tersebut tidak menyadari kalau minuman yang disulangkan kepadanya dari jauh adalah teh, bukan arak yang biasa diminum dan bersulang. Itu menandakan bahwa sedari tadi, Permaisuri Yi hanya bergelut dengan perasaan marahnya hingga tidak memperhatikan keadaan di sekitarnya.
Orang-orang di dalam aula sebenarnya ingin tertawa atas kebodohan yang dilakukan Permaisuri Yi, namun tidak berani karena itu sama saja dengan mencari mati. Ibu Suri tampak marah, jelas sekali wajahnya menahan merah. Jika tidak ada orang penting di sini, dia ingin memaki menantu tirinya dengan kata: Dasar Permaisuri bodoh!
“Raja Long, apa ini pertunjukan yang Anda maksud?” tanya Murong Yan jenaka.
“Tidak. Tunggulah sebentar lagi,” jawab Long Ji Man.
Saat Li Anlan meletakkan cangkirnya, dia kemudian berdiri lagi hingga semua orang merasa terkejut. Di singgasana, Murong Qin menunggu pertunjukan lain yang akan diberikan tamu agungnya.
“Kudengar, Selir Chun di sampingku ini baru masuk istana setengah tahun yang lalu. Aku pikir itu hal yang baik, tetapi aku mendengar kalau dia dihukum tanpa alasan. Permaisuri Yi, apakah menghukum orang di harem tanpa alasan adalah salah satu kebolehan di Yuan?”
Wei Linglong tersedak kudapan manis yang dia makan. Apa teman lamanya ini cari mati? Mengapa dia menciptakan keributan di acara penyambutannya sendiri? Apa Li Anlan sudah gila? Lihat, wajah Ibu Suri dan Permaisuri Yi sudah tidak begitu bersahabat!
“Ah? Apa maksud Ratu Li?” tanya Permaisuri Yi.
“Oh, aku lupa memberitahu kalian semua. Aku punya saudara perempuan, sebelas tahun lalu kami berpisah. Kemarin, aku baru berjumpa kembali dengannya.”
Tanpa perlu dijelaskan, semua orang yang ada di dalam aula Istana Yuyang langsung mengerti. Ratu Li sedang memberitahu mereka kalau orang yang disebut saudara perempuan olehnya ada di samping wanita itu. Pantas saja dia bisa ikut serta di perjamuan penting kali ini.
Entah benar atau tidak, entah seperti apa kisah mereka berdua hingga menjadi saudara, orang-orang yang ada di dalam aula hanya tahu satu hal: Mereka tidak bisa menyentuh atau menyinggung Selir Chun di masa depan. Ratu Li secara tidak langsung memperingatkan mereka bahwa siapapun tidak boleh mengganggu Selir Chun, atau dia akan berhadapan dengan wanita nomor satu di Kerajaan Dongling.
Ini namanya mengancam tanpa menyentuhkan tangan!
Permaisuri Yi dan Ibu Suri berpura-pura mengiyakan pernyataan Li Anlan. Setelah pernyataan tersebut keluar, mereka harus berpikir ratusan kali jika mereka mau membalas Wei Linglong di masa depan. Entah apa yang sudah terjadi, yang jelas mereka hanya tahu kalau Wei Linglong memiliki dukungan yang kuat di belakangnya, yang bahkan tidak bisa mereka imbangi.
“Raja Long, pertunjukan istrimu bagus sekali,” puji Murong Yan.
“Benar, bukan? Aku selalu tahu kalau dia sangat luar biasa.”
...***...