
“Racun Tujuh Warna?”
Tabib Yin menganggukkan kepala usai memeriksa Wei Linglong di Istana Fenghuang. Dia langsung memberikan penjelasan mengenai kondisi Wei Linglong kepada Murong Qin dengan rinci. Dia agak sedikit terkejut karena rajanya tiba-tiba memanggilnya di awal musim semi dan memintanya ke Istana Fenghuang secepat mungkin pada beberapa saat yang lalu.
Wei Linglong yang sudah sadarkan diri mencoba mendengarkan percakapan yang terjadi antara Murong Qin dan Tabib Yin. Tubuhnya tiba-tiba lemas setelah malam itu. Matanya juga sakit dan pandangannya menjadi buram. Semua objek yang ada di depannya seperti memiliki bayangan hingga dia tidak bisa melihat dengan jelas.
“Racun ini bereaksi pada mata. Penglihatan Selir Chun menjadi buram karena racun ini beraksi pada retina matanya. Kemungkinan, dia tidak akan bisa melihat dengan jelas,” terang Tabib Yin.
Hanya ada keheningan yang mengisi atmosfer dalam Istana Fenghuang usai dia mengatakan hal tersebut. Racun Tujuh Warna adalah racun mata yang berfungsi untuk mengaburkan penglihatan. Jika kadarnya banyak, kemungkinan orang yang terkena racun ini akan mengalami kebutaan. Racun ini dibuat dari tiga serbuk bunga musim dingin yang langka.
“Apa aku masih bisa sembuh?”
“Nyonya, meskipun Anda terkena racun ini, tetapi Anda tidak perlu khawatir. Kadar racun di dalam matamu rendah. Nyonya hanya perlu menutup mata dan tidak menggunakan penglihatanmu selama beberapa hari, meminum obat dan mencuci mata dengan resep agar penglihatanmu kembali.”
“Kau yakin? Apakah Selir Chun baik-baik saja?”
“Ya, Yang Mulia. Selir Chun akan baik-baik saja.”
“Maksudmu, aku harus menjadi orang buta selama beberapa hari?”
“Hanya ini metode penyembuhan untuk racun ini.”
Tabib Yin sedikit bersedih karena wanita yang bisa membuatnya dipanggil oleh Yang Mulia terluka. Selama ini, dia selalu mengira kalau wanita itu akan baik-baik saja karena perlindungan dari Murong Qin. Namun tidak disangka, matanya justru terkena racun langka tanpa diduga. Entah apa yang sudah terjadi sebenarnya, dia pun tidak mengetahuinya.
“Aku ingin penawarnya, bukan obat!” seru Murong Qin dengan marah.
Dia mengutuk keras para penjahat tidak tahu malu yang menyerangnya di pos peristirahatan. Kalau mereka disuruh untuk membunuh, maka tidak seharusnya mereka menargetkan Wei Linglong. Dia hanya seorang wanita yang tidak bisa bela diri, tidak bisa mengimbangi kekuatan yang ada.
Tetapi, semua telah terjadi. Yang harus mereka lakukan sekarang adalah mencari penawar racun Wei Linglong. Murong Qin yakin bahwa pasti ada cara lain. Dia harus mencarinya dengan cepat.
Dengan bantuan Tabib Yin, Murong Qin memanggil hampir seluruh tabib kerajaan. Dia memerintahkan mereka untuk mengobati Wei Linglong. Tentu saja semua tabib itu berjenis kelamin perempuan. Akan tetapi, semua tabib yang dipanggilnya memberikan jawaban yang sama dengan Tabib Yin.
“Sudahlah, lakukan apa yang dikatakan Tabib Yin. Aku tidak ingin Yang Mulia mempersulitnya,” kata Wei Linglong saat dia melihat tindakan Murong Qin.
“Tapi dalam beberapa hari lagi tamu itu akan datang. Bagaimana bisa aku melakukannya tanpamu?”
Bukannya merasa terharu dengan kata-kata Murong Qin, Wei Linglong malah naik pitam.
“Apa? Jadi kau ingin aku sembuh lebih cepat hanya untuk memanfaatkanku?”
Murong Qin gelagapan. Sungguh, bukan itu maksudnya!
“Tidak-“
Namun Wei Linglong tidak mau mendengar penjelasan Murong Qin. Dengan pandangan yang buram, dia berjalan tertatih-tatih meninggalkan Murong Qin. Wei Linglong mendorong tubuh Murong Qin dengan tenaganya yang kecil sampai ke gerbang luar, kemudian menutup pintu istananya. Dia juga menyuruh Tabib Yin keluar lewat pintu belakang dan mengatakan pada majikannya kalau dia tidak mau menemuinya sampai dia sembuh.
Murong Qin berwajah masam. Bisa-bisanya dia diusir dari istana yang dia buat sendiri! Sungguh, dia bukan ingin memanfaatkan Wei Linglong. Wanita itu punya banyak kejutan dan pemikiran, mungkin saja bisa membantunya mempersiapkan penyambutan tamu dari negara tetangga dengan idenya yang luar biasa. Ah, wanita itu telah salah paham pada perkataanya. Merasa tidak bisa membujuk wanita itu, Murong Qin memutuskan untuk kembali ke Istana Yanxi.
Mata Wei Linglong dibungkus dengan kain putin yang lebarnya seukuran dengan jari telunjuk. Kain putih itu terbuat dari sutera halus yang dingin, berfungsi untuk memberikan kesejukan pada mata. Karena pandangan mata Wei Linglong kabur, maka Tabib Yin menyuruh Xiaotan untuk membungkus matanya sebelum dia pergi. Wei Linglong tidak boleh melukai bola matanya dengan berkedip terlalu banyak. Ini juga mencegah debu-debu masuk ke dalam matanya.
Wanita berambut panjang yang cantik itu terlihat seperti seorang dewi di alam langit yang menawan dengan mata tertutup kain putih. Andai Murong Qin melihatnya, pria itu tidak akan mampu menahan pesonanya. Wei Linglong memancarkan aura tersendiri, terutama karena pakaiannya yang berwarna putih tulang itu telah membuatnya seperti giok yang sangat berharga.
“Nyonya, apa nyonya takut?”
“Tidak. Aku hanya tidak tahu apa yang harus aku lakukan ketika semua dunia terasa gelap bagiku.”
“Bagaimana jika kita meminta bantuan Tuan Adipati Jing? Dia mungkin bisa membantu kita mencarikan obat penawar.”
“Jangan. Kakakku jangan direpotkan. Bukankah sudah kubilang biarkan saja seperti ini?”
“Nyonya…”
“Tidak apa-apa. Xiaotan, simpan buku laporan yang kubuat ke dalam lemari. Jangan sampai ada orang yang mencurinya.”
“Apa istana kita bisa kemasukan pencuri juga?”
“Kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Jadi, lebih baik berjaga-jaga.”
Xiaotan kemudian menyimpan dua buah buku laporan ke dalam lemari dan menguncinya. Melihat tuannya sedang kesulitan, dia ingin menghiburnya. Untuk itulah, dia membawa Wei Linglong berjalan-jalan di sekitar istana. Siapa tahu, suasana hatinya membaik.
Awal musim semi selalu hangat. Danau Dongting yang mungkin beberapa bulan lalu tertutup salju bersinar seperti sebuah mangkuk cahaya. Sisa-sisa es masih mengambang di sisi danau, menandakan bahwa cuaca di istana ini pasti sangat dingin saat itu. Sepertinya bukan hanya sungai di Jiangzhou yang membeku, tetapi beberapa tempat yang terisi air juga mengalami nasib yang sama.
Saat Murong Qin ada di sana beberapa saat yang lalu, dia sengaja menyembunyikan kekhawatirannya agar pria itu tidak berpikiran lebih. Murong Qin seorang Kaisar yang masih harus mengurusi hal lain selain dirinya. Apalagi dia akan menyambut tamu agung dari negeri lain. Wei Linglong tidak mau membuang waktu berharga milik Murong Qin sehingga dia mengusirnya.
Tidak ada yang tahu bahwa di balik sikap kasar nan menyebalkan itu, Wei Linglong mulai ketakutan. Dia ingin menangis memanggil nama kedua orang tuanya, tetapi tidak bisa dia lakukan karena di sini, dia adalah seorang wanita terhormat. Dia malu karena di umurnya yang hampir seperempat abad, masih menangis karena hal-hal kecil. Intinya, Wei Linglong tidak ingin menangis di hadapan orang lain. Dia ingin belajar dewasa.
“Xiaotan, apa bunga-bunga di istana ini sudah mekar?” tanyanya tiba-tiba, sekadar untuk mengusir rasa bosan dan rasa takutnya.
“Ya. Bunga-bunganya mekar dengan sangat indah, sama seperti nyonya.”
Wei Linglong seperti wanita tua yang ditinggal anak dan cucunya. Tidak, dia tidak ingin mengasihani dirinya sendiri. Wei Linglong benci menyerah. Sejak dia duduk di bangku kuliah, menyerah adalah kata yang sangat tabu untuknya. Menyerah hanya akan membuat dia kalah dalam segala hal.
“Bibi!”
Suara Murong Yu menggema di sekitar halaman Istana Fenghuang. Bocah kecil tersebut muncul dari balik pintu istana sambil berlari. Ketika sampai, dia langsung memeluk Wei Linglong dengan erat. Kepalanya dielus lembut oleh wanita itu. Sudah tiga bulan, dia tidak bertemu dengan Murong Yu. Kalau matanya tidak terluka, dia bisa melihat betapa menggemaskannya bocah kecil itu.
“Bibi, Kasim Liu berbohong padaku. Dia bilang bibi sedang jalan-jalan, tapi sebenarnya sedang keluar bersama ayahanda kan?”
“Xiao Yu, bibi memang sedang jalan-jalan bersama ayahmu. Apa kamu merindukan bibi?”
“Tentu saja! Tidak ada bibi di istana, aku jadi sendirian lagi, tidak ada yang menemani bermain. Bibi, kau tidak akan pergi lagi kan?”
“Tidak, aku tidak akan pergi lagi.”
“Kalau bibi mau pergi, ajak aku juga.”
“Xiao Yu, kamu datang setiap hari ke Istana Yanxi?”
“Tidak. Pada puncak musim dingin, pengasuh melarangku keluar dari istana dan aku harus membaca buku yang banyak. Untung saja Paman Pangeran sering datang mengunjungi dan mengajakku bermain.”
“Pamanmu?”
“Ya.”
Wei Linglong mengernyitkan dahi. Rupanya, Pangeran Yan memiliki hubungan yang baik dengan Murong Yu. Bahkan saat Murong Qin tidak ada di istana, dia sering datang menemani bocah kecil itu. Wei Linglong tidak tahu kalau mereka sedekat ini. Pemikirannya mengatakan bahwa lazimnya seorang paman bermusuhan dengan keponakannya karena masalah kedudukan, nyatanya kenyataan justru mengatakan hal yang berbeda.
Dia jadi penasaran sebenarnya seperti apa sosok Murong Yan yang digadang-gadang akan menjadi musuh dalam selimut untuk Murong Qin. Walaupun orang berkata bahwa Pangeran Yan hidup seperti pengembara, namun tentu saja Wei Linglong tidak bisa percaya sepenuhnya.
Hati manusia bisa berubah kapan saja. Di belakang Murong Yan ada Ibu Suri yang memiliki kekuatan dan kekuasaan besar. Jika mau, Murong Yan bisa saja bekerja sama dengan ibunya untuk merebut takhta.
Apakah Murong Yan benar seperti yang dirumorkan orang? Buktinya, selama dia pergi bersama Murong Qin, situasi di istana aman terkendali. Padahal, dia yakin Murong Yan tahu kalau kakaknya keluar dari istana ke Jiangzhou dalam waktu lama. Kosongnya kursi raja dan tiadanya Kaisar merupakan kesempatan emas untuk merebut takhta, tetapi dia tidak melakukannya.
Nanti kalau mereka bertemu, dia akan menyelidikinya dengan jelas.
“Bibi, mengapa matamu ditutupi kain putih?”
“Aku sedang mengistirahatkan penglihatanku agar nanti bisa jernih.”
“Bukan terkena racun? Tadi aku lihat Tabib Yin keluar dari pintu belakang.”
Bocah ajaib! Daya analisisnya luar biasa juga!
“Ah, Xiao Yu, apa kamu bisa membantuku?”
“Apa yang bisa aku lakukan untuk bibi?”
“Simpan dua benda ini di istanamu. Ingat, simpan di tempat yang paling tersembunyi ya!”
Wei Linglong memberikan dua buah benda persegi panjang berwarna kuning keemasan pada Murong Yu. Setelah menerima benda tersebut, bocah kecil yang manis itu langsung memasukkannya ke dalam celah bajunya tanpa banyak bertanya. Wei Linglong sendiri langsung meminta Murong Yu kembali ke istananya karena hari sudah sore dan pengasuhnya mungkin kesusahan mencarinya.
“Xiaotan,”
“Ya, Nyonya?”
“Siapkan air mandi untukku."
Xiaotan menuruti permintaan majikannya, kemudian menuntunnya masuk ke dalam Istana Fenghuang.
...***...
...Udah pada siap belum buat kejutan di episode selanjutnya? Yuhuu stay tune terus yaa, sampai jumpa lagi! ...