
Kekacauan di halaman Istana Fenghuang sudah dibereskan oleh Xiaolan dan beberapa pelayan lain. Sisa-sisa tanah yang mengotori batu-batu hiasan dilap dengan kain hingga batu-batu indah itu kembali mengkilap. Pot-pot bunga tanah liat yang sempat tergeletak di mana-mana juga sudah ditata.
Pot yang ditanami benih bunga dipisahkan dari halaman. Sang pemilik istana berpesan bahwa pot yang baru ditanami benih bunga harus ditempatkan di tempat khusus agar pertumbuhannya baik. Untuk itulah, dia menyuruh Xiaolan dan kawan-kawannya untuk memindahkan pot-pot tersebut ke bagian samping Istana Fenghuang yang agak sedikit jauh dari kawasan tanaman istana.
Para pelayan tersebut tidak mengeluh atas kekacauan yang dibuat majikan mereka. Selama bertahun-tahun menjadi pelayan, baru kali ini mereka menyaksikan seorang selir mengerjai seorang kaisar hingga terjatuh.
Hati mereka sangat senang karena yakin nasib mereka tidak akan malang jika terus tinggal di istana yang satu ini. Karena pemiliknya seperti itu, kemungkinan tidak akan terjadi masalah besar yang menyeret mereka suatu hari nanti.
Sambil mengawasi pekerjaan para pelayannya, Wei Linglong mengupas kulit kuaci panggang yang dibawa oleh Xiaotan. Dia mengakui sejak para pelayan itu datang, istana emasnya jadi semakin bersih dan tertata. Dulu, istana seluas ini hanya dibersihkan oleh dirinya dan Xiaotan.
Xiaotan seringkali mengomel karena Wei Linglong selalu turun tangan sendiri. Sebagai seorang selir, majikannya seharusnya selalu menjaga tubuh dan kulit, tidak boleh melakukan pekerjaan kasar yang biasa dilakukan oleh pelayan. Di setiap istana, mana ada nyonya yang membersihkan kamarnya sendiri.
Meskipun begitu, Xiaotan tidak bisa mencegah wanita itu. Sebelum dia mengulang omelannya, Xiaotan sudah dibuat tak kuasa oleh perkataan Wei Linglong yang selalu masuk di akal. Xiaotan menjadi tak berkelit dan hanya bisa membiarkan majikannya membantunya membersihkan istana sebesar ini.
Sekarang, majikannya bisa bersantai karena istana yang luas ini sudah memiliki cukup orang untuk membersihkan dan merapikannya. Pekerjaannya juga tidak terlalu berat karena dia hanya ditugaskan untuk melayani Wei Linglong seorang, tidak diizinkan melakukan pekerjaan lain seperti menyapu halaman atau memasak makanan.
“Kenapa penderita misofobia sepertinya bisa menjadi Dewa Perang? Padahal, medan perang begitu kotor dan berdebu. Bukan hanya tanah, tapi juga dipenuhi dengan darah,” celetuk Wei Linglong. Xiaotan yang sedang mengipasinya jadi bingung.
“Nyonya, siapa yang Dewa Perang?”
“Xiaotan, apa menurutmu Kaisar punya kepribadian ganda?”
Xiaotan sungguh terkejut. Apa kata majikannya?
“Nyonya! Tidak boleh berkata sembarangan. Jika seseorang mengadukannya, nyonya bisa dihukum,” bisik Xiaotan, mencoba menyelamatkan majikannya dari kemungkinan hukuman karena berkata sembarangan.
“Coba kau pikir. Dia sangat tidak ingin pakaiannya kotor dan berdebu, padahal di medan perang dia bisa berlumuran lumpur dan darah. Kalau bukan kepribadian ganda, lalu apa?”
“Nyonya ini mengada-ngada. Yang Mulia tentu hanya ada satu.”
“Tidak, aku rasa dia punya kepribadian ganda. Dia pasti penderita alter ego!”
Saat Wei Linglong berdebat dengan Xiaotan, Liu Ting tiba-tiba datang dari pintu gerbang diiringi dua bawahannya. Langkahnya tampak terburu-buru seperti sedang dikejar waktu. Wei Linglong langsung siaga. Dia tahu kalau kasim ini sudah datang, maka Murong Qin pasti menginginkan sesuatu darinya.
“Nyonya, Yang Mulia memintamu datang ke Istana Yanxi sekarang juga.”
“Untuk apa?”
“Hamba tidak tahu. Silakan, Nyonya.”
Apa dia tidak bisa menunggu sampai kuacinya habis dulu baru pergi? Wei Linglong bahkan baru selesai mengupasnya, belum memakannya sebiji pun. Kuaci gurih itu harus menjadi makanan angin saat ini karena perutnya tidak bisa diisi. Oh, kuaci yang malang!
Wei Linglong mengikuti Liu Ting dari belakang. Mereka melewati Danau Dongting, kemudian tiba di Istana Fenghuang setelah beberapa menit. Ada aroma harum dari dupa yang dibakar, menjadikannya seolah-olah aroma dari istana ini. Wei Linglong menaiki tangga, kemudian masuk ke dalam aula Istana Yanxi setelah Liu Ting meminta penjaga untuk membukanya.
Murong Qin sedang duduk di kursi kerjanya yang megah. Di hadapannya, berpuluh macam buku laporan berjejer rapi. Dia mendongak saat Liu Ting memberitahunya kalau Selir Chun sudah datang. Benar saja, Wei Linglong sedang berdiri di depan mejanya sambil melipat kedua tangannya.
“Yang Mulia, pagi-pagi begini memanggilku, apa Yang Mulia sudah memutuskan hukuman untukku?”
Murong Qin berdiri, kemudian berjalan keluar dari area kerjanya. Jubah emasnya tergusur. Rambut yang biasanya disanggul entah kenapa hari ini dibiarkan tergerai. Wei Linglong mengikuti pergerakan pria itu dengan sudut
mata. Tidak boleh emosi, tidak boleh emosi, ini masih pagi, ucap Wei Linglong dalam hati.
“Ada tugas untukmu. Kalau kau bisa mengerjakannya dengan baik, aku tidak akan menghukummu atas kejadian kemarin.”
“Tugas apa?”
“Pembajakan musim semi akan segera dimulai. Kau siapkan semuanya dengan baik.”
“Pembajakan musim semi? Apa itu?”
Murong Qin lantas memberitahu kalau pembajakan musim semi adalah semacam kegiatan upacara membajak lahan pertanian sebelum proses bertani dimulai. Dinamakan pembajakan musim semi karena di Dinasti Yuan, pertanian rakyat selalu dimulai di musim semi ketika air tersedia sangat banyak dan tanah masih basah.
Upacara ini rutin dilakukan setiap tahun. Upacaranya dilakukan di ladang kerajaan, yang letaknya tiga kilometer dari istana. Di sana, ada sebuah kuil dewa yang dibangun sebagai jalan untuk menuai berkah. Kuil itu dibangun seratus tahun lalu saat masa pemerintahan kakek buyut Murong Qin.
Pada hari upacara, keluarga kerajaan termasuk Kaisar, Permaisuri, Ibu Suri dan beberapa pangeran dan putri biasanya datang untuk memulai upacara. Orang yang memulainya biasanya adalah Kaisar sebagai simbol dimulainya pertanian dengan cara menarik alat bajak dengan lembu atau kuda.
Di area sekitar ladang akan dibangun panggung-panggung kecil tempat duduk para keluarga kerajaan dan beberapa petinggi negara. Rakyat biasanya berbondong-bondong datang menyaksikan upacara tersebut karena selain bisa melihat Kaisar, mereka juga bisa melihat keluarga kerajaan lain dan wajah para petinggi negara yang menjadi wakil mereka selama ini.
“Hm. Sepertinya sangat mudah. Baik, aku akan mempersiapkannya dengan baik. Tapi, kau harus berjanji, tidak boleh menghukumku dan harus memberiku bonus tambahan di akhir bulan. Gajiku yang baru dibayarkan sudah hampir habis, jadi Yang Mulia harus memberiku uang lagi.”
“Kalau begitu, aku akan pergi sekarang.”
Apa semua wanita mencintai uang? Murong Qin sudah membayarkan gaji Wei Linglong selama enam bulan beberapa minggu yang lalu. Uang-uang itu jumlahnya sangat besar, bahkan lebih besar dari gaji bulanan menteri. Murong Qin bahkan menambahkan jumlahnya yang diambil dari dana pribadinya sendiri. Ke manakah uang-uang itu?
Dilihat dari kondisinya, Wei Linglong seharusnya tidak memiliki banyak pengeluaran. Gaji pelayan diberikan oleh istana, tidak diberikan oleh para nyonya kecuali jika nyonya-nyonya di istana memberi hadiah. Gaji penjaga juga diberikan istana. Keperluan selir di setiap istana juga sudah disediakan. Mengapa Wei Linglong bisa secepat itu menghabiskan uang?
“Liu Ting, apa kau tahu ke mana perginya uang-uang itu?”
“Kasim ini tidak tahu, Yang Mulia. Hanya saja, Selir Chun belum memilik cap Istana Fenghuang hingga segala keperluannya tidak bisa dipenuhi dari Biro Kesejahteraan Istana. Mungkin, uang-uang itu habis karena hal tersebut.”
“Dia belum memiliki cap sendiri?”
“Betul, Yang Mulia.”
Murong Qin akhirnya tahu. Setiap selir dan Nona Kekaisaran di harem memiliki cap istana pribadi yang menunjukkan legalitas dari setiap hal. Cap itu digunakan untuk keperluan pengambilan obat, barang dan keperluan lain, yang dibubuhkan di surat atau kertas yang berisi keperluan dan tujuan kertas tersebut. Dengan begitu, pihak-pihak pengurus bisa langsung menyiapkan dan memberikannya tanpa bertanya lagi.
Wei Linglong sudah masuk istana selama kurang lebih setengah tahun, tetapi belum memiliki cap padahal dia tinggal di Istana Fenghuang. Murong Qin sedikit tercubit karena dia telah melupakan hal kecil yang penting ini. Pantas saja pengeluaran wanita itu begitu besar hingga gajinya habis, rupanya dipakai untuk keperluan istana.
“Baiklah. Kau boleh pergi.”
Murong Qin kembali ke tempat duduknya. Baiklah, dia akan menepati janjinya untuk memberi banyak bonus pada wanita yang tanpa sengaja telah menciumnya beberapa hari lalu. Sekarang yang terpenting adalah melihat rencana apa yang akan dibuat wanita itu untuk menjalankan tugasnya dalam mengurusi upacara pembajakan musim semi tahun ini.
...***...
“Apa? Yang Mulia keluar dengan pakaian baru dari Istana Fenghuang?”
“Benar, Permaisuri. Jubah yang dikenakan Yang Mulia adalah jubah buatan Selir Chun.”
Permaisuri Yi melemparkan satu set peralatan tehnya ke lantai hingga pecah. Sial, dia kecolongan lagi. Sudah dua set peralatan teh yang dia lempar ke lantai dalam waktu kurang dari satu bulan, dan semuanya gara-gara kabar dari Istana Fenghuang yang membuatnya selalu naik darah.
Lagi-lagi Selir Chun, lagi-lagi Wei Linglong. Semua hal yang berkaitan dengan putri Jenderal Yun itu membuatnya emosi. Bukan hanya karena melawannya secara terang-terangan, tetapi juga karena wanita itu berhasil menarik perhatian Murong Qin padahal jelas-jelas dia yang lebih dulu masuk ke dalam istana!
Ibu Suri yang kebetulan berada di sana menyeduh tehnya lewat cangkir lain. Kondisi saat ini begitu rumit. Dia tidak bisa bergerak sembarangan seperti dulu karena semua orang sedang mengawasinya. Tidak dipungkiri kalau Ibu Suri juga merasa marah karena hal ini. Ibu Suri masih belum bisa melakukan apapun karena ancaman dari Ratu Li beberapa minggu yang lalu. Dia harus menunggu sampai situasinya benar-benar tenang, lalu dia dapat melakukan apa yang dia inginkan.
“Sudahlah. Tidak ada gunanya kau marah dan menghancurkan seisi istanamu.”
“Yang Mulia, bagaimana ini? Kaisar semakin tertarik dengan wanita itu. Pada saatnya nanti, apa aku masih bisa mempertahankan posisi ini?”
Bukan hanya iri dan cemburu, Permaisuri Yi juga takut posisinya sebagai Permaisuri Dinasti Yuan digeser karena kehadiran wanita itu. Permaisuri Yi begitu yakin kalau suatu saat, Wei Linglong pasti bisa melengserkannya dari takhta permaisuri dan menyingkirkannya.
Dia sudah susah payah menduduki posisi tinggi ini dan sudah susah payah menahan segala macam penderitaan selama tujuh tahun ini. Permaisuri Yi bahkan rela bekerja sama dan diperintah ini itu oleh Ibu Suri agar posisinya tidak diganti dengan orang lain, karena dia tahu takhta yang dia nikmati adalah pemberian wanita tua itu. Permaisuri Yi sebisa mungkin menjadi berguna agar dia tidak disingkirkan olehnya.
“Aku tidak akan membiarkannya.”
Ibu Suri juga tidak akan membiarkan wanita dari keluarga Wei menduduki takhta permaisuri lagi. Wei Hongxue atau Permaisuri Wei sebagai Permaisuri Pertama sudah membuatnya hampir kehilangan kekuasaan karena terlalu bodoh, menolak bekerja sama dengannya.
Gara-gara wanita itu, Murong Qin jadi memiliki seorang anak laki-laki sekaligus Pangeran Sulung negeri ini, yang membuatnya harus banyak berpikir jika ingin menyingkirkannya.
Permaisuri Yi, meskipun banyak kekuranga, masih bisa dia kendalikan. Setidaknya, Ibu Suri tidak akan terlalu sakit kepala karena wanita yang dia pilih sekarang selalu patuh kepadanya. Karena sikap itulah, dia baru bisa mempertahankan Permaisuri Yi hingga tujuh tahun. Jika tidak, Ibu Suri pasti sudah lama menyingkirkannya dan menggantinya.
“Bukankah pembajakan musim semi akan segera dilaksanakan?” tanya Ibu Suri penuh arti.
“Pembajakan musim semi?”
Permaisuri Yi berpikir sejenak.
“Ah, aku sudah tahu, Yang Mulia.”
Ibu Suri tersenyum misterius. Otak Permaisuri Yi memang sedikit bisa diandalkan daripada mendiang Permaisuri Hong. Kesempatan yang baik sudah datang. Sudah saatnya membalikkan keadaan. Ibu Suri menghirup aroma tehnya yang manis dan menenangkan.
Ah, andai kedamaian seperti ini bertahan lama.
...***...
...Duh, ini nenek sihir yang dua lama-lama makin ngeselin ya. Ayo, bantu peringatin Wei Linglong! ...