The Legend Of Chunfei

The Legend Of Chunfei
FRAGMEN 45: HAMPIR KEHILANGAN DIA



Butuh waktu beberapa detik untuk mencerna apa yang terjadi. Wei Linglong baru menyadari kalau dirinya terjatuh ke dalam air. Berdasarkan ketinggian dan lama ia terjatuh, dia pasti terjun dari jembatan yang melintasi Danau Dongting. Tubuhnya langsung tenggelam.


Wei Linglong lupa kalau dia bisa berenang. Pakaiannya yang berat membuat dia kesulitan bergerak, ditambah matanya tertutup kain. Air mulai masuk ke pernapasannya hingga dia sesak. Bayangan kematian saat dia sekarat di rumah sakit karena keracunan pestisida membayanginya.


Tidak peduli apapun lagi, Wei Linglong menarik kain putih yang menutup matanya. Walaupun terasa perih, dia masih bisa melihat beberapa objek samar-samar di dalam air. Untung saja air di Danau Dongting jernih. Wei Linglong mengedipkan matanya berkali-kali. Anehnya, penglihatannya justru semakin jelas.


Untuk mempermudah gerakannya, dia melepaskan satu persatu kain yang menutupi tubuh kecilnya. Pakaian dan tali  kain di tubuh Wei Linglong perlahan lepas, jatuh ke kedalaman yang lebih dalam dan gelap. Wei Linglong menggerakkan tangan dan kakinya, berenang dengan gaya katak seperti yang pernah dia pelajari di sekolah formal beberapa tahun yang lalu.


Kondisi tubuhnya yang tidak terlalu fit membuatnya kelelahan. Dia hanya mampu mencapai jarak satu meter dari permukaan air. Sebelum mencapai permukaan, tenaganya sudah habis. Gerakannya terhenti, tubuhnya kembali tenggelam. Wei Linglong berusaha lagi mempertahankan hidupnya, mencoba yang terbaik agar dia bisa selamat dari bencana ini.


Tiba-tiba, seseorang berjubah masuk ke dalam air. Melihat bayangan itu, Wei Linglong tersenyum kecil, kemudian mencoba menarik lengan orang itu yang sudah terulur. Jari keduanya tertaut dan dalam sekali tarikan, Wei Linglong berada dalam pelukan orang itu.


Setelah berjuang beberapa menit, keduanya sampai di tepi danau. Di sana, sudah ada Liu Ting dan Komandan Bu yang berdiri dengan wajah sangat panik. Begitu melihat Murong Qin keluar sambil menarik Wei Linglong, kedua bawahan setia itu langsung membantunya.


Wei Linglong batuk, mengeluarkan air yang masuk ke dalam mulutnya. Seluruh pakaiannya basah dan tipis hingga lekukan tubuhnya tercipta. Rambutnya acak-acakan. Dia seperti kucing yang tercebur. Di sampingnya, Murong Qin mencoba mengatur napas, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya untuk mengisi paru-parunya yang terisi air.


Tanpa diduga, Murong Qin langsung memeluk Wei Linglong dengan erat. Betahun-tahun menjadi Kaisar Mingzhu, bertahun-tahun berperang membunuh musuh, ketangguhannya yang terkenal runtuh seketika hari ini. Dia mengeratkan pelukannya seolah-olah dia telah kehilangan sesuatu yang berharga kembali lagi kepadanya.


Beberapa saat yang lalu, Murong Qin hendak kembali ke Istana Fenghuang karena merasakan firasat buruk. Baru saja dia sampai di ujung jembatan, dia mendengar suara deburan air seperti sebuah objek besar telah terjatuh dari atas. Murong Qin langsung berlari. Dia melihat seorang wanita di dalam air, sudah dipastikan bahwa itu adalah Wei Linglong.


Kasim Liu dan Komandan Bu berteriak mencegahnya, namun Murong Qin langsung menceburkan dirinya sendiri. Rasa takut dan khawatir memenuhi dadanya. Hatinya terasa sakit, tiba-tiba dia seperti melihat ibunya mati di hadapannya. Murong Qin tidak pernah merasakan perasaan ketakutan seperti ini sebelumnya.


Murong Qin baru menyadari kalau Wei Linglong telah memiliki tempat di hatinya. Wanita itu telah membuatnya memiliki ketakutan. Melihat dia terluka, hati Murong Qin langsung tidak nyaman. Melihat dia asyik berbincang dengan orang lain, sekalipun itu perempuan, Murong Qin langsung merasa tidak senang.


Wei Linglong membuatnya tidak bisa berpikir panjang. Melihat wanita itu tenggelam, dia langsung terjun untuk menolong tanpa memikirkan resiko yang mungkin menimpa dirinya sendiri. Satu-satunya hal yang dia inginkan adalah membawa kembali wanita itu ke darat, menyelamatkan nyawanya dan menyelamatkan hidupnya.


Betapa menyebalkannya perasaan seperti itu. Selama hidupnya, Murong Qin hanya memiliki hati yang keras yang tidak mengenal belas kasihan dan kelembutan. Sejak bertemu dengan Wei Linglong, hati batunya seperti pecah. Dia tidak sadar kalau dia mulai terikat dengan Wei Linglong. Itu pula yang membuatnya begitu mendominasi wanita itu.


Ekspresi dingin dan datar seperti papan cucian yang biasanya terpasang di wajah Murong Qin hari ini menghilang, tergantikan dengan ekspresi khawatir, takut dan lega yang datang dalam satu waktu. Dia masih memeluk Wei Linglong, belum ingin melepaskannya sebelum dia memastikan kalau wanita itu benar-benar sudah aman. Kasim Liu dan Komandan Bu membalikkan badan, menghindari adegan yang dilakukan rajanya dengan selirnya.


Wei Linglong masih terpaku. Reaksinya begitu lambat untuk menyadari kalau pria ini sedang memeluknya dengan erat. Jantungnya semakin berdegup kencang. Dia bahkan bisa mendengar dan merasakan detakan jantung Murong Qin meskipun tubuh mereka terhalang kain. Napasnya masih terengah-engah.


“Yang Mulia, kau memelukku terlalu erat,” ucapnya masih dengan ekspresi bingung.


Murong Qin melerai pelukannya. Matanya yang setajam elang menampakkan sebuah sorot yang berbeda. Tatapan itu membuat Wei Linglong menatapnya kembali dengan kosong, berusaha menyelami arti di baliknya. Dia masih dalam suasana terkejut setelah tenggelam karena dia berpikir dia akan mati lagi hari ini.


Murong Qin langsung menggendong Wei Linglong dengan gaya putri, lalu berdiri, bersiap untuk pergi. Pakaian wanita ini basah dan tipis. Di saat berbahaya seperti itu, Wei Linglong ternyata masih sempat berpikir untuk melepas pakaian beratnya agar geraknya di dalam air menjadi mudah. Sungguh wanita yang pandai memahami situasi.


“Kembali ke Istana Yanxi!”


Wei Linglong dibawa ke Istana Yanxi. Murong Qin sengaja melakukan hal tersebut karena dia merasa Istana Fenghuang tidak aman saat ini. Salahnya sendiri tidak mengirimkan beberapa orang untuk melayani tuan di sana. Murong Qin juga marah karena pasukan elit yang dia tugaskan untuk mengawasi dan menjaga Istana Fenghuang secara rahasia tidak menjalankan tugasnya dengan baik hingga membiarkan penghuninya celaka.


Dia akan menunggu sampai wanita ini pulih. Nanti, dia akan mengirimkan beberapa pelayan dan penjaga ke Istana Fenghuang dan mengizinkan Wei Linglong kembali ke sana. Untuk malam ini, biarkan dia menginap di Istana Yanxi agar Murong Qin lebih mudah mengawasi dan memastikan keadaannya.


Murong Qin membaringkannya di tempat tidurnya yang mewah, lalu berteriak memanggil pelayan agar membawakan baju baru yang kering dan mengganti pakaian wanita itu. Murong Qin tidak melakukannya sendiri karena tidak terbiasa dan.. malu. Jadi, dia meminta pelayan perempuan untuk mengganti pakaian Wei Linglong sementara dia akan keluar mengganti bajunya.


Usai semuanya selesai, Murong Qin kembali masuk. Di tempat tidurnya, dia melihat wajah yang belakangan menghantui pikirannya terlihat pias namun sangat tenang. Syukurlah, dia baik-baik saja. Murong Qin menarik napas lega. Tangannya bergerak menyentuh rambut-rambut pendek yang terurai di kening Wei Linglong.


“Apa diam impi indah?” gumamnya.


Murong Qin menarik selimut lainnya, menutupkannya ke tubuh Wei Linglong. Suhu tubuhnya masih turun, dia pasti kedinginan. Hari sudah gelap. Lentera-lentera di dalam Istana Yanxi menyala terang. Di dalam kamarnya, Murong Qin tak henti-hentinya menatap Wei Linglong yang tertidur.


“A-Ling, kau harus baik-baik saja.”


...***...


“Bodoh! Siapa yang menyuruhmu membunuhnya?”


Permaisuri Yi melemparkan sebuah cangkir porselen ke depan  seorang pelayan pria yang sedang berlutut di hadapannya. Dia mengutuknya berkali-kali karena marah dan kesal. Pelayan pria itu telah melakukan hal yang tidak dia perintahkan, tentu saja dia tidak akan diam saja.


“Hamba hanya ingin membantu Permaisuri. Selir Chun menjadi penghalang Permaisuri, aku hanya mencoba menyingkirkannya saja,” ucap pelayan itu.


“Membantuku? Aku pikir kau mencelakaiku! Apa kau bodoh? Dia adalah saudara Ratu Li, kalau sampai terjadi apa-apa dengannya, kalau sampai Ratu Li tahu kau mencelakainya, apa istana ini bisa menyelamatkanmu? Apa kau sanggup menanggung kemarahan Ratu Dongling?”


Pelayan itu tertunduk. Di hatinya sama sekali tidak ada rasa bersalah, namun hatinya yang lain dipenuhi dengan ketakutan. Menjalankan tugas dan membantu Permaisuri Yi adalah kewajibannya, dia melakukannya dengan tulus. Pelayan pria itu hanya mencoba membantu Permaisuri Yi menyingkirkan Selir Chun sehingga dia berani bertindak tanpa sepengetahuannya.


Dialah orang suruhan Permaisuri Yi yang diperintahkan masuk dan mengambil sesuatu dari Istana Fenghuang. Hanya saja, pelayan itu malah melakukan hal lain setelah menjalankan tugasnya. Dia memancing Wei  Linglong keluar, kemudian mendorongnya ke dalam Danau Dongting dari atas jembatan.


Permaisuri Yi begitu marah mendengar pengakuan pelayan prianya. Dia tidak pernah menyuruhnya membunuh orang. Kalau sampai Kaisar tahu, atau Ratu Li tahu, dia tidak akan selamat. Seluruh Istana Dalam tidak akan ada yang bisa meloloskan diri dari hukuman.


“Ada apa ini?”


Ibu Suri tiba di istana Permaisuri Yi. Melihat pelayan pria berlutut, Ibu Suri langsung menanyakan apa yang sudah terjadi. Permaisuri Yi kemudian menceritakan perbuatan pelayannya yang tidak sesuai dengan perintah. Mendengar hal tersebut, Ibu Suri juga sedikit terkejut.


“Tapi, hamba mendapatkan benda yang Permaisuri inginkan,” ujar pelayan itu. Dia mengeluarkan dua buah buku kecil—buku laporan berwarna kuning keemasan, kemudian menyerahkannya kepada Permaisuri Yi. Permaisuri Yi menyerahkannya pada Ibu Suri.


Saat membaca laporan tersebut, wajah Ibu Suri tiba-tiba merah padam. Buku laporan itu dilemparkan ke depan pelayan pria. Isinya ternyata bukan laporan dari perjalanan ke Jiangzhou, melainkan daftar nama sayuran dan bunga yang ditanam di kebun Istana Dingin!


Jika protagonis mengetahuinya, dia mungkin akan tertawa sambil berkata: Kalian sudah tertipu!


“Dasar pelayan tidak berguna!”


Permaisuri Yi memaki kembali pelayannya. Kasihan, dia sudah bekerja keras namun hasilnya justru membuatnya marah. Buku laporan tidak didapatkan, hanya ada bencana besar yang menunggu mereka sekarang.


...***...