The Legend Of Chunfei

The Legend Of Chunfei
FRAGMEN 29: MALAM MUSIM DINGIN DI JIAZHU



Wei Linglong tidak bisa tidur. Sejak Lu San membawa mereka ke pos persinggahan, hatinya tidak bisa tenang. Banyak hal yang belum dia mengerti, hingga ketidakmengertian itu berubah menjadi kekhawatiran yang menggerogoti pikirannya.


Tentang Desa Jianzhu yang kecil tetapi tampak menawan dan aneh, tentang gubernur prefektur Jiangzhou yang tampak bermasalah, tentang sungai beku, tentang bencana banjir dan kelaparan, juga tentang banyak hal lain yang belakangan ini ikut menjadi beban pikirannya.


Di kediamannya, cahaya temaram dari lilin yang menyala hanya mampu menerangi sebagian isi kamar. Terkadang, cahayanya menjadi suram karena api lilin itu meliuk-liuk diterpa angin musim dingin yang berhembus dari celah jendela yang berfungsi sebagai ventilasi udara.


Ini adalah musim dingin pertamanya sejak dia datang ke zaman ini. Tidak ada jubah musim dingin yang hangat, mesin pemanas, atau rumah bercerobong seperti di negara-negara Eropa. Di tempat ini, dinding rumah bahkan hanya terbuat dari kayu. Kalau konstruksi bangunan tidak benar, mungkin orang sudah mati membeku.


Akan tetapi, anehnya dia sama sekali tidak merasa kedinginan. Tubuhnya bereaksi seperti biasanya, seperti pada malam-malam musim gugur di istana.


Apakah karena ini bukan tubuh aslinya? Ataukah justru karena dia adalah jiwa yang berkelana hingga sesuatu tidak dapat mempengaruhinya?


Entahlah.


Wei Linglong bangkit. Dia berjalan santai menuju jendela, kemudian membukanya. Angin musim dingin Jiazhu menerpa wajah putihnya, menampar lembut pipinya yang halus. Di seberang sana, kediaman Murong Qin tampak seperti sebuah kediaman di tengah kegelapan. Lampu lilinnya masih menyala, menandakan bahwa pria itu mungkin belum tidur.


Setelah cukup lama berdiam di dekat jendela, dia berjalan menuju pintu. Wei Linglong keluar dari kamarnya, bergegas menuju halaman kediaman yang tertutup salju. Dia memandang langit yang gelap, mencoba menelusuri apakah ada sesuatu yang terang di atas sana.


Halaman pos persinggahan cukup luas. Kediamannya dan kediaman Murong Qin saling berhadapan satu sama lain. Hanya saja, milik Murong Qin lebih luas daripada miliknya.


Lu San berkata bahwa dua bangunan yang ditempati olehnya dan oleh Murong Qin merupakan kamar utama yang biasanya dipakai oleh pejabat tinggi yang kebetulan singgah.


Dia tertawa kecil. Betapa lucunya lelucon yang dia buat. Entah reaksi seperti apa yang akan ditunjukkan oleh Lu San dan penduduk di desa ini jika tahu orang yang menginap di pos persinggahan adalah Kaisar Mingzhu, Kaisar Dinasti Yuan yang memimpin mereka semua.


“Apa yang kau tertawakan?”


Wei Linglong berbalik ketika suara tanya itu berdengung di telinganya. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, Murong Qin tengah menatapnya dengan dahi berkerut. Wajah dingin yang selalu mendominasi itu tampak lebih dingin dari biasanya, menyatu dengan suhu udara yang menurun di malam hari ini. Murong Qin mengenakan jubah berbulu berwarna abu-abu.


Dia tampak seperti… pemuda yang sangat menawan. Seperti pangeran-pangeran di negeri dongeng, ketampanan Murong Qin memberikan kesan tersendiri. Aura pemimpin yang terpancar darinya membuat pria itu tampak mempesona.


Meski mendominasi, Wei Linglong akui bahwa pria itu sebenarnya memiliki hati yang baik. Murong Qin hanya dipaksa keadaan hingga perangainya menjadi sedingin es dan tidak tersentuh.


“Yang Mulia? Mengapa kau keluar?”


“Aku yang harusnya bertanya. Cuaca sangat dingin, mengapa kau keluar?”


“Aku hanya ingin menenangkan pikiran. Suasana ini begitu akrab bagiku. Mungkin, aku bisa mendapat suatu inspirasi setelah berdiam diri di cuaca yang dingin ini.”


Aneh, pikir Murong Qin. Wanita itu masih mengenakan setelan pria yang sama. Tetapi reaksinya agak sedikit keluar dari perkiraannya. Cuaca begitu dingin, tapi Wei Linglong bahkan tidak mengenakan satu jubah pun. Biasanya, wanita bangsawan sepertinya selalu memiliki tubuh lemah yang sering terserang sakit saat cuaca menjadi dingin.


Apa Wei Linglong tidak kedinginan?


“Kau tidak kedinginan?”


“Sedikit.”


“Kau gelisah?”


“Bagaimana kau tahu?”


“Wajahmu yang memberitahuku.”


“Hm. Aku hanya berpikir tentang beberapa keanehan yang terjadi di desa ini. Aku tidak ingin memikirkannya karena aku tidak mengerti sama sekali, tetapi karena kau membawaku, aku tidak bisa tidak mempedulikannya. Yang Mulia, apa kau sudah mengetahui situasi sebenarnya dari desa ini?”


“Jiazhu hanyalah satu dari sekian banyak desa kecil yang ada di aliran sungai. Situasi di luar sana mungkin lebih parah dari ini.”


Wei Linglong menghembuskan napasnya. Benar juga, ini hanya Jiazhu, bukan keseluruhan prefektur Jiangzhou. Desa lain di sana mungkin memiliki situasi yang lebih rumit dari desa ini. Untuk apa Wei Linglong menyusahkan dirinya sendiri dengan berpikir berlebihan seperti ini?


Dulu, saat menjadi mahasiswa, dia begitu tenang. Setiap permasalahan yang datang selalu dia hadapi dengan kepala dingin. Saat dosennya memberikan tugas yang deadline-nya mendadak, dia tidak panik.


Wei Linglong mengerjakannya dengan pelan dan tenang hingga semuanya selesai tepat waktu. Mengapa dia melupakan itu semua? Apa dia telah kehilangan ketenangannya hanya karena berpindah dunia?


“Yang Mulia, kita tidak punya banyak waktu. Pembangunan benteng sepanjang sungai harus segera dilakukan.”


“Kau sudah punya rancangannya?”


Wei Linglong menggelengkan kepala.


“Semuanya berkumpul di dalam sini, kemudian berputar-putar hingga kepalaku seperti mau meledak.”


“Kau tidak bisa mengeluarkan idenya?”


“Sangat sulit. Aku seorang petani, rancangan pembangunan benteng hanya dilakukan oleh arsitek. Oh, betapa sulitnya!”


Keduanya lantas terdiam. Wei Linglong dan Murong Qin berdiri sejajar. Langit yang gelap tiba-tiba menurunkan butiran es halus berwarna putih. Bibir Wei Linglong tersenyum kecil. Ini salju pertama yang dia lihat ketika turun sepanjang perjalanannya ke tempat ini.


Wanita itu mengulurkan tangannya. Butiran salju sampai di telapak tangannya, terasa dingin namun menyenangkan. Seluruh halaman, bahkan mungkin seluruh wilayah di sini sedang hujan salju. Wei Linglong menyesap udara dingin, menikmati sensasinya, kemudian kembali tersenyum.


Murong Qin menatap wanita itu dari samping. Diam-diam dia tersenyum. Wanita aneh ini membuatnya seperti seorang suami yang dipermainkan istrinya.


Wei Linglong selalu tidak terduga hingga Murong Qin memandangnya bukan hanya sebagai seorang wanita. Dia seperti… makhluk asing yang tersesat ke negaranya, menjadi selirnya dan membuat jantungnya berdebar pada situas-situasi tertentu.


“Ikutlah denganku,” ucap Murong Qin.


“Ke mana?”


“Bukankah kau ingin menyelesaikan permasalahan bencana di sini?”


Wei Linglong tampak kebingungan sesaat. Lalu, ekspresinya tiba-tiba berubah.


“Yang Mulia! Aku tahu kau selalu punya rencana!”


Keduanya lantas bergegas. Murong Qin membawa Wei Linglong ke kediamannya. Suhu di sana terasa lebih hangat daripada di luar, meskipun hawa dingin tidak sepenuhnya menghilang. Murong Qin membentangkan sebuah kertas di meja. Setelah mengasah tinta, dia mulai bekerja.


“Tuangkan semua idemu dalam bentuk kata. Aku akan menggambarnya.”


Murong Qin bukan hanya seorang Kaisar yang hebat dalam memimpin dan berperang. Dia juga sangat pandai merancang sesuatu. Jika tidak, mana mungkin Istana Fenghuang dapat berdiri kokoh dengan megahnya. Hanya dengan mendengar rincian dari perkataan, pria itu sudah mampu menggambarkan apa yang ada di pikiran orang.


Untuk sesaat, Wei Linglong merasakan kekaguman. Dia mulai mengatakan semua  yang ada di pikirannya mengenai gambaran kasar benteng penahan aliran sungai. Semua yang dia katakan digambar dalam selembar kertas yang dibentangkan Murong Qin dengan begitu detail.


Hanya dalam waktu kurang dari tiga jam, rancangan pembangunan benteng penahan aliran sungai sederhana sudah selesai dibuat.


Murong Qin menggambar semua yang dikatakan Wei Linglong dengan begitu detail, mulai dari panjang, lebar, tinggi, bentuk, bahkan hingga ketebalan benteng pun dia gambar dengan baik. Hasilnya, gambar rancangan yang dia buat hampir sama seperti rancangan yang dibuat oleh arsitek profesional.


“Sudah selesai,” ucap Murong Qin.


“Benar, sudah selesai. Aku bahkan tidak percaya kalau isi pikiranku bisa digambar hingga sedetail ini.”


“Itu karena perkataanmu tidak sulit dipahami.”


Saat rancangan sudah selesai digambar, keduanya lantas membahas alat dan bahan yang diperlukan untuk pembangunan tersebut. Di sini tidak ada semen, batu bata, atau batu kapur yang bisa dirubah menjadi tembok beton. Ketiadaan bahan tersebut menjadi beban pikiran Wei Linglong yang lain.


Dia lupa bahwa desa ini masih memiliki hutan berkayu yang dapat dimanfaatkan. Karena wanita itu tidak menyadarinya, Murong Qin-lah yang memberitahunya.


Kayu-kayu di musim dingin tidak sulit didapat karena daun-daunnya gugur hingga besar dan umur pohonnya bisa diketahui. Hanya perlu mengerahkan sedikit tenaga saja, mungkin dalam waktu tiga minggu, benteng sungai sudah selesai.


Percakapan Wei Linglong dan Murong Qin berlanjut hingga tengah malam. Hujan salju di luar masih belum berhenti. Hawa dingin yang berhembus malam itu tidak bisa menyurutkan semangat keduanya dalam membahas permasalahan bencana. Topik tersebut seakan menjadi topik paling seru di antara semua topik pembicaraan yang ada.


Padahal, keduanya bisa saja membahas hal yang lain. Kedatangan mereka ke desa ini menarik perhatian, bukankah lebih menyenangkan jika membicarakan itu?


Tidak, Murong Qin dan Wei Linglong memiliki kesadaran yang lain. Ada hal penting yang harus segera dibahas ketimbang membicarakan hal-hal sepele yang membuang waktu seperti itu.


Murong Qin sendiri begitu senang karena pada akhirnya, dia bisa menemukan seseorang yang bisa diajak diskusi setelah sekian lama. Sejak kematian penasihat pribadinya, Bai Li, dia hanya bisa berdiskusi dengan baik bersama Kasim Liu.


Itu pun jika pengetahuan Kasim Liu hebat hingga bisa menyeimbangi perkataan dan pemikiran Murong Qin. Tidak jarang Murong Qin harus berdiskusi dengan dirinya sendiri saat para pejabat dan kasimnya tidak sejalan.


“Aku sudah meminta Lu San untuk memberitahu penduduk. Esok hari, mereka akan berkumpul di depan kedai yang kita datangi kemarin,” terang Murong Qin.


Tidak ada sahutan. Murong Qin menolehkan kepala. Diam-diam, dia kembali tersenyum kecil. Wei Linglong telah tertidur lebih dulu.


...***...


...Halooo! Selamat hari raya idulfitri para pembaca kesayangan otor! Maaf ya otor nggak update karena sibuk bantu-bantu nyiapin lebaran, hihi. Mohon maaf lahir batin! ...