
Li Anlan berjalan ke sana kemari sembari terus berusaha mencari kedua putra kembarnya yang menghilang entah ke mana. Saat dia dan Long Ji Man memasuki aula pengadilan untuk menemui Murong Qin, kedua putranya dititipkan kepada kasim penjaga yang ada di depan istana. Namun, ketika dia keluar, kedua bocah itu sudah menghilang. Kasim yang diamanahi untuk menjaga mereka tergeletak di lantai tak sadarkan diri.
“Dasar pengacau,” ucap Li Anlan sambil terus mencari. Long Ji San dan Long Ji Shi pasti bermain-main di istana yang megah dan luas ini. Mereka pasti mengelabui kasim itu hingga pingsan sehingga mereka bisa berkeliaran dengan bebas.
Li Anlan ingin meminta bantuan Kaisar Mingzhu dan suaminya, tetapi kedua orang itu sedang sibuk berbincang dengan para menteri. Berbekal keberanian dan ketangguhannya sebagai seorang ibu, Li Anlan menyusuri setiap bangunan istana yang dia lihat.
Dia terus berputar-putar dari satu istana ke istana lain. Aneh, dua bocah itu seperti hilang ditelan bumi. Dia juga menanyai setiap pelayan, kasim dan prajurit penjaga yang dia temui, namun semuanya berkata tidak melihat apa-apa. Ke mana dia harus mencari dua bocah nakal itu di istana seluas ini?
Hingga setelah lama berputar-putar, dia sampai di depan sebuah istana yang sangat megah dan tinggi. Penjaga istana terlihat begitu dingin dan kejam. Li Anlan kemudian menanyai mereka, namun mereka mengatakan bahwa mereka juga tidak pernah melihat sepasang anak kembar masuk ke istana tersebut.
Li Anlan jadi berpikir, apakah di istana ini tidak ada anak kecil? Semua orang yang dia temui adalah orang-orang dewasa, dia tidak menjumpai pangeran atau putri yang masih kecil.
Saat hendak berbalik, matanya tak sengaja melihat sebuah jembatan indah yang melintasi sebuah danau jernih. Di sisi jembatan terdapat lentera-lentera penerang yang bentuknya sangat unik. Tanpa sadar, Li Anlan bergerak ke sana, berjalan menyusuri setiap bebatuan yang membalai jembatan tersebut. Sepanjang jalan, dia tidak berhenti melihat keindahan danau yang sedang bersinar di musim semi.
Di ujung jembatan, dia melihat sebuah bangunan istana yang bersinar keemasan di bawah cahaya matahari. Istana itu sangat megah dan indah, seperti semua bangunannya terbuat dari emas. Anehnya, di gerbang depan justru tidak ada penjaga. Karena penasaran, dia akhirnya berjalan menuju istana tersebut.
Istana yang dia datangi tampak sepi. Biasanya, istana sebuah kerajaan selalu ribut dengan suara penghuninya, baik selir, raja, pangeran, putri, bahkan para pelayan. Istana megah ini justru tampak tidak berpenghuni. Gerbangnya yang terbuat dari marmer menjulang tinggi. Harum aroma bunga yang sedang mekar terbawa angin yang keluar dari bagian dalam istana.
Li Anlan bertaruh bahwa dia bisa menemukan anak-anaknya di sini. Setelah sampai di depan gerbang, dia melihat seorang wanita bergaun hijau muda sedang berjongkok membelakangi pintu masuk. Postur wanita itu begitu kecil. Rambutnya tergerai panjang hampir menyentuh rerumputan yang hijau.
“Permisi, Nona. Apakah kau melihat sepasang bocah kembar berjalan kemari?”
Wanita berpakaian hijau muda yang tengah berjongkok membelakanginya terkejut. Sontak, wanita itu langsung berbalik dan berdiri. Li Anlan tertegun sesaat. Dia melihat wanita itu memakai kain penutup mata berwarna putih, melingkar hingga ke belakang kepalanya.
“Ah, maaf. Aku tidak tahu kalau Nona tidak bisa melihat,” ucap Li Anlan dengan raut wajah bersalah. Sungguh, dia benar-benar tidak tahu kalau wanita itu buta.
“Li… Li Anlan?”
Li Anlan lebih terkejut lagi. Bagaimana bisa wanita ini tahu nama depannya? Dia juga memanggilnya dengan sebutan namanya, apa maksudnya? Siapa wanita ini?
Sejak Li Anlan tinggal di Kerajaan Dongling, dia tidak pernah keluar dari wilayah itu. Orang-orang yang mengenalnya hanyalah para penduduk Dongling, dia tidak pernah keluar negeri. Mengapa wanita asing ini memanggilnya dengan sebutan akrab seperti itu?
“Kakak, apakah itu benar-benar kau?”
Li Anlan tergagap. Dia masih tidak bisa percaya.
“Siapa kau?”
“Kau sudah melupakanku?”
Wei Linglong, si pemilik Istana Fenghuang yang didatangi Li Anlan langsung melepas kain penutup matanya dalam sekali hentakan. Dia mengabaikan larangan Tabib Yin karena dia ingin memastikan bahwa pendengarannya tidak salah dengan melihat langsung sosok yang bertanya padanya beberapa saat yang lalu. Dia yakin dia mengenal suara ini. Suara ini seperti… suara seseorang yang dia kenal di masa modern!
Perlahan, Wei Linglong mencoba membuka matanya. Awalnya, pandangannya masih buram. Wei Linglong mengedipkan kelopak matanya berkali-kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retina matanya.
Buram. Semuanya masih buram. Setelah berjuang cukup lama, akhirnya dia bisa melihat bayangan sosok wanita bergaun biru tua yang disulam dengan benang perak dan bermahkota emas tengah berdiri menatapnya dengan bingung.
“Wei… Wei Linglong?”
Kini, giliran Li Anlan yang terkejut. Dia mengucek kedua matanya, memastikan kalau penglihatannya tidak salah. Sosok wanita berpakaian hijau muda di hadapannya, wajahnya sama seperti seseorang yang dia kenal di masa depan, seseorang yang pernah berjuang bersamanya selama beberapa tahun!
Antara percaya dan tidak percaya, dia kemudian berjalan mendekat. Pandangannya tertuju pada Wei Linglong. Apa dia sedang berhalusinasi? Tidak mungkin orang itu ada di sini! Dia pasti sedang berhalusinasi karena terlalu pusing memikirkan anak-anaknya yang nakal itu. Tapi, mengapa harus bayangan dia yang muncul?
Wei Linglong mencoba memperjelas pandangannya dengan mengedipkan matanya berkali-kali. Tiba-tiba, semua objek yang dia lihat berubah menjadi jernih tanpa bayangan, termasuk sosok yang berdiri di hadapannya sekarang. Kain penutup mata terjatuh di atas rerumputan hijau begitu saja.
“Ini benar-benar kau!” seru Wei Linglong.
“Kau benar-benar Wei Linglong?”
Begitu pula dengan Li Anlan. Wajah Wei Linglong ditatap dengan saksama, memastikan bahwa wanita ini benar-benar dia. Matanya berkaca-kaca, bulir air mata akhirnya ikut jatuh berbarengan dengan membuncahnya sebuah rasa bahagia yang mencuat dari dalam dada.
Kedua wanita muda itu berpelukan dengan erat. Atmosfer di Istana Fenghuang diselimuti suasana haru yang membiru, menyesakkan setiap dada, membuat air mata setiap orang yang melihatnya ikut turun bersama. Dua wanita penjelajah waktu dari zaman yang sama bertemu di tempat yang sama, adalah sebuah keajaiban yang luar biasa!
Suara tangis haru keluar dari mulut Wei Linglong. Tangisannya begitu keras. Dia terus memeluk Li Anlan seolah dia tidak akan bertemu lagi dengan seseorang yang dia kasihi dalam hidupnya. Adegan mengharukan tersebut berlangsung sekitar setengah jam. Li Anlan dan Wei Linglong sama-sama tidak percaya kalau mereka akan bertemu di sini.
Tangisan baru berhenti setengah jam kemudian. Di ayunan yang sering dipakai Wei Linglong untuk bersantai, dia dan Li Anlan saling bercakap mengenai kabar dan keadaan masing-masing. Mereka masih tidak berani percaya kalau mereka bertemu di tempat asing ini. Lebih tidak percaya lagi, mereka adalah dua wanita dengan jiwa yang berasal dari zaman yang sama di masa depan.
“Aku tidak berani percaya,” ucap Wei Linglong.
“Bagaimana denganku? Apa aku terlihat percaya?” ucap Li Anlan. Keduanya lantas tertawa bersama.
“Kakak, mengapa kau bisa ada di dunia ini? Terakhir kali kita bertemu adalah saat acara perpisahan sekolah menengah pertama. Saat itu kau adalah kakak senior yang sangat terkenal di seantero sekolah. Bagaimana bisa orang sepertimu sampai di dunia ini?” tanya Wei Linglong penasaran.
“Ssstt… Aku adalah seorang ratu. Bagaimana denganmu? Mengapa kau juga ada di sini?”
“Apa? Ratu? Kau sudah menjadi seorang ratu? Bagaimana bisa?”
Dalam suasana yang masih diselimuti rasa haru, Li Anlan kemudian menceritakan kisah hidupnya secara perlahan kepada Wei Linglong. Dia bercerita mengenai kehidupannya setelah lulus sekolah menengah pertama, mengenai hobi barunya, petualangannya menyusuri gunung-gunung tinggi, hingga kisah saat dirinya terjatuh dari atas ke jurang lalu sadar dalam tubuh seorang wanita di negeri antah berantah.
Setelah itu, Li Anlan menceritakan kisah pertemuannya dengan suaminya, Long Ji Man, yang semula dianggap sebagai seorang kasim, padahal jelas-jelas dia adalah seorang raja muda yang agung.
Kemudian, dia juga bercerita mengapa dia bisa jatuh cinta dan memilih tinggal di Kerajaan Dongling, menjadi pendamping raja satu-satunya, menjadi Permaisuri, Ratu dan juga Permaisuri Bangsawan yang dicintai semua orang.
Li Anlan juga bercerita mengenai segala macam bahaya yang dia hadapi selama tinggal di sisi suaminya. Akan tetapi, semua itu tidak ada artinya ketika dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri sebesar apa cinta Long Ji Man padanya, bahkan hingga mau memecat semua wanita di harem dan setia kepadanya seorang saja.
Wei Linglong menitikkan air mata. Sungguh, kisah teman lamanya ini begitu mengharukan. Perjuangannya di dunia asing begitu besar dan menyayat hati. Dia tidak menyangka kalau orang yang dia kenal bisa memiliki keberuntungan sebesar itu untuk bertahan hidup.
“Sebenarnya, aku sudah mati saat itu. Anehnya, aku justru malah sampai ke Dongling dengan barang bawaanku yang masih lengkap. Saat di ambang kematian yang kedua kali, aku sempat kembali ke dunia modern, kemudian memutuskan untuk tinggal di Dongling selamanya.”
“Itu berarti, kau sudah mati di dunia modern?”
Li Anlan mengangguk yakin. Wei Linglong sedikit tertegun.
“Kenapa? Kau tidak rela?”
“Entahlah. Aku juga tidak tahu apakah aku masih hidup di dunia modern atau tidak. Kakak, apa kau tidak menyesal?”
“Bisa hidup bersama orang yang dicintai, untuk apa menyesal?”
“Cinta, ya. Hm.”
“Bagaimana denganmu? Mengapa kau bisa ada di sini?”
“Kurang lebih sama sepertimu.”
“Linglong, apa kau juga seorang selir?”
Wei Linglong kemudian menceritakan semua kisahnya, mengenai hari keracunan hingga saat dia terbangun di Istana Dingin, menjual akar teratai dengan menipu Kaisar, kemudian perjalanan ke Jiangzhou hingga saat dia terkena racun Tujuh Warna yang membuat dia harus memakai penutup mata selama sepuluh hari lamanya.
Kisah pertemuan kedua wanita itu, adalah sebuah kejutan besar di awal musim semi. Li Anlan dan Wei Linglong sama-sama memiliki kisah yang hampir sama, namun belum memiliki akhir. Perjalanan Wei Linglong masih panjang. Wanita itu belum mengetahui akhir seperti apa yang akan dia terima. Mungkin sama dengan Li Anlan, mungkin juga dapat berbeda.
...***...
...Author nangis pas bikin part ini huhuhu. Ternyata, bikin yang beginian cukup menguras emosi juga. So, enjoy with the story, ya! Jangan lupa komentar di bawah! ...