
“Kakak, apa kau sudah gila? Untuk apa kau memberitahu mereka?” tanya Wei Linglong ketika perjamuan di Istana Yuyang berakhir. Keduanya berjalan bersama di taman besar istana Yuan, menikmati hari yang cerah.
“Aku sedang membantumu.”
“Aku sudah bilang tidak ingin ikut. Mataku baru saja sembuh, malah sudah harus melihat sekumpulan orang-orang menyebalkan itu!”
“Tapi kau puas bukan? Kau tidak lihat ekspresi panik dan bodohnya mereka tadi?”
“Setelah kau mengatakannya, aku juga merasa kalau mereka tampak bodoh. Kau memang pandai mempermainkan orang.”
“Tentu saja. Aku ini hebat.”
Kedua wanita itu tertawa bersama. Ancaman tidak langsung dari Li Anlan sukses membuat Ibu Suri dan Permaisuri Yi terdiam tak berkutik. Pertanyaan yang dilontarkan Li Anlan juga tidak dijawab. Sebelum situasi menjadi lebih kacau, Ibu Suri yang pandai bersilat lidah itu kemudian mengalihkan pembicaraan hingga situasi mulai terkendali.
Murong Qin dan Long Ji Man masih berbincang di Istana Yuyang. Rasa bosan dan suntuk membuat kedua wanita itu hengkang dan mencari udara segar di sekitar. Memang benar, istana di Yuan begitu megah dan agung. Sejak kemarin, Li Anlan sudah bisa melihat sebuah keagungan dari kemegahan istana-istana yang telah berdiri lebih dari tiga ratus tahun.
Taman-taman bunganya sangat indah dan rapi. Para pelayan yang ditugaskan bekerja dengan sangat baik hingga tidak ada satu tanaman pun yang layu atau mati. Tentu saja, itu harus terjadi. Jika para pelayan itu bermalas-malasan dan tidak mengerjakan tugas dengan baik, kepala mereka bisa terlepas dari leher atau mereka bisa cacat seumur hidup.
Tuan-tuan dari setiap istana memang memiliki sifat yang berbeda. Ada yang lembut dan baik hati, ada juga yang kejam dan tidak berperikemanusiaan. Ada yang sangat loyal, ada juga yang sangat pelit. Warna-warni sifat ini menghiasi kehidupan di dalam keluarga kerajaan. Semuanya mudah dipahami, semuanya mudah diketahui, mudah dimengerti.
“Apa kau puas dengan kehidupanmu di sini?” tanya Li Anlan.
“Mengapa kau bertanya?”
“Aku hanya ingin tahu. Aku sudah hidup di dunia ini lebih lama darimu, aku sudah bertemu berbagai macam wanita istana. Kau baru datang, tidak ada yang bisa kau percaya di istana yang besar ini. Kalau kau tidak nyaman, bagaimana jika kau ikut dan tinggal bersamaku saja?”
“Haha, itu bukan ide yang bagus. Aku yang seorang mahasiswa ini, yang sudah terbiasa hidup dalam berbagai situasi, apa tidak bisa menciptakan lingkungan yang nyaman untukku sendiri?”
“Kau belum lulus?”
“Hampir lulus. Kalau bukan karena pestisida sialan itu, sekarang mungkin aku sudah diwisuda!”
Li Anlan memahami emosi Wei Linglong. Saat pertama kali datang, dia juga sempat mengalaminya. Tidak perlu bersedih atau kesal, yang harus dilakukan hanyalah menjalani kehidupan yang diberikan dengan baik, berusaha sekuat tenaga bertahan dengan segala cara yang ada. Apapun dan bagaimanapun cara kita mati, itu hanyalah sebuah tahap awal.
Musim semi masih memasuki tahap awal. Harum aroma bunga yang mekar lebih dulu begitu menenangkan suasana. Taman Istana Yuyang yang indah tampak seperti padang bunga. Istana Yuyang seperti sebuah pondok megah yang berdiri di lautan bunga.
Mungkin karena istana ini adalah istana khusus untuk perjamuan penting, jadi semuanya ditata dengan sangat baik. Bisa dikatakan, Istana Yuyang hampir setara kemegahannya dengan Istana Yanzhi, istana tempat pengadilan berlangsung. Bedanya, ruangan di dalam Istana Yuyang lebih luas.
“Linglong, apa di sini ada pacuan kuda?”
“Aku tidak tahu. Aku tidak mengenal tempat-tempat di istana ini.”
Itu berarti, Wei Linglong sama seperti Li Anlan yang terisolir. Sungguh suatu kebetulan. Wei Linglong kemudian memanggil pelayan, lalu bertanya apakah di sekitar sini ada lapangan luas.
Pelayan itu kemudian menjawab kalau di belakang Istana Yuyang terdapat sebuah lapangan berkuda yang luas, yang kerap digunakan sebagai arena pertandingan antara pangeran Yuan dengan pangeran dan putri dari negara lain.
Tanpa menunggu diperintah, pelayan tersebut langsung mengantarkan Wei Linglong dan Li Anlan ke tempat yang dimaksud. Di sana, seorang penjaga bertanya identitas mereka, kemudian menunduk dan mempersilakan masuk ketika dia melihat pakaian dan hiasan kepala yang dikenakan oleh kedua wanita itu. Pasir cokelat yang sudah lama tidak dipijak menghampar luas sejauh mata memandang.
Dua buah kuda hitam yang tinggi datang dituntun seorang pengurus. Bulunya begitu lembut, ekornya cukup panjang. Di atas punggung kuda, sudah ada bantalan dari kain dan tali kendali. Li Anlan langsung melompat naik. Kuda yang dia naiki meringkik sebentar, kemudian diam karena Li Anlan menarik tali kendalinya.
“Kau mengajakku berkuda? Apa kau yakin?” tanya Wei Linglong memastikan.
“Kenapa? Apa kau sudah lupa kalau dulu kau adalah juara lomba berkuda saat sekolah menengah pertama?”
Wei Linglong melompat naik. Kini, posisinya dengan Li Anlan sejajar. Di atas punggung kuda, kedua wanita itu tampak gagah. Mereka seperti peri yang sedang berkelana tanpa sayap. Walau menggunakan pakaian istana, mereka tidak merasa kesulitan karena ekor baju mereka yang panjang sudah digunting setengahnya sebelum kedua kuda itu diantarkan kepada mereka.
“Lima putaran!” seru Li Anlan.
“Lima putaran? Siapa takut!”
Kedua wanita itu menarik kendali kuda, lalu menendang perut kuda dengan kedua kaki. Dalam hitungan detik, mereka sudah menjauh lima puluh meter dari garis awal. Saling mengejar, sejajar, satu di depan satu di belakang, posisi itu terus menerus berganti. Wei Linglong dan Li Anlan sejajar dan tidak sejajar bergiliran, bergantung pada kemampuan dan kecepatan kuda yang mereka tunggangi.
“Lihat! Kemampuanmu tidak menurun sedikitpun!” teriak Li Anlan.
“Hei, kemampuanmu juga tidak buruk!”
Tidak jauh dari arena pacuan kuda, dua orang pria berjubah penguasa negara berdiri dengan helaan napas yang panjang. Keduanya menyaksikan dua wanita istana di depan sana dengan kesal. Betapa tidak, mereka sudah dibuat kebingungan oleh dua wanita itu selama dua hari ini.
“Dia menipuku!”
Murong Qin ingin sekali menangkap Wei Linglong dan menghukumnya. Melihat wanita itu menunggangi kuda dan mengelilingi lapangan dengan lincah, dia sangat marah. Murong Qin merasa sudah ditipu wanita itu. Dia ingat kalau Wei Linglong pernah berkata kalau dia tidak bisa berkuda saat dinas rahasia ke Jiangzhou hingga Murong Qin harus membawanya bersamanya.
Kenyataannya, wanita itu jauh lebih pintar. Kemampuan berkudanya sangat hebat untuk ukuran seorang wanita. Bersama Ratu Li, Murong Qin seperti melihat dua wanita aneh yang entah berasal dari mana. Sama-sama kuat, sama-sama punya kemampuan dalam bidang ini.
Bahkan jenderal-jenderal wanita di sini tidak memiliki kemampuan berkuda sebagus itu. Latar belakang keluarga Wei Linglong di militer mungkin menjadi salah satu penyebab mengapa dia bisa memiliki kemampuan ini, tetapi itu semua sangat berbeda dengan data yang dia dapat dari orang kepercayaannya. Putri Jenderal Yun tidak pernah diajari berkuda, dia dibesarkan seperti permata.
Jadi, dari mana datangnya kemampuan ini? Mengapa Wei Linglong harus menipunya?
Kedua raja tersebut lalu masuk ke arena. Istri mereka sudah menjalani putaran yang ketiga. Saat keduanya mendekat ke tempat Murong Qin dan Long Ji Man berdiri, kedua wanita itu berteriak, “Tangkap!” sembari melemparkan hiasan kepala dan beberapa benda yang terasa berat di badan mereka.
Debu pasir terbang akibat pijakan kaki kuda. Lapangan yang semula rapi menjadi berantakan. Debu-debu beterbangan tertiup angin. Wei Linglong dan Li Anlan masih asyik berkuda, terus menerus saling mengejar satu sama lain. Keringat di tubuh mereka bercucuran.
“Aku tidak akan kalah darimu!” seru Wei Linglong.
“Aku juga tidak akan membiarkanmu menang, Linglong!”
Tidak disangka, setelah putaran kelima, mereka melanjutkannya ke putaran berikutnya. Rambut keduanya berkibar tak karuan karena angin. Sanggul yang semula ditata rapi sudah acak-acakan. Wei Linglong tidak mempedulikan penampilan mereka yang sudah seperti orang gila. Mereka terus memacu kudanya, berlari dan berlari dengan kencang.
Murong Qin dan Long Ji Man hanya diam menyaksikan tingkah laku istri mereka. Di belakangnya, beberapa menteri tinggi ikut menyaksikan balapan antara Selir Chun dan Ratu Li sambil tak berhenti bertanya-tanya, mencari jawaban dari kebingungan yang sama dengan Murong Qin dan Long Ji Man.
Mengapa mereka merasa kalau kedua raja adalah suami terbuang (lagi)?
...***...
...Ahahaha Murong Qin ternyata tertipu! Linglong ternyata bisa berkuda, bahkan kemampuannya lebih hebat dari Li Anlan! Kira-kira, apa ya alasan dia menyembunyikan kemampuannya? Author sih kasihan sama Murong Qin & Jiman, mereka kayak suami yang ditinggalin istri. ...