The Legend Of Chunfei

The Legend Of Chunfei
FRAGMEN 44: LANGKAH KAKI MISTERIUS



Usai mengantar Li Anlan dan Long Ji Man, Wei Linglong kembali ke Istana Fenghuang bersama Murong Yu. Hari sudah sangat siang, matahari musim semi menggantung di langit seperti bola api raksasa. Udara justru terasa sejuk karena tanaman-tanaman hias di halaman Istana Fenghuang memberikan oksigen yang menenangkan lewat fotosintesisnya.


Xiaotan sedang tidak ada. Wei Linglong menyuruhnya untuk memeriksa kebun sayuran di Istana Dingin. Saat musim dingin, kebuh itu pasti berubah menjadi kebun sayuran beku karena dia dan Xiaotan tidak ada di istana.


Wei Linglong tidak dapat mengandalkan Kasim Du lagi karena kepercayaannya sudah hilang setelah dia tahu kalau Kasim Du adalah mata-mata yang ditempatkan Ibu Suri di sisinya.


Saat dia hendak membuka pintu istananya, kepalanya tiba-tiba pusing. Matanya yang semula jernih terasa sakit. Seluruh benda-benda yang ada di sekitarnya buram dengan bayangan yang sangat banyak. Dia mengedipkannya berkali-kali, tetapi semakin lama pandangannya justru semakin gelap. Celaka, matanya pasti bermasalah lagi.


Murong Yu ingin menangis melihat bibinya kesakitan dan hampir limbung. Bocah kecil itu membantu Wei Linglong duduk di kursi, kemudian menanyakan apa yang terjadi.


Alih-alih menjawab, Wei Linglong malah meminta Murong Yu untuk pergi ke Istana Yanxi, menyuruhnya memanggil Murong Qin. Rasa perih di matanya semakin tidak terkendali. Wei Linglong menutup kedua matanya dengan tangan sembari menahan sakit.


Bocah kecil itu berlari dengan kencang. Panik, dia sangat panik. Murong Yu terjatuh berkali-kali, tersandung ujung pakaiannya yang panjang. Demi Wei Linglong, dia terus berlari hingga gerbang Istana Yanxi terlihat. Ketika sampai di depan penjaga, dia terjatuh lagi.


“Pangeran!” seru penjaga.


Para penjaga berbadan kekar membantu pangeran mereka bangkit. Tanpa menanyakan apakah ayahnya ada di dalam atau mengucapkan terima kasih, Murong Yu langsung menerobos masuk. Dia tidak punya banyak waktu, dia harus segera meminta pertolongan ayahnya.


Kasim Liu yang kebetulan sedang membereskan meja kemudian menghampiri Murong Yu dengan penasaran. Selama ini, Murong Yu hampir tidak pernah bisa masuk ke dalam Istana Yanxi karena Murong Qin selalu melarang siapapun masuk tanpa seizin darinya. Kasim Liu melihat tampilan Murong Yu yang mengkhawatirkan dengan beberapa luka di tangan dan wajahnya.


“Pangeran, ada apa?”


“Kasim Liu, apa ayahanda ada?”


“Yang Mulia baru saja beristirahat. Pangeran, ada yang bisa aku bantu?”


Sambil setengah menangis, Murong Yu kemudian berkata,


“Bibi Wei… Bibi Chun, matanya terluka lagi.”


Setelah itu, dia benar-benar menangis. Suara tangisannya yang begitu keras menggema di ruang belajar Murong Qin, membuat beberapa pelayan di sekitar istana berhenti sejenak dari aktivitas mereka. Suara tangisan Murong Yu juga membuat Murong Qin yang baru saja memejamkan mata langsung terjaga, kemudian bangkit dan menghampiri putranya.


“Ada apa?”


“Ayahanda, mata Bibi Chun terluka lagi.”


“Liu Ting, cepat panggil Tabib Yin!”


Kasim Liu segera berlari keluar dari Istana Yanxi. Murong Qin tanpa sadar menggendong Murong Yu, membawanya berlari menuju Istana Fenghuang. Wajahnya tampak panik. Apa yang terjadi? Bukankah mata wanita itu sudah sembuh dan baik-baik saja beberapa hari ini? Mengapa sakit lagi?


Saat tiba di Istana Fenghuang, Murong Qin mendapati Wei Linglong sedang duduk di kursi sambil menutup kedua matanya dengan tangan. Wei Linglong sesekali terlihat meringis. Tangisan Murong Yu dan langkah kaki yang besar membuat wanita itu bangkit.


“A-Ling, kau baik-baik saja?”


“Yang Mulia, mataku sakit,” ucap Wei Linglong.


Pria itu memapahnya ke ranjang. Suara tangisan Murong Yu mulai memelan.


“Mengapa mereka belum datang?” ucap Murong Qin dengan nada tinggi.


“Yang Mulia, Tabib Yin di sini,” ujar Kasim Liu.


Tabib Yin yang baru saja selesai menumbuk obat untuk para selir di Istana Dalam langsung terkejut. Selir Chun yang dia obati beberapa minggu lalu tampak mengkhawatirkan.


Dia mengatur napasnya, menormalkan kembali detak jantungnya yang berpacu kuat setelah berlari dari Balai Kesehatan Kerajaan ke Istana Fenghuang usai didatangi Kasim Liu.


Melihat keadaan sekilas, dia langsung tahu kalau sesuatu terjadi pada mata Selir Chun. Tabib Yin langsung membuka kotak peralatan medisnya, kemudian memeriksa Wei Linglong dengan teliti.


Beberapa jarum ditusukkan di tangan dan kepala, di titik-titik vital hidup seseorang. Tabib Yin juga mengambil sampel darah dari tangan Wei Linglong lalu mengetesnya dengan jarum perak.


Darahnya masih merah. Aneh, padahal tidak ada racun di dalam tubuh wanita itu, tetapi keadaannya begitu mengkawatirkan. Terutama di bagian wajah dan matanya. Tabib Yin baru menyadari kalau Wei Linglong tidak lagi memakai kain penutup mata yang dia sarankan.


“Mata Nyonya Chun mengalami infeksi. Yang Mulia, apa akhir-akhir ini dia pergi ke lapangan berdebu?” tanya Tabib Yin pada Murong Qin.


“Ya. Dia balapan kuda dengan Ratu Li.”


Wei Linglong merasa kalau bencana akan datang kepadanya. Jadi, dia berpura-pura tertidur. Dia yakin sebentar lagi Murong Qin akan memarahinya habis-habisan. Daripada diomeli pria itu, lebih baik dia berpura-pura tidak sadarkan diri saja. Dengan begitu, Murong Qin hanya akan memarahi angin.


“Untung saja racunnya sudah hilang. Debu-debu masuk ke dalam matanya dan menginfeksi, gejalanya tidak terlalu parah. Istirahat selama tiga hari juga sudah sembuh. Yang Mulia, selama masa penyembuhan, Nyonya Chun tidak boleh membuka mata dan tidak boleh terkena kotoran, atau dia akan mengalami kebutaan.”


“Apa maksudmu? Bukankah kau bilang tidak parah?”


Murong Qin menahan napas.


“Sudah dengar itu, Selir Chun?”


Tidak ada jawaban, setelah satu menit pun tidak ada jawaban.


“Selir Chun?” panggil Murong Qin.


“A-Ling?” panggilnya lagi.


Tetap tidak ada jawaban.


“Yang Mulia, bagaimana jika kita kembali dulu ke istana? Biarkan Nyonya Chun beristirahat saja,” tawar Kasim Liu. Setelah berpikir sesaat, Murong Qin mengangguk.


“Tabib Yin, berjagalah di sini sebentar.”


“Baik, Yang Mulia.”


“Liu Ting, antarkan Pangeran Sulung ke istananya.”


“Hamba laksanakan, Yang Mulia.”


Setelah Murong Qin dan yang lainnya pergi, Wei Linglong menghembuskan napas lega. Bagus, Murong Qin pergi dengan kemarahannya sendiri. Tabib Yin hanya menggelengkan kepala atas tingkah cerdik Selir Chun yang bisa-bisanya berpura-pura pingsan di saat pemeriksaan dan menghindari omelan Kaisar Mingzhu-nya.


“Dokter Yin, apa perkataanmu itu benar?”


“Benar, Nyonya. Kau harus menggunakan penutup mata lagi.”


“Padahal aku paling suka warna-warna cerah. Sayang sekali harus berteman dengan kegelapan lagi. Hei, Dokter Yin, apa ada obat yang bisa mempercepat penyembuhan mataku? Aku masih perlu merevisi laporan.”


“Tidak ada, Nyonya. Aku hanya akan meresepkan suplemen untuk menjaga kestabilan tubuhmu.”


Xiaotan tiba dari Istana Dingin dengan raut wajah kesal. Kasim sialan itu mempermainkannya dan membiarkan seluruh tanaman di sana tumbuh bersama rumput liar hingga tidak bisa dibedakan. Tetapi, dia sungguh terkejut ketika melihat majikannya terbaring di atas ranjang dengan mata terbungkus kain putih, sementara Tabib Yin duduk di samping tempat tidurnya.


“Nyonya, apa yang terjadi? Tabib Yin, kenapa mata nyonyaku dibungkus lagi?”


“Dia terkena infeksi.”


“Oh Langit, mengapa kau sangat kejam?”


“Xiaotan, jangan dramatis. Cepat ikuti Tabib Yin dan ambil resepnya untukku.”


“Tapi, bagaimana denganmu? Kau akan sendirian di sini.”


“Tidak apa-apa. Pergilah.”


Istana Fenghuang langsung sepi begitu Xiaotan dan Tabib Yin pergi. Hanya tinggal Wei Linglong saja di dalam sana, berbaring di atas ranjang dengan pemandangan yang sangat gelap. Di masa modern, dia adalah mahasiswa dengan mata paling sehat. Sebanyak apapun buku yang dia baca, selama apapun dia duduk di depan komputer yang menyala, Wei Linglong tidak pernah mengalami mata minus.


Di sini, terkena debu sedikit saja sudah langsung infeksi. Mata pemilik asli tubuh benar-benar lemah. Jika tahu akibatnya akan seperti ini, seharusnya dia tidak terprovokasi oleh Li Anlan untuk bertanding kuda hari itu hingga tanpa sadar menunjukkan kemampuannya di depan Murong Qin. Suatu saat, pria itu pasti akan mencari perhitungan dengannya karena sudah ditipu olehnya. Seharusnya dia menolak ajakannya.


Apalah daya, semuanya sudah terjadi. Waktu tidak bisa dikembalikan. Wei Linglong hanya perlu menunggu matanya sembuh sambil memikirkan cara agar lolos dari kemarahan Murong Qin. Kalau bisa, dia ingin menghilang sebentar, kemudian kembali lagi saat kemarahan pria itu mereda.


Wei Linglong tiba-tiba menangkap suara langkah kaki yang terdengar begitu asing. Langkahnya terkesan terburu-buru. Dia waspada, namun berusaha tetap tenang agar pemilik langkah kaki tersebut tidak terkejut. Sembari mencoba menebak siapa pemiliknya, Wei Linglong perlahan bangkit.


“Xiaotan? Apa itu kau?”


Tidak ada jawaban. Suara langkah kaki berhenti, kemudian terdengar lagi.


“Yang Mulia? Apa kau kembali?”


Masih tidak ada jawaban. Wei Linglong semakin curiga. Dia mencoba segala cara untuk tetap tenang. Suara langkah kaki itu perlahan mendekat, kemudian menjauh. Perhitungan Wei Linglong mengatakan kalau langkah kaki itu menuju lemari. Benar saja, tidak lama kemudian bunyi pintu lemari dibuka secara perlahan terdengar.


Pemilik suara langkah kaki kemudian pergi. Diam-diam, Wei Linglong mengikutinya. Dia berjalan sambil meraba-raba, semakin jauh dan semakin jauh. Wei Linglong sudah sampai di gerbang luar Istana Fenghuang, kembali berjalan pelan, mencoba mengenali objek sekitar dengan kakinya. Saat dirasa pijakannya aman, dia melangkah kembali.


Butuh waktu cukup lama agar dia bisa berjalan cukup jauh. Suara langkah kaki tadi sudah menghilang, tetapi Wei Linglong bahkan tidak tahu arah mana yang harus dia tempuh untuk kembali ke istananya. Sekelilingnya hanya ada kegelapan. Kanan dan kiri, dia tidak tahu. Dia hanya mendengar gemerisik dedaunan dan percikan air yang tenang.


Tiba-tiba, dia merasa tubuhnya didorong dengan sangat keras dari belakang. Dorongan itu bertenaga besar, hingga tubuhnya seperti melayang di udara. Tidak lama setelah itu, tubuhnya terkena air, kemudian perlahan tenggelam. Samar-samar, bayangan kematian lewat di dalam pikirannya.


...***...