
Pagi ini, pengadilan di aula Istana Yanzhi berlangsung panas. Aula pengadilan yang megah dan diterangi banyak lilin hingga seperti ruangan glamor riuh dengan suara-suara laki-laki dari dua arah. Laporan demi laporan datang berganti dari satu menteri dan menteri lainnya.
Perdana Menteri Xu menggugat Selir Chun di hadapan Kaisar Mingzhu. Dakwaannya adalah terkait perbuatannya yang keluar istana tanpa izin kemudian melarikan diri ke Jiangzhou selama musim dingin.
Perdana Menteri Xu mengatakan bahwa Selir Chun bukanlah contoh yang baik. Dia meminta Murong Qin menghukumnya, jika tidak, Murong Qin akan dianggap sebagai Kaisar yang pilih kasih dan dikhawatirkan akan menimbulkan masalah karena selir lain akan cemburu.
Sudah bertahun-tahun, dia pikir dia tidak akan bersinggungan lagi dengan keluarga Jenderal Besar Yun. Setelah jenderal tua itu berhenti dari militer, Perdana Menteri Xu berpikir dia akan bebas dan tidak punya saingan. Nyatanya, putrinya yang bernama Wei Linglong itu justru membuatnya gelisah bukan main.
Murong Qin menatap malas pada perdana menterinya. Orang tua ini tidak henti-hentinya mencari kesalahan orang lain. Semua hal yang berkaitan dengan Jenderal Yun sepertinya adalah sebuah ranjau yang membuat Perdana Menteri Xu gatal.
Entah dari mana orang tua ini mendapatkan informasi. Murong Qin tidak pernah memberitahukan kalau Wei Linglong ikut bersamanya, karena pada saat kembali dalam keadaan keracunan pun dia merahasiakannya.
“Perdana Menteri, apa yang kau ributkan?” tanya Murong Qin.
“Yang Mulia, Selir Chun sudah keluar dan pergi selama tiga bulan dari istana lalu muncul kembali di perjamuan Kerajaan Dongling. Harap Yang Mulia menyelidiki dengan jelas dan menghukumnya agar dijadikan cermin bagi selir lain,” jawabnya sambil berdiri penuh kesopanan, yang sebenarnya penuh penekanan.
“Apa kau terlalu senggang hingga mencampuri urusan haremku?”
“Hamba tidak berani, Yang Mulia. Hamba yang tua ini hanya tidak ingin istana ini kacau balau. Hamba hanya ingin membantu Yang Mulia.”
“Kalau begitu, kau saja yang jadi Kaisar!”
Perdana Menteri Xu langsung berlutut ketika Murong Qin mengatakannya dengan ekspresi andalannya yang sedingin es. Menteri lain langsung ikut berlutut, mencoba menenangkan pemimpin mereka meskipun mereka pun merasa sangat takut. Aula pengadilan menjadi mencekam.
“Ampuni hamba Yang Mulia, tolong pertimbangkan lagi.”
“Harap Yang Mulia pertimbangkan lagi.”
Murong Qin menepiskan lengannya, membuang jubahnya dengan gerakan ke kiri sambil bangkit dari singgasana naga. Melihat para menterinya berbuat demikian, dia jadi semakin kesal.
Murong Qin kemudian meminta sesuatu pada Kasim Liu. Setelah sesuatu itu tersedia, dia langsung melemparkannya ke hadapan Perdana Menteri Xu dengan emosi.
“Baca! Jika kau tidak mengerti, maka berhenti saja dari jabatan perdana menteri!”
Begitu tegas, kejam, dan dingin hingga semua orang di sana tidak ada yang berani mengangkat kepala. Tidak ada yang begitu agung dan anggun dalam kemarahan selain Murong Qin, giok berharga yang lahir dari rahim seorang selir rendah dan menjadi raja karena prestasinya sendiri. Bahkan di saat emosi seperti itu pun, dia masih tampak elegan dan menakutkan.
Sang Kaisar lantas meninggalkan aula pengadilan tanpa berkata apa-apa. Perdana Menteri Xu mengambil dua buah buku laporan berwarna kuning keemasan yang tadi dilemparkan oleh pria itu, kemudian perlahan membacanya dengan teliti. Tulisan rapi, isi yang rinci, sungguh dia belum pernah melihat buku laporan seindah ini. Ada harum aroma persik yang tercium ketika buku ini pertama kali dibuka.
“Se-Selir Chun yang menulis ini?” tanyanya pada diri sendiri, namun suaranya masih dapat didengar oleh menteri lain hingga mereka yang semula berlutut dan menunduk bergegas mendekati Perdana Menteri Xu.
“Benteng sungai Jiangzhou, pertanian rakyat, sekolah rakyat, mengapa laporannya begitu rinci?” tanya Menteri Han dari Kementrian Personalia.
“Apa benar Selir Chun yang menulis ini?” tanya Mentri Ou dari Kementrian Pendapatan, ayah dari Selir Ou, ketika jawaban dari pertanyaan Menteri Han tidak ada yang menjawab.
“Pantas saja Yang Mulia begitu melindunginya,” ujar Menteri Fu dari Kementrian Keuangan.
“Perdana Menteri Xu, apa Anda telah salah menuntut orang?”
“A-aku tidak tahu kalau putri jenderal tua itu begitu hebat.”
Sekarang kau tahu, ucap Murong Qin dalam hati. Dengan senyum penuh kemenangan, dia menguping pembicaraan menterinya dari belakang pintu Istana Yanzhi. Jika ada orang yang melihatnya, mereka mungkin akan mengira kalau Kaisar mereka memiliki masa kecil yang kurang bahagia karena menguping pembicaraan orang dari samping.
Kasim Liu hanya menggelengkan kepalanya. Akhir-akhir ini, majikan agungnya telah banyak berubah. Selain berubah ekspresi, dia juga melihat kalau Murong Qin sekarang lebih banyak menahan diri.
Tingkah mengupingnya juga sesuatu yang aneh karena selama ini pria itu tidak pernah mendengarkan pembicaraan orang, atau memancing mereka untuk melihat ekspresi bodoh orang-orang itu ketika umpannya dimakan.
“Lihatlah perdana menteri tua itu. Dia begitu bersemangat menuntut orang, tapi sekarang malah terkagum-kagum. Dasar orang tua!”
Mengapa Kasim Liu merasa kalau Kaisar Mingzhu yang mengumpat seperti ini sangat mirip dengan Selir Chun?
Mengetahui kasimnya menggelengkan kepalanya, Murong Qin kemudian kembali bersikap seperti biasa. Dia meninggalkan Istana Yanzhi dengan langkah lebar, meninggalkan proses pengadilan yang sebenarnya belum selesai. Masa bodoh, dia sudah tidak ingin bicara pada para menterinya lagi.
Dia berjalan menuju Istana Yanxi. Tetapi saat dia sampai di depan gerbangnya, Murong Qin justru berbelok dan meneruskan langkah menuju Istana Fenghuang. Ketika sudah sampai di jembatan yang melintasi Danau Dongting, Murong Qin berhenti sejenak lalu memutar kembali arah tujuannya.
Dia kembali ke depan Istana Yanxi, namun bukannya masuk, dia justru kembali berjalan ke arah Istana Fenghuang setelah cukup lama berpikir. Dia selalu menghentikan langkahnya setiap kali sudah sampai di tengah jembatan, kemudian berbalik lagi. Dia terus mengulangnya hingga belasan kali.
Murong Qin sudah bolak-balik selama tiga puluh menit. Kasim Liu saja sampai pusing mengikuti arah langkah majikannya. Kaisarnya tampak ragu, kemudian yakin, kemudian ragu lagi. Perubahan tersebut membuat Murong Qin seperti layangan putus yang tidak punya tujuan.
“Yang Mulia sedang bertanya?”
“Liu Ting, menurutmu apa dia senang dengan pemberianku?”
“Selir Chun tentu saja tidak akan menolak pemberian Yang Mulia. Pelayan yang dikirim ke istananya pasti banyak membantunya.”
“Oh benar. Dia sangat pandai.”
Tanpa sadar, Murong Qin telah sampai di depan Istana Fenghuang. Penjaga yang ditugaskan di sana menundukkan kepala dan sedikit membungkuk sesaat ketika mereka melihat sosok kaisar mereka. Tombak di tangan mereka tegak, ujungnya menantang langit.
“Yang Mulia, kita sudah sampai.”
“Sampai di mana?”
“Istana Fenghuang.”
“Mengapa aku berjalan ke sini?”
“Itu hanya Yang Mulia yang tahu jawabannya.”
Murong Qin kebingungan dengan tingkah lakunya sendiri. Dia terlalu asyik berpikir hingga tanpa sadar langkah kakinya membawanya menuju istananya yang telah diberikan pada Wei Linglong. Apakah Wei Linglong begitu membayanginya hingga dia bertindak secara tidak sadar?
“Aku hanya ingin berkunjung.”
Siapapun tahu kalau itu hanya sebuah alasan klise. Apa yang dikatakan belum tentu sesuai dengan isi hati. Murong Qin langsung masuk untuk menghindari pertanyaan lain yang mungkin muncul dari kasim pribadinya. Karena sudah datang, maka tidak boleh langsung pergi.
Wei Linglong sedang asyik menanam bunga di pot-pot tanah liat. Benih-benihnya diminta dari Biro Pertamanan Istana. Tanahnya adalah tanah subur dari halaman belakang. Wei Linglong yang sudah terbiasa bermain dengan tanah semasa kuliah tidak lagi sungkan atau jijik ketika benda yang lengket itu mengotori tangan dan pakaiannya.
“Kotor sekali!”
Wei Linglong terlonjak kaget saat seseorang berbicara di belakang punggungnya. Ketika dia berbalik, Murong Qin sedang berdiri sambil menatapnya dengan dahi berkerut dan keengganan yang tampak sangat jelas. Walaupun dia tidak jijik, tetapi melihat seorang wanita bangsawan bermain dengan tanah hingga tangan dan pakaiannya kotor tetap tidak sedap dipandang.
“Aku ini sedang menanam, aku butuh tanah untuk media tanamnya. Kalau aku sedang mencuci baju, baru aneh jika kau berkata aku ini kotor.”
“Cepat bersihkan!”
“Aku belum selesai. Lihat, bunga-bunga ini akan mekar di ujung musim semi nanti.”
“A-Ling, cepat bersihkan!”
“Tidak. Aku bilang aku belum selesai.”
“Kau mau membersihkannya atau tidak?”
“Tidak.”
“Bersihkan sekarang!”
“Tidak mau. Benih-benihnya belum dimasukkan semua ke dalam pot!”
“Cepat bersihkan Wei Linglong!”
“Hei, kenapa Yang Mulia malah berdebat denganku?”
“Itu karena salahmu sendiri. Cepat bersihkan tanganmu!”
Wei Linglong yang kesal karena aktivitasnya terganggu tiba-tiba mendapatkan sebuah ide. Penderita misofobia ini sepertinya harus diberi pelajaran. Pasti akan sangat seru ketika seorang yang fobia terhadap kekotoran mendapat sesuatu yang membuat penyakitnya kambuh.
Bagaimana jika jubah suteranya itu diolesi tanah humus yang subur ini?
Tiba-tiba, Murong Qin merasakan ada bahaya besar yang akan datang dari tatapan misterius yang dia tangkap di mata Wei Linglong.
...***...
...Ayo Linglong, kami mendukungmu! ...