
Satu minggu kemudian, Murong Qin kembali sibuk dengan persinggungan pendapat atas penanganan bencana di wilayah utara Dinasti Yuan. Para pejabat ini terlalu sibuk mengurusi urusan pribadi Kaisar mereka hingga melupakan hal sepenting itu di pengadilan istana.
Kini, setelah berminggu-minggu berlalu, mereka baru tersadar bahwa ada masalah penting lain yang harus segera diatasi.
Pengadilan Istana yang panas beberapa saat yang lalu telah berhasil membuat kepala Murong Qin mendidih. Jubah emasnya yang berkilau tak mampu menutupi pandangan kalutnya terhadap permasalahan yang sedang dia hadapi.
Musim gugur sudah berakhir, musim dingin akan segera tiba. Rakyatnya di wilayah utara sana masih memerlukan uluran tangannya untuk membawa mereka keluar dari ancaman kelaparan dan kematian.
Murong Qin berdiri di depan rak buku. Dia menatap tumpukan kertas usang yang usianya sudah puluhan tahun. Dahulu, Istana Yanxi hanyalah sebuah istana kecil milik seorang pangeran yang lahir dari selir.
Halamannya begitu sempit dan tidak punya banyak pelayan, bahkan untuk menghindari dingin di malam musim dingin pun, istana ini tidak mempunyai tungku api.
Buku-buku yang usang tersebut bukan hanya catatan mengenai prestasi Murong Qin di medan perang, tetapi merupakan sebuah jurnal kehidupan yang dicatat sebagai bentuk sejarah dari seorang raja yang agung.
Murong Qin selalu berusaha menjadi Kaisar yang sempurna, tanpa kesalahan, kemudian berdiri di atas takhta tertinggi dan terkuat sepanjang masa.
Jika dia tidak mampu mengatasi persoalan bencana, bukankah dia sangat bodoh?
Murong Qin ingin membuka gudang istana, memberikan sebagian perbendaharaan Dinasti Yuan kepada rakyatnya di utara sana. Akan tetapi, dia harus berpikir berulang kali.
Bukan hanya harus memikirkan keluarga kerajaan dan pejabat yang melawannya, dia juga harus berpikir ke depan, ke masa ketika musim dingin yang panjang melanda negeri. Kalau perbendaharaan istana diberikan seluruhnya, itu hanya akan membantu sementara.
Dia telah menemui jalan buntu. Gubernur di prefektur utara telah mengirimkan surat laporan dan permohonan bantuan kembali. Keadaan di sana sepertinya benar-benar tidak bisa diprediksi lagi. Tidak ada jalan lain lagi, Murong Qin hanya bisa menggunakan tangannya sendiri untuk mengatasi situasi tersebut.
“Liu Ting!” panggil Murong Qin pada Kasim Liu.
Kasim itu berjalan tergopoh-gopoh memenuhi panggilan Kaisarnya.
“Apa persiapannya sudah selesai?”
“Sudah, Yang Mulia.”
Murong Qin melepaskan jubah emasnya. Dalam sekejap, penampilannya berubah drastis. Persis seperti beberapa bulan sebelumnya, dia kembali menjelma menjadi seorang pemuda tampan yang minim ekspresi namun memancarkan aura yang begitu kuat. Tubuhnya yang gagah terbalut kain sutera biru muda, dipadukan dengan sebuah liontin giok berwarna senada.
Lewat pintu yang berada di halaman belakang Istana Yanxi, Murong Qin melepaskan atribut Kaisar Mingzhu-nya dalam sekali hentakan. Kereta kudanya sudah menunggu untuk dinaiki.
Perjalanan yang akan dia lalui kali ini adalah sebuah perjalanan panjang yang akan cukup melelahkan. Dia harus menjadi seorang pemimpin yang bijaksana, terutama dalam mengatasi bencana yang dialami oleh rakyat tercintanya.
Murong Qin memutuskan untuk pergi ke prefektur Jiangzhou, sebuah wilayah di daerah utara yang beberapa bulan ini memenuhi pikirannya. Dia pergi secara diam-diam tanpa memberitahu para pejabatnya terlebih dahulu, padahal pagi tadi mereka baru saja bertemu.
Murong Qin selalu suka bepergian secara rahasia karena itu akan membuatnya merasa bebas dan tidak terikat apapun.
Setelah melihat Kaisar Mingzhu-nya pergi, Kasim Liu segera menutup kembali pintu gerbang dan menguncinya. Kunci tersebut kemudian dia masukkan ke dalam saku jubahnya yang biasa.
Sebelum kembali ke Istana Yanxi, Kasim Liu menghela napasnya. Kali ini, dia tidak yakin apakah perjalanan junjunannya bisa lancar atau tidak. Kasim Liu selalu diserang rasa khawatir di setiap kepergiannya, namun kali ini perasaan itu melebihi batasnya.
Kasim Liu harus kembali direpotkan oleh urusan istana. Sebagai kasim pribadi, dia seharusnya ikut pergi ke manapun tuannya pergi. Murong Qin menempatkannya sebagai wakil pengurus Istana Yanxi, yang semua urusannya akan diberikan kepadanya.
Kasim Liu harus menutup kembali Istana Yanxi dan meminta para pejabat menunda pengadilan, berhenti mengunjungi serta tetap memberikan laporan sesuai dengan prosedur lewat Biro Kementrian Negara.
Biasanya, Kasim Liu akan mengirimkan surat melalui merpati untuk mengabari Murong Qin, serta surat balasan akan datang beberapa hari setelahnya. Dengan begitu, istana tidak akan kehilangan sosok pemimpinnya.
Ketika Kasim Liu menutup pintu gerbang Istana Yanxi, kereta kuda Murong Qin sudah sampai di tengah kota. Keramaian pada siang hari itu sedikit menghambat perjalanannya. Di jalan, terlalu banyak orang berlalu-lalang.
Aneh, padahal ini adalah akhir musim gugur. Tahun-tahun sebelumnya tidak seperti ini. Orang-orang pada hari ini seperti sengaja keluar untuk menyaksikan seseorang yang agung lewat di tengah-tengah mereka.
“Tunggu! Hentikan keretanya!”
Murong Qin tiba-tiba mendengar suara wanita yang begitu akrab di telinganya. Dia menggelengkan kepalanya, menganggap bahwa dia hanya berhalusinasi dan pendengarannya salah.
Wanita itu tidak mungkin bisa keluar dari tempat tinggalnya karena dia sudah memerintahkan beberapa pengawal untuk menjaga pintu gerbangnya. Benar, Murong Qin mungkin hanya berhalusinasi.
“Hei! Kubilang hentikan keretanya!”
Suara wanita itu terdengar kembali. Kali ini, Murong Qin sampai harus memejamkan mata dan berkata pada dirinya sendiri kalau dia sedang berhalusinasi. Mungkin, Murong Qin terlalu sering bertemu dengan wanita itu hingga pikirannya perlahan dipenuhi oleh bayangan dan suara wanita itu.
“Tuan, ada dua wanita sedang berlari di belakang kereta kuda kita,” ucap kusir, menghancurkan semua imajinasi Murong Qin.
“Berhenti!” perintah Murong Qin.
“Kusir sialan. Aku bilang hentikan ya hentikan, kenapa kau terus memacu kudanya?” maki wanita yang satu. Napasnya terengah-engah.
Murong Qin membuka tirai keretanya. Dia menatap tajam dan lurus ke arah dua wanita yang tengah berdiri di samping kereta kuda. Keningnya berkerut hingga kedua alisnya yang hitam hampir menyatu. Kegilaan apa lagi yang ingin dilakukan oleh wanita ini?
“Chunfei, apa yang kau lakukan?”
Wei Linglong melemparkan senyum asal kepada Murong Qin. Napasnya masih memburu dan jantungnya masih berdetak dengan cepat. Tadi pagi, dia tidak sengaja mendengar kabar dari angin bahwa Kaisar Mingzhu akan pergi secara rahasia.
Wei Linglong yang kebosanan kemudian mengelabui para pengawal yang dikirim oleh Murong Qin, kemudian menyelinap keluar dari istana untuk menyusul pria itu. Tidak disangka, pria itu bukan hanya tidak mendengar teriakannya, tetapi seperti sengaja membuatnya kelelahan berlari.
Melihat selirnya ada di sini, hati Murong Qin sebenarnya merasa tercubit. Wei Linglong begitu pandai melarikan diri, bahkan bisa menyusulnya sampai ke tengah kota dan berhasil menghentikan keretanya.
Kejutan demi kejutan datang bertubi-tubi dari wanita itu. Murong Qin sudah berbaik hati membiarkannya beristirahat dan memulihkan diri di Istana Fenghuang, memberinya pengawal yang kuat agar dia tidak keluyuran dan orang-orang dari harem tidak bisa menculiknya lagi. Tidak disangka, dia bisa lolos dengan mudah.
“Tuan, biarkan aku ikut bersamamu!”
“Tidak. Chunfei, kembalilah!”
“Ayolah! Biarkan aku berjalan-jalan. Aku sudah hampir mati kebosanan tinggal di Istana Fenghuang!”
“Tidak! Ini bukan perjalanan main-main!”
“Aku tahu! Karena itulah biarkan aku ikut. Aku janji tidak akan membuatmu kesusahan!”
Tanpa menunggu jawaban persetujuan dari Murong Qin, Wei Linglong langsung masuk ke dalam kereta. Dia merebahkan dirinya di dipan yang diberi busa empuk hingga terasa sangat nyaman.
Di luar, Xiaotan duduk di samping kusir. Kain berisi beberapa potong pakaian teronggok di bawah tempat duduk. Dia, wanita bergelar Selir Chun, bahkan sama sekali tidak merasa bersalah.
Murong Qin tidak bisa mengusir wanita ini. Dia ingin sekali mengirim Wei Linglong kembali ke istana, tetapi dia tidak bisa menjamin apakah wanita ini akan patuh berdiam diri di sana selama dia tidak ada.
Seharusnya Murong Qin mengirimkan pasukan elit miliknya untuk menjaga Istana Fenghuang agar wanita ini tidak bisa kabur ke mana-mana. Mau tak mau, Murong Qin pada akhirnya harus membawa wanita ini.
“Mengapa kau bisa keluar?”
“Aku tidak akan menjadi Selir Chun kalau aku tidak pernah keluar istana dan bertemu dengan Yang Mulia. Eh, benar juga. Waktu itu kau membeli akar terataiku seharga dua juta dolar. Yang Mulia, apa kedermawananmu masih ada? Ayo belikan aku beberapa tusuk tanghulu!”
“Tidak. Merepotkan.”
“Kalau begitu, biarkan aku tidur. Dipan berbusa ini lebih nyaman daripada ayunan di halaman Istana Fenghuang.”
Aneh. Sikap sembrono Wei Linglong tidak pernah membuatnya marah. Paling-paling, Murong Qin hanya merasa kesal sesaat, kemudian rasa kesal itu menguap seperti air laut di awan.
Dia selalu tidak bisa menolak setiap perlakuan aneh Wei Linglong, terlebih dengan perkataan sembrononya yang suka seenak hati. Wanita itu sering mengatakan sesuatu secara berani, namun Murong Qin tahu betul kalau di dalam hatinya, dia merasakan kekhawatiran yang tidak terdefinisikan.
Terhadap selir lain, bahkan terhadap Permaisuri Yi, dia tidak pernah merasakan ini. Murong Qin biasanya tidak akan tahan berada di dekat wanitanya lebih dari tiga detik.
Apakah Wei Linglong adalah seorang penyihir?
Mengapa wanita keturunan jenderal itu tampak seperti seorang peri yang datang dari alam dewa?
Murong Qin menepis semua pemikiran anehnya. Mungkin, ini hanyalah efek yang timbul dari ketertarikan sesaatnya. Jika wanita ini tidak membuatnya risih, maka biarkan saja seperti itu.
Toh Wei Linglong sama sekali tidak terlihat seperti wanita yang memiliki ambisi jahat untuk mendekatinya, mengambil keuntungan lalu mengkhianatinya. Dia mungkin bisa dijadikan sebagai seorang teman.
Perjalanan menuju prefektur Jiangzhou memerlukan waktu satu minggu dengan kereta kuda. Medan perjalanannya kebanyakan melalui gunung dan pinggiran sungai yang ditumbuhi pepohonan di sekitarnya, kemudia berlanjut ke jalan kecil yang diapit tebing-tebing tinggi.
Hutan-hutan maple mengugur, sama seperti pemandangan ketika mengunjungi makam Tuan Bai beberapa bulan yang lalu. Hanya saja, kali ini lebih luas dan lebih jauh.
“Yang Mulia, ke mana tujuan kita kali ini?” tanya Wei Linglong.
“Jiangzhou.”
...***...
...Ada yang mau bantu Author ngiket Linglong & balikin dia ke Istana Fenghuang lagi nggak? Kalau ada, komen di bawah ya! ...