The Legend Of Chunfei

The Legend Of Chunfei
FRAGMEN 98: LICIK YANG SESUNGGUHNYA



Permaisuri dan Ibu Suri mengurung dirinya di istana sendiri. Mereka sudah berdiam selama beberapa hari. Meskipun begitu, bukan berarti mereka berhenti. Justru dengan keadaan seperti inilah, mereka bisa bergerak lebih leluasa karena pengawal suruhan Murong Qin hanya mengawasi dari luar saja. Permaisuri dan Ibu Suri justru lebih bebas memberi perintah ketika semua orang berpikir mereka sedang merenungkan diri.


Di antara semua waktu yang ada, mungkin saat inilah saat paling tepat untuk menjalankan aksi mereka. Rencana yang sudah disusun sejak lama seharusnya segera dilaksanakan jika mereka tidak ingin langkahnya didahului lagi. Murong Qin dan Wei Linglong bekerja sama, mereka licik dan banyak taktik.


"Lakukanlah!"


Permaisuri Yi memerintahkan dua orang untuk bertindak. Di sisinya, Ibu Suri duduk diam mengawasi Permaisuri sambil sesekali menatapnya. Ibu Suri sebenarnya masih sakit hati karena putranya sama sekali tidak membelanya, namun dia tidak bisa larut dalam kesedihan. Memangnya kenapa jika putranya tidak mau jadi kaisar, toh setelah takhta Kaisar Mingzhu jatuh ke tangannya, anak itu tetap akan menjadi kaisar juga.


Kedua orang suruhan Permaisuri bergegas pergi lewat jendela. Dalam sekejap, mereka sudah hilang. Permaisuri Yi memainkan kuku-kukunya yang panjang dan indah, jemarinya yang terawat sebentar lagi akan bisa memegang segel kekaisaran yang sudah lama dia damba. Rencana ini tidak boleh gagal, karena nasibnya ditentukan dari rencana ini.


...***...


"Yang Mulia, gawat!"


Bu Guanxi mendobrak pintu Istana Yanxi yang tertutup. Si empunya istana sedang duduk memeriksa laporan, sementara di sisinya ada Selir Chun yang tengah menuliskan sesuatu. Kedua orang itu sedang sibuk bekerja, namun mereka dikejutkan dengan kedatangan Bu Guanxi yang sangat panik.


"Komandan Bu, ada apa?" tanya Wei Linglong.


"Nyonya, Yang Mulia, benteng kota diserang! Ada ribuan prajurit bersenjata lengkap sedang berusaha menerobos pertahanan kota!"


Murong Qin dan Wei Linglong langsung berdiri bersamaan. Mereka baru saja hendak membahas strategi jika terjadi pemberontakan, namun seseorang tampaknya sedang menuju ke sini. Bu Guanxi mengatur napasnya terlebih dahulu. Saat dia berpatroli, dia mendapat laporan dari bawahannya bahwa ada yang menyerang kota. Ketika dia melihatnya, dia menyaksikan ribuan prajurit bersenjata lengkap sedang berusaha menerobos benteng pertahanan kota.


"Siapa yang memimpin mereka?" tanya Murong Yan.


"Itu...Menteri...."


"Menteri siapa?"


"Menteri Lan, Yang Mulia!"


Murong Qin mengepalkan tangannya. Si tua sialan itu ternyata berani memberontak dan memimpin pasukan! Pantas saja belakangan si tua itu selalu memprovokasinya. Tetapi, dari mana dia mendapatkan kekuatan sebesar itu? Prajurit ribuan, lalu bersenjata lengkap, tampaknya menteri tua sudah merencanakannya sejak lama!


"Bagaimana bisa? Apa Permaisuri Yi yang mengaturnya?" tanya Wei Linglong.


"Dia sungguh hebat! Bahkan aku pun tertipu olehnya!" geram Murong Qin.


Pengkhianatan adalah hal paling dibenci Murong Qin. Siapapun yang mengkhianatinya, dia pasti tidak akan melepaskannya sampai mati. Kini Menteri Lan memimpin pasukan untuk merebut benteng pertahanan kota dan menguasai ibukota, lalu mereka akan bergerak ke istana dan menduduki takhta kaisar. Murong Qin tidak bisa diam! Akan ada banyak korban yang tumbang!


"Kurang ajar! Dia berani mengkhianatiku!" Murong Qin berseru marah. Emosinya memuncak kala ia ingat wajah menyebalkan Lan Fu.


"Guanxi, kau ikut denganku. Liu Ting, kau panggil Adipati Jing kemari. Tutup semua gerbang kota dan minta semua penduduk untuk masuk ke rumah, jangan keluar sampai situasi benar-benar aman! Aku akan memimpin pasukan sendiri!" seru Murong Qin.


"Lalu bagaimana denganku?" Wei Linglong yang merasa diabaikan angkat suara.


"Kau tetap di dalam istana. Awasi Permaisuri Yi dan Ibu Suri untukku!"


"Tidak mungkin! Kedua wanita itu pasti sudah keluar dari istananya!"


"Kalau begitu, pergilah ke Istana Fenghuang. Lindungi putraku dan lindungi dirimu! Aku akan memperketat penjagaan di sana!"


Murong Qin kemudian keluar dari Istana Yanxi dengan terburu-buru. Di perjalanan, dia berpapasan dengan Murong Yan. Adiknya sama paniknya karena dia mengetahui tindakan pemberontakan Menteri Lan dari pengawal pribadinya. Tanpa basa-basi, dia mengikuti kakaknya keluar istana, memimpin pasukan untuk mempertahankan kota kekaisaran dari ancaman penjarahan dan pendudukan.


Liu Ting pergi ke kediaman Wei untuk memanggil Adipati Jing, lalu menyuruhnya pergi ke istana untuk menemani Wei Linglong. Namun, kereta kudanya terhenti karena beberapa orang asing mencegat mereka. Pakaian serba hitam itu menyerang Wei Shiji. Terjadi pertarungan antara pasukan pribadinya dengan orang-orang itu hingga perjalanan tertunda selama beberapa waktu.


Sementara itu, Wei Linglong hendak kembali ke Istana Fenghuang. Ketika berada di tengah jembatan Danau Dongting, seorang pelayan berlari ke arahnya. Itu Xiaotan!


"Xiaotan, kenapa kau berlari?"


Dengan napas tersengal, Xiaotan kemudian berkata,


"Nyonya! Pangeran Sulung diracuni dan tidak sadarkan diri!"


Jantung Wei Linglong seperti berhenti berdetak. Dia terdiam beberapa saat, kemudian ekspresi wajahnya berubah menyeramkan. Di situasi genting seperti ini, mengapa putra yang berusaha dia lindungi justru dicelakai? Siapa yang begitu tega melakukannya?


"Xiaotan, panggil Tabib Yin!"


"Kenapa bisa begini? Bukankah tadi dia baik-baik saja?" tanya Wei Linglong.


"Pangeran tidak sadarkan diri setelah memakan camilan kacang hijau, Nyonya." Xiaolan berusaha tenang.


Wei Linglong mengambil satu potong kue kacang hijau di meja. Di sana masih ada bekas gigitan Murong Yu. Wei Linglong mengendusnya, lalu merasakan aroma pekat yang begitu memusingkan. Dia tidak tahu ilmu pengobatan, dia hanya yakin kalau kadar racun di dalam kue ini sangat banyak. Wei Linglong tiba-tiba marah, dia memaki dan mengumpat orang yang sudah menaruh racun itu.


Meskipun istana sangat kejam, apakah mereka tidak bisa melepaskan seorang anak kecil? Murong Yu baru berusia delapan tahun, dia belum tahu banyak tentang permasalahan orang dewasa di sekitarnya. Bocah kecil itu hanya anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan, siapa yang begitu tidak manusiawi menargetkannya dan mencelakainya?


Tidak lama kemudian, Tabib Yin datang bersama Xiaotan. Sang tabib langsung memeriksa denyut nadi Murong Yu, lalu menancapkan beberapa jarum akupuntur di beberapa bagian tubuh anak itu. Wajahnya terlihat sangat cemas. Tampaknya, Tabib Yin menemukan sebuah kesulitan dalam pengobatannya kali ini.


"Bagaimana?"


"Nyonya, Pangeran terkena racun musim gugur. Racun itu menyumbat pembuluh darah vital hingga tidak bisa mengalir ke otak."


Tabib Yin kemudian membaui kue kecang hijau beracun dan dia sangat terkejut.


"Kadar racunnya sangat tinggi!"


"Apa ada penawarnya?"


Tabib Yin menggeleng lemah. Racun langka seperti ini sangat jarang ada penawarnya.


"Cepat lakukan sesuatu! Jika tidak, Xiao Yu bisa mati!" teriak Wei Linglong.


"Aku akan mencoba melancarkan peredaran darahnya," ucap Tabib Yin.


Ketika Tabib Yin sibuk mengobati Murong Yu dan Wei Linglong sibuk membantu sebisanya, seorang pelayan tiba-tiba masuk untuk melaporkan sesuatu. Pelayan itu mengatakan bahwa Permaisuri Yi dan Ibu Suri membawa beberapa orang dan sedang menuju ke sini. Semua pelayan Istana Fenghuang panik, Xiaotan bahkan sudah menangis.


"Aku akan menghadapi mereka. Tabib Yin, teruskan pengobatanmu!"


Wei Linglong mengambil Pedang Lanhua yang tersampir di dekat lukisan. Dia akan menyambut kedatangan dua tamu agung yang sudah mengacaukan semuanya. Wei Linglong berjalan tergesa. Ketika kakinya menapaki tangga, Permaisuri Yi dan Ibu Suri sudah berada di halaman bersama sekelompok orang.


"Permaisuri, aku benar-benar meremehkanmu!" seru Wei Linglong.


Permaisuri Yi tertawa.


"Selir Chun, kau pikir kau sangat hebat? Jika ingin mendapatkan penawar racun Pangeran Sulung, kau harus menuruti permintaanku!"


"Ternyata ini ulahmu! Kau permaisuri yang kurang ajar! Beraninya meracuni putraku!"


"Racun? Permaisuri, siapa yang menyuruhmu meracuni Pangeran Sulung?" Ibu Suri bertanya dengan dahi berkerut. Sungguh, ini di luar rencananya. Wei Linglong justru merasa kalau Permaisuri telah bertindak sendiri. Jika tidak, Ibu Suri tidak mungkin bertanya.


"Yang Mulia, tenang saja. Aku tidak akan membiarkan anak itu mati. Wei Linglong, jika kau masih bersikeras melawan, kau akan benar-benar kehilangan dia!"


Kurang ajar! Permaisuri Yi berani memanfaatkan situasi ketika Murong Qin tidak ada di istana. Semua tindakan pemberontakan dan meracuni pangeran sepertinya adalah rencananya sejak lama. Pantas saja selama ini wanita itu selalu diam di dalam istananya. Rupanya, dia menjalankan aksinya dengan lancar di tempat yang tidak terawasi itu.


"Kenapa kau melakukannya? Xiao Yu tidak berdosa, mengapa kau mencelakainya?" Wei Linglong kembali bertanya. Dia hendak menunda waktu sampai Tabib Yin berhasil dalam pengobatannya. Permaisuri Yi kembali tertawa mengerikan.


"Kenapa aku melakukannya? Kau masih bertanya? Wei Linglong, kau benar-benar naif. Apa kau sungguh tidak tahu siapa yang membuatku menjadi seperti ini?"


"Kau wanita gila! Pantas saja Yang Mulia tidak mau menerimamu!"


"Benar! Aku adalah wanita gila. Wanita sepertiku tidak cocok dengan kaisar sialan seperti Murong Qin! Jadi, Wei Linglong, apa kau setuju menukarkan dirimu dengan keselamatan putra angkatmu?"


"Selir Chun, kau tidak punya pilihan lain," Ibu Suri menyela.


Permaisuri Yi memberikan secawan arak. Wei Linglong ragu, namun dia tidak bisa membiarkan wanita ini menang. Dengan tegas dia merebut cawan itu, lalu meminumnya hingga tandas. Tenggorokannya terasa terbakar. Permaisuri Yi tersenyum lebar. Wei Linglong kemudian melepaskan pedangnya dari sarungnya, lalu hendak menyerang Permaisuri Yi.


Dalam sekejap, sang permaisuri menghindari serangan itu. Gerakannya begitu cepat, persis seperti orang yang terampil dan terlatih. Wei Linglong agak terkejut.


"Permaisuri, kau bisa bela diri!"


.......