
Pembangunan benteng sungai berlangsung selama dua minggu. Murong Qin mengerahkan seluruh kemampuannya dalam memimpin untuk mengatur para penduduk desa dan mengarahkan mereka sesuai dengan rancangan yang telah dia buat bersama Wei Linglong.
Menggerakkan para penduduk di sini tidak mudah karena dia berkali-kali harus mengalami kesulitan akibat beberapa keraguan yang direfleksikan ke dalam bentuk perlawanan dari beberapa penduduk yang tidak menyukainya dan belum percaya kepadanya.
Semenyebalkan apapun penduduk di desa ini, Murong Qin tidak bisa marah. Walau dirinya seorang Kaisar yang seharusnya dihormati, dimarahi penduduk atau rakyatnya seharusnya merupakan sebuah kebanggaan tersendiri. Dengan begitu, dia bisa tahu seperti apakah penilaian penduduk dalam memandangnya sebagai seorang pemimpin.
Berkat bantuan Wei Linglong, semua urusan dalam pembangunan benteng terbilang cukup lancar. Wanita itu membantu penduduk wanita menyiapkan kebutuhan makanan bagi para pekerja.
Apalagi, bantuan pangan dan sandang dari istana untuk wilayah ini sudah tiba beberapa hari yang lalu. Orang kepercayaan Murong Qin di istana telah membantunya juga.
Selama itu pula, Komandan Bu menghilang. Sejak hari itu, dia tidak pernah memunculkan batang hidungnya lagi. Komandan Bu pergi menjalankan perintah dari Murong Qin untuk pergi ke pusat Jiangzhou, mengawasi gerak-gerik gubernur dan menyelidikinya secara diam-diam.
Selain itu, Murong Qin juga memerintahkan agar Komandan Bu menghimpun informasi secara rahasia dan laporannya biasanya akan sampai setiap dua malam dari seekor merpati putih yang hinggap di halaman pos peristirahatan Murong Qin.
Untung saja Wei Linglong tidak menyadari kalau merpati putih yang sering lewat di atas bangunan peristirahatannya adalah merpati pos yang diutus Murong Qin untuk Komandan Bu. Dia tidak banyak bertanya, hanya sesekali memintanya memberi pendapat dan berdiskusi terkait pembangunan benteng yang tidak lama lagi akan selesai.
Mekanisme sederhana yang sempat dikatakan oleh Murong Qin juga sudah dirancang. Pria itu membuat rancangannya sendiri, kemudian mensosialisasikannya kepada para penduduk hingga pembuatan benteng menjadi lebih mudah.
Mekanisme tersebut tersembunyi di setiap tumpukan kayu yang disusun sepanjang aliran sungai beku. Ketika banjir musim semi datang, akan ada semacam penanda seperti alarm yang menyala hingga para penduduk bisa waspada dan mengantisipasi semua kemungkinan yang terjadi.
Para penduduk Desa Jiazhu sendiri sebenarnya merasa diuntungkan berkat kehadiran kedua orang ini. Sejak mereka datang dan mengutarakan maksudnya, membimbing mereka membangun benteng kayu, rasa khawatir di hati mereka perlahan menghilang. Jika pembangunan selesai dan benteng benar-benar bisa menahan aliran air, mereka tidak perlu lagi pergi ke atas gunung untuk mengungsi setiap musim semi tiba.
Mereka perlahan mulai bersikap baik dan patuh. Awalnya, rasa segan dan ragu masih terlihat jelas dan masih mereka tunjukkan di depan Murong Qin dan Wei Linglong. Akan tetapi, semakin hari, semuanya perlahan melebur menjadi rasa kagum dan salut. Tidak disangka, sepanjang kehidupan mereka, mereka bisa bertemu dengan utusan istana yang benar-benar membantu mereka.
Selama ini, mereka selalu ditipu dengan berbagai cara. Sudah ratusan utusan datang ke tempat ini, namun mereka hanya mengenalkan diri, memberi saran, makan, tidur, dan bersenang-senang, kemudian pergi tanpa melakukan pekerjaan yang nyata. Perlahan, ketidakpercayaan mereka terhadap pihak istana memudar, lalu berubah menjadi kebencian yang mengakar begitu dalam.
Para penduduk biasanya akan marah ketika mereka mendengar ada utusan istana yang datang. Bagi rakyat kecil yang kehilangan kepercayaan, mereka lebih memilih hidup dalam bencana setiap tahun daripada dikecewakan oleh harapan. Lu San yang menjadi tetua desa di umur masih muda sering membujuk mereka agar tidak bertindak gegabah dan sabar.
Namun, manusia tetaplah manusia. Sekeras apapun Murong Qin dan Wei Linglong berusaha, keduanya tetap tidak bisa memberikan kepuasan kepada para penduduk di Jiazhu.
Sore ini ketika semuanya selesai bekerja, seorang penduduk yang entah rumahnya di mana meneriaki Murong Qin, menyebutnya pembual dan penjilat yang menjerat hati rakyat.
“Kau! Kalian hanya penjilat yang hidup di bawah kekuasaan saja! Bukankah setelah kalian berhasil, kalian akan naik jabatan, lalu melupakan rakyat kecil di desa utara seperti kami? Kalian tidak ada bedanya dengan para penjahat itu!” seru penduduk tersebut.
“Benar! Kalian pembual! Pembicara yang manis! Kalian semua jangan terlalu percaya pada mereka!” seru yang lain.
“Lihat, bahkan seorang pria memiliki pelayan wanita yang selalu mengikutinya ke mana-mana! Kedua orang ini tidak benar-benar tulus!”
Seorang penduduk yang lain kemudian menyiramkan air bekas cuci piring ke depan Wei Linglong dan Murong Qin. Untung saja keduanya dapat menghindar hinggar air kotor tersebut tidak mengenai pakaian sederhana yang mereka kenakan. Wei Linglong menatap orang itu dengan marah.
Atas dasar apa mereka menghinanya sampai seperti ini? Selama dia di sini, dia selalu bersikap baik dan tidak mempermasalahkan hal-hal kecil yang mengganggunya hanya karena dia tidak ingin mengacaukan rencana yang telah dia buat bersama Murong Qin. Selama ini dia juga tidak mempermasalahkan kesalahan-kesalahan para penduduk yang kerap meremehkannya. Apa ini balasan dari mereka?
Bahkan jika dia orang yang tidak berguna, mereka juga harus tahu dahulu siapakah orang yang telah mereka remehkan. Mengatai orang tanpa melihat siapa orangnya dan apa kebenarannya merupakan tindakan yang melanggar moral dan harus dihukum.
Beberapa warga yang hatinya telah luluh membela Murong Qin dan Wei Linglong dengan mengatakan bahwa tidak boleh berburuk sangka. Tidak semua orang di pengadilan istana sama.
Mungkin, di antara mereka masih ada orang baik yang jujur dan peduli. Kedua orang yang ada di hadapan mereka mungkin adalah salah satunya. Buktinya, mereka mau memeras tenaga dan pikiran hingga ke tahap ini.
Wei Linglong sudah terlanjur marah. Dia juga marah karena sedari tadi Murong Qin tetap diam dan tidak berbicara apapun. Seorang Kaisar, bisa-bisanya bersikap seperti orang bodoh ketika ditindas! Alih-alih marah, pria itu justru menatap penduduk yang menghinanya dengan tenang satu persatu.
“Aku tidak tahan lagi!”
“Apa yang mau kau lakukan?”
“Mereka sudah sangat keterlaluan! Aku ingin segera pergi dari sini!”
Wei Linglong yang marah kemudian maju ke depan. Melihat pria kecil maju dengan marah seperti itu, beberapa orang yang menjadi provokator sedikit menciut nyalinya. Hawa membunuh begitu terasa hanya dari tatapannya saja.
Wei Linglong seperti seekor elang ganas yang hendak memangsa ular di bawahnya. Tatapan marahnya lebih dingin dari es dan lebih tajam dari sebilah pedang.
“Apakah kalian tahu siapa yang berdiri di hadapan kalian sekarang? Apa kalian tahu siapa sebenarnya pria yang kalian sebut pembual dan pembicara manis itu?” ucap Wei Linglong dengan tegas sambil menunjuk Murong Qin yang tengah menatapnya dengan tenang.
“Kau pria kecil, memangnya kau siapa? Bukankah kakakmu ini hanya seorang utusan saja? Untuk apa kau ikut memperkeruh suasana?”
“Apa kau bilang? Memperkeruh suasana? Apa kau baru saja mengataiku atau mengatai dirimu sendiri?”
Tampaknya, Wei Linglong telah membuat para provokator marah. Mereka kembali mengambil seember air, kemudian hendak disiramkan kembali. Untung saja Wei Linglong menendang ember tersebut hingga airnya tumpah ke wajah dan tubuh para pemegangnya.
“Linglong, hentikan!” seru Murong Qin.
“Yang Mulia, sudah cukup! Apa kau akan terus diam ketika kau ditindas seperti ini? Bagaimana bisa seorang pemimpin direndahkan oleh bawahan?”
Para penduduk langsung terkejut ketika mereka mendengar panggilan ‘Yang Mulia’ yang terlontar dari mulut Wei Linglong. Wajah garang para provokator langsung layu dan berubah pias. Mereka ketakutan jika identitas dari orang yang mereka remehkan tidak sesederhana itu.
Mereka semua mulai berspekulasi siapakah sebenarnya kedua orang itu. Sejak awal, mereka memang agak curiga karena kecerdasan kedua orang utusan ini tidak biasa, namun tetap memilih diam karena masalah pembangunan lebih penting.
Mereka selalu merasa kalau dua orang yang datang ini memiliki aura yang berbeda dan begitu mendominasi. Sekarang, kecurigaan mereka justru malah semakin membesar tatkala Wei Linglong meneriakkan sebutan seperti itu.
“Yang Mulia?” gumam beberapa penduduk.
Ketika para penduduk sibuk berdiskusi mengenai kebenaran identitas Murong Qin, seorang pria berumur tiga puluh tahunan datang dari arah belakang. Pria itu mengenakan jubah sutera panjang berwarna hitam, bersulam benang perak bermotif elang yang indah. Di belakang pria itu, beberapa orang lainnya tampak berdiri dengan kepala tertunduk.
Bukan, itu bukan tundukan tanda ketakutan. Kepala tertunduk itu lebih seperti sebuah bentuk penghormatan ketika melihat seorang petinggi yang agung. Wei Linglong mengetahui ini dengan jelas. Sementara itu, Murong Qin masih setia pada ketenangannya.
“Orang yang berdiri di depan kalian adalah Yang Mulia, Kaisar Mingzhu dan selirnya, Selir Chun,” ucap pria berbaju hitam itu.
Seketika, semua orang tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Bagai petir di siang bolong, ucapan pria di belakang sana seperti guntur yang menggelegar dan menyambar seluruh tubuh mereka mulai dari kepala hingga kaki. Para penduduk sama sekali tidak percaya, terlebih beberapa orang yang menjadi provokator yang telah membuat Wei Linglong marah.
“Ka…Kaisar?” gumam beberapa orang tanpa sadar.
“Benar! Pembual dan pembicara manis yang kalian maksud adalah Kaisar Mingzhu, kaisar kalian sendiri!”
“Ta..Tapi bagaimana bisa?”
“Apanya yang tidak bisa? Hanya karena kami menyamar, kalian boleh bertindak sesuka hati? Aku dan Yang Mulia sudah membantu kalian mencegah bencana, tetapi kalian bahkan tidak menghargainya dan malah menuding kami?”
“Apa buktinya? Tunjukkan pada kami bahwa dia adalah Kaisar Mingzhu!”
Para provokator ini tampaknya belum percaya. Wei Linglong semakin marah. Dia berjalan menghampiri Murong Qin, kemudian memintanya mengeluarkan pelat emas berbentuk ukiran naga yang menandakan identitasnya sebagai Kaisar Mingzhu, Kaisar Dinasti Yuan yang agung.
Murong Qin tampak enggan, tetapi Wei Linglong merebutnya dengan paksa. Setelah mendapatkan pelat emas itu, dia menghampiri para provokator dan mengangkat tinggi-tinggi pelat emas hingga semua orang bisa melihatnya dengan jelas.
“Sekarang apakah kalian sudah percaya?” tanya Wei Linglong masih dalam mode marah.
“Tapi, bagaimana mungkin kau adalah Selir Chun?”
Kali ini, Murong Qin yang maju. Pria itu menarik tusuk rambut Wei Linglong hingga dalam sekejap, rambutnya yang hitam dan indah terurai hingga ke pinggang. Wei Linglong menjadi wanita cantik dengan wajah pualam seperti purnama di musim dingin, begitu menawan dan mempesona.
Para penduduk melihat semua itu dengan keterkejutan lagi, kecuali para penduduk wanita karena sebelumnya, mereka sudah mengetahui kalau Wei Linglong adalah seorang wanita. Seketika, semua penduduk langsung bersujud di hadapan Murong Qin dengan rasa takut yang luar biasa.
Pria bejubah hitam di belakang sana hanya membungkukkan badannya sesaat sebagai bentuk hormat, kemudian kembali berdiri tegap dengan sedikit senyuman di wajahnya. Pria itu juga menatap para penduduk yang bersimpuh penuh rasa takut. Syukurlah, semuanya sudah teratasi dengan baik.
“Yang Mulia, ampuni kami yang tidak mengenalimu selama ini. Mohon maafkan ketidaksopanan kami dan maafkan kecerobohan kami,” mohon beberapa penduduk provokator.
Apa? Memaafkan? Apa dia bilang? Ceroboh?
“Hei!” Wei Linglong berseru marah.
“Apa kau pikir aku buta? Kau pikir aku bodoh? Bagaimana bisa tindakan seperti itu disebut kecerobohan? Aku lihat, itu adalah sebuah kesengajaan!”
“Chunfei, hentikan!”
“Tidak! Yang Mulia, biarkan aku menghajar para provokator ini!”
Untung saja Murong Qin segera menahan Wei Linglong ketika wanita itu melompat turun dan hendak memukuli para provokator. Tenaganya sangat kuat hingga Murong Qin hampir tidak bisa mengendalikannya. Wei Linglong menjadi buas saat emosi dan marah. Dia seperti anjing yang siap menggigit dan menggongong ketika kenyamanannya diusik orang lain.
“Yang Mulia, lebih baik Anda selesaikan kesalahpahaman ini,” ujar pria di belakang sana.
Aneh, Murong Qin tidak marah. Pria itu justru menuruti saran dari pria di belakang sana.
...***...