
Masa kurungan Permaisuri Yi berakhir hari ini. Pagi-pagi sekali, sang permaisuri sudah keluar dari istananya, mengelilingi komplek Istana Dalam. Sang permaisuri ingin melihat wajah-wajah para wanita di bawahnya yang sering membicarakannya ketika dia dalam masa hukuman. Betapa tidak, telinganya sudah terlalu lama gatal karena Xiaoyao memberitahunya kalau di Istana Dalam, ada banyak selir dan Nona Bangsawan yang membicarakannya.
Delapan belas hari yang lalu itu berlalu seperti delapan belas tahun. Karena hukumannya itu, Permaisuri Yi terisolasi dari luar. Dia tidak bisa menerima informasi dari Istana Yanxi dan Istana Fenghuang karena mata-mata yang dia tempatkan di sana sudah ditangkap dan dihukum. Permaisuri Yi tidak tahu apa yang telah terjadi setelah pembicaraannya dengan sang kaisar terakhir kali.
Namun, sekarang itu semua bukan masalah. Selagi dia dihukum, Permaisuri Yi diam-diam menyusun rencana bersama Ibu Suri. Dia bertindak sebagai penggerak, sementara Ibu Suri yang memberinya ide dan cara bagaimana dia bergerak. Tidak ada yang tahu perihal rencana mengerikan itu, selain kedua wanita itu.
Rencana yang diam-diam disusun itu perlahan mulai berkembang pesat. Ibu Suri memanfaatkan situasi pengadilan yang tidak terlalu ketat untuk menarik simpati beberapa pejabat tinggi yang pernah mendukungnya, juga merangkul kembali pejabat yang pernah lepas dari tangannya. Siapa yang tahu kalau diam-diam Ibu Suri telah menemui mereka secara rahasia.
Di taman Istana Dalam, Ibu Suri sedang duduk menikmati teh dan bunga di bawah payung tradisional. Ketika melihat Permaisuri Yi datang kepadanya, dia tersenyum. Sekarang dia tak lagi khawatir menantunya ini akan berbuat ceroboh, karena Ibu Suri tahu kalau hati Permaisuri Yi telah dipenuhi dendam kesumat yang membara. Orang dengan kebencian seperti itu akan lebih mudah dikendalikan. Apalagi, Permaisuri Yi sudah berkata bahwa dia hanya akan menuruti semua perkataannya, tidak akan mendengarkan orang lain.
“Yang Mulia,” sapa Permaisuri Yi.
“Duduklah,” titah Ibu Suri.
Ibu Suri dan Permaisur Yi duduk berhadapan. Mereka mengusir para pelayan pergi. Sesuatu yang penting ingin dibicarakan empat mata. Ya, tentu saja tentang rencana perebutan takhta. Sebenarnya Ibu Suri tidak terlalu berharap karena anak yang dia inginkan untuk duduk di singgasana itu kelak ketika dirinya berhasil malah tidak ada. Lain halnya dengan Permaisuri Yi, dia bisa mendapatkan apapun ketika rencana yang dia susun bersama Ibu Suri berhasil.
“Aku merasa udara di sini cukup bebas. Entah karena aku yang terlalu lama mendekam di istanaku, atau karena sesuatu yang lain,” ujar Permaisuri Yi.
“Aku rasa itu karena dadamu tidak lagi sesak karena kaisar, Permaisuri Yi,” tukas Ibu Suri.
Permaisuri Yi tersenyum getir.
“Aku memang terlalu bodoh. Untuk apa aku membuang waktu dan tenagaku mengejar seorang pria sepertinya, yang bahkan tidak bisa menghargai seorang wanita.”
Ibu Suri dan Permaisuri Yi meneguk tehnya. Aroma kebebasan memenuhi rongga pernapasan Permaisuri Yi.
“Berapa banyak yang Yang Mulia genggam?” tanya Permaisuri Yi, merujuk pada jumlah pejabat yang mau bekerja sama dengannya.
“Cukup banyak. Cukup untuk menggoyahkan takhta seorang Kaisar Mingzhu.” Ibu Suri berkata seolah-olah mulutnya begitu ringan dan bebas. Padahal, perkataan yang merujuk pada penggulingan takhta sangat berbahaya jika sampai terdengar oleh pihak lain.
“Kapan kau akan memulainya, Permaisuri Yi?” Kali ini Ibu Suri yang bertanya.
“Aku sudah memulainya. Beberapa waktu lalu ayahku mengirimkan surat, dia berkata kalau orang kepercayaannya baru saja berhasil membeli beberapa senjata dari wilayah utara.”
“Bagus. Sekarang kau jauh lebih cerdas.”
Kedua wanita itu sudah tidak sabar menantikan hari itu. Ketika hari kemenangan itu tiba, Permaisuri Yi akan memenggal kepala Selir Chun dengan tangannya sendiri. Dia tidak akan membunuh kaisar, namun dia hanya ingin membalaskan dendam atas sakit hatinya selama tujuh tahun ini dengan menyiksanya seumur hidup. Permaisuri Yi mungkin sudah gila, namun siapa yang menyebabkan kegilaan itu, semua orang pun tahu.
Sandiwara untuk pertunjukan besarnya baru saja dimulai. Permaisuri Yi dan Ibu Suri sengaja tidak akan bertindak terang-terangan, bertingkah seolah-olah mereka sudah menyerah agar pengawasan dari Murong Qin melemah dan pria itu lengah. Padahal, semua itu dilakukan untuk menutupi gerakan diam-diam yang terjadi di balik layar, ketika dia dan Ibu Suri diam-diam menyusun kekuatan untuk mengacaukan pemerintahan dan menggoyahkan takhta Kaisar Mingzhu.
Itulah sebabnya Ibu Suri tidak meminta para pejabat mendebat kembali sang kaisar di pengadilan istana untuk membebaskan Permaisuri Yi. Biarkan Murong Qin menganggap kekuatan Ibu Suri melemah. Serangannya terhadap Murong Qin akan dilakukan secara perlahan dan diam-diam agar pria itu tidak menaruh curiga.
Selain pasukan yang kuat, senjata terhebat untuk menghancurkan kekuasaan seseorang adalah dengan mengacaukan pemerintahan dari dalam, dari lingkungan istana sendiri. Karena sudah ada pejabat yang bekerja sama dengannya, rencana itu sudah dimulai. Ibu Suri memerintahkan pada para pejabat yang ada di pihaknya untuk mulai menggoyahkan pendapat dan menaburkan bibit kecurigaan antar sesama secara perlahan dan sedikit demi sedikit. Dengan begitu, mereka yang masih bersih akan perlahan meragukan kaisar mereka.
Ketika para pejabat pengadilan istana berselisih dan bertentangan dengan kaisar mereka, bukankah dia yang akan diuntungkan? Pada saat itu, dia akan menyiramkan minyak ke kobaran api tersebut dengan memprovokasi mereka.
“Tapi, sebelum itu, kau harus menyingkirkan pelayan bodohmu terlebih dahulu,” ucap Ibu Suri.
“Pelayan?”
“Bukankah kau mengutus seorang pelayan untuk membunuh Selir Chun ketika hari Pembajakan Musim Semi?”
“Yang Mulia mengetahuinya rupanya.”
Permaisuri Yi hanya tertawa karena sebaik apapun dia menyembunyikan perbuatannya, Ibu Suri akan selalu mengetahuinya.
“Kudengar dia ada di penjara rahasia. Sepertinya kau akan kesulitan menyingkirkannya, Permaisuri.”
Permaisuri Yi punya kekuasaan besar. Di istana ini, penjaga mana yang tidak bisa disuap? Jika para menteri tinggi saja bisa, mustahil jika orang-orang rendahan seperti mereka tidak akan meniru atasannya.
Hanya menyingkirkan pelayan sebelum dia membuka mulut, Permaisuri tidak perlu mengotori tangannya. Dia cukup memerintahkan Xiaoyao untuk menyuap penjaga, lalu memerintahkannya untuk membunuh pelayan itu dan membuat kematiannya tampak alami.
Xiaoyao mendekat untuk menerima perintah. Setelah tahu isi perintahnya, pelayan itu segera pergi. Namun, ketika dia melewati gerbang istana, dia berpapasan dengan Menteri Lan Fu, ayah sang permaisuri. Xiaoyao mengurungkan niatnya, lalu kembali untuk mengantar Menteri Lan kepada Permaisuri Yi dan Ibu Suri.
“Hormat pada Ibu Suri, hormat pada Permaisuri. Hamba tua yang bodoh ini datang berkunjung mengganggu waktu Anda berdua,” ucap Menteri Lan sembari membungkuk.
“Ayah, duduklah.”
Menteri Lan bergabung bersama kedua wanita itu. Sudah lama sekali dia tidak bersua dengan putrinya. Sejak jadi permaisuri, putrinya itu terkurung di istana dan dia tidak leluasa mengunjunginya. Permaisuri Yi adalah putri kesayangannya, apapun akan dia lakukan agar putrinya senang. Maka ketika dia mendapat surat darinya perihal rencana pemberontakan itu, Menteri Lan langsung bersiap di garis depan. Lagipula, dia bukan pejabat yang bersih.
Beberapa waktu ini Menteri Lan mendapat informasi kalau Kaisar Mingzhu sedang mengawasinya diam-diam. Itu membuatnya kesal setengah mati. Selain sering tidak dianggap di pengadilan istana, Menteri Lan juga dendam karena hal ini. Sebagai seorang ayah, dia juga tidak mau membiarkan orang yang membuat hidup putrinya menderita bebas dan bahagia.
“Berapa banyak persenjataan yang didapatkan Menteri Lan?” tanya Ibu Suri.
Sebelum menjawab, Menteri Lan melihat dulu ke sekeliling. Setelah dipastikan aman, barulah dia menjawab, “Sepuluh pedati anak panah, tiga buah meriam, lima peti pedang. Juga, empat ratus ekor kuda perang.”
Jawabannya cukup mencengangkan, namun itu masih terasa kurang untuk digunakan dalam merebut takhta. Di tangan Murong Qin ada lebih dari seratus ribu pasukan dengan persenjataan lengkap dan kemampuan beladiri tinggi, para prajurit yang siap mati dan telah berperang beberapa kali. Jika dibandingkan, jumlah persenjataan dan kuda perang yang didapat Menteri Lan masih kalah jumlah.
Apalagi, di sisi Murong Qin terdapat lebih dari tiga jenderal utama yang sangat kompeten. Walaupun jenderal terkuat – Jenderal Yun sudah pensiun, namun kemampuan jenderal lainnya tidak bisa diremehkan. Ibu Suri harus membuat perencanaan lain untuk mengantisipasi itu jika persenjataan yang dikumpulkan tidak juga memadai.
“Jumlahnya masih kurang. Kaisar memiliki lebih dari seratus ribu pasukan utama, belum ditambah pasukan yang menjaga perbatasan. Jumlahnya lebih dari sepuluh ribu pasukan,” ucap Ibu Suri.
“Yang Mulia lupa kalau kita masih punya banyak simpanan uang untuk membeli senjata?” tanya Permaisuri Yi.
“Dana yang dikumpulkan Gubernur Qian selama bertahun-tahun masih utuh. Dana dari para pejabat yang ditangkap juga masih tersimpan. Aku rasa itu cukup untuk membeli senjata,” tambahnya lagi.
Orang yang berada di balik kasus gubernur Jiangzhou itu ternyata benar orang istana, Permaisuri Yi dan Ibu Suri sendiri. Mereka begitu lihai mempermainkan penyidik, mengelabui mereka hingga semua petunjuk tidak mengarah kepadanya. Bahkan pengawas rahasia juga tidak mampu menemukan jejaknya, tidak bisa menemukan ke mana uang-uang itu pergi.
“Ah, aku hampir lupa dengan orang bodoh itu. Kita juga harus menyingkirkannya,” ujar Ibu Suri.
Target pembunuhan sekarang adalah dua orang: pelayan di penjara dan mantan gubernur Jiangzhou. Jika mereka tidak disingkirkan, jalan ke depan mungkin bisa berlubang. Permaisuri Yi dan Ibu Suri kemudian memerintahkan Xiaoyao untuk menyuap penjaga di penjara lain, untuk membunuh beberapa pejabat yang beberapa waktu lalu ditangkap oleh Kementrian Kehakiman dan Kementrian Hukum.
Setelah Xiaoyao pergi, ketiga orang itu melanjutkan percakapan mereka.
“Bagaimana dengan pasukan?” tanya Permaisuri Yi pada ayahnya.
“Sudah terkumpul sekitar sepuluh ribu pasukan. Bawahanku melatihnya diam-diam di markas rahasia. Kemampuannya setingkat dengan jenderal muda tingkat lima,” jawab Menteri Lan.
“Bagus. Tapi, itu tetap saja kurang, ayah.”
“Lalu apa yang harus kita lakukan?”
Permaisuri Yi melirik Ibu Suri. Ibu Suri mengangguk. Dia mempercayakan perekrutan pasukan kepada sang permaisuri.
“Lakukan apapun yang kau mau, Permaisuri.”
Setelah tahu kalau rencana mereka berjalan baik, Permaisuri Yi segera menyuruh ayahnya pergi untuk menghindari kecurigaan. Di istana ini ada banyak pasang mata dan telinga, kalau tidak hati-hati mungkin rencananya akan bocor. Menteri Lan pamit, lalu meninggalkan Istana Dalam dengan langkah gembira. Sang menteri kembali berlagak seperti seorang menteri bodoh yang sering kalah dalam pengadilan istana.
...***...
...Wah ibu suri sama permaisuri psikopat udah mulai beraksi nih! Yu kita bantu peringatin Linglong sama Kaisar bisa nggak kecolongan! ...