
"Hari ini adalah penentuan," ucap Wei Linglong pada semua orang.
"Menang berarti pulang, kalah berarti gugur!"
Di bawah terik sinar matahari, dia mengacungkan pedang tajamnya di udara, membakar semangat semua prajurit yang saat ini tengah berada di medan pertempuran. Ini adalah hari kesepuluh peperangan. Siapa yang kalah dan siapa yang menang masih belum bisa ditentukan karena kedua belah pihak sama-sama kuat.
Pasukan musuh menambah kekuatan sebanyak seratus ribu pasukan yang datang beberapa hari lalu. Pasukan di bawah pimpinan Wei Linglong hanya tinggal seratus dua puluh ribu pasukan saja, namun semua itu tidak membuat wanita itu gentar. Sebaliknya, dengan kekuatan yang tersisa, dia mencoba membangkitkan seluruh semangat pasukan agar berjuang sampai titik darah penghabisan.
Di depan sana, pasukan musuh sudah bersiap dengan kuda perang dan senjata mereka. Jumlah mereka yang sangat banyak menjadikan mereka besar kepala, merasa diri lebih kuat daripada pasukan Yuan.
Padahal, mereka sama sekali tidak tahu bahwa di dalam pasukan yang dipimpin Wei Linglong, terdapat pasukan elit rahasia milik Kaisar Mingzhu yang ikut serta, menyamar sebagai prajurit biasa dan berbaur bersama yang lain. Kemampuan mereka lebih menonjol dibanding yang lain karena berada di bawah pelatihan langsung dari sang kaisar sendiri.
"Bunuh wanita itu! Buat Kaisar Mingzhu turun dari takhtanya!" teriak jenderal pasukan musuh. Teriakan itu disambut teriakan lain dari pasukan yang begitu berapi-api.
"Heh, meremehkanku ya? Kita lihat apakah kalian masih bisa berbicara atau tidak!"
Kemudian, genderang pertanda peperangan dimulai ditabuh hingga suaranya menggema. Pertarungan pecah, kedua pasukan bertempur habis-habisan. Wei Linglong berada di garis depan, memperhatikan dari jauh dan mengidentifikasi strategi apa yang harus dilakukan untuk menaklukan musuh dalam waktu singkat.
Wei Linglong kemudian memerintahkan komando pasukan untuk membentuk formasi utama, formasi Fengming dan Fengyun yang sangat kuat. Pasukan membentuk burung phoenix raksasa berjumlah dua ekor, yang jika dilihat dari udara mungkin bisa memecahkan rekor dunia. Formasi tersebut tidak bisa ditembus dengan mudah. Sekeras apapun pasukan musuh berusaha menerobos, mereka hanya berakhir menjadi serpihan tubuh dan banjir darah.
"Pertahankan formasinya!"
Jenderal Yang maju. Sang jenderal bergabung ke dalam pasukan, lalu membunuh musuh dengan seluruh kemampuannya. Jenderal Fu, Jenderal Cui dan Jenderal Sui juga ikut maju. Keempat jenderal ada di dalam formasi, menyerang dan terus menyerang. Ini adalah puncak hidup dan bakti mereka. Jika menang, mereka bisa pulang, tetapi jika kalah, mereka mungkin akan mendapat gelar anumerta.
"Kakak ipar, tangkap!" Murong Yan melemparkan sebuah pedang yang sarungnya terbuat dari giok dan dihiasi intan permata. Ketika Wei Linglong mendapatkannya, dia terkesima. Pedang panjang itu begitu indah dan nyaman dipegang.
"Apa ini?" tanyanya.
"Pedang Lanhua. Ratu Li menitipkannya padaku," jawab Murong Yan.
Sesaat, Wei Linglong terdiam. Dia lalu teringat pada pedang Lanyin milik Murong Qin yang tergantung di dalam istana pria itu, juga teringat akan cerita Murong Yu bahwa pasangan dari pedang Lanyin adalah pedang Lanhua. Apa yang dia pegang sekarang adalah pedang Lanhua, pedang pasangan dari pedang Lanyin. Pedang legendaris itu ada di tangannya, benar-benar ada di tangannya!
Cerita Murong Yu benar, bahwa kehadiran kedua pedang itu selalu didahului dengan bencana dan pertumpahan darah. Dulu, Murong Qin mendapatkannya ketika perang di perbatasan sewaktu ia menjadi putra mahkota, sekarang Wei Linglong mendapatkannya pada saat peperangan melawan Mongolia di perbatasan utara. Pedang-pedang indah nan legendaris ini memang memerlukan darah manusia sebagai tumbalnya.
Wei Linglong lantas menarik tali kendali kudanya. Wanita itu maju ke medan perang, bergabung bersama keempat jenderal dan semua pasukan. Begitu pula Murong Yan, sang pangeran kedua juga maju. Semua petinggi pasukan berada di tengah medan, berjuang semampu mereka.
Melihat formasi yang begitu kuat serta para petinggi masuk ke medan, jenderal-jenderal musuh tidak punya pilihan selain maju. Mereka juga bergabung bersama pasukan mereka, mencoba memecahkan dan menerobos formasi. Sampai pada saat mereka bertemu dengan Wei Linglong, Murong Yan dan keempat jenderal lain, para jenderal itu langsung menghunuskan pedang mereka. Pertarungan sengit pun terjadi tanpa henti.
"Pelaku diskriminasi wanita harus dihukum! Rasakan ini!"
Wei Linglong menghunuskan pedang Lanhua. Dada dan leher dua jenderal musuh tersabet, lalu mereka jatuh ke tanah dan terinjak kuda. Lalu, dia lanjut menyerang yang lain. Satu persatu jenderal musuh tumbang di tangan Wei Linglong. Pedang Lanhua berlumur darah, cahayanya memantul ke udara. Murong Yan berdecak kagum, kakak iparnya sungguh hebat, kemampuannya hampir setara dengan kemampuan saudara kaisarnya.
Pada saat hari mulai siang, pasukan musuh yang berjumlah dua ratus ribu lebih sudah musnah tak bersisa. Wei Linglong dan pasukannya berhasil membantai habis pasukan Mongolia dengan formasi utama. Mereka bersorak ketika Wei Linglong menyerukan bahwa peperangan ini telah dimenangkan oleh mereka.
"Jenderal, kita bergerak menuju kota! Aku yakin Jenderal Kong dan Jenderal Jin sedang kewalahan!" seru Wei Linglong.
Seluruh pasukan kemudian bergerak menuju gerbang kota. Dua jam kemudian, mereka sampai di batas Kota Jiangzhou. Lewat benteng belakang, Wei Linglong dan seluruh pasukan diam-diam memasuki kota. Kota ini sudah lama dikosongkan karena takut rakyat akan menjadi korban. Di benteng kota, dia bergabung bersama Jenderal Jin dan Jenderal Kong yang tegah berdiri memperhatikan pasukan musuh yang berbaris siap menerobos gerbang kota.
"Berapa jumlah mereka?"
Jenderal Jin kemudian menjawab,
"Seratus ribu pasukan, Nyonya."
Pasukan Mongolia begitu besar. Kekuatan mereka berarti berjumlah lebih dari tiga ratus ribu pasukan. Tidak apa-apa, Wei Linglong tidak khawatir. Dia sudah bersiap lahir dan batin menghadapi situasi ini.
"Nyonya, mereka punya meriam. Pasukan kita akan kalah jika melawan," ucap Jenderal Kong.
Namun, Wei Linglong malah tertawa. Meskipun pasukan musuh memiliki meriam, tetapi mereka belum tentu bisa memusnahkan pasukannya. Dia telah mengatur siasat yang sangat bagus untuk mengantisipasinya. Jadi, sebelum dia mengeluarkan perintah serangan, Wei Linglong terlebih dahulu menoleh kepada Jenderal Fu.
"Jenderal Fu, apa kau sudah melakukan apa yang aku perintahkan?"
Sang jenderal mengangguk.
"Ya, Nyonya. Semuanya sesuai dengan perintah."
Pasukan musuh kemudian menyalakan api. Prajurit garda depan lalu membuka peti peluru meriam, namun mereka semua sangat terkejut tatkala mengetahui isi peti tersebut. Bukan peluru meriam penghancur yang ada di sana, melainkan puluhan buah melon yang tersimpan bersusun!
Mereka panik, lalu membuak peti-peti yang lain. Sayang, semuanya sama. Isinya tidak ada peluru, tetapi buah melon yang sangat besar dan bulat. Jenderal Yang, Jenderal Kong, Jenderal Sui, Jenderal Cui dan Jenderal Jin seketika menatap Wei Linglong yang tengah tertawa terbahak-bahak. Murong Yan hanya menggelengkan kepalanya, sementara Jenderal Fu diam seperti orang tanpa dosa.
"Nyonya?"
"Aku menyuruh Jenderal Fu menukar peluru meriam dengan melon," ujar Wei Linglong sambil menahan perutnya yang sakit karena terlalu banyak tergelak.
"Lalu, di mana peluru-pelurunya?" tanya Jenderal Kong.
"Lihat saja sendiri!"
Ketika para jenderal menatap ke pasukan musuh, mereka terbelalak. Ledakan besar terjadi di antara pasukan itu. Sepuluh meriam kepunyaan Mongolia meledak dan musnah, membunuh lebih dari dua puluh ribu pasukan. Rupanya, peluru itu ada yang disimpan di dalam meriamnya sehingga ketika pasukan musuh menyalakan sumbu, pelurunya meledak di dalam karena Jenderal Fu dan pasukannya telah menutup cerobongnya pada saat mereka diam-diam masuk ke markas musuh.
"Serang!" Wei Linglong berteriak lantang.
Gerbang kota dibuka. Puluhan ribu pasukan keluar, lalu berperang di depan gerbang kota. Pasukan Yuan dan Mongolia kembali berperang habis-habisan.
...***...
...Wah, Linglong terus-terusan perang nih! Apa dia akan menang dan kembali berkumpul bersama Murong Qin? Yuk tunggu episode selanjutnya! ...