
Malam hari ketika bulan bersinar terang di atas langit, beberapa orang berpakaian hitam berjalan mengendap-endap di sekitar Istana Dingin. Mereka menyusup ke dalam sana sembari melihat keadaan sekeliling, memastikan tidak ada penjaga atau pengawal yang berpatroli. Di tangan mereka terdapat pedang yang tersembunyi di dalam sarungnya, yang ketajamannya tidak ada yang bisa menebaknya kecuali diri mereka sendiri.
Sekawanan orang berbaju hitam itu tidak punya niat baik. Mereka tiba di halaman depan Istana Dingin yang sunyi dan temaram. Lampu-lampu penerang dari lentera lilin yang menyala hanya mampu menerangi sebagian kecil tempat tersebut. Karena pakaian mereka berwarna hitam, mereka hampir menyatu dengan kegelapan. Hanya tersisa dua bola mata yang bisa melihat satu sama lain, menandakan bahwa mereka masih manusia.
Kesunyian Istana Dingin tidak membuat mereka takut. Sekawanan orang itu terbagi menjadi dua bagian. Sebagian orang bergerak ke halaman belakang, sebagian lagi ke tempat tinggal Kasim Du. Pada saat itu, malam benar-benar larut dan sunyi. Tidak ada seorang pun yang terjaga atau mau berpatroli di sekitar Istana Dingin. Hal tersebut membuat sekawanan orang itu lebih leluasa bergerak.
Tidak lama kemudian, terdengar suara teriakan tertahan yang dibarengi dengan suara jeritan yang menyakitkan, lalu hilang ditelan kesunyian malam. Biarpun teriakan itu sangat keras, tidak ada orang yang mendengarnya. Setelah suara itu hilang, menyusul suara ribut seperti sedang menebang dan mengobrak-abrik sesuatu.
Saat malam menyongsong fajar, sekawanan orang berbaju hitam itu keluar dari Istana Dingin. Mereka telah menyelesaikan pekerjaan mereka, saatnya kembali ke markas. Istana Dingin masih sunyi, bahkan lebih sunyi dan terasa lebih menyeramkan padahal hari sudah hampir pagi. Kelebatan fajar di ufuk timur tidak mempengaruhi suasana mistis dari Istana Dingin.
...***...
Pagi harinya, Kasim Du ditemukan tewas. Jasadnya ditemukan mengambang di kolam teratai yang terletak di belakang Istana Dingin, tempat Wei Linglong memetic akar teratai dahulu. Kasim itu ditemukan oleh seorang pelayan yang hendak memberikan makanan kepada Kasim Du, namun anehnya tempat tinggalnya porak poranda dan Kasim Du tidak ada di sana. Pelayan tersebut lalu mencarinya ke belakang, kemudian menjerit ketakutan dan berlari mencari penjaga lain di sekitar sana untuk melaporkan penemuan Kasim Du.
Saat jasadnya diangkat ke daratan, pihak petugas istana langsung mengangkatnya untuk dikuburkan. Sebelum para petugas itu membawanya, seorang pelayan utusan Istana Fenghuang datang dan meminta para petugas istana untuk melakukan autopsi pada jenazah Kasim Du.
Awalnya para petugas itu menolak, namun setelah melihat pelat Istana Fenghuang mereka langsung mematuhinya. Jasad Kasim Du dibawa ke Biro Kementrian Kehakiman untuk diperiksa oleh petugas autopsi. Sementara itu, tempat tinggal Kasim Du yang porak poranda dibersihkan dan seluruh barang-barangnya dimasukkan ke dalam kotak.
Wei Linglong yang saat itu sedang menuliskan laporan hasil pengawasan begitu terkejut ketika mendengar berita kalau Kasim Du tewas. Dia langsung mengirim Xiaolan untuk meminta petugas mengautopsi jasadnya karena dia yakin kematiannya pasti ada yang salah.
Wei Linglong langsung pergi ke Kementrian Kehakiman ketika pekerjaannya selesai. Jasad Kasim Du sudah selesai diautopsi oleh petugas. Para petugas di sana kemudian memberikan laporannya kepada Wei Linglong meskipun mereka kebingungan karena seorang selir sepertinya malah datang ke ruang mayat yang tidak biasa didatangi oleh wanita istana.
“Ada tiga tusukan di perutnya. Selain itu, ada luka sayatan di leher dan wajah. Bagian belakang kepalanya juga bengkak. Itu menunjukkan bahwa Kasim Du dibunuh dengan cara ditusuk, lalu disayat leher kemudian dipukul oleh benda tumpul kepala belakangnya. Kuku-kukunya ada yang patah dan pergelangan tangannya terluka. Itu menunjukkan kalau Kasim Du sempat melakukan perlawanan,” terang petugas autopsi sambil menyerahkan buku hasil autopsinya.
“Pembunuhnya lebih dari satu orang, bukan?” tanya Wei Linglong.
Petugas itu mengangguk.
“Jika hanya satu orang, Kasim Du tidak akan meninggal dengan luka-luka seperti itu,” ucap petugas.
Wei Linglong memejamkan mata dan menghembuskan napas kasar. Baru saja dia mencoba hidup dengan baik, namun malah ada yang mengusiknya. Wei Linglong yakin kalau pelaku di baliknya pasti ingin memperingatkan dia, bahwa dialah target sesungguhnya. Pelaku utama pasti tahu kalau Kasim Du bekerja di bawah perintah Wei Linglong meskipun berada di istana yang berbeda.
Orang itu ingin Wei Linglong merasakan ketakutan atas peringatannya. Tidak tanggung-tanggung, peringatannya begitu kejam. Kasim Du tidak berdosa dan tidak tahu apa-apa, namun malah menjadi korban pertarungan yang kejam dan tidak berujung ini. Nyawa kasim itu melayang begitu saja, kematiannya begitu mengenaskan sampai ditenggelamkan di kolam teratai.
Ini membuktikan bahwa nyawa seorang manusia berstatus rendah tidak berharga bagi sebagian orang. Padahal, Kasim Du hanya mencoba untuk menjalankan tugas dan hidup dengan baik, namun malah berakhir tragis. Wei Linglong marah, dia mengutuk keras siapapun pelakunya.
“Psikopat gila mana lagi yang melakukan ini? Aku benar-benar ingin menghajarnya!” gerutu Wei Linglong.
“Kuburkan Kasim Du dengan layak. Kau, pergilah ke Biro Rumah Tangga Istana dan Biro Kesejahteraan Istana, mintalah sejumlah barang dan uang lalu berikan kepada keluarganya sebagai kompensasi. Masukkan catatannya ke dalam catatan pengeluaran Istana Fenghuang,” ucap Wei Linglong kepada petugas autopsi.
Wei Linglong kembali ke Istana Fenghuang setelah memastikan jasad Kasim Du dikuburkan dengan baik. Wajahnya muram. Suasana hatinya sangat buruk, padahal hari masih pagi. Wei Linglong tiba-tiba kehilangan semangat untuk menjalani hari. Pikirannya masih terikat kepada kematian Kasim Du yang misterius.
Siapa pembunuhnya, ke mana pembunuh itu pergi, itu semua terus berputar di dalam kepalanya. Di ayunan kayunya, Wei Linglong berkali-kali menghembuskan napas lelahnya. Kesal dan marah menjadi satu. Jika sampai dia mengetahui siapa pelakunya, dia akan mencabik-cabiknya menjadi beberapa bagian dan melemparkannya ke sarang harimau atau serigala.
Xiaolan yang sudah kembali dari Istana Dingin menghampirinya untuk melaporkan sesuatu.
Penjelasan Xiaolan membuat suasana hatinya semakin buruk.
“Sialan! Tidak hanya membunuh, mereka juga menghancurkan kebun kesayanganku! Xiaolan, apa lagi yang kau temukan?”
“Setelah diperiksa, ada beberapa jejak kaki yang tertinggal. Jejak kakinya terbentuk dari darah yang menetes dari tubuh Kasim Du dan tanah basah yang dipijak oleh para pembunuh. Pembunuhnya diperkirakan bejumlah delapan orang, Nyonya,” sambung Xiaolan.
Meskipun merasa sedih dan marah, Wei Linglong tidak bisa meneteskan air mata. Sejak kecil, sesedih apapun hatinya, dia tidak terbiasa menangis. Kematian Kasim Du adalah untuknya, darah Kasim Du adalah darah tidak bertuan yang tumpah tanpa dosa. Mengingat ini, keinginan untuk membalas semua itu langsung bangkit, namun dalam situasi seperti ini, ke mana dia harus mencari para bedebah itu?
Wei Linglong mengusap wajahnya dengan kasar.
“A-Ling, apa yang terjadi?” tanya Murong Qin. Pria itu baru tiba setelah menghadiri pengadilan istana di Istana Yanzhi. Melihat kaisarnya datang, Xiaolan langsung berpamitan.
“Kasim Du tewas dan kebunku hancur. Seseorang berusaha mengacaukanku,” jawab wanita itu.
Murong Qin juga mendengar berita tersebut saat perjalanan menuju ke sini. Melihat wanitanya begitu murung, Murong Qin jadi tidak tega. Dia duduk di sampingnya, lalu menyandarkan kepala Wei Linglong ke dadanya. Murong Qin setengah memeluk wanita itu, mengusap lengan atasnya supaya wanita itu sedikit tenang.
“Para bedebah gila itu pasti akan aku temukan!”
“Baik, kau temukan dia. Tapi, sekarang kau tidak boleh sedih berkepanjangan. Bukankah kau sangat tidak suka kekalahan? Pelakunya akan tertawa menang jika dia melihatmu begitu murung seperti ini,” kata Murong Qin.
Wei Linglong melepaskan dirinya dari pelukan Murong Qin. Perkataannya benar, dia tidak boleh murung. Kasim Du sudah tewas, dia harus membalaskan dendam ini. Wei Linglong mengendalikan emosinya, lalu menata kembali hatinya. Sekarang bukan saatnya bersedih, dia justru harus semakin kuat. Itu adalah fondasi dasar yang bisa membangun kepercayaan dirinya.
“Yang Mulia benar. Aku harus membalas mereka!”
Setelah mengatakan itu, Wei Linglong langsung masuk meninggalkan Murong Qin yang menatapnya tak percaya, seperti biasa.
“A-Ling, tegar memang boleh, tetapi haruskah kau meninggalkanku seperti ini?”
Murong Qin hanya bisa menggelengkan kepala.
...***...
...Saatnya kuis! ...
...Siapakah dalang pembunuhan Kasim Du? ...
...A. Perkutut tua...
...B. Gagak betina...
...C. Seseorang yang lain...
...*btw itu kasian kaisar ditinggal sendiri wkwk...