The Legend Of Chunfei

The Legend Of Chunfei
FRAGMEN 26: NILAI KESEDERHANAAN



“Jiangzhou.”


“Jiangzhou? Tempat apa itu?”


“Prefektur di bagian utara.”


Ah, jadi Murong Qin akan pergi ke Jiangzhou, batin Wei Linglong. Dia tidak tahu persis tujuan pria ini menyamar dan pergi ke tempat sejauh itu, yang jelas dia tidak ingin sendirian di Istana Fenghuang. Hari kemarin dia mungkin bisa lolos, tetapi itu tidak menjamin kalau Ibu Suri dan Permaisuri Yi akan berhenti mencari gara-gara. Lebih baik dia pergi dari sana.


“Mengapa kau memaksa ikut?” tanya Murong Qin setelah beberapa saat.


“Aku tidak mau mati kebosanan di Istana Fenghuang. Yang Mulia, kau menambahkan beberapa penjaga menyebalkan di pintu gerbang, memaksaku tetap diam di sana selama seharian. Untung saja aku bisa menipu mereka.”


Murong Qin tidak percaya pada perkataan wanita itu. Mati kebosanan bukanlah alasan yang logis, karena sebelum dia mengirimkan beberapa penjaga ke Istana Fenghuang, Wei Linglong juga lebih banyak berdiam diri di sana. Mustahil jika wanita itu mengatakan dia tidak ingin mati kebosanan karena terkurung di sana.


“Baiklah, baiklah. Bukan itu satu-satunya alasan.”


“Lalu apa?”


“Em, aku hanya merasa kalau aku tetap diam di sana di saat Yang Mulia tidak ada, mungkin mereka akan berulah lagi. Pada saat itu, mungkin tidak ada yang bisa menolongku lagi.”


“Kau memanfaatkanku?”


“Bukan, aku hanya…”


“Hanya?”


“Hanya…Hanya merasa kalau Yang Mulia bisa diandalkan.”


Wei Linglong sedikit ragu dengan perkataan yang baru saja dia ucapkan. Apa ini? Mengapa muncul perasaan aneh di dalam hatinya? Wei Linglong merasa selama ada Murong Qin, dia bisa aman.


Pertolongan hari itu ternyata memberikan efek misterius pada sistem perasaannya. Dia seperti sedang berlindung di dalam jubah seseorang, padahal selama ini dia selalu mengandalkan dirinya sendiri.


Kereta kuda terus melaju membelah jalan berbatu. Kini, kereta tersebut sudah sampai di sebuah hutan yang ditumbuhi pohon willow yang tengah meranggas di akhir musim gugur. Rerantingnya seperti cakar tajam yang menantang langit, meminta keadilan atas gugurnya daun-daun yang menghiasi tubuhnya.


Di dalam kereta, Wei Linglong tak henti-hentinya menghela napas. Dia tidak bisa diam, terus merubah posisi duduknya. Walaupun dipan ini empuk, tetapi tidak bisa menahan goncangan dari jalan berbatu. Ditambah lagi dengan keheningan yang melanda sejak percakapan terakhir kali. Di depannya, Murong Qin duduk manis dengan mata terpejam, seolah semua goncangan yang mereka alami hanyalah sebuah desiran angin.


Tidak ada yang bisa dia ajak bicara, Wei Linglong benar-benar mati kebosanan!


Sebagai seseorang yang baru saja lari dari kerangkeng emas, seharusnya Wei Linglong bisa bergerak dengan bebas. Tetapi pria di hadapannya ini begitu kaku dan tertutup.


Di saat seperti ini pun, aura dinginnya masih terasa menembus hingga ke tulang, membuat Wei Linglong mendesah setiap kali matanya menangkap wajah Murong Qin.


“Kusir, berapa lama lagi kita bisa sampai?”


Kusir yang sedang berusaha mengendalikan kuda lantas berteriak,


“Lima hari lagi, Nyonya.”


Wei Linglong menyayangkan peradaban di zaman ini. Pergi ke luar kota masih harus menggunakan kereta kuda, juga harus melewati jalan berbatu, hutan, rawa dan pinggiran jurang.


Seandainya penduduk di sini sudah revolusioner, mungkin hanya perlu waktu beberapa jam menggunakan pesawat terbang atau mobil pribadi. Melaju di jalur berbatu seperti seekor siput yang berjalan ti dalam semak-semak.


Sampai pada beberapa saat kemudian, dia mulai terpikir sebuah ide. Jika dia bisa memangkas perjalanan selama beberapa hari, mungkin mereka akan sampai di prefektur Jiangzhou lebih awal. Ada dua buah kuda yang menarik kereta, jika digunakan mungkin kecepatannya lebih tinggi karena beban yang ditarik hanya sedikit.


“Yang Mulia, bagaimana kalau menggunakan kuda?”


“Maksudmu, tidak memakai kereta?”


“Ya. Kecepatan kuda bisa memangkas waktu perjalanan kita.”


“Tidak. Terlalu panas dan melelahkan.”


“Bagaimana jika rakyatmu mati duluan sebelum kau datang?”


“Kau menyumpahiku?”


“Yang Mulia, kapan kau bisa berpikir positif terhadapku?”


“Wanita cerewet.”


Bermuka masam, Murong Qin keluar dari kereta kuda. Entah apa yang dia bicarakan dengan kusir, tetapi Wei Linglong merasakan kalau laju kereta telah berhenti. Lewat kain penutup di jalan masuk, dia mengintip ke depan.


Kusir tadi tampak sedang melepaskan sebuah tali pengait yang diikat di punggung kuda, sementara Murong Qin duduk di depan jalan masuk. Sudah ia duga, kalau Murong Qin tidak akan mengabaikan sarannya. Wei Linglong keluar dari dalam, kemudian meloncat keluar.


Kuda yang dilepas tali pengait keretanya meringkik, melengkingkan suara seperti menyambut Wei Linglong. Kuda hitam bertubuh bagus, harganya ratusan ribu tael. Hanya sekilas, Wei Linglong sudah tahu kalau ini adalah kuda dari ras campuran.


“Nyonya, mengapa Yang Mulia ingin melepas keretanya?” tanya Xiaotan sambil mengekori majikannya.


“Mungkin karena tidak ingin terlambat.”


“Apa nyonya yang memaksanya?”


“Bagaimana bisa aku memaksa seorang Kaisar?”


Xiaotan yang polos hanya ber-oh ria. Perkataan majikannya benar, mana mungkin majikannya itu bisa memaksa seorang Kaisar Mingzhu yang agung. Bahkan jika langit runtuh dan bumi terbalik pun, nyonyanya tidak punya kemampuan tersebut. Meskipun Kaisar Mingzhu-nya tidak pernah menghukum atau memarahi majikannya, itu tidak berarti bahwa Wei Linglong bisa berbuat sesuka hati.


Kusir kuda tiba-tiba memberitahu kalau kudanya sudah siap. Ketika Murong Qin berjalan ke sana, Wei Linglong secara otomatis mengikutinya. Dia memperhatikan sekilas, kemudian mengalihkan pandangan pada Murong Qin. Tidak disangka, pria itu juga tengah menatapnya dengan kening berkerut.


“Apa?”


Masih dengan wajah datarnya, Murong Qin memberikan isyarat ‘naiklah’ pada Wei Linglong. Mengetahui maksud dari isyarat tersebut, Wei Linglong seketika mundur. Murong Qin semakin mengerutkan keningnya. Apa wanita ini benar-benar bodoh atau dungu?


“Kau tidak bisa berkuda?”


Wei Linglong menggeleng dan mengangguk.


“Oh, aku tidak bisa berkuda.”


“Bagaimana mungkin seorang putri jenderal besar tidak bisa berkuda?”


“Memangnya itu sebuah kewajiban? Lalu apakah seorang anak tukang kayu harus bisa menebang kayu?”


Wanita itu terpekik karena tubuhnya tiba-tiba melayang, lalu tiba-tiba langsung duduk di atas kuda. Dia ingin marah pada pria itu, tetapi kuda yang dia tunggangi malah meringkik kegirangan.


Wei Linglong kembali terpekik ketika seseorang tiba-tiba duduk di belakangnya. Ternyata, Murong Qin naik ke kuda yang sama dengannya. Jarak mereka begitu dekat hingga Wei Linglong bisa merasakan kalau punggungnya bersentuhan dengan dada bidang pria itu. Hembusan napas Murong Qin bahkan terasa menepuk bulu-bulu halus di pundak dan bahunya.


Itu seperti sengatan listrik. Busana yang dikenakan Wei Linglong tidak berkerah, hingga hembusan napas itu begitu sangat terasa. Seketika dia merinding. Dia belum pernah sedekat ini dengan seorang pria. Jantungnya tiba-tiba berdetak seperti ingin meloncat keluar dari rongga dada kirinya, terasa bertalu-talu seperti genderang perang yang ditabuh.


“Pegang talinya erat-erat!”


Murong Qin menarik tali, kuda yang mereka tunggangi berlari membelah kesunyian hutan pinus dengan cepat. Di belakang sana, Xiaotan tertinggal bersama kusir, memandangi majikan mereka yang telah menjauh beberapa ratus meter di depan. Beragam pertanyaan muncul di benak mereka, tentang apa yang sebenarnya terjadi.


Apakah itu benar-benar Kaisar Mingzhu?


Di sisi lain, Murong Qin sedang fokus pada jalan yang mereka lewati. Pandangannya lurus ke depan sementara tangannya sibuk memegang erat tali kendali kuda. Kakinya berkali-kali menendang bagian perut si kuda, sesekali kuda itu meringkik dan larinya semakin kencang. Pergerakan kuda membuat tubuh Murong Qin semakin merapat kepada Wei Linglong.


Wei Linglong tidak berani menoleh. Kini, wajah Murong Qin seperti bertopang di bahunya, napasnya menepuk daun telinga. Sensasi dari kondisi tersebut begitu membingungkan perasaan keduanya.


Sekilas, mereka seperti sepasang kekasih yang sedang berpelukan dari belakang. Orang mungkin mengira mereka adalah pasangan yang sedang kawin lari.


Dua jam kemudian, mereka sampai di tepi hutan. Jalan berbatu berganti dengan jalan berpasir yang padat, yang lebih mudah untuk dilalui. Di ujung persimpangan, berdiri sebuah bangunan bertingkat dua dari kayu dan berjendela.


Bangunan kayu itu dikelilingi pagar kayu dan memiliki halaman luas. Halamannya diisi oleh beberapa meja dan kursi kayu. Di samping halaman, terdapat sebuah bangunan kecil lain yang mengepulkan asap. Beberapa orang berpakaian sederhana tampak hilir mudik membawa nampan berisi makanan dan poci-poci minuman pada meja-meja kayu yang terisi.


Seorang pria berumur empat puluh tahunan menghampiri Wei Linglong dan Murong Qin ketika kuda yang mereka tunggangi sampai di depan halaman. Senyum ramah tersungging di bibir pria itu, perkataannya begitu lembut dan ramah.


Pria itu kemudian mempersilakan Wei Linglong dan Murong Qin masuk ke halaman, kemudian membimbing mereka ke sebuah meja kosong yang letaknya di dekat pintu utama bangunan kayu.


“Y-Tuan, tempat apa ini?”


“Rumah singgah.”


“Maksudmu, penginapan?”


“Ya.”


“Mengapa kita berhenti di sini?”


“Sudah sore. Perjalanannya lanjut besok saja.”


Seorang pelayan kemudian datang menanyakan menu. Wei Linglong tidak begitu familier dengan makanan di zaman ini, apalagi di tempat terpencil seperti ini. Dia hanya tahu kalau makanan yang tersedia di semua tempat adalah mie dan mantou. Murong Qin tidak protes saat wanita di depannya memesan dua mangkuk mie, karena dia tahu kalau wanita itu pasti tidak tahu apa-apa.


Seorang putri jenderal yang disayang tidak akan mau menghabiskan waktu keluar hanya untuk mengenal makanan dari rakyat biasa. Bisa dibilang, Wei Linglong adalah wanita yang terlahir dengan sendok perak.


Murong Qin menebak kalau wanita itu jarang keluar kediaman hingga tidak mengetahui kalau di tempat terpencil seperti ini, masih ada makanan lain yang bisa dipesan seperti di ibukota. Hanya saja, Murong Qin tidak berniat mendebatkan perihal makanan kepada wanita itu. Selain hanya membuang tenaga, Murong Qin juga sudah kelelahan karena hampir tidak bisa beristirahat sama sekali.


Sembari menunggu pesanan datang, Wei Linglong menatap bangunan di depannya. Dia juga memperhatikan setiap detail dari tempat ini, mulai dari ijuk yang difungsikan sebagai atap, kayu-kayu penyangga, lantai, meja, kursi, pintu, pagar, tanaman yang tumbuh, bahkan hingga ke orang-orang yang sedang duduk bersantap ria.


Memang terlihat begitu sederhana namun menawarkan sebuah bentuk kenyamanan yang tidak biasa. Tempat terpencil ini menjadi tempat persinggahan bagi para pelancong atau penduduk yang melakukan perjalanan, menyediakan layanan untuk merileks-kan kembali tubuh yang lelah dan memulihkan tenaga. Di tengah hutan belantara, masih ada tempat untuk berteduh dan singgah sesaat ketika tubuh telah menempuh perjalanan jauh.


Nilai bangunan ini lebih dari sebuah penginapan biasa. Di zaman modern, hotel-hotel berbagai tingkatan berbintang ada di mana-mana. Akan tetapi, tidak ada satupun yang suasananya menyamai penginapan kecil nan sederhana ini.


Fasilitas lengkap nan mewah hanya tersedia untuk mereka yang berdompet tebal, namun menjadi suatu kemustahilan bagi mereka yang isi dompetnya pas-pasan.


Di sini, semuanya tampak setara. Bahkan seorang Kaisar pun ikut berbaur bersama mereka, ikut membayar makan dan biaya sewa seperti orang lain. Di tempat kecil ini, orang asing yang tidak saling mengenal pun bisa mengobrol layaknya sahabat lama.


Mereka tidak takut perkataan mereka terdengar oleh yang lain, karena mereka tahu kalau nilai yang lebih tinggi dari ini adalah sebuah kepercayaan yang tersembunyi dalam kesederhanaan hidup. Wei Linglong mengagumi kesederhanaan tempat ini.


“Tuan dan nona, silakan.”


Ketika pelayan yang mengantarkan pesanan datang, Wei Linglong langsung menyambar mangkuk berisi mie dicampur sayuran yang masih mengepulkan asap. Air kuahnya masih panas. Dia mencoba kuah dengan sendok, kemudian merasakan sesaat. Enak, pikirnya. Hanya saja akan lebih enak jika ada saus dan sambal, atau ditambah irisan sosis dan rebusan telur.


“Bos, pesan dua kamar,” ucap Murong Qin pada pelayan itu.


Pelayan tersebut tampak merasa bersalah.


“Tuan, penginapan kecil kami adalah yang satu-satunya di sini. Semua kamar sudah terisi, hanya tersisa satu kamar kosong. Bagaimana?”


“Tidak ada kamar lain?”


“Tidak ada, Tuan.”


Trik ini lagi, pikir Wei Linglong.


“Baiklah. Berikan pada kami,” putus Murong Qin.


“Tidak. Pesan dua kamar!” seru Wei Linglong.


“Nona, hanya ada satu kamar.”


“Benarkah?”


“Benar, Nona.”


“Aku bilang aku mau dua kamar!”


“Nona, tolong jangan mempersulit kami.”


“Kau tidak percaya kalau aku bisa mengobrak-abrik semua kamar di penginapan ini sampai aku tahu bahwa perkataanmu adalah benar?”


Mendengar nada bicara yang begitu arogan membuat pelayan itu merasa terintimidasi. Dia melirik Wei Linglong dan Murong Qin secara bergiliran. Satu pria tampan dan satu wania cantik, namun auranya sangat berbeda. Pelayan itu seperti tersihir oleh pesona tersembunyi dari Wei Linglong dan Murong Qin. Takut wanita itu melaksanakan perkataannya, pelayan itu kemudian berkata,


“Baiklah. Ada dua kamar tersedia untuk Tuan dan Nona.”


Wei Linglong tersenyum puas.


...***...


...Sesi diskusi:...


...Apakah Wei Linglong benar-benar tidak bisa berkuda? ...