The Legend Of Chunfei

The Legend Of Chunfei
FRAGMEN 65: DIA TERLUKA



Xiaotan dan Xiaolan menghembuskan napasnya berkali-kali.


Kedua pelayan itu tidak habis pikir dengan tingkah laku majikannya yang tampak seperti anak usia sepuluh tahun yang baru menemui sesuatu yang berbeda. Betapa tidak, sejak majikan mereka pulang dari Istana Yanxi, majikan mereka bertingkah seperti anak kecil yang aneh.


Syaraf otak Wei Linglong sepertinya rusak. Wanita itu kini selalu memakai cadar ke manapun, menutupi setengah wajahnya dengan kain tipis yang disampirkan di belakang kepala. Bukan hanya memakai cadar, Wei Linglong juga sering terkejut dan sering bersikap waspada ketika seseorang datang, seolah dia telah mengalami sesuatu yang membuatnya trauma hingga memiliki ketakutan tertentu.


Siapa yang tahu kalau wanita itu sengaja melakukannya untuk menutupi rasa malu yang dia peroleh ketika berada di Istana Yanxi. Saat Murong Yu menyebut bahwa bengkak di bibirnya akibat ulah manusia, ingatan Wei Linglong melayang pada malam ketika dia dibawa pulang dari Restoran Yumai.


Wei Linglong tahu betul kalau Murong Qin bukanlah orang sembarangan yang akan memanfaatkan dirinya di saat tidak sadarkan diri. Jadi, dia beranggapan bahwa dialah yang memulai adegan dewasa itu, karena Murong Qin tidak mungkin melakukan itu dengan sengaja. Oleh karena itu, rasa malunya benar-benar luar biasa. Untung saja Murong Qin menghindarinya, jadi Wei Linglong bisa menemukan cara untuk menutupinya.


“Nyonya, nyonya sudah memakai cadar berhari-hari. Nyonya juga tidak pergi ke mana-mana, tidak seperti biasanya,” ucap Xiaotan sambil memijat bahu Wei Linglong.


“Memangnya kenapa? Perempuan-perempuan di Timur Tengah juga banyak yang memakai cadar,” tukas Wei Linglong.


“Timur Tengah? Tempat mana itu?”


“Aih kau tidak akan tahu. Itu adalah wilayah yang akan menjadi wilayah yang sangat maju beberapa abad dari sekarang.”


Xiaotan yang polos tidak mengerti apa yang dikatakan majikannya. Pelayan itu hanya mengerutkan kening, lalu meneruskan pijatannya. Hari sudah sore, namun majikannya belum menunjukkan tanda kalau dia akan bekerja seperti biasanya.


Liu Ting sudah datang beberapa kali, meminta majikannya datang ke Istana Yanxi atas perintah Kaisar, namun majikannya itu malah sering tidur dan berpura-pura lupa. Jika kasim itu datang lagi hari ini, dia sungguh sudah tidak punya cara untuk mencegah atau memberikan alasan lagi.


Pijatan pelan di bahunya membuat Wei Linglong mengantuk. Wanita itu tidur sambil menyandarkan tubuhnya di kursi ayunan, sementara Xiaotan terus memijatnya. Semilir angin musim panas menepuk wajah tertutup itu, namun tidak mampu mempengaruhinya.


Pada saat itu, hari sudah benar-benar sore. Danau Dongting di musim panas sedikit turun volume airnya, menyisakan bekas beberapa sentimeter pada bebatuan dan tanah di sekitarnya. Air itu surut dari waktu ke waktu, namun keindahannya tidak akan pernah berkurang.


“A-Ling….” Panggil seseorang.


Wei Linglong seketika membuka matanya. Dia dan Xiaotan seketika terkejut. Di pintu gerbang, Murong Qin berjalan sempoyongan sambil memegangi perutnya. Pria itu mengenakan pakaian hitam. Saat dia berjalan melewati taman, darah menetes ke atas batu-batu hiasan.


“Yang Mulia!” teriak Wei Linglong panik.


Murong Qin tidak mampu mencapai wanita itu. Dia ambruk dalam jarak satu meter sebelum mencapai ayunan tempat wanita itu berada. Darah dari dalam perutnya terus keluar. Murong Qin terbatuk sekali, lalu memuncratkan darah segar dari dalam sana. Tangan yang dia gunakan untuk menekan luka di perutnya sudah sangat merah dipenuhi darah.


Wei Linglong langsung meraih pria itu, membawanya ke dalam pangkuan. Cadarnya langsung terlepas. Darah dari tubuh Murong Qin mengenai pakaiannya. Dia sangat panik karena pria itu datang dengan luka di perut. Apa seseorang mencoba membunuhnya saat sedang menyamar?


“Yang Mulia! Jangan tertidur, kau harus tetap sadar!” seru Wei Linglong sambil menepuk-nepuk pipi Murong Qin.


“Xiaotan, cepat panggil Tabib Yin! Panggil juga Kasim Liu, tapi jangan sampai menimbulkan keributan!”


Xiaotan langsung berlari. Xiaolan yang baru selesai bekerja langsung mencoba membantu sebisa yang ia bisa. Wei Linglong tiba-tiba menangis. Wanita itu terus menepuk-nepuk pipi Murong Qin agar mata yang hampir terpejam itu tetap terbuka. Tangan yang satunya lagi membantu menekan luka agar darahnya tidak keluar terlalu banyak.


“Yang Mulia, apa yang terjadi? Mengapa kau bisa terluka? Yang Mulia, jangan tertidur!”


“A-Ling….” Ucap Murong Qin lemah. Suaranya parau, tenaganya hampir tidak bersisa.


“Bukankah kau sangat hebat? Mengapa bisa terluka seperti ini?” tanya Wei Linglong sambil terus menangis.


Murong Qin tersenyum kecil. Pria itu menyentuh wajah Wei Linglong dengan gerakan lemah, berniat menghapus air mata yang meluncur di sana seperti anak sungai. Namun, bukannya bersih, wajah Wei Linglong justru ternoda dengan darah. Murong Qin kembali tersenyum kecil, lalu matanya terpejam.


“Yang Mulia! Bangun!” seru Wei Linglong.


“Nyonya, sebaiknya kita bawa Yang Mulia ke dalam,” ucap Xiaolan.


Dia membaringkannya di ranjang. Darah masih terus mengalir. Xiaolan kemudian membawakan baskom berisi air bersih dan kain putih, lalu meminta Wei Linglong membersihkan luka di tubuh pria itu. Wei Linglong agak ragu, tetapi keadaan begitu mendesak. Sambil terus menangis, dia membuka baju pria itu.


Ada luka sayatan memanjang dari kiri ke kanan beberapa senti di bawah pusar pria itu. Darah merah itu sangat kontras dengan warna kulit perut Murong Qin yang seputih susu. Walau takut, Wei Linglong mulai mengelap darah itu, membersihkan kulit putih tersebut tanpa menyentuh luka.


Tidak lama kemudian, Xiaotan datang bersama seorang tabib, juga Liu Ting.


“Aku bilang panggil Tabib Yin! Kenapa malah tabib lain?” tanya Wei Linglong.


“Nyonya, Tabib Yin seorang wanita. Dia hanya melayani para wanita. Yang Mulia seorang pria, tentu saja harus diobati oleh tabib pria,” jawab Liu Ting. Kasim itu juga sangat panik.


“Bodoh! Mana ada perbedaan gender dalam kedokteran! Aku hanya percaya pada Tabib Yin!” seru Wei Linglong.


“Nyonya, keadaannya mendesak. Jika menunda lagi, Yang Mulia mungkin tidak akan selamat,” Xiaolan mencoba membujuknya.


Wei Linglong akhirnya terbujuk. Dia memberikan kesempatan pada tabib itu untuk memeriksa dan mengobatinya. Luka sayatan di perutnya dijahit, lalu ditaburi bubuk obat. Setelah pengobatan selesai, tabib membungkus luka itu dengan kain kasa putih melingkar.


“Luka Yang Mulia tidak serius. Setelah istirahat beberapa hari, lukanya akan sembuh,” ucap tabib.


“Namun, ada sedikit racun di dalam tubuhnya. Hamba akan membuat resep, namun hamba tidak tahu apakah bahan yang paling mendasar tersedia di istana atau tidak,” sambung sang tabib.


“Harus ada! Kau harus bisa menyembuhkan dia!” seru Wei Linglong.


Tabib itu hanya bisa mengangguk.


“Nyonya, pakaian Yang Mulia sudah kotor. Mohon nyonya menggantinya dengan yang baru,” ucap tabib itu.


Wei Linglong ragu apakah dia yang harus menggantinya atau bukan. Wei Linglong melirik Liu Ting, namun kasim itu malah menganggukkan kepala padanya. Sial, kasim ini sengaja melakukannya. Liu Ting kemudian membawa semua orang keluar dari sana. Kini, hanya tinggal Wei Linglong dan Murong Qin yang ada di dalam kamar.


Wei Linglong membawa satu set pakaian Murong Qin dari ruang rahasia. Dia melepas baju hitam tersebut, membuangnya ke lantai. Setelah mengelap tubuh Murong Qin dengan air hangat, dia memakaikan pakaian itu. Saat hendak membuka celana, Wei Linglong kembali ragu.


Ini, bukankah tidak seharusnya?


“Aku belum pernah melakukan ini. Oh, Tuhan! Apa kau sedang mempermainkanku?” ceracau Wei Linglong. Saat tahu pria itu akan baik-baik saja, suasana hati Wei Linglong mulai membaik.


“Baiklah. Murong Qin, kelak kau jangan mengataiku cabul. Ini hanya karena keadaan terdesak,” ucapnya lagi.


Wei Linglong mengambil kain putih, lalu menutupi matanya dengan itu. Perlahan, tangannya mulai beraksi. Wei Linglong membantu pria itu mengganti ****** ***** keadaan mata tertutup agar dia tidak melihat sesuatu yang belum pernah dia lihat.


Ini adalah pertama kalinya dia membantu seorang pria mengganti pakaian. Murong Qin yang tidak sadarkan diri seperti bayi, diam dan tidak bergerak. Jantung Wei Linglong berdegup kencang, takut dia salah menyentuh sesuatu. Syukurlah, momen menegangkan itu sudah berlalu. Seluruh pakaian Murong Qin sudah terpasang dengan sempurna sekarang.


Wei Linglong membuka penutup matanya. Kini, dia sedang membersihkan wajah pria itu. Setelah beberapa saat, semuanya sudah selesai. Wajah tampan yang sempurna itu kembali bersih. Wei Linglong membereskan peralatannya, lalu menyimpannya ke bagian belakang istana agar para pelayan bisa membersihkannya, sementara dia kembali ke sisi Murong Qin.


“Sebenarnya kau pergi ke mana? Kenapa bisa terluka?” tanya wanita itu pelan, tanpa jawaban karena orang yang dia tanya sedang terpejam.


Wei Linglong menyelimutinya. Hari sudah malam. Murong Qin masih terpejam. Wei Linglong tidak bisa meninggalkannya. Wanita itu tinggal di sisinya sepanjang malam. Saking lelahnya, dia juga sampai tertidur di lantai dengan kepala bersandar pada ranjang, sementara tangannya memegang erat tangan Murong Qin.


Di luar, Xiaotan, Xiaolan dan Liu Ting berjaga.


...***...