The Legend Of Chunfei

The Legend Of Chunfei
FRAGMEN 27: SUNGAI BEKU JIANGZHOU



Malam yang tenang berlalu di tepi hutan willow. Semua orang yang ada di penginapan kecil ini larut dalam dunia mimpi masing-masing, kemudian terbangun ketika fajar menyingsing di ufuk timur. Sebagian dari mereka ada yang langsung pergi, namun ada juga yang memilih mengisi perut mereka terlebih dahulu, baru melanjutkan perjalanan kembali.


Murong Qin bangun lebih awal dari Wei Linglong. Kebiasaannya bangun sangat pagi terbawa hingga ke sini. Selelah apapun dia, selarut apapun dia tidur, dia selalu terbangun di saat embun masih menggantung di ujung dedaunan.


Murong Qin yang sudah bersiap kemudian melihat pintu kamar Wei Linglong yang masih tertutup. Wanita itu seharusnya belum bangun.


Semalam, Murong Qin menyaksikan bagaimana wanita itu membuat circle bagi dirinya sendiri di sini. Setelah makan sore dan membersihkan diri, Murong Qin melihat Wei Linglong mengobrol asyik dengan beberapa tamu lain.


Mereka bertukar nama dan informasi perjalanan, kemudian topiknya berlanjut ke kehidupan masing-masing. Wanita itu begitu mudah bergaul dengan orang biasa, namun begitu sukar membaur dengan para wanita bangsawan seperti di Istana Dalam.


Jauh di luar dugaan, Murong Qin justru melihat Wei Linglong sudah berdiri di depan pagar kayu penginapan dengan busana berwarna pastel. Dia mengikat rambutnya ke atas hingga tampak seperti seorang pria. Dengan wajah secantik itu, dia masih bisa terlihat tampan dan menawan.


Cahaya yang belum terang membuat Murong Qin harus mengedipkan matanya berkali-kali, menelisik lebih dekat pada sosok aneh yang tengah berdiri membelakangi bangunan penginapan dengan anggun.


Tangan putih kecil itu memegang sebuah kipas dengan chai kumala hijau yang menjuntai. Di ikatan rambutnya, sebuah pita berwarna senada tersampir hingga ke punggung.


“Dari mana kau mendapatkan pakaian ini?”


Wei Linglong yang tengah membelakangi bangunan lantas berbalik. Wajahnya yang rupawan kini bisa dilihat dengan jelas. Dengan tampilan seperti ini, di siang hari nanti Wei Linglong pasti akan membuat puluhan atau ratusan wanita yang dia jumpai di jalan tergila-gila.


“Aku mendapatkannya dari seorang teman.”


“Pria mana yang kau maksud?”


“Pria yang semalam berbicara denganku. Kau tahu? Dia adalah pengusaha kain dari Jiangzhou dan hendak ke ibukota untuk mengontrol tokonya.”


“Kau berani memakai pakaian pria lain di depanku?”


“Tenang saja. Pakaian ini baru. Aku juga tidak akan menggunakan pakaian yang sudah pernah dipakai orang, apalagi pakaian pria. Kalau tidak hati-hati, nanti kulit tubuhku bisa terkena jamur atau penyakit kulit. Betapa mengerikannya itu.”


“Baguslah jika kau menyadarinya!”


Murong Qin kemudian melepaskan tali pengikat yang diikatkan pada pohon. Kuda hitam dan gagah mereka meringkik, menyambut tuan mereka. Rumput-rumput hijau yang diletakkan dalam keranjang di depan kuda itu sudah habis dimakan.


Murong Qin menepuk-nepuk bantalan kain, membersihkannya dari debu musim gugur dan mengecek apakah embun telah membasahinya atau tidak. Setelah itu, dia mengusap kepala kuda dan merapikan rambutnya.


“Kita berangkat sepagi ini?”


“Ya.”


Oh, Wei Linglong sepertinya sudah bangun terlalu pagi. Embun di dedaunan masih menggantung di ujungnya, kesunyian masih tersisa, orang-orang masih larut dalam mimpi mereka. Murong Qin dalam sekejap saja sudah berada di atas punggung kuda.


Pria itu menarik Wei Linglong bersamanya. Suara ringkikan kuda terdengar sekali, kemudian berganti menjadi suara langkah kaki kuda yang berlari setelah tali kendalinya ditarik dan bagian perutnya agak ditendang.


Bangunan penginapan kayu kecil itu semakin menghilang hingga bayangannya lenyap di balik rimbunan pepohonan yang gugur daunnya. Berkuda sepagi itu membuat syaraf dingin di tubuh Wei Linglong bekerja cepat.


Akhir musim gugur, cuaca sedikit lebih dingin. Dia sedikit mengerutkan kening dan melepaskan pegangan untuk memberikan kehangatan sesaat pada tubuhnya yang berada dalam kungkungan Murong Qin.


Udara menjadi semakin dingin tatkala kuda yang mereka tunggangi masuk ke dalam sebuah hutan gundul. Ada butir-butir putih yang menggantung di setiap ujung reranting, tipis namun langsung bisa ditebak.


Hutan gundul itu seperti sebuah ladang kapas dari kejauhan, hitam dan putih berbaur antara es dan reranting. Jika diperkirakan, suhuu udara di dalam hutan gundul itu sudah mencapai jauh batas di bawah 0 derajat celcius.


Wei Linglong sedikit mengerutkan tubuhnya ke dalam. Di bawah kungkungan lengan pria itu, dia tidak leluasa bergerak. Ketika keduanya sampai di pinggir hutan gundul putih, Wei Linglong baru menyadari bahwa butiran putih yang memenuhi tempat tersebut adalah salju-salju yang bertumpuk. Ini sedikit aneh.


“Ini…”


“Prefektur Jiangzhou terletak di utara. Musim dingin tiba lebih cepat daripada kawasan yang lain,” ucap Murong Qin sambil tetap berpandangan lurus.


Wei Linglong tidak menyangka bahwa ada belahan dunia lain yang mengalami musim dingin lebih awal. Kota Yongji dan kota-kota sekitarnya masih berada di akhir musim gugur, tetapi wilayah ini bahkan telah memutihkan seluruh kawasan dengan timbunan salju. Hutan ini, mirip seperti hutan-hutan Eropa di musim dingin.


Bahkan jika dia sudah sering melihat pemandangan menakjubkan, apa yang dia lihat di sini terasa berbeda. Tidak ada pemanas, tidak ada tungku api, tidak ada selimut. Wei Linglong tiba-tiba tersadar bahwa dia hanya mengenakan dua lapis pakaian, yang membuat kulitnya merasakan dingin dari suhu udara yang ekstrim. Seluruh pakaiannya masih ada di tangan Xiaotan, sementara pelayan itu masih tertinggal sangat jauh di belakang.


Jalan keluar dari hutan gundul ini ada di depan. Dengan kecepatan kudanya, Murong Qin bisa membawa Wei Linglong keluar dari sana dalam waktu satu jam saja. Tepi lain hutan gundul ini adalah sebuah sungai berbatu yang di pinggirnya ditumbuhi pohon willow, yang sama-sama memutih.


Sedari tadi, Wei Linglong tidak berhenti mengucapkan kata ‘wah, wow’. Matanya dimanjakan oleh pemandangan yang dia lihat sepanjang jalan. Murong Qin menghentikan kudanya, kemudian meminta Wei Linglong beristirahat sejenak. Hari sepertinya sudah beranjak siang. Saat Murong Qin membantunya turun, dia langsung berlari ke pinggir sungai.


“Sungai ini…. membeku?”


Murong Qin mengangguk.


“Karena musim dingin tiba lebih awal.”


“Yang Mulia, apa kita beristirahat sejenak di sini?”


“Ya.”


“Kalau begitu, biarkan aku menikmatinya!”


“Tentu. Tetapi kau harus berhati-hati.”


Wei Linglong menyentuh batu hitam yang sudah menjadi putih di pinggir sungai. Batu tersebut mungkin mengkilap saat tidak tertutup es. Dia memandang ke seberang sungai, yang seluruh wilayahnya bahkan lebih putih dari tempatnya berdiri saat ini.


Suhu udara menurun drastis, arus air terhenti karena tekanan udara membesar hingga air sungai menjadi beku. Entah di balik sungai beku itu masih terdapat kehidupan ikan-ikan dan tumbuhan air atau tidak, dia tidak tahu pasti. Wei Linglong hanya mengetahui ada beberapa spesies makhluk hidup yang bisa bertahan dalam suhu dingin.


Sungai beku Jiangzhou. Setiap musim dingin tiba, sungai ini membeku. Aliran air yang seharusnya sampai ke wilayah pedesaan di Jiangzhou terhenti. Wei Linglong tidak dapat membayangkan ketika sungai ini mencair ketika suhu menghangat dan musim semi tiba. Bencana banjir mungkin akan melanda desa-desa yang ada di sepanjang aliran sungai ini.


Sebagai seorang Kaisar, pria itu tentu memiliki tanggungjawab yang besar. Semua wilayah Dinasti Yuan berada dalam kendalinya. Jiangzhou adalah prefektur paling utara yang rawan perang dan kerap kali dilanda bencana, entah itu kelaparan atau wabah. Juga mungkin bencana banjir yang diakibatkan oleh mencairnya sungai ini.


Setiap kali musim semi tiba, rakyatnya mungkin harus kembali bergelung dengan rasa khawatir rumah mereka terendam atau terbawa arus, setelah beberapa bulan berjuang bertahan hidup di musim dingin.


“Yang Mulia, berapa banyak desa yang terletak di pinggir sungai ini?”


“Sekitar sepuluh desa. Kenapa?”


“Cukup banyak juga. Berapa jumlah kepala keluarganya?”


“Kurang lebih lima ratus kepala keluarga.”


“Memang banyak.”


“Untuk apa kau menanyakan ini?”


“Oh, aku hanya penasaran. Jika sungai ini mencair di musim semi, desa-desa itu akan tenggelam. Yang Mulia, apa hal ini juga menjadi salah satu yang kau khawatirkan?”


Murong Qin mengangguk dengan ekspresi yang sedikit menurun. Pikirannya dipenuhi wajah-wajah penduduk desa yang meratap meminta pertolongan, menanti uluran tangan dengan mata sayu dan penuh harap.


Selama sepuluh tahun ini, dia belum menemukan cara yang ampuh untuk mengatasi bencana banjir yang disebabkan oleh cairnya es di sungai beku ini.


“Kau punya cara?”


Wei Linglong berpikir sesaat.


“Guruku pernah berkata bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati. Mungkin kita harus melakukan langkah pencegahan yang bisa kita lakukan pada para penduduk sebelum musim semi tiba.”


“Kau punya ide?”


“Di zamanku, sungai-sungai biasanya dipagari oleh tanggul-tanggul beton untuk menahan aliran air agar tidak meluap. Tapi, dari mana kita bisa mendapatkan bahan-bahannya, aku sungguh tidak tahu.”


“Zamanmu? Maksudnya?”


Ah, Wei Linglong tanpa sadar telah berkata tanpa berpikir. Orang yang ada di sini hanya tahu kalau dia adalah Wei Linglong, putri Jenderal Yun. Tidak ada orang yang tahu kalau jiwa yang menempati tubuh ini adalah jiwa dari masa depan yang sudah maju. Hampir saja Wei Linglong mengungkapkan identitasnya.


“Anggap saja aku bermimpi. Yang Mulia, jika kau bersedia mendengarkanku, kau mungkin akan dianggap gila.”


“Benarkah? Ide apa yang kau punya?”


“Kau percaya padaku?”


“Aku mencobanya.”


“Baiklah. Aku bermimpi bahwa tujuh ratus dua puluh satu tahun yang akan datang, dunia ini akan menjadi dunia terang benderang dengan jutaan atau milyaran penduduk. Yang Mulia tidak akan menjumpai hutan beku atau penginapan kecil di pinggir hutan lagi.”


“Lalu?”


“Lalu? Em, kuceritakan lain kali saja. Aku akan menjelaskan terlebih dahulu maksud perkataanku yang sebelumnya.”


Wei Linglong lantas menceritakan metode penanggulangan banjir yang pernah dia pelajari saat sekolah di bangku menengah. Sungai-sungai besar, terutama yang mengalir di tengah kepadatan penduduk, selalu memiliki persiapan matang saat menghadapi kemungkinan bencana.


Tanggul-tanggul beton yang kokoh biasanya dibangun untuk menahan luapan air. Jika sungainya sudah mulai dangkal karena endapan pasir atau sampah, biasanya akan dilakukan revitalisasi dengan mengeruk pasir-pasir tersebut dengan alat berat, hingga kedalaman sungai kembali ke semula, sehingga tinggi air tidak melebihi ketinggian daratan.


Itu hanya metode yang digunakan untuk mengatasi bencana yang disebabkan oleh perilaku manusia. Untuk bencana alam seperti banjir setelah musim dingin, Wei Linglong kebingunan.


Dia bukan peneliti atau pakar pemerhati lingkungan yang tahu cara menangani situasi seperti itu. Apalagi, di zaman ini belum ada semen, batu kapur, atau bahan bangunan lain yang bisa digunakan untuk membangun tanggul yang kokoh.


“Aku tidak tahu caranya. Selain kayu dan batu, tidak ada bahan lain yang bisa kita gunakan.”


“Kita tidak akan tahu sebelum mencobanya.”


“Yang Mulia, kau sungguh mempercayai perkataanku?”


“Orang yang berbohong tidak akan bertanya perihal kebenaran perkataannya.”


“Sungguh ingin mencobanya?”


“Ya. Aku bisa menggunakan beberapa mekanisme untuk mendukung rancangan yang kau berikan.”


“Kalau begitu, haruskah kita berangkat sekarang?” tanya Wei Linglong, yang terasa seperti sebuah tantangan.


“Mengapa tidak?”


“Seberapa jauh jarak desanya?”


“Cukup ikuti arah sungai ini ke hilir.”


Wei Linglong tersenyum menantang. Istirahatnya sudah cukup, saatnya kembali menjalankan tugas. Di hari yang tidak terlalu bersahabat ini, kedua orang itu telah pergi menyusuri sungai beku Jiangzhou.


...***...


...Kira-kira, Linglong bisa nggak ya bikin rancangan tanggul? Atau dia malah menghancurkan kepercayaan dan ekspektasi Murong Qin? ...