
*Episode ini khusus berisi perbincangan sesama pria, yang mau baca ya baca, yang mau skip juga boleh, hihihi*
....
Satu hari setelah keluarga kerajaan kembali ke istana, Murong Qin menyuruh seorang bawahan mengirimkan sepucuk surat ke kediaman Adipati Jing. Entah setan apa yang telah merasuki tubuhnya hingga hingga dia bisa melakukan hal itu, padahal sebelumnya jelas-jelas dia tidak menyukai hubungan ipar atau hubungan atasan dan jabatan dengan Wei Shiji.
Murong Qin hanya merasa kalau kakak iparnya perlu tahu kondisi Wei Linglong setelah kejadian pada saat upacara kerajaan hari kemarin. Tidak ada yang tahu kalau dia sedang mencoba memperbaiki hubungannya dengan kediaman Adipati Jing setelah bertahun-tahun berperang dingin selain dirinya sendiri.
Sejak pulang dari Jiangzhou, Murong Qin menyadari kalau dia mungkin telah salah paham pada Wei Shiji. Selama ini dia terlalu khawatir karena kekuatan sang Adipati Jing, padahal apa yang dia takutkan hanyalah dirinya sendiri. Murong Qin juga tahu kalau orang yang membantu pasukan rahasianya mengejar para pembunuh yang mencoba mencelakainya di tebing bersalju hari itu adalah para bawahan Wei Shiji yang diutus untuk membantunya.
Keluarga Wei memang berbeda. Baik Jenderal Yun, Adipati Jing, maupun Selir Chun, semuanya tidak pernah menaruh dendam pada kekaisaran meskipun mereka seringkali terinjak-injak, bahkan sampai harus dipaksa pensiun. Inilah yang membuat Murong Qin berpikir berulang kali.
Liu Ting memberitahunya kalau Adipati Jing datang dan sudah menunggu di depan Istana Yanxi. Ketika mengetahui hal ini, Murong Qin segera mempersilakan kakak iparnya masuk. Sosok Wei Shiji yang jenaka tampak gagah dan anggun dengan balutan jubah pejabat kerajaan yang membungkus tubuhnya. Dia bahkan tersenyum lebih dulu sebelum menunduk memberi hormat.
“Tidak tahu apa yang menyebabkan Yang Mulia mengirimiku surat dan memintaku datang kemari. Apa Yang Mulia berkenan memberitahuku?” tanya Wei Shiji penuh hormat.
“Adipati Jing, jangan terlalu sungkan.”
Wei Shiji dipersilakan duduk di kursi tamu. Pria itu memandangi isi aula Istana Yanxi, lalu mengangguk-nganggukkan kepala. Kaisar Mingzhu punya selera yang bagus, pikirnya. Tentu saja, bagaimana mungkin istana seorang Kaisar begitu sederhana?
“Bagaimana keadaan adikku?”
“Hanya lengannya yang terluka. Selebihnya tidak apa-apa.”
“Hah, anak nakal ini. Sudah sebesar itu pun masih tertipu juga,” seloroh Wei Shiji.
“Dia juga pernah tertipu?”
“Kalau dia tidak pernah tertipu, mana mungkin dia bisa masuk ke dalam istana sebagai selir. Sebenarnya juga tidak bisa menyalahkan dia. Kami keluarga Wei yang terlalu terburu-buru dan gegabah.”
Murong Qin memahami itu. Wei Linglong tidak akan masuk ke dalam harem jika keluarganya tidak terburu-buru menihkahkannya hingga mendapat bencana yang memalukan itu. Entah itu adalah sebuah keberuntungan atau kemalangan, tidak ada yang pernah tahu.
“Aku ingin memahaminya lebih dalam.”
Perkataan Murong Qin yang blak-blakan membuat Wei Shiji terkejut. Dia menatapnya, memastikan apakah pria yang duduk di singgasana itu adalah Kaisar Mingzhu yang agung atau bukan. Sebelumnya, dia sudah bersyukur karena Murong Qin mau menerima Wei Linglong, tetapi tidak menyangka kalau Murong Qin mulai menaruh hati padanya.
Bahaya? Tentu saja! Di istana ini, siapa yang tidak bisa bertindak kejam? Jika Murong Qin benar-benar jatuh hati pada adiknya, kecemburuan seratus selir dan tujuh puluh Nona Kekaisaran di Istana Dalam akan tumpah semua pada Wei Linglong, belum lagi Permaisuri Yi yang pencemburu itu.
Wei Shiji tahu kalau Permaisuri Yi juga mengibarkan bendera perang kepada adiknya. Kalau sampai dia tahu Murong Qin menaruh hati pada salah satu selir, maka dunia kiamat di harem tidak bisa dihindari lagi. Permaisuri Yi memiliki Ibu Suri dan beberapa menteri yang mendukungnya. Dia bisa bertindak apa saja yang dia inginkan, termasuk mencelakai Wei Linglong saat posisinya terancam.
Keraguan itu menjalar begitu saja. Wei Shiji bukannya tidak percaya, tetapi hanya mengkhawatirkan keselamatan adiknya. Akan tetapi, apakah dia bisa menghalanginya? Sejak ayahnya memutuskan mengantarkan dia ke istana, maka adiknya itu sudah tidak bisa kembali lagi. Wei Shiji tahu Wei Linglong tidak akan pernah bisa menghindar apalagi melarikan diri dari persaingan istana yang berbelit-belit dengan segala resiko yang ada.
“Yang Mulia yakin?”
“Awalnya aku masih ragu. Tapi, melihatnya berada dalam bahaya berkali-kali, aku mulai merasa kalau aku mulai menyukainya. Adipati Jing, aku tidak pernah terlibat perasaan seperti ini. Apa kau bisa membantuku?”
“Yang Mulia ingin mengungkapkannya atau menyembunyikannya?”
“Aku ingin mengungkapkannya, tetapi aku sadar bahaya yang ada jika mereka mengetahuinya.”
“Untuk apa takut? Adikku bahkan sudah memusuhi seorang permaisuri dan seorang ibu suri. Apa Yang Mulia berpikir dia akan takut?”
“Tapi bagaimana dengan Permaisuri Hong? Dia adalah kakak sepupunya. Kematiannya saja pasti belum bisa dia terima.”
“Hongxue berhati lembut. Dia justru akan senang karena suaminya menemukan seseorang yang disukai. Yang Mulia, ini sudah tujuh tahun. Jika Hongxue menjadi belenggu di hatimu, sudah saatnya kau melepaskannya. Lagipula Yang Mulia tidak pernah jatuh cinta padanya, untuk apa masih mengkhawatirkan ini?”
“Aku hanya takut dia akan menyalahkanku.”
“Bagaimana jika dia menolakku?”
Sungguh, ternyata seorang Murong Qin mempunyai sisi yang unik seperti ini. Dia bahkan belum mencoba mengatakannya, tetapi malah diserang kekhawatiran dan takut ditolak? Lelucon macam apa ini? Wei Shiji ingin sekali tertawa terbahak-bahak, tetapi dia sadar dirinya masih berada di dalam istana.
“Bukankah Yang Mulia berkata ingin memahaminya? Kalau begitu, cobalah untuk memahami dirinya terlebih dahulu. Perihal perasaan memang tidak bisa dipaksakan. Terkait bagaimana hasilnya, itu semua tergantung dari seberapa keras usaha yang Yang Mulia lakukan.”
Murong Qin hanya terdiam mendengarkan semua perkataan Wei Shiji. Selama ini dia terlalu sibuk memikirkan negara, menutup hati kecilnya hingga tidak ada seorang pun yang bisa mengetuknya. Ketika dia merasakan getaran di hatinya, dia justru merasa ragu akan beberapa hal yang tidak perlu.
“Yang Mulia, adikku adalah selirmu. Jika kau bisa mendapatkan hatinya, bukan hanya perasaanmu yang terbalas saja yang kau dapatkan. Kau juga bisa mendapatkan seluruh dunia selama kau mencintainya dengan tulus.”
“Seluruh dunia?”
Wei Shiji mengangguk.
“Linglong, meskipun seorang wanita yang urakan dan tidak tahu aturan, tetapi dia memahami hati seseorang lebih dari apapun. Jika dia menemukan sesuatu yang dia sukai, dia akan melindunginya sampai mati. Dulu, aku pernah memberinya sepasang merpati hitam. Dia menyayanginya, namun merpati itu mati ditembak anak panah tetangga. Yang Mulia tahu apa yang dia lakukan? Dia mengirimkan berpuluh peti bulu ayam dan menaruhnya di depan kediaman tetangga itu. Bau dari bulu ayam itu begitu menyengat. Berhari-hari kemudian, tetangga itu datang ke kediaman ayah untuk meminta maaf. Linglong menyuruh dia menghidupkan kembali sepasang merpatinya, namun tidak bisa hingga Linglong marah lagi dan memukuli tetangga itu sampai babak belur.”
“A-Ling di masa kecil cukup kejam rupanya.”
“Itu bukan kejam, itu hanya bentuk perlindungan terhadap apa yang dia miliki.”
“Apa dia bisa bela diri?” tanya Murong Qin.
“Bela diri? Adikku itu sangat nakal dan tidak pernah patuh. Ayah pernah menyuruhnya belajar beladiri, tetapi tidak pernah dia turuti. Sehari-hari hanya hobi berbuat onar, mana mungkin dia bisa beladiri?”
Aneh, pikir Murong Qin. Jika Wei Linglong tidak pernah belajar beladiri dari Jenderal Yun, dari mana datangnya kungfu yang dipergunakan untuk melawan para pembunuh di hutan itu? Walau gerakannya agak kaku dan tidak teratur, Murong Qin bisa melihat kalau jurus-jurusnya diajarkan dari seorang master kungfu yang hebat. Lalu apa maksud semua ini?
“Apa dia juga bisa berkuda?”
“Tidak. Sejak kecil dia takut menunggang kuda.”
“Aneh.”
“Dia terlihat berbeda beberapa waktu ini, bukan? Aku juga merasakannya. Adikku seperti berubah menjadi orang lain, tetapi aku masih bisa merasakan kalau dia adalah dirinya sendiri. Entah ada roh dari dunia mana yang merasuki adikku, tapi aku selalu tahu kalau dia tetap bisa menjadi dirinya sendiri.”
Murong Qin juga merasakannya. Wei Linglong penuh dengan kejutan. Dia bahkan ditipu wanita itu berkali-kali. Wei Linglong seperti sengaja menyembunyikan kemampuannya, namun gagal karena situasi yang memaksanya menunjukkan keahliannya. Murong Qin jadi semakin ingin memahami wanita itu.
“Benar. Dia bahkan tiba-tiba menjadi saudara dari Ratu Li.”
“Menurutku ini yang paling aneh. Bagaimana bisa dia punya saudara perempuan dari negara lain,” ucap Adipati Jing diselingi dengan tawa yang jenaka.
Murong Qin juga tertawa kecil. Ya, dia masih belum percaya kalau selirnya adalah saudara perempuan seorang ratu dari negara lain. Orang paling suci pun tidak akan bisa mempercayai pengakuan konyol itu. Wei Linglon terlalu banyak memendam rahasia yang sukar dia pecahkan.
“Yang Mulia, sudah saatnya aku kembali. Masih ada urusan yang harus aku selesaikan. Jika kau membutuhkan bantuanku, utuslah orangmu atau kirimkan lagi surat. Aku pasti akan membantumu.”
“Ya, Adipati Jing.”
Perbincangan keduanya terhenti sampai di sini. Wei Shiji memohon diri, kemudian keluar dari Istana Yanxi diantar Liu Ting. Putra pertama Jenderal Yun tersebut memang jenaka dan berpikiran terbuka. Pantas saja saat masih berada di pengadilan istana, beberapa pejabat sering marah dan kesal karena gayanya yang seperti itu.
Ternyata, memang menyenangkan memiliki teman bicara.
...***...
...Wah, Murong Qin udah mulai ambil start nih buat ungkapin perasaannya. Kira-kira apa yang yang bakal dia lakukan? Apa Linglong akan menerimanya? Cari tahu jawabannya di episode selanjutnya ya! Stay tune terus kawan-kawan! ...