
“Apa! Mereka memukulmu?”
Li Anlan menggebrak meja di dekat ayunan dengan keras hingga bunyinya berderak ketika Wei Linglong selesai bercerita. Wajahnya memerah karena marah. Li Anlan sungguh tidak menyangka kalau adik kelas sekaligus teman lamanya mengalami hal seperti itu di sini.
“Di mana mereka sekarang? Aku akan memberi pelajaran pada mereka karena telah berani memukuli adikku!” seru Li Anlan sembari bangkit. Amarahnya yang meledak-ledak membuat Wei Linglong menghela napas panjang.
“Jangan! Kau adalah tamu agung di sini. Kalau kau bertindak, mereka hanya akan mempersulitmu. Kakak, apa kau ingin citramu sebagai Ratu Agung Dongling rusak hanya karena aku?”
“Tapi mereka sudah keterlaluan!”
“Bagaimanapun alasannya, ini bukan otoritasmu. Kita berada di dua negara yang berbeda, aturannya juga berbeda. Tahan emosimu, biar Langit saja yang membalas mereka.”
Li Anlan sangat marah. Wei Linglong menceritakan perbuatan Ibu Suri dan Permaisuri Yi yang selalu ingin mempersulitnya. Di saat pertama kali masuk istana, Wei Linglong yang dimasukkan ke dalam Istana Dingin masih saja diincar oleh kedua wanita itu. Duduk perkara yang menyebabkan perselisihan tersebut bahkan tidak jelas dan tidak bisa dikategorikan sebagai konflik bagi Li Anlan.
Di Istana Dongling, Li Anlan bahkan pernah menceburkan selir rajanya ke danau dan menakut-nakuti mereka sebagai hantu hingga mereka dikeluarkan dari istana karena menyinggungnya.
Jika dia adalah Wei Linglong, sekalipun itu Ibu Suri atau Permaisuri, dia akan membalasnya dengan cara yang lebih parah. Teman lamanya ini justru malah membiarkan dirinya sendiri dipukuli!
Apa yang dikatakan oleh Wei Linglong memang masuk akal. Li Anlan adalah tamu di kekaisaran Dinasti Yuan, yang segala aturannya mengikuti hukum di sini. Tempat ini bukan wilayah kekuasaannya hingga dia tidak bisa bertindak seenaknya. Kalau dia bertindak sekarang, dia hanya akan mencelakai dirinya sendiri dan mencelakai Wei Linglong.
Tetapi, dia bersumpah akan membalas perbuatan Permaisuri Yi dan Ibu Suri negara ini atas perbuatannya kepada Wei Linglong bagaimanapun caranya! Perangai dia yang tidak suka ditindas berlaku untuk semua orang yang kenal dengannya. Dia harus membantu membalaskan dendam Wei Linglong.
“Kau memang pintar. Aku memang tidak bisa bertindak sembarangan. Akan tetapi, karena kau adalah saudaraku, maka aku masih bisa melakukan sesuatu. Linglong, bukankah hubungan keluarga perempuan selalu menjadi topik pembicaraan yang seru?” tanya Li Anlan sembari tersenyum misterius.
“Kau ingin mengerjai mereka?”
“Tentu saja. Aku ingin lihat seperti apa kemampuan Ibu Suri dan Permaisuri dari negara ini.”
Wei Linglong menghembuskan napas. Teman lamanya ini sudah berubah sangat banyak. Dulu, Li Anlan hanyalah seorang gadis remaja berperangai dingin dan acuh tak acuh, yang paling terkenal seantero sekolah.
Dia adalah tipe wanita mandiri yang menyukai kebebasan dan selalu menghindar dari keterikatan. Sekarang, setelah lebih dari sepuluh tahun tidak bertemu, Li Anlan menjadi sosok yang begitu berbeda.
Bukan hanya kecantikannya yang semakin menawan, tetapi perangainya juga ikut berubah. Dia menjadi wanita yang sangat tegas dan pintar. Orang mungkin menyebut dia licik, tetapi Wei Linglong sangat tahu kalau Li Anlan hanya berusaha mempertahankan apa yang seharusnya ia pertahankan saja.
Wei Linglong mengagumi pencapaian luar biasa yang telah diraih oleh Li Anlan. Setelah menjalani serangkaian perjalanan hidup yang berliku dan penuh marabahaya, teman lamanya telah meraih posisi mulia dan tinggi, yang tidak hanya dihormati sebagai atasan, tetapi juga begitu dicintai oleh semua orang. Wei Linglong mengagumi perjuangan wanita itu yang berjalan dengan kakinya sendiri, mencapai kemenangan tanpa menginjak darah kepala orang lain.
Hidup selama lebih dari tujuh tahun di Istana Dongling telah membuat Li Anlan menjadi wanita tangguh nan kuat. Di belakangnya ada Raja Long, Long Ji Man, yang menepati janjinya untuk beristri satu dan tetap setia hingga sekarang.
Segala macam intrik dan pertarungan di harem berhasil dia singkirkan dengan memecat semua selir dan membebaskan mereka, membiarkan mereka hidup dengan pilihan masing-masing tanpa keterpaksaan.
Pantas saja dia dikelilingi oleh orang-orang baik. Wei Linglong mengagumi kemampuan ajaib Li Anlan yang membuat wanita itu bisa berjalan ke manapun tanpa rasa takut. Dia adalah sosok wanita sempurna yang sangat luar biasa di mata Wei Linglong, terutama pada reuni setelah lebih dari sepuluh tahun.
“Mahkotamu sangat indah, Kakak.”
“Kau ingin memakai benda berat ini?”
Pertanyaan Li Anlan tentu merujuk pada arti lain. Sadar akan hal tersebut, Wei Linglong langsung menggelengkan kepala. Senyum di wajahnya mengembang seperti bunga, kemudian dengan yakin dia berkata: Tidak. Wei Linglong juga menggenggam tangan Li Anlan dengan lembut.
“Mengapa?”
“Aku hanya ingin hidup damai. Untuk apa menukarkan kebebasanku hanya untuk benda berat itu?”
“Ya… Jalan hidup setiap orang memang berbeda. Apa Kaisar Mingzhu memperlakukanmu dengan baik?”
“Lumayan. Dia hanya belum membayarkan gajiku selama setengah tahun saja.”
“Hei, mengapa kau tidak mendemonya? Kau tahu, uang adalah penyambung kehidupan. Bagi pelintas seperti kita, uang menjadi pilar yang menyangga kehidupan kita.”
“Aku sudah mengatakannya. Murong Qin terlalu sibuk mengurusi penyambutan kalian, dia mungkin melupakan protesku.”
“Ah, begitu ya. Apa kau sudah jatuh cinta padanya?”
Wei Linglong mendelik. Cinta? Apa maksudnya? Dia saja sering kesal pada pria beranak satu itu! Tidak hanya tidak ada cinta, bahkan rasa suka pun masih terasa abu-abu. Yang jelas, Wei Linglong tidak bisa menggetarkan hatinya saat ini. Dia bukan orang bodoh yang mudah jatuh cinta hanya karena diperlakukan dengan baik oleh seorang pria.
“Hati-hati, kau bisa memakan hatimu sendiri.”
“Kakak, berhenti menggodaku.”
“Baiklah, aku tidak akan menggodamu lagi. Linglong, ada hal penting yang harus kuberitahukan kepadamu. Kita adalah manusia dari zaman yang sangat jauh berbeda dengan dunia ini. Kau harus lebih cerdik dan waspada, jangan biarkan orang lain menindasmu lagi. Aku tidak mau kau mati sia-sia hanya karena bersikap acuh tak acuh pada lingkungan sekelilingmu. Situasi di dunia ini dapat berubah dalam hitungan detik.”
“Wah, kau ternyata jauh lebih pandai dan peka. Baiklah, aku akan mengingat nasihatmu.”
Angin musim semi berhembus menepuk wajah kedua wanita itu. Matahari sudah mulai menenggelamkan diri. Di atas Danau Dongting, semburat merah melukis angkasa yang jernih. Senja, sudah senja ternyata. Kedua wanita itu terlalu asyik bercengkerama hingga lupa waktu.
Cekrek.
“Jarang-jarang ke luar negeri. Aku harus mengabadikannya dengan baik,” seloroh Li Anlan sambil mengarahkan benda tersebut ke bagian langit yang lain.
“Ah, Tuhan sungguh tidak adil!” seru Wei Linglong kesal.
“Ah?”
“Lihat, kau datang membawa serta peralatan dari masa kita. Bahkan ponsel saja bisa dibawa dan masih bertahan, mengapa aku datang tidak membawa apapun? Bahkan aku saja terbangun di ranjang Istana Dingin yang sepi!”
Li Anlan tergelak. Apa teman lamanya ini sedang iri padanya?
“Linglong, waktu dan cara kita berpindah dimensi berbeda, segala sesuatunya tentu juga berbeda!” ucap Li Anlan dengan nada jenaka.
Wei Linglong menatap angkasa yang diselimuti lembayung senja. Matanya yang semula buram sudah jernih seperti sedia kala. Racun Tujuh Warna sepertinya telah menghilang dari retina matanya. Jernih, seperti air di Danau Dongting yang menggoda semua orang untuk menikmati sensasi sejuk yang menenangkan.
Dua wanita dari dua negara tersebut sama-sama diam. Mereka larut dalam pikiran masing-masing, menyelami setiap kisah hidup yang membuat mereka harus mengalami kematian dan kelahiran di tempat yang berbeda. Bisakah Wei Linglong menjadi seperti Li Anlan?
Ketika mereka larut dalam pemikiran masing-masing, Xiaotan datang dari halaman belakang sembari menuntun tiga bocah seumuran dengan wajah lelah. Dua bocah berwajah mirip berlari ketika melihat Li Anlan duduk di samping Wei Linglong sembari berteriak kegirangan.
“Ibunda!” teriak Long Ji San.
“Wah, wanita yang sangat cantik!” seru Long Ji Shi.
Sementara itu, Murong Yu dan Xiaotan hanya saling berpandangan polos.
Wei Linglong menatap sepasang bocah kecil yang sempat menyebutnya biarawati. Setelah penutup matanya dibuka, dia baru tahu kalau dua bocah itu memiliki wajah Li Anlan. Rupanya, mereka adalah anak-anak yang dicari oleh Li Anlan. Pantas saja mereka begitu pandai berbicara, orang tuanya adalah sepasang manusia hebat dalam sejarah kerajaan tetangga.
Berkat Long Ji San dan Long Ji Shi, dia bisa bertemu dengan Li Anlan. Andai dua bocah kembar itu tidak mengejar Murong Yu, selamanya Wei Linglong tidak akan tahu kalau masih ada penjelajah waktu yang sama dengannya di belahan dunia lain. Entah ini sebuah berkah atau musibah.
“Anak nakal! Kemari kalian!”
Li Anlan hendak menjewer telinga anak-anak nakalnya, namun dicegah oleh Wei Linglong. Long Ji San dan Long Ji Shi bersembunyi di belakang Xiaotan. Mereka baru saja selesai bermain di belakang Istana Fenghuang seharian bersama pelayan itu. Sungguh, dua bocah itu tidak tahu kalau ibu mereka mencarinya sampai ke Istana Fenghuang.
“Mereka hanya anak-anak.”
“Tapi pengacau itu sudah membuatku berkeliling ke sana kemari seperti anjing yang kehilangan anaknya. Kemari, aku akan mengajari mereka!”
“Kakak, sudahlah. Lihat, mereka bermain bersama Xiao Yu.”
“Xiao Yu?”
Li Anlan kemudian menatap anak laki-laki berusia tujuh tahun yang tangannya digenggam Xiaotan. Pakaian anak itu mewah, itu berarti identitasnya tidak biasa. Wei Linglong kemudian memberitahu bahwa Xiao Yu yang dia maksud adalah Murong Yu alias Pangeran Yu atau Pangeran Sulung, putra pertama Kaisar Mingzhu dengan mendiang Permaisuri Hong.
Dia juga menjelaskan perihal kelahiran Murong Yu berdasarkan apa yang dia dengar dari Xiaotan. Setelah mendapat penjelasan yang begitu panjang, barulah Li Anlan mengangguk tanda mengerti. Rupanya, Kaisar Mingzu telah berputra. Bocah kecil itu memiliki kisah yang lumayan menyayat hati. Murong Yu berlari ke pelukan Wei Linglong. Dia senang karena bisa melihat wajah bibinya secara utuh, tanpa menggunakan penutup mata dari kain putih lagi.
“Bibi, apa wanita di sampingmu adalah Ratu Li?” tanya Murong Yu. Matanya yang kecil menatap Li Anlan dengan polos.
“Ya. Dia adalah Ratu Li,” jawab Wei Linglong.
“Namamu Murong Yu, kan?”
Murong Yu mengangguk.
“Aku adalah saudara bibimu. Jadi, aku adalah bibimu juga.”
“Ratu Li adalah bibiku? Tapi, kau bermarga Li, bukan Wei.”
“Ibunda, apakah wanita cantik itu adalah saudara jauhmu?” Long Ji Shi memotong pembicaraan.
“Ya.”
“Oh, aku punya bibi yang sangat cantik!” seru Long Ji San.
Wei Linglong dan Li Anlan tertawa bersama. Rasa kesal Li Anlan pada anak-anak nakalnya menghilang seiring dengan hilangnya cahaya merah di angkasa. Malam sudah mendekat. Xiaotan yang tidak mengerti kemudian mulai menyalakan lilin dan lentera hingga Istana Fenghuang menjadi terang. Keindahannya seperti bongkahan emas yang bersinar di bawah bulan purnama.
Di pintu gerbang Istana Fenghuang, dua orang pria berjubah sutera dan bermahkota, bertubuh gagah dan tinggi kekar, memandangi mereka dengan raut wajah bingung. Keduanya berdiri seperti patung batu, menyaksikan interaksi para wanita dan tiga bocah kecil dalam ketidakpercayaan.
“Apa yang sedang kalian lakukan?” tanya salah satu pria berjubah putih tulang.
Wei Linglong dan yang lainnya kemudian mengalihkan pandangan ke sumber suara, lalu menatap kedua pria tersebut dengan acuh tak acuh. Pria yang tadi bertanya mengerutkan kening, kemudian mengepalkan tangan. Hatinya berteriak: Beraninya dia mengabaikanku!
...***...
...Bentar ya Author mau tarik napas dulu. Nanti kalau sempat, Author up lagi episode lainnya. ...