The Legend Of Chunfei

The Legend Of Chunfei
SIDE STORY 1: LIKE A DREAM



Pada tahun kelima setelah pemberontakan mantan permaisuri, Kaisar Mingzhu baru mengumumkan dekret pengangkatan putra mahkota. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada mendiang Selir Chun yang telah berjasa besar.


Di taman Istana Fenghuang, Kaisar Mingzhu biasanya menghabiskan waktunya sendirian. Ditemani kicauan burung dan segarnya udara, dia kembali menjadi penguasa Istana Fenghuang. Sejak Selir Chun meninggal, sang kaisar mengambil alih kembali istana megah tersebut.


Sang Putra Mahkota kini sudah berusia tiga belas tahun. Hampir setiap hari dia datang ke Istana Fenghuang hanya untuk melihat tempat tinggal ibunya, yang kini digunakan ayahnya sebagai tempat merenung.


Ada banyak kenangan yang tersimpan di dalam Istana Fenghuang ini. Kaisar Mingzhu begitu mengistimewakannya sampai tidak mengganti pelayan atau menggeserkan barang satu sentimeter saja.


Hal menarik lain yang terjadi ialah fakta bahwa Kaisar Mingzhu tidak pernah mengunjungi makam Selir Chun setiap tahunnya. Bagaimana bisa seorang pria sepertinya mengabaikan wanita tercintanya?


Itu dilakukan untuk menghindari kesedihan berlebih, juga menuruti keinginan Selir Chun sendiri.


Pada suatu masa di musim semi, Putra Mahkota datang ke Istana Fenghuang mengunjungi ayahnya. Di ayunan yang dulu sering digunakan bersama-sama, ayahnya sedang duduk menatap angkasa. Wajah itu masih tampan untuk pria berumur tiga puluhan sepertinya.


Ayahnya terlihat lelah. Ada tekanan batin yang begitu besar ketika Putra Mahkota mendatanginya. Aura sang kaisar masih kuat, tak lekang meski setiap hari berwajah murung ketika sendiri.


"Ayahanda, kau di sini."


Sang Kaisar mendongak untuk mendapati wajah putra sulungnya yang sudah tumbuh tinggi. Melihat wajahnya, Kaisar Mingzhu tertegun sejenak, mendalami dan menelisik setiap inci wajah putranya. Putra Mahkota memiliki setengah dari wajahnya ketika muda dulu, hanya saja lebih putih karena anak ini tidak pernah pergi berperang di bawah sinar matahari sepertinya.


Dan sungguh, putranya mengingatkannya pada keceriaan Selir Chun yang selalu tampil apa adanya. Anak ini juga mewarisi sifat ibunya yang ceria dan apa adanya. Itu membuat Kaisar Mingzhu kembali tertegun selama beberapa saat.


"Kau sudah menyelesaikan studimu?"


Putra Mahkota mengangguk. Semakin bertambah usia, semakin banyak pula pelajaran yang harus dia pelajari. Apalagi sekarang dia telah menjadi Putra Mahkota, beban pelajarannya bertambah berkali lipat.


"Duduklah."


Putra Mahkota duduk di samping ayahnya. Lima menit pertama keduanya saling diam. Interaksi mereka sebenarnya tidak seperti ini, mungkin karena Kaisar Mingzhu sedang dalam suasana hati yang tidak baik yang membuat situasi di antara mereka begitu canggung.


"Besok kunjungilah makam ibumu dan ibundamu," titah Kaisar Mingzhu. Putra Mahkota hanya mengangguk patuh.


"Ayahanda, ibu pasti pulang dengan selamat, bukan?"


"Apa maksudmu, putraku?"


"Ibu pernah berkata bahwa di masa depan, dia punya seorang guru yang disebut profesor. Karena ibu tidak di sini lagi, dia mungkin sudah pulang ke masa depan."


Perkataannya berbelit namun masih dapat dimengerti. Hanya saja, Kaisar Mingzhu tidak yakin apakah itu benar atau tidak. Masa depan? Apa orang benar-benar bisa melintasi waktu ke masa lampau dan menempati tubuh seseorang untuk melanjutkan hidupnya?


Jika ya, mungkin orang dari masa lalu juga bisa melintas ke masa depan, bukan?


Hanya itu kesimpulan bodoh yang dapat diputuskan Kaisar Mingzhu. Katakanlah Selir Chun, adalah jiwa yang berasal dari dunia lain lain melanjutkan hidup pemilik sebelumnya. Jika tubuh telah mati, mungkin jiwanya kembali ke masanya, kembali ke tubuh aslinya.


Konyol, memang. Kaisar Mingzhu agak terhibur dengan gagasan bahwa Selir Chun sebenarnya masih hidup. Wanita itu hanya pulang ke dunia asalnya karena kontrak hidupnya di dunia ini sudah berakhir. Kaisar Mingzhu sedikit menaruh harapan, berpura-pura bahwa wanita itu baik-baik saja.


"Ayahanda, seperti apa dunia masa depan? Ibu bilang, di sana kita tidak perlu menjaga batasan status. Dia juga bilang kalau kereta penumpang jauh lebih cepat dibandingkan yang sekarang."


Anak tiga belas tahun itu lagi-lagi mengungkit cerita perihal dunia yang asing. Hal ini hanya membuat Kaisar Mingzhu semakin yakin bahwa wanita itu memang berasal dari sana. Atau mungkin itu hanyalah imajinasinya saja karena Selir Chun sangat cerdas dan hebat.


"Masa depan itu seperti mimpi. Kau hanya bisa melihatnya, menikmatinya dalam sekejap."


"Bukankah hari kemarin juga seperti mimpi? Ada banyak kejadian menyedihkan dan membahagiakan, tetapi esoknya bukankah kita masih baik-baik saja? Ayahanda, itu sama seperti konsep mimpi."


Baik masa lalu, atau masa depan, semuanya memang seperti sebuah mimpi. Dia bertemu dengan Selir Chun, jatuh cinta, lalu kehilangan dia. Itu mengalir seperti mimpi indah yang berakhir pahit. Mirip sebuah drama tragika yang mempertontonkan kisah hidup tragis seseorang.


"Ya. Karena hidup ini memang sebuah mimpi."


Kaisar Mingzhu mengacak rambut putranya. Putra Mahkota tersenyum kecil. Dia juga berharap ibunya benar-benar masih hidup di dunia yang lain. Tidak peduli dunia apapun itu, asalkan masih hidup, takdir pasti berpihak pada mereka.


Setidaknya, hanya inilah satu-satunya harapan terakhir mereka kepada mendiang Selir Chun.


...***...