
Pagi harinya, Murong Qin terbangun lebih awal daripada istrinya. Pria itu membuka mata, lalu mendapati Wei Linglong dalam pelukannya. Tubuh mereka masih polos, bergelung di bawah selimut sutera yang lembut. Senyum cerah terbit di bibir pria itu, perlahan dia mencium puncak kepala Wei Linglong dengan lembut, menyesap aroma minyak rambut persik yang masih tersisa.
Murong Qin beringsut. Tangannya terulur meraih jubah tidurnya di lantai, lalu menggunakannya untuk menutupi tubuh telanjangnya. Walaupun tubuhnya masih lelah, namun dia tidak bisa mengabaikan tugasnya sebagai seorang kaisar. Murong Qin masih harus hadir di pengadilan Istana Yanzhi meskipun hatinya tidak ingin pergi dan masih ingin memeluk wanitanya.
Percintaan semalam kembali terbayang. Murong Qin kembali tersenyum ketika dia mengingat momen itu, momen yang terjadi atas dasar cinta dari kedua belah pihak, sebuah hubungan yang murni tanpa paksaan.
Jika ditanya kapan momen bahagia seorang Kaisar Mingzhu, maka Murong Qin akan dengan senang hati menjawab bahwa kemarin malam adalah momen paling membahagiakan dalam hidupnya. Dia pada akhirnya mengetahui kalau wanita yang dicintainya juga mencintainya kembali.
“A-Ling, tunggu aku kembali,” ucap Murong Qin sambil mencium kening Wei Linglong. Setelah itu, dia bergegas untuk membersihkan diri.
Lima belas menit setelah Murong Qin pergi ke pengadilan, Wei Linglong baru terbangun. Secara setengah sadar, dia bangkit, lalu melihat ke sekeliling. Wei Linglong merasa linglung karena dekorasi kamar yang dia tempati berbeda dengan dekorasi kamar Istana Fenghuang. Di mana ini?
Indera penglihatannya lantas menemukan seonggok pakaian istana tersampir di dekat ranjang, lengkap dengan jubah dan aksesorisnya. Seketika, dia langsung membelalakkan mata. Wei Linglong melihat ke dalam selimut dan mendapati kalau tubuhnya masih telanjang tanpa sehelai kain!
Wanita itu buru-buru membungkus tubuhnya dengan selimut. Bayangan mengenai kejadian semalam berkelebat seperti lembaran kertas yang diterbangkan, datang kepadanya silih berganti. Malu, senang, dan gelisah menjadi satu, menimbulkan semburat merah di wajahnya yang sedikit berminyak. Sisa percintaan semalam masih membekas di tubuhnya.
“Nyonya, air mandinya sudah siap,” seru seorang pelayan. Bukan Xiaotan, mungkin pelayan Istana Yanxi.
Wei Linglong segera turun dari tempat tidur. Matanya melihat noda merah di sana, kemudian dia langsung menggulung seprai tersebut dengan buru-buru. Sial, mengapa ada bekas seperti itu? Pantas saja semalam dia merasa sakit karena dia tentu masih sangat virgin.
Seorang pelayan wanita kemudian masuk. Melihat Selir Chun membalut tubuhnya dengan selimut, pelayan itu turut merasa malu. Dia salah tingkah, hanya bisa menundukkan kepala sembari menyembunyikan wajahnya yang ikut memerah. Ini benar-benar tidak biasa.
“Nyonya, biarkan hamba yang mencucinya,” ucap pelayan itu sembari meminta seprai yang digulung Wei Linglong.
“Tidak, biar aku saja!” Wei Linglong menolak.
“Nyonya, pekerjaan seperti ini tidak pantas dilakukan oleh nyonya. Biar hamba saja yang melakukannya,” pinta pelayan itu lagi.
Wei Linglong tetap menolak.
“Nyonya, sebagai seorang wanita raja, hamba mohon biarkan hamba yang mencucinya. Nyonya tidak boleh melakukannya sendiri. Yang Mulia bisa marah dan menghukum hamba,” terang pelayan itu.
Wei Linglong terdiam sesaat. Nada bicara pelayan tersebut terkesan takut namun dia tahu kalau pelayan di hadapannya menyimpan sebuah tanda keharuan yang menyeruak. Wei Linglong bukan tidak tahu sejarah di Istana Yanxi dan Murong Qin yang selama bertahun-tahun tidak pernah dimasuki wanita dari harem. Apa pelayan ini akhirnya terkesan kepadanya?
Meskipun ragu, akhirnya Wei Linglong menyerahkan gulungan seprai tersebut. Baiklah, dia tidak ingin menyusahkan pelayan ini dengan mempersulit pekerjaannya. Walaupun Wei Linglong malu, namun di Istana Yanxi ini aturan adalah aturan. Seorang selir kaisar tidak boleh mencuci sendiri, meskipun darah di kain tersebut adalah darahnya.
Wei Linglong langsung menceburkan dirinya ke bak mandi berisi air hangat yang ditaburi dengan kelopak bunga mawar merah. Seluruh tubuhnya yang kelelahan terasa rileks berkat aroma wewangian yang ditabur bersama kelopak mawar tersebut. Dia menggosok tangannya, lalu menggosok bahu dan bagian leher. Bagian bawah tubuhnya terasa pegal dan sakit, namun tidak sesakit saat semalam.
Tanpa dia sadari, seseorang sudah berdiri di belakangnya dalam balutan jubah kerajaan berwarna hitam bersulam benang emas berpola naga.
“Apa kau sangat menikmatinya?” tanya orang itu.
Wei Linglong seketika mendongak, lalu mendapati Murong Qin tengah menatapnya dengan senyuman paling indah yang pernah dia lihat.
“Yang Mulia? Bukankah kau pergi ke pengadilan?”
“Aku meliburkannya. A-Ling, aku sangat merindukanmu.”
Murong Qin mengecup kening Wei Linglong dari atas. Wajah wanita itu bersemu merah. Murong Qin bersikap begitu lembut.
“Apa Yang Mulia sudah linglung? Kita baru saja berpisah kurang dari satu jam,” ucap Wei Linglong. Wanita itu lupa kalau dia masih berendam di dalam air hangat.
Wei Linglong menggelengkan kepala. Entah mengapa dia merasa menyesal telah mengakui perasaannya pada pria itu lebih cepat. Murong Qin seorang kaisar yang bisa berbuat apa saja, hari ini dia bahkan meliburkan pengadilan dan mengatakan kalau dia merindukannya, bukankah ini terlalu kekanak-kanakan?
Jika tahu begini, Wei Linglong sebaiknya tetap menggantungkan perasaannya. Murong Qin seperti remaja yang baru pertama kali jatuh cinta, padahal usianya jelas-jelas hampir kepala tiga, sudah punya anak pula. Di kemudian hari, akan sulit bagi Wei Linglong untuk menghadapi tingkah lakunya.
Seandainya dia bisa menahan diri dan tidak terbakar api ketika Permaisuri Yi berbicara dengan Murong Qin, Wei Linglong mungkin masih menjadi seorang selir biasa sekaligus menteri pengawas rahasia yang misterius. Tetapi, itu semua telah menjadi berbeda karena semalam, semuanya sudah berbeda. Dia bukan lagi selir biasa yang disukai Yang Mulia, tetapi seorang wanita raja yang selamanya tidak akan bisa melepaskan diri.
“Yang Mulia, apa kau bisa keluar sebentar? Aku hendak berpakaian.”
“Untuk apa aku keluar?”
“Lantas, apakah Yang Mulia ingin melihatku memakai pakaianku?”
Murong Qin berkata dengan polos,
“Aku sudah melihat semuanya. Apa yang tidak aku ketahui perihal tubuhmu?”
Pertanyaan tersebut sontak membuat Wei Linglong menghempaskan tangannya hingga air memercik ke wajah Murong Qin. Pria ini! Bisakah tidak mengatakan hal vulgar seperti itu? Mereka memang telah melakukan penyatuan semalam, namun itu bukan berarti Murong Qin bisa menggodanya sesuka hati!
“Yang Mulia! Tolonglah!” pinta Wei Linglong.
“Tidak mau!”
“Yang Mulia, ayolah! Keluarlah sebentar, aku tidak akan kabur!”
“Aku tidak percaya.”
Wei Linglong tidak tahu bagaimana caranya agar pria ini pergi. Menunggu beberapa menit lagi memang bisa, tetapi kulitnya bisa jadi keriput karena terlalu lama berendam. Sial, pakaiannya juga tersampir cukup jauh hingga tangannya tak mampu menjangkaunya. Dia melirik Murong Qin, yang masih berdiri tegak sambil memperhatikannya.
Murong Qin ingin tertawa. Sungguh sangat seru menggoda wanitanya seperti ini. Wei Linglong wanita yang polos, mudah marah. Begini saja wajahnya sudah sangat merah seperti diolesi bubuk cinnabar.
“Karena Yang Mulia tidak mau pergi, kalau begitu tetap berdiri di sana dengan tegak. Aku akan tetap di sini sampai kulitku keriput dan Yang Mulia tidak akan menyukainya lagi!” tegas Wei Linglong yang mulai kesal.
“Aku mencintaimu, bukan mencintai tubuhmu. Kalaupun kulitmu keriput dan wajahmu jadi jelek, atau rambutmu memutih, aku akan tetap mencintaimu,” tukas Murong Qin sambil tetap tersenyum.
“Ah! Bagaimana caranya mengusir pria ini pergi?” racau Wei Linglong frustasi.
Melihat wanitanya mulai kesal, Murong Qin menghentikan godaannya.
“Baiklah. Kau berpakaianlah. Aku akan menunggumu di luar. Hari ini kita akan pergi,” ucap Murong Qin. Mata Wei Linglong seketika berbinar cerah.
“Jalan-jalan? Keluar istana? Sungguh?”
Murong Qin mengangguk.
“Yeah! Baiklah, aku akan segera berpakaian. Yang Mulia, ayo cepat keluar!”
Murong Qin mengacak rambut Wei Linglong, lalu membiarkan wanita itu memakai pakaiannya.
...***...