
"Ada apa?"
Murong Qin menatap seorang pemuda berpakaian militer yang berlutut di depan istananya.
"Yang Mulia, mohon maafkan kelancangan hamba karena mengganggu istirahat Yang Mulia. Tetapi, ada hal mendesak yang harus hamba laporkan," ucap orang itu. Murog Qin melengang masuk ke dalam, pertanda bahwa dia mau bicara dan mendengarkan laporannya.
"Jenderal Jin, silakan masuk." Liu Ting mempersilakan sang jenderal untuk mengikutinya.
Jenderal Jin, jenderal muda penjaga perbatasan utara mengeluarkan sesuatu dari tubuhnya, lalu berlutut sembari memohon agar Murong Qin membaca selembar kertas laporan yang susah payah dia bawa.
Ketika Murong Qin membaca laporan tersebut, kemarahan yang sempat padam kembli membara. Kali ini, dia benar-benar marah hingga membanting laporan tersebut ke lantai.
"Bangsa Mongolia kembali menyerang perbatasan terluar Jiangzhou. Jenderal Yang berusaha mati-matian membantuku keluar dari sana untuk melaporkannya kepada Yang Mulia."
Jubah militer Jenderal Jin sobek di sana-sini. Selain luka di beberapa bagian tubuh, tidak ada yang terlihat baik darinya. Jenderal Jin adalah jenderal muda bawahan Jenderal Yang, satu dari tiga jenderal utama Dinasti Yuan, murid dari Jenderal Yongning dan pernah menjadi bawahan Jenderal Yun.
Melihat keadaanya yang begitu mengkhawatirkan, situasi di utara sana tampaknya benar-benar serius. Murong Qin tidak mudah percaya, namun kali ini dia tidak bisa menyangkal bahwa bangsa Mongolia memang ingin kembali berperang seperti dulu.
"Bagaimana keadaannya?" Suara sang kaisar memecah keheningan.
"Yang Mulia, situasi di sana sangat serius. Kamp militer sudah porak poranda hingga Jenderal Yang terpaksa memindahkan markas ke atas gunung," Sang jenderal berkata lagi.
"Ada ribuan rakyat yang nyawanya terancam. Mohon Yang Mulia segera mengirimkan pasukan bantuan," Sang jenderal memohon sambil bersujud.
Di medan perang, dia tidak pernah takut. Namun di hadapan kaisar, dia tetap seorang bawahan sekuat apapun dia. Jenderal Jin menghabiskan seluruh hidupnya di militer, tentu dia tahu betul apa yang akan terjadi ketika bangsa asing menginvasi bangsanya.
"Aku tahu. Berapa banyak pasukan yang kau butuhkan?"
"Jenderal Yang memohon bantuan empat ribu pasukan, Yang Mulia."
"Aku bisa memberikannya, tapi situasi di dalam pengadilan saat ini sedang kacau."
Sang jenderal terperangah. Dia tidak pernah mendengar berita itu.
"Apa maksud dari perkataan Yang Mulia?"
"Para menteri sedang menekanku dan mencoba memprovokasiku. Aku tidak bisa mengeluarkan pasukan sembarangan saat ini."
Murong Qin sungguh kebingungan. Saat ini menteri-menterinya begitu menyulitkannya. Mereka tidak akan setuju dan tidak akan percaya padanya. Empat ribu pasukan bukan jumlah yang kecil. Mereka pasti akan sekuat tenaga mencegahnya hingga menyebabkan ketidakpercayaan dan kesalahpahaman antara dia dengan Jenderal Yang.
"Aku akan memimpin pasukan sendiri!"
Hanya ini pilihan yang bisa dia ambil. Kalau dia turun tangan sendiri, para menteri pasti tidak akan mencegahnya. Demi rakyat, demi negara, Murong Qin harus memilih pilihan berbahaya ini. Waktunya sangat mendesak.
"Tidak bisa! Yang Mulia tidak boleh pergi!"
Wei Linglong yang sedari tadi menguping pembocaraan Kaisar Mingzhu dengan Jenderal Jin keluar dari balik bilik kamar penghalang. Pakaiannya sudah rapi hingga ketika keluar, dia tidak mendapat tatapan tajam dari Murong Qin.
Jenderal Jin terkejut ketika ada seorang wanita keluar dari bilik kamar kaisar. Setahunya, selama ini sang kaisar tidak pernah tertarik pada wanita. Seratus selir dan tujuh puluh nona kekaisaran, serta satu permaisuri, hanya menjadi pajangan di Istana Dalam. Mengapa tiba-tiba ada seorang wanita di sini?
"Seperti yang dikatakan Yang Mulia, situasi di pengadilan sedang kacau. Dia tidak bisa pergi memimpin pasukan," ucap Wei Linglong.
"Yang Mulia, ini?"
"Dia Selir Chun, menteri pengawas rahasia."
"A-Ling, lalu apa yang harus kulakukan? Aku tidak bisa mengorbankan rakyat tidak berdosa."
"Aku yang akan pergi!"
Pernyataan Wei Linglong mengejutkan Murong Qin dan Jenderal Jin. Murong Qin langsung menolak. Mana bisa dia membiarkan wanita tercintanya pergi. Medan perang sangat berbahaya. Itu sama saja dengan mengantarkan nyawa sendiri.
"Tidak! Kau juga tidak bisa pergi! Medan perang terlalu berbahaya! A-Ling, lebih baik kau kembali ke Istana Fenghuang!" Perintah Murong Qin. Namun, Wei Linglong adalah Wei Linglong, seorang wanita keras kepala.
Wanita itu malah berlutut.
"Yang Mulia selalu mengajariku bahwa aku harus kuat. Seorang wanita tidak lemah seperti yang kalian kira. Aku tahu ini tabu, tetapi tidak ada pilihan lain. Situasi di pengadilan sedang tidak baik-baik saja. Jika Yang Mulia pergi, itu hanya akan menguntungkan mereka. Yang Mulia, bagaimanapun, negeri ini masih membutuhkan seorang kaisar. Istana ini masih membutuhkanmu, tidak bisa tanpa pemimpin sehari saja," tutur Wei Linglong.
"Aku adalah putri Jenderal Yun, selir Yang Mulia dan Menteri Pengawas Rahasia. Tetapi, bukankah aku juga seorang rakyat? Sama seperti Yang Mulia, aku juga memiliki tanggungjawab itu. Bagiku, medan perang atau apapun itu semuanya sama. Yang Mulia sudah mengajariku dan mempercayaiku, bukankah aku tidak boleh menyia-nyiakannya?"
Penjelasan Wei Linglong, selogis apapun tetap tidak meluluhkan hati Murong Qin. Pria itu bersikukuh tidak mengizinkannya. Terlalu berbahaya. Wei Linglong adalah orang yang dia cintai, dia tidak bisa melepaskannya. Bahkan jika dia harus kehilangan nyawa, Wei Linglong tetap harus sehat sentosa.
"Aku tidak akan pernah mengizinkanmu!"
"Yang Mulia, perkataan Selir Chun benar. Yang Mulia tidak boleh meninggalkan istana. Walaupun situasi perang sangat darurat, tetapi Dinasti Yuan tidak bisa tanpa pemimpin. Hamba percaya kepada Selir Chun. Harap Yang Mulia mempertimbangkannya," ujar Jenderal Jin. Baginya, tidak penting apakah pria atau wanita, dia harus bisa kembali ke perbatasan utara sebelum situasi semakin kacau.
"Yang Mulia, aku berjanji akan kembali hidup-hidup. Anggap saja aku berhutang padamu, kau bisa menagihnya ketika aku kembali!" seru Wei Linglong.
"Tapi, A-Ling, medan perang sangat berbahaya! Walaupun kau cerdas, tapi aku sangat tidak rela!"
"Yang Mulia, percayalah padaku. Kumohon izinkan aku pergi," Wei Linglong kembali memohon.
Setelah dibujuk cukup lama, Murong Qin dengan keberatan yang tidak tertimbang terpaksa mengizinkan Wei Linglong pergi. Separuh nyawanya seperti ditarik, namun wanita keras kepala itu tidak bisa dipatahkan keinginannya.
"Sebelum aku pergi, mintalah kakakku untuk kembali ke pengadilan istana. Aku yakin dia punya cara untuk mengatasi kekacauan di dalam pengadilan. Otaknya yang cerdas tidak bermanfaat kalau tidak digunakan untuk membantu negara dan Yang Mulia," ujar Wei Linglong. Dia ingin Wei Shiji membantu Murong Qin selagi dia pergi.
Murong Qin mengangguk. Dia menyerahkan dua buah benda yang sepertinya begitu penting kepada Wei Linglong.
"Nyalakan suar ini ketika kau sudah keluar dari ibukota. Pasukan pengawal rahasia milikku akan menemanimu dan membantumu," kata Murong Qin sambil menunjuk sebuah benda bulat yang sedikit panjang. Lalu, dia menunjuk benda berbentuk harimau emas.
"Ini adalah token militer yang pernah diserahkan ayahmu sebagai syarat saat kau masuk istana. Ayahmu membawahi lima puluh ribu pasukan. Gunakan token ini untuk memerintah mereka."
Jenderal Jin berdecak kagum. Sang kaisar begitu mempercayai selirnya hingga menyerahkan token sepenting itu. Bahkan seumur hidupnya saja, Jenderal Jin hanya mampu memimpin paling banyak sepuluh ribu pasukan saja.
"Bangsa Mongolia sangat ganas. Aku tidak yakin pasukan mereka hanya berjumlah sedikit," tambah Murong Qin.
"Yang Mulia, tunggu aku kembali. Tolong tetap hidup dan jagalah Xiao Yu untukku." Wei Linglong memeluk Murong Qin sesaat. Sebuah pelukan pengantar perpisahan yang entah kapan akan dibalas kembali.
"Aku akan menantimu. Berjanjilah untuk kembali dengan selamat."
Di pintu belakang Istana Yanxi, Murong Qin melepas kepergian istrinya bersama Jenderal Jin. Meski sangat berat dan tidak yakin, namun pilihan itu tetap harus diambil. Murong Qin berharap perang tidak pernah terjadi dan istrinya kembali dalam keadaan utuh.
Pagi itu, seorang wanita istana keluar dari ibukota dengan kuda perang yang sangat gagah dan cepat. Suar dinyalakan, pasukan rahasia milik Murong Qin segera bergerak. Di tangan Wei Linglong bukan hanya ada lima puluh ribu pasukan, tetapi lebih dari itu.
Saat itu pula, Murong Qin berada di pengadilan Istana Yanzhi, melaporkan keadaan darurat perang dan memberitahu para menteri bahwa dia telah mengutus seseorang untuk memimpin pasukan. Selain itu, Murong Qin juga memberitahu mereka kalau dia akan memanggil Adipati Jing untuk kembali ke pengadilan istana.
...***...
...Duh, Author nggak rela lepasin Linglong ke medan perang! Ayoo kita bantu Linglong biar bisa pulang dengan selamat! FYI, ini adalah salah satu konflik puncak dari kisah ini, tapi belum terlalu puncak karena kalau udah di puncak artinya ceritanya bakalan tamat. So, apa yang akan terjadi? Apakah mereka berdua berhasil mengatasi situasi yang mulai tidak terkendali? Stay tune terus ya, jangan lupa like dan komentar pendapat kalian, sampai jumpa di episode berikutnya!...