The Legend Of Chunfei

The Legend Of Chunfei
FRAGMEN 95: MENGAIS RINDU



Di halaman Istana Yanzhi yang dipenuhi oleh pejabat dan keluarga kerajaan, Wei Linglong, Murong Yan dan jenderal-jenderal perang mendapatkan penghargaan dari Kaisar Mingzhu.


Murong Qin memberikan gelar Pangeran Guangping kepada Murong Yan atas kontribusinya. Dengan begini, dia secara resmi telah menjadi seorang pangeran yang memiliki tanggungjawabnya sendiri. Di hadapan banyak orang, Murong Qin menjadikannya pengawas Kementrian Kehakiman.


Dia bukan lagi pangeran menganggur yang bisa bebas berkeliaran di mana-mana.


Kemudian, Murong Qin mengangkat Jenderal Jin, Jenderal Sui dan Jenderal Cui sebagai jenderal utama kekaisaran dan diberikan hadiah berupa kediaman, lahan seluas lima belas hektar, serta empat peti sutera. Sedangkan untuk Jenderal Yang, Murong Qin menobatkannya sebagai Jenderal Agung dan dihadiahi banyak uang dan barang berharga.


Jenderal Fu dan Jenderal Kong yang ada di perbatasan juga dinobatkan sebagai jenderal utama dan diberi hadiah yang sama, serta pasukan dijadikan prajurit utama. Semua orang yang berjasa dalam peperangan diberikan hadiah yang sama rata.


Untuk Wei Linglong, Murong Qin memberinya gelar Nyonya Permata, sebuah gelar yang khusus diberikan kepada wanita istana yang punya kontribusi sangat besar. Pemberian gelar ini tidak memerlukan persetujuan dari Ibu Suri dan Permaisuri karena langsung diangkat oleh Kaisar sendiri.


Tidak ada yang membantah pemberian gelar tersebut. Kini, para selir yang tingkatannya lebih tinggi juga harus memberi hormat kepada Wei Linglong ketika berpapasan, apalagi para Nona Kekaisaran. Dia juga diberikan lima peti sutera dan empat peti tael perak.


"Kakak ipar, kau harus bertanggungjawab!" bisik Murong Yan kepada Wei Linglong.


"Aku? Memangnya apa yang sudah kulakukan? Apa kau akan menuntutku karena aku memintamu bertukar tempat? Apa kau akan melapor pada ibumu?"


Cukup banyak pertanyaan yang dilontarkan Wei Linglong hingga Murong Yan kebingungan harus menjawabnya. Maksud dia, bukan karena ini. Tetapi karena hal lain yang membuatnya harus dibebani tugas yang sangat berat.


"Kau sudah membuatku terjun ke medan perang, memenangkan jasa besar dan mendapatkan penghargaan dari kakak Kaisar," ucap Murong Yan.


"Lalu apa yang salah dengan itu?"


"Berkat itu, kakak Kaisar memberiku gelar dan tugas. Sekarang aku tidak punya waktu untuk berkeliaran dengan bebas lagi."


Wei Linglong mendelik. Dasar anak ini! Sudah pernah berperang pun sifatnya masih saja seperti ini. Padahal, gelar yang diperolehnya diberikan atas kontribusinya dan itu semua adalah hasil kerjanya sendiri. Siapa suruh Murong Yan datang memimpin pasukan dan bergabung di medan perang.


Usai pemberian penghargaan, penyambutan tersebut dilanjutkan dengan perjamuan besar-besaran. Acara yang sangat ramai tersebut justru membuat Wei Linglong bosan setengah mati.


"Sebaiknya aku kabur saja."


Wanita itu diam-diam pergi seperti pencuri. Gelagatnya diketahui Murong Qin, kemudian pria itu menyusulnya. Tidak ada yang menyadari kalau kaisar dan selirnya telah menghilang karena semua orang begitu sibuk. Kecuali Wei Shiji, hanya dialah satu-satunya orang yang sadar bahwa kedua orang itu telah pergi, lalu tersenyum.


Ketika Wei Linglong sampai di halaman Istana Yanxi, Murong Qin berhasil menyusulnya. Tangannya ditarik dari belakang, lalu tubuhnya berbalik seketika dan menubruk dada pria itu. Murong Qin menguncinya dalam pelukan.


"Yang Mulia, aku sesak," ucapnya.


Murong Qin menghirup aroma rambut Wei Linglong yang tidak berubah meskipun tidak bertemu berbulan-bulan. Pria itu masih tidak berbicara, namun keduanya sama-sama tahu bahwa mereka sedang mencoba melepaskan sedikit kerinduan yang tersimpan selama ini.


"Apa kau yang mengajari Pangeran Guangping untuk memanjat atap dan bersembunyi?"


Wei Linglong malah tersenyum dalam pelukan pria itu.


"Dia mempelajarinya sendiri."


Dirasakannya kepala Murong Qin menggeleng beberapa kali.


"Anak itu tidak pernah punya keberanian sebesar itu. Kau pasti yang mengajarkannya menonton sandiwara."


"Ya, baiklah. Aku memang mengajarinya."


Murong Qin sedikit melonggarkan pelukannya. Dia menengadahkan kepala Wei Linglong, menatap matanya yang selalu indah. Senyum di wajahnya mengembang. Jarinya mengusap pelan pipi, lalu menyelusupkan anak rambut yang lolos dari ikatan itu.


"Tampaknya, aku juga harus belajar darimu, A-Ling."


Murong Qin lalu mengecup Wei Linglong. Begitu lembut namun menuntut. Wei Linglong membalasnya, memberinya kesempatan untuk meluapkan semua perasaan yang tertahan selama beberapa bulan ini.


Pelayan dan kasim yang kebetulan lewat dan melihat adegan antara kaisar mereka dengan selirnya seketika menundukkan kepala. Aneh, padahal bukan mereka yang melakukannya, namun malah mereka yang malu. Seperti biasa, mereka akan berpura-pura tidak melihat atau mendengar apapun.


Namun, apa daya masih ada agenda yang harus dilakukan. Terlalu banyak waktu yang terlewat untuk keduanya. Dia tidak peduli pada keadaan sekitar, karena dia seorang Kaisar Mingzhu.


"Yang Mulia, jangan membuat para pelayan dan kasim itu tersiksa lagi," ucap Wei Linglong ketika mereka berhenti sejenak dari aktivitas mereka.


"Aku seorang Kaisar. Bahkan jika aku menyuruh mereka mati dan menutup tempat ini, mereka tidak akan mengeluh."


"Tidak tahu malu. Mana ada kaisar sepertimu," tegur Wei Linglong.


"Mana ada selir yang tidak sopan sepertimu, berani mengatai kaisar di depan orangnya," balas Murong Qin.


Kedua orang itu lalu tertawa. Tidak, ini hanyalah sebuah candaan. Murong Qin kembali menyerangnya, kali ini lebih agresif dan lebih menuntut. Ikatan rambut Wei Linglong sampai terlepas dan penampilannya sudah sedikit acak-acakan.


Setelah merasa bahwa kerinduan ini harus dibayar tuntas, Murong Qin menggendong Wei Linglong ke kamarnya. Tidak lupa, Murong Qin menyuruh kasim untuk menjaga pintu dan tidak boleh membiarkan siapapun masuk.


Murong Qin terdiam sejenak ketika melihat bekas luka di tangan dan bahu wanitanya. Dia menatap Wei Linglong dalam. Pasti itu sangat sakit.


Mengerti akan arti tatapan itu, Wei Linglong lalu tersenyum dan menggeleng, menandakan bahwa dia baik-baik saja. Perilakunya yang tegar dan berani membuat Murong Qin semakin mencintainya. Wei Linglong membantu suaminya melepaskan jubah dan sisa kain yang tersisa hingga keduanya seperti bayi.


"A-Ling, tahukah kau bahwa aku hampir gila karena memikirkanmu?"


"Aku tidak tahu. Di perbatasan, aku terlalu sibuk berperang."


Murong Qin membelai wajah wanitanya dengan lembut. Sesekali dia mengecup pipi, mata dan kening Wei Linglong. Biarkan wanita ini tahu apa akibat dari membuatnya menunggu selama itu.


"Kalau begitu, aku akan memberitahumu."


Murong Qin langsung menyerbu wanitanya. Keduanya saling melepas rindu yang menggebu, mengobarkan bara api yang membakar hati mereka. Murong Qin dan Wei Linglong sama-sama berlayar di samudera, menerjang ombak dan menerjang batu karang yang menghalangi perjalanan mereka hingga mereka sampai di puncak perjalanan, yang mengharuskan mereka beristirahat sejenak di tepi pantai yang pemandangannya begitu indah.


...***...


"Permaisuri, kau hampir membunuh putraku!"


Ibu Suri memarahi Permaisuri Yi di dalam istananya. Dia sangat marah karena wanita kepercayaannya ini tidak pernah becus dalam bekerja. Bisa-bisanya dia gagal dalam rencana kali ini. Padahal, Ibu Suri sudah menaruh harapan besar pada peristiwa ini.


Permaisuri Yi hanya menunduk. Dia juga marah karena rencananya dalam melenyapkan Selir Chun gagal lagi. Bukan hanya gagal, dia juga telah membuat semua orang menyaksikan pertunjukkan bodohnya.


"Yang Mulia, aku sungguh tidak tahu kalau Selir Chun bertukar tempat dengan Pangeran Kedua."


Ibu Suri memijat keningnya. Kepalanya sakit.


"Sekarang Yan'er sudah berpihak pada Kaisar. Dia sudah tidak bisa diharapkan lagi," seloroh Ibu Suri, mencoba meredam amarahnya. Dia merasa memarahi Permaisuri Yi tidak ada gunanya, tidak akan mengembalikan rasa malu dan mengulang waktu.


Ibu Suri hanya tidak menyangka kalau putranya berubah menjadi sehebat itu. Dulu ketika dia menyuruhnya belajar politik atau beladiri, Murong Yan selalu menolak. Saat dia membujuknya untuk bergabung, Murong Yan juga menolak dengan tegas.


Ketika dia menghalalkan segala cara untuk membuka jalan bagi putranya, Murong Yan juga memutusnya tanpa menghiraukannya. Sekarang, dia tidak pernah menyangka kalau Murong Yan memimpin pasukan bantuan Kerajaan Dongling dan membantu memenangkan peperangan.


Putranya sudah dewasa, namun itu justru membuatnya semakin sulit menjangkaunya.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang, Yang Mulia?" tanya Permaisuri Yi.


"Bertindak sesuai situasi saja. Rencana awal harus tetap dijalankan," jawab Ibu Suri.


Permaisuri Yi mengangguk.


...***...


...Haloo kesayangan Author! Author cuma mau kasih tahu kalau lima sampai delapan episode lagi, cerita ini mungkin akan selesai. So, jangan sampai ketinggalan, stay tune terus ya! Sampai jumpa di episode berikutnya!...