The Legend Of Chunfei

The Legend Of Chunfei
FRAGMEN 56: MEMBERIKAN POSISI



Wei Shiji menjadi sering datang ke Istana Yanxi untuk bertemu dan berdiskusi dengan Murong Qin. Ada banyak hal yang mereka bicarakan dari pagi sampai siang. Ketika pengadilan istana libur, Murong Qin akan mengundang Wei Shiji untuk minum teh dan bermain catur bersama di pendopo Istana Yanxi.


Hubungan keduanya berangsur-angsur membaik. Murong Qin menceritakan banyak hal tentang kehidupan Wei Linglong di dalam istana, termasuk perihal penolakan yang dia terima dari wanita itu tempo hari. Wei Shiji tertawa terbahak-bahak sampai perutnya sakit ketika dia mendengar hal ini.


“Adikku memang hebat! Seorang Kaisar pun berani dia tolak!”


“Kalau dia tidak menolaknya, maka itu bukan dirinya.”


“Lalu apa yang akan Yang Mulia lakukan untuk mendapatkan hatinya?”


“Aku tidak ingin menuntutnya untuk membalas perasaanku.”


“Karena Yang Mulia sudah berkata begini, maka Yang Mulia pasti sudah memiliki rencana.”


Wei Shiji menempatkan bidak caturnya di tengah, menutup jalan bagi bidak catur Murong Qin. Suasana begitu hangat di puncak musim semi. Jika tidak hujan, malam nanti mungkin akan diadakan festival lampion di tengah alun-alun kota. Sebelum festival itu dimulai, dia harus bisa menyelesaikan permainan catur ini.


“Aku ingin mengangkatnya menjadi pejabat wanita.”


“Posisi apa yang ingin kau berikan?”


“Menteri Pengawas,” ucap Murong Qin sambil menempatkan bidak caturnya.


Wei Shiji menggantungkan tangannya yang hendak meletakkan bidak catur lagi, kemudian dia bertanya kembali, “Apa Yang Mulia yakin?”


“A-Ling mempunyai keterampilan yang berbeda dari orang lain. Dia teori dan praktek husus dalam pertanian. Entah sejak kapan dia memiliki hobi aneh itu. Membiarkan dia menjadi Menteri Pengawas untuk mengawasi biro-biro di pemerintahan sepertinya pilihan yang tepat.”


“Hobi aneh adikku tampaknya sudah menjerumuskannya.”


“Apakah Adipati Jing tidak menyetujuinya?”


“Aku mendukung apapun yang Yang Mulia lakukan. Hanya saja, apakah dia bersedia atau tidak, itu harus kau pastikan sendiri.”


Murong Qin sudah mempertimbangkannya jauh-jauh hari. Ia ingin menjadikan Wei Linglong sebagai pejabat wanita karena melihat kemampuan wanita itu, bukan karena dendam perasaannya ditolak. Murni, objektif karena wanita itu mempunyai kemampuan yang tidak kalah dari laki-laki. Seandainya hukum di negara ini bisa membebaskan wanita untuk setara, Wei Linglong akan menjadi wanita pertama yang menempati posisi tersebut.


“Pejabat wanita di dinasti ini masih tabu. Yang Mulia mungkin akan menemui kesulitan saat meminta persetujuan para menteri.”


“Aku tidak akan meminta restu mereka.”


“Maksud Yang Mulia?”


“Kalau mereka tahu ada wanita yang menjadi pengawas, mereka akan bertindak hati-hati dan apa yang aku inginkan tidak akan tercapai.”


Wei Shiji sangat mengerti maksud dari rajanya. Sang kaisar menginginkan sebuah pengawasan yang dilakukan secara diam-diam agar mereka yang berbuat curang bisa ditangkap dengan bukti lengkap. Dia dengar, akhir-akhir ini pengeluaran istana membengkak tanpa detail yang transparan. Semua catatan seperti habis dimanipulasi.


Hanya Wei Linglong yang mampu melakukannya. Murong Qin membutuhkan seseorang yang berani dan terbuka, lalu bisa bersandiwara. Dia membutuhkan seseorang yang tidak bisa dicurigai atau disuap, dan semua kriteria itu ada pada diri Wei Linglong. Apalagi, dia telah melihat kemampuan wanita itu.


Permainan catur hari itu berlangsung beberapa putaran. Hari semakin siang, musim semi semakin hangat.


***


Sore harinya, Murong Qin kembali mengunjungi Wei Linglong di Istana Fenghuang.


Sang pemilik istana seperti biasa, bermalas-malasan di kursi ayunan kayu gaharu dengan nyaman sambil memakan kuaci panggang. Beberapa pelayan yang tengah bekerja hilir mudik, tidak mengetahui kedatangan sang kaisar hari itu. Hanya Wei Linglong dan Xiaotan yang menyadari kedatangannya.


“A-Ling, aku ingin mengangkatmu menjadi Menteri Pengawasan,” ucap Murong Qin tanpa basa-basi.


Wei Linglong seketika berdiri. Apa-apaan ini? Pria itu datang tanpa pemberitahuan lalu langsung mengatakan ingin menjadikan dirinya seorang menteri? Tidak masuk akal! Bahkan jika dia seorang Kaisar Mingzhu pun, pembicaraan yang to the point seperti itu sepertinya kurang etis. Setidaknya, dia harus berbasa-basi sepatah dua patah kata sebelum mengungkapkan keinginannya itu!


“Apa Yang Mulia gila? Apa-apaan ini?”


“Ah, maaf aku terlalu bersemangat,” ujar Murong Qin. Dia telah mengejutkan wanita itu dua kali.


Murong Qin kemudian duduk di samping Wei Linglong. Dia membuat wanita itu berhadapan dengannya, kemudian menatap mata indahnya yang jernih. Ini adalah tugas penting, memang tidak pantas dikatakan dengan main-main. Pria itu kemudian mencoba menjelaskan alasan mengapa dia memilihnya.


“Aku sudah melihat kemampuanmu. Aku yakin kau adalah kandidat yang paling cocok. A-Ling, apa kau bersedia?”


“Oh, Yang Mulia. Yang Mulia tidak dendam karena aku menolakmu kan?”


“Tidak, A-Ling. Ini tidak ada hubungannya dengan itu.”


“Aku tidak mau!”


“Mengapa?”


“Pertama, aku tidak mengerti tentang sistem pemerintahan negara. Kedua, aku tidak suka bertemu dengan para menteri yang sering manipulatif. Ketiga, menjadi menteri wanita bukankah tidak sesuai dengan aturan? Meskipun aku menjunjung tinggi emansipasi wanita dan kesetaraan manusia, tapi aku juga punya ketakutan. Bagaimana jika aku menyinggung orang besar dan dicelakai?”


“Jadi, kau tetap tidak mau?”


“Tidak mau.”


“A-Ling, aku sudah mempertimbangkan memberimu posisi ini sejak lama. Aku yakin kau bisa melakukannya. Aku percaya padamu,” ujar Murong Qin serius. Dia sungguh ingin menjadikan wanita ini sebagai pejabat wanita sekarang.


Mengetahui kepercayaan Murong Qin begitu besar padanya, Wei Linglong menjadi goyah. Apa dia harus membantunya? Bingung, dia sangat bingung. Dia pikir masalahnya akan berakhir setelah dia menolak pernyataan perasaan pria itu, ternyata datang masalah lain. Wei Linglong tidak punya alasan konkret untuk menolaknya lagi kali ini.


Sungguh, mengapa dia harus terjebak ke dalam situasi ini? Bendera perang dengan pihak harem memang sudah dikibarkan, tetapi dia tidak menyangka kalau dia akan jatuh ke dalam politik kerajaan juga! Wei Linglong tiba-tiba merasa telah salah mengambil langkah di awal, yang menyulitkan dia dan menutup jalan untuk kembali.


“Apa kau ingin aku menghancurkan negaramu?”


“A-Ling, jangan bercanda. Bantulah aku, hanya kau yang aku percaya.”


“Mengapa harus aku? Bukankah masih banyak wanita berbakat lain yang bisa dijadikan menteri?”


“Karena hanya A-Ling yang aku percaya.”


Wei Linglong bimbang. Semuanya terlalu mendadak. Dugaannya benar, pria ini akan menjeratnya dalam kehidupan ini. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Untuk kabur pun sudah tidak bisa!


“Tapi, aku ingin Yang Mulia menyetujui aturan mainku.”


“Katakanlah.”


“Aku tidak ingin menjadi pejabat resmi, itu akan sangat merepotkan. Aku juga tidak mau mengikuti sidang pengadilan setiap hari, karena membosankan. Kalau Yang Mulia setuju, jadikan aku seorang pengawas rahasia. Dengan begitu, identitas dan statusku tidak akan diketahui oleh menteri-menterimu.”


“Aku memang tidak salah mempercayai orang. Terima kasih, A-Ling. Aku akan mengajarimu ilmu pemerintahan secara perlahan mulai sekarang.”


Terlepas dari cengkeraman perasaan bersalah karena menolak perasaan, Wei Linglong justru masuk ke dalam lubang permasalahan yang lebih kompleks. Entah sudah berbuat dosa apa dia di kehidupan sebelumnya hingga harus mengalami hal ini di kehidupannya saat ini. Padahal dia merasa dia tidak pernah berbuat jahat pada orang lain.


Murong Qin akhirnya merasakan kelegaan. Syukurlah, wanita yang disukainya ini mau diajak kerja sama. Pemikiran wanita itu sama dengannya, sama-sama ingin menjadi rahasia di antara rahasia. Jika sudah begini, ke depannya akan lebih mudah. Murong Qin bisa tenang memberikan otoritas kepadanya untuk menjalankan tugasnya.


“Tapi, sebelum itu, aku ingin menanyakan sesuatu pada Yang Mulia.”


“Apa itu?”


“Bagaimana kisah tentang kakak sepupuku, Permaisuri Hong? Apa ada rahasia di balik kematiannya?”


Murong Qin menatap langit sejenak. Pada akhirnya, momen ini akan datang juga. Dia hanya tidak menyangka momen itu akan datang secepat ini. Memang sudah saatnya mengungkapkan misteri di balik kematian Permaisuri Hong tujuh tahun lalu, tentang hubungannya dengan Murong Qin, tentang hubungannya dengan Ibu Suri, dan tentang rumor jelek yang beredar di sekitarnya.


...***...