The Legend Of Chunfei

The Legend Of Chunfei
FRAGMEN 40: RATU LI ADALAH SAUDARAKU



Setelah selesai berbincang dengan para menteri tinggi kekaisaran, Murong Qin membubarkan pengadilan istana. Dia turun dari singgasananya, menyambut Long Ji Man dengan jabatan tangah. Kedua raja tersebut kemudian berbincang-bincang sebentar di aula samping, sebatas menanyakan kabar dan perkembangan negara yang mereka pimpin selama beberapa tahun ini.


Saat tidak ada pejabat yang mengawasi, Murong Qin dan Long Ji Man langsung mengubah gaya bicara mereka ke bentuk non formal. Mereka bahkan memanggil nama masing-masing layaknya teman akrab yang sangat dekat. Terkadang mereka juga tertawa lepas bersama.


Murong Qin dan Long Ji Man saling mengenal ketika pertempuran di wilayah utara dua belas tahun lalu. Kala itu, Murong Qin masih menjadi Putra Mahkota, sementara Long Ji Man sudah menjadi  raja di Kerajaan Dongling, meskipun umur pemerintahannya masih seumur jagung.


Sejak dahulu kala, Kerajaan Dongling dan dataran Dinasti Yuan memiliki hubungan diplomatik yang baik. Kedua negara ini sering melakukan kerjasama dalam berbagai hal.


Saat peperangan terjadi, mendiang Kaisar mengirimkan surat permohonan bantuan peminjaman pasukan untuk membantu Putra Mahkota Qin berperang melawan musuh di wilayah utara.


Tidak disangka-sangka, pasukan bantuan dari Dongling ternyata dipimpin oleh raja mereka sendiri. Long Ji Man ikut turun ke medan perang melawan bangsa asing hingga peperangan dimenangkan oleh pasukan gabungan Yuan dan Dongling.


Beberapa tahun kemudian, Kaisar mangkat dan Putra Mahkota Qin naik takhta. Hubungan diplomatik antara Yuan dan Dongling masih berlangsung meskipun tidak pernah mengadakan pertemuan secara langsung. Hubungan tersebut dijalin dan dijalankan oleh para menteri dan diwujudkan oleh para rakyat. Dasar dari hubungan tersebut adalah rasa saling percaya.


Long Ji Man juga tidak pernah datang lagi ke Yuan setelah peperangan itu. Kerajaan Dongling terlalu sibuk mengurusi pemerintahan dalam negeri, ditambah tujuh tahun yang lalu, seluruh pengadilan dibuat gempar dengan peristiwa pengkhianatan Pangeran Agung dan Permaisuri Jin hingga keadaan di istana kacau balau.


Sekarang, setelah kedamaian, Long Ji Man datang kembali ke Yuan, mengunjungi teman lamanya. Tidak bertemu selama bertahun-tahun, perangai Murong Qin tetap tidak berubah. Dia tetap Dewa Perang yang berhati keras, berwajah dingin, perkataannya tajam, serta memiliki kemampuan analisa yang luar biasa. Tidak heran jika para menterinya merasa takut untuk membelot karena aura pria itu sungguh sangat mendominasi.


Saat keduanya kehabisan topik pembicaraan, Long Ji Man tiba-tiba teringat pada anak dan istrinya yang tidak kelihatan batang hidungnya sejak tadi. Para pelayan dan kasim serta prajurit penjaga yang ada mengatakan bahwa mereka tidak melihat Ratu Li beserta anak-anaknya berkeliaran di istana. Entah memang benar tidak melihatnya atau mereka sama sekali tidak tahu.


Murong Qin membantunya mencari mereka dengan memerintahkan Komandan Bu dan kasimnya. Selama hampir tiga jam, mereka berputar-putar di istana Yuan, menyusuri setiap bangunan yang terlihat.


Orang-orang yang melihat dua penguasa dunia berjalan ke sana kemari menjadi takut, kemudian menyembunyikan diri mereka di balik rumpun bunga atau pepohonan yang rimbun. Bahkan, ada yang bersembunyi di atas atap segala.


Murong Qin membawa Long Ji Man ke Istana Yanxi, istana kediaman pribadinya. Para penjaga berkata bahwa beberapa waktu lalu ada seorang wanita berpakaian ratu datang menanyakan dua bocah kembar, kemudian pergi lagi entah ke mana. Long Ji Man langsung menebak kalau wanita yang dimaksud adalah Li Anlan.


“Istana Fenghuang,” ucap Murong Qin tak lama kemudian.


“Istana Fenghuang? Maksudnya?”


“Mereka mungkin ada di sana.”


Senja di atas Danau Dongting sudah menghilang. Jubah kedua raja berkibar di atas jembatan, melambai seperti awan yang berarak dengan pelan. Langkah kedua raja itu lebar hingga dalam waktu kurang dari sepuluh menit, mereka sudah sampai di tempat yang dituju. Di sana, lampu-lampu lentera sudah menyala dan cahaya keemasan menerangi seluruh arena.


Sayu-sayup percakapan yang begitu mengasyikkan terdengar di telinga keduanya. Itu suara wanita dan anak-anak kecil. Murong Qin mematung di pintu gerbang yang terbuka, anteng menatap beberapa orang yang sedang bercengkerama di halaman Istana Fenghuang. Di sampingnya, Long Ji Man melipatkan tangan, ikut menatap mereka dengan saksama.


“Apa yang sedang kalian lakukan?” tanya Murong Qin kemudian.


Wei Linglong dan yang lainnya kemudian mengalihkan pandangan ke sumber suara, lalu menatap kedua pria tersebut dengan acuh tak acuh. Murong Qin mengerutkan kening, kemudian mengepalkan tangan. Hatinya berteriak: Beraninya dia mengabaikanku!


“Huang An, mengapa kau ada di sini? Aku sudah mencarimu ke mana-mana!” seru Long Ji Man sembari berjalan menghampiri istrinya.


Wei Linglong berdiri, memandangi sosok pria tampan yang memanggil teman lamanya dengan sebutan Huang An. Siapa dia? Apa dia adalah suaminya? Raja Long yang terkenal itu? Tetapi mengapa Wei Linglong merasa kalau pria itu memiliki sesuatu yang besar, seperti misalnya: mengetahui rahasia Li Anlan?


“Selir Chun, mengapa Ratu Li ada di tempatmu?” Murong Qin bertanya kembali.


“Ratu Li? Maksudmu, dia?” tunjuk Wei Linglong pada Li Anlan.


“Bersikap sopanlah! Dia adalah Ratu Kerajaan Dongling!”


Wei Linglong langsung tertawa tergelak diikuti Li Anlan. Kedua pria di hadapan mereka saling berpandangan dengan tatapan tanya, mengapa kedua wanita di hadapan mereka tertawa begitu renyah. Sekarang, mereka tampak seperti orang bodoh.


“Dia adalah saudaraku!” seru Wei Linglong.


Sontak, Long Ji Man dan Murong Qin langsung terkejut. Saudara? Saudara apanya! Melihat reaksi mereka yang begitu konyol, Li Anlan dan Wei Linglong merasa bahwa mereka begitu lucu. Kemudian, kedua pria itu membalikkan badan, berbisik satu sama lain perihal kebenaran pernyataan yang dikatakan oleh wanita-wanita di hadapan mereka. Mereka mengabaikan tatapan anak-anak yang juga menatap mereka dengan aneh.


“Hei, istriku itu seorang putri satu-satunya, dia hanya punya kakak laki-laki. Dari mana datangnya saudara perempuan?” tanya Long Ji Man pada Murong Qin.


“Aku juga tidak tahu. Selir Chun adalah satu-satunya putri di keluarganya, mengapa istrimu bisa menjadi saudaranya?”


Sungguh, tingkah laku Long Ji Man dan Murong Qin terlihat sangat konyol di mata kedua wanita itu. Selama ini, mereka hanya tahu bahwa istri-istri mereka adalah putri tunggal keluarganya, tidak punya saudara kandung perempuan yang lain. Kalau dipikirkan, ini juga aneh.


Li Anlan dan Wei Linglong jelas-jelas berasal di dua negara yang berbeda. Sungguh tidak masuk akal jika mereka benar-benar bersaudara. Marga saja bahkan berbeda!


Long Ji Man menarik tangan istrinya, membawanya menjauh beberapa meter. Ada hal penting yang harus dikonfirmasi perihal keanehan ini. Li Anlan sejak dulu bukanlah orang yang mudah akrab dengan orang baru.


Ini pertama kalinya dia mengajak Li Anlan melakukan kunjungan ke luar negeri. Bukannya bersikap anggun dan hati-hati, wanita itu malah sembarangan masuk ke istana orang lain bahkan menyebutnya saudara, siapa yang akan percaya!


"Huang An, apa maksudnya?"


"Dia memang saudaraku."


"Bagaimana bisa?"


"Mengapa tidak bisa?"


"Bukan, bukan begitu. Kalian baru berjumpa hari ini, bahkan jika itu orang dengan solidaritas paling tinggi, perlu sehari dua hari baru bisa menyatakan diri sebagai saudara."


"Dia memang saudaraku," ulang Li Anlan, seakan dia ingin memperjelasnya sekali lagi.


Long Ji Man masih tidak mengerti, jadi dia bertanya kembali.


"Long Ji Man, dia memang saudaraku."


"Tidak, ini tidak masuk akal. Kau tidak punya saudara perempuan di dunia ini, bagaimana bisa datang saudara perempuan secara tiba-tiba?"


"Coba kau pikirkan."


"Apa jangan-jangan dia?"


Li Anlan mengangguk. Long Ji Man membuka mulutnya lebar-lebar, terkejut dengan suatu kebenaran yang baru saja diungkap oleh pemikirannya sendiri. Di dunia ini terlalu banyak keanehan dan keajaiban.


Selama ini dia berpikir kalau hanya ada satu orang saja yang istimewa seperti istrinya. Nyatanya, dia salah besar. Entah di belahan dunia mana lagi keajaiban seperti ini terjadi. Entah berapa banyak orang istimewa seperti Li Anlan di seluruh dunia.


"Murong Qin benar-benar beruntung," ucap Long Ji Man kemudian. Sepasang suami istri itu kembali berkumpul ke tengah.


Malam di awal musim semi terasa hangat.


"Apa Selir Chun adalah selir dari Kaisar Mingzhu?" tanya Long Ji Man.


"Selir? Sebaiknya Raja Long menanyakannya sendiri kepada Yang Mulia," jawab Wei Linglong secara spontan. Murong Qin merengut.


"Apa maksudnya?"


"Ceritanya memang panjang."


Dua pasangan aneh itu melupakan keberadaan Xiaotan dan anak-anak yang sedari tadi menatap mereka dengan tatapan polos sekaligus bingung. Sebenarnya, mereka juga tidak terlalu mengerti dengan pembicaraan antara dua raja bersama dua istrinya itu.


Long Ji San dan Long Ji Shi menarik jubah kedua orang tuanya. Tarikan tersebut sukses membuat keduanya tersadar akan tujuan awal mereka mengelilingi istana di Yuan.


"Ayahanda, Ibunda, apa kami boleh tinggal di sini?"


"Kalian ingin menginap?"


Long Ji San dan Long Ji Shi kompak mengangguk.


"Ada Pangeran Yu juga. Kami masih ingin bermain."


"Baiklah."


Long Ji San berjalan mendekati Murong Qin, kemudian menarik jubahnya.


"Paman Kaisar, apa kau menyukai bibi selir Chun? Dia sangat cantik. Kalau kau tidak menyukainya, berikan saja padaku. Aku akan merawatnya dengan baik."


"Oh? Ji San, kau berpikir kalau Paman Kaisar yang kau sebut tidak menyukai Selir Chun?" tanya Long Ji Man.


"Paman Kaisar pasti tidak menyukainya. Ayahanda lihat, dia tinggal di tempat terpencil, bahkan hanya ada satu pelayan di sisinya."


Long Ji San tidak mengerti bahwa tempat ia berada sekarang merupakan tempat termegah kedua setelah Istana Yanxi di seluruh dataran Yuan ini. Anak itu tidak tahu kalau bangunan super megah yang berdiri kokoh di hadapannya dirancang oleh orang nomor satu di negara itu.


Apa hal luar biasa tersebut bisa diberikan kepada sembarang orang?


"Bukankah istana Ibunda juga terdapat sedikit pelayan? Kakak, kapan kau bisa pintar? Hal seperti ini saja pun kau tidak mengerti," sergah Long Ji Shi.


Kedua bocah kembar itu malah bertengkar. Wei Linglong menggelengkan kepalanya tanda heran. Keturunan Raja Long dan Ratu Li memang luar biasa. Dia menggamit tangan kecil Murong Yu, kemudian mengangkat bocah itu ke gendongannya.


"Karena pangeran dan putri Dongling ingin menginap, ayo kita masuk. Udara malam tidak terlalu baik untuk pertumbuhan anak-anak."


"Bibi, apa kamarmu luas?"


"Tentu saja. Kamarku seperti ruangan emas."


Long Ji San dan Long Ji Shi mendahului pemilik istana. Mereka begitu bersemangat.


"Kakak, ayo masuk!"


Li Anlan bergegas masuk.


"Tunggu! Bagaimana dengan kami?" tanya Long Ji Man.


Kemudian, orang dari dalam berteriak,


"Kalian punya istana sendiri. Tinggalah di sana dengan nyaman. Para pria biasanya tidak terlalu perhitungan."


Long Ji Man dan Murong Qin hanya bisa saling pandang satu sama lain.


Mengapa mereka merasa bahwa mereka adalah suami yang terbuang?


...***...