The Legend Of Chunfei

The Legend Of Chunfei
FRAGMEN 62: MENGHAJAR PRIA TAMPAN



Hari ini, Wei Linglong kembali keluar dari istana.


Namun, kali ini dia tidak akan melakukan pengawasan atau mencari informasi. Hari ini dia keluar untuk menenangkan diri, lebih tepatnya meluapkan amarah. Hari masih pagi, tetapi wanita itu sudah duduk di restoran. Dia sudah menghabiskan satu porsi sarapan akibat perasaannya tidak nyaman.


Pelayan restoran tidak punya pilihan selain melayaninya meskipun restoran ini belum buka. Wei Linglong datang seorang diri, juga datang tanpa kereta kuda. Setelah makan, dia tidak juga pergi. Wei Linglong asyik memandangi rutinitas di tengah kota lewat jendela ruangan yang dia tempati.


Wei Linglong terus berdiam di sana selama beberapa jam. Sampai matahari sudah ada di atas kepala, wanita itu tetap tidak beranjak. Wajahnya masih ditekuk hingga pelayan restoran tidak berani mengusirnya. Pengunjung di sana mulai berdatangan, menimbulkan kebisingan di hati Wei Linglong.


“Long’er?” tanya seorang pemuda.


Wei Shiji menghampiri tempat duduk wanita itu. Pakaian sutera putihnya membalut sempurna tubuh gagah itu. Tangan Wei Shiji memegang kipas, lalu mengibaskannya hingga rambutnya yang digerai sebagian tertiup angin. Dia menatap adiknya yang tampak kaku.


“Apa kau sedang menjalankan misi?” tanyanya lagi.


“Kakak, menurutmu aku ini cantik atau tidak?”


Wei Shiji mengerutkan kening mendengar pertanyaan aneh adiknya.


“Tentu saja! Adikku sangat cantik. Kau ini wanita tercantik di dunia!”


“Untuk apa punya wajah cantik dan kemampuan kalau tidak bisa mengendalikan orang?”


“Kenapa? Apa kau bertengkar dengan Yang Mulia?”


Wei Linglong meneguk tehnya. Perutnya sudah kembung, tapi tidak ada yang lebih baik untuk meluapkan rasa kesal dan marahnya selain dengan ini.


“Aih, sekarang aku tiba-tiba marah setiap kali mengingatnya!” gumam Wei Linglong.


Wei Shiji tersenyum sambil menggelengkan kepala.


“Kau ini, sudah jadi selir, jadi pengawas rahasia, tetapi masih seperti anak kecil,” bisik Wei Shiji.


“Kakak, kau mengetahuinya ya?”


“Aku ini Adipati Jing yang hebat. Hal apa yang tidak bisa kuketahui di dunia ini? Bahkan urusan pengawas rahasia yang begitu misterius saja aku tahu.”


Tentu saja, karena Murong Qin pernah mendiskusikannya dengan Wei Shiji. Wei Linglong tidak penah tahu kalau hubungan kakaknya dengan suaminya sudah membaik. Dia juga tidak tahu kalau Wei Shiji sering datang ke Istana Yanxi untuk berdikusi dengan Murong Qin. Wei Linglong lebih tidak tahu kalau orang yang mengetahui perasaan Murong Qin padanya pertama kali adalah Wei Shiji.


“Long’er, Yang Mulia mungkin punya rencana lain. Kau juga tahu kalau posisi Permaisuri Yi begitu kuat di istana. Dia bisa membalikkan keadaan jika kau bertindak gegabah. Yang Mulia mungkin tidak ingin kau terluka lagi, itu sebabnya dia memilih tidak bertindak terlebih dahulu,” Wei Shiji mencoba menjelaskan alasan logis mengapa Murong Qin tidak menindak Permaisuri Yi.


“Benar, dia seorang permaisuri, aku hanya selir. Di belakangnya juga ada Ibu Suri, mereka pasangan yang sangat serasi. Tapi, aku bersumpah aku akan mengembalikan semua bentuk penindasan yang aku terima kepada mereka. Aku tidak akan menyerah!” seru Wei Linglong berapi-api.


Ketika dia sedang asyik minum teh bersama kakaknya, beberapa pemuda seperti pelajar datang bergerombol. Mereka duduk di dekat meja Wei Linglong dan Wei Shiji, memesan beberapa makanan dan beberapa botol arak. Saat sedang asyik berbincang dan makan, salah seorang dari mereka melihat Wei Linglong, lalu menyipitkan matanya.


“Bukankah itu Nona Besar Wei?” tanya Tuan Muda Kong.


Tuan muda yang lainnya seketika menoleh mengikuti arah pandang Tuan Muda Kong. Mereka melihat seorang wanita duduk berhadapan dengan seorang pria. Pikiran licik mereka tiba-tiba muncul. Mereka hendak menjahili Wei Linglong tanpa tahu kalau wanita itu bukan lagi Wei Linglong yang mereka kenal.


“Tuan Muda Nuo, mantan calon istrimu duduk di dekatmu, apa kau tidak merasa bersalah?” goda Tuan Mua Chen.


Orang yang dipanggil Tuan Muda Nuo hanya menatap malas pada Wei Linglong dan menanggapi godaan Tuan Muda Chen acuh tak acuh.


“Aku sudah tidak punya hubungan apapun lagi dengannya. Kau tidak perlu mengungkit masalah itu,” ujar Tuan Muda Nuo.


“Mungkin karena dia wanita yang kasar.” Tuan Muda Nuo kembali berbicara.


“Kalau Kaisar menerimanya, dia berarti sudah buta!” seru Tuan Muda Chen.


Ketiga pemuda itu tidak tahu kalau sedari tadi, Wei Linglong mendengarkan semua ocehan mereka terhadapnya. Suasana hatinya baru saja membaik, namun langsung memburuk seketika karena ulah ketiga pemuda itu. Wei Linglong ingat seseorang pernah mengungkit nama Tuan Muda Nuo. Tuan muda itu adalah calon suami yang meninggalkannya sebelum hari pernikahan.


“Bajingan sialan ini!” ucap Wei Linglong sambil menggebrak meja.


Tidak apa-apa jika mereka membicarakannya, tapi bisakah mereka tidak membawa nama kaisar pada perbincangan mereka? Kaisar bukanlah orang yang bisa diperbincangkan sembarangan, namun mereka bahkan berani mengatainya buta dan berbicara buruk tentangnya.


Bagaimana bisa seorang kaisar dipermalukan seperti itu? Meskipun Wei Linglong masih marah pada pria itu, dia tidak terima kalau pemuda-pemuda bodoh ini mengolok-oloknya!


Wei Linglong menghampiri ketiga pemuda itu, lalu menuangkan sepoci teh ke makanan pesanan mereka. Makanan-makanan lezat itu berubah menjadi sup teh yang mengerikan. Wei Linglong juga menendang meja hingga objek di atasnya bergetar. Ketiga pemuda ini terkejut, lalu berdiri bersamaan.


“Kau!” seru Tuan Muda Chen.


“Jangan kalian pikir karena suasana hatiku sedang buruk, kalian bisa menindasku! Kalian juga berani mengolok-olok Kaisar Mingzhu, keberanian kalian besar sekali!”


Tuan Muda Chen, Tuan Muda Nuo dan Tuan Muda Kong marah. Namun, melihat sorot mata mematikan dan aura dingin yang menguar dari wanita itu membuat semua nyali mereka menciut. Ketiga pemuda itu saling bertatapan. Mereka masih marah, mereka sedang menunggu apa yang akan dilakukan wanita ini selanjutnya.


“Karena kalian bilang dia buta, maka aku akan membantu kalian merasakan seperti apa orang buta itu! Kalian pikir kalian hebat?” tanya Wei Linglong. Wanita itu berkacak pinggang, mencak-mencak di hadapan semua orang.


“Kau hanya seorang selir kecil! Wei Linglong, bahkan jika kau mati di sini pun, Kaisar tidak akan pernah mempedulikannya!” seru Tuan Muda Nuo.


“Oh, kau Tuan Muda Nuo, pria bajingan yang tidak seperti pria itu? Ternyata mukamu tebal juga! Kau masih berani berkeliaran setelah membuat seluruh keluargaku menanggung malu! Memangnya kenapa kalau Yang Mulia tidak datang? Apa kalian pikir aku tidak berani bertindak pada kalian?”


Wei Linglong menghajar ketiga pemuda itu. Pertama, dia menampar wajah mereka secara bergantian. Kedua, dia membalikkan meja, lalu memukul tulang kering ketiganya. Ketiga pemuda itu dihajar habis-habisan hingga tempat di sekitarnya berantakan. Para pengunjung yang melihatnya menonton seperti sebuah pertunjukkan, bukan memisahkan mereka semua.


Wei Shiji berusaha menghentikan adiknya. Saat ini dia menyandang status sebagai selir kekaisaran, tidak boleh sembarangan bertindak. Namun, usahanya sia-sia karena adiknya sudah berada di luar kendali. Wei Shiji hanya bisa berdiri dari samping, ikut berbaur bersama penonton yang lain.


“Kenapa mereka berkelahi?” tanya seorang pengunjung yang baru datang.


“Ketiga pemuda itu menyinggung nona itu, bahkan sampai mengolok-olok Kaisar Mingzhu. Jadi, nona itu menghajarnya,” jawab pengunjung yang lain.


“Oh, pantas saja.”


Keributan itu baru berhenti ketika Bu Guanxi datang. Sang komandan kebetulan lewat setelah menjalankan tugas, lalu mendengar suara perkelahian. Karena dia mendengar seseorang menyebut kaisar, mau tidak mau dia masuk ke dalam restoran. Tidak disangka, di lantai dua, Selir Chun sedang berkelahi dengan tiga orang pemuda.


Tuan Muda Chen, Tuan Muda Nuo dan Tuan Muda Kong babak belur. Penampilan mereka acak-acakan karena ulah Wei Linglong, sementara wanita itu sama sekali tidak terluka. Bajunya hanya kotor sedikit. Wei Shiji berdiri di samping adiknya, mencoba untuk menenangkannya.


“Bu Guanxi, cepat bawa ketiga bajingan ini pergi!” perintah Wei Linglong.


Bu Guanxi menurut. Sang komandan membawa keluar ketiga pemuda tersebut, lalu pergi dari restoran. Orang-orang di sana bertanya-tanya siapakah sebenarnya nona muda ini, apa identias aslinya hingga bisa membuat seorang pengawal pribadi Kaisar Mingzhu patuh.


“Long’er, ayo pergi. Tempat ini sudah tidak aman untukmu,” ucap Wei Shiji.


“Tuan pemilik, antarkan catatan kerugaiannya ke kediaman Adipati Jing,” tambahnya.


Sayang sekali, sebelum para pengunjung menyadari kalau nona muda yang menghajar ketiga pemuda tadi adalah Selir Chun, Wei Shiji dan Wei Linglong sudah keluar terlebih dahulu. Hari sudah siang, musim panas sudah datang. Wei Linglong mengikuti kakaknya ke Restoran Yumai untuk menikmati kembali waktu yang tertunda akibat perkelahian tadi.


...***'...