
Setelah Murong Qin pulih, pekerjaan di Istana Yanxi dan Istana Yanzhi kembali seperti semula. Seperti biasa, Murong Qin kembali menghadiri sidang pengadilan pagi. Anehnya, dia semakin sering memahami para menterinya habis-habisan. Hari ini, dia bahkan memarahi Perdana Menteri Xu dan Menteri Administrasi sampai menteri lain ketakutan.
Tentu saja, itu semua disebabkan oleh hasil pengawasan rahasia mengenai hasil kerja mereka yang diserahkan Wei Linglong kepada Murong Qin. Berkat hasil pengawasan itu, Murong Qin bisa tahu pekerjaan mereka apakah berjalan dengan benar atau tidak. Itu pula yang membuat Murong Qin berasa terbantu untuk mengevaluasi kinerja para menterinya.
Berita mengenai Permaisuri Yi yang dikurung selama satu bulan ke depan juga sempat menjadi perbincangan di rapat pengadilan. Beberapa pejabat pendukung Permaisuri Yi keberatan atas hal tersebut karena mereka menganggap itu hanyalah sebuah kesalahpahaman yang tidak perlu diperpanjang. Mereka juga mengatakan kalau Selir Chun sebagai korban tidak mendapat kerugian apa-apa, jadi tidak perlu sampai mengurung Permaisuri Yi.
Itu memang sebuah keanehan di mana seorang permaisuri kalah oleh seorang selir kecil. Dunia benar tentang cinta yang mengalahkan segalanya. Namun, seberapa keras para menteri itu mendebatnya, Murong Qin selalu bisa mengalahkan mereka semua dengan alasan logis dan masuk akalnya.
Di Istana Yanxi, dia sedang duduk di kursi kerjanya sambil memeriksa beberapa dokumen laporan lain. Wei Linglong merebahkan diri santai di kursi panjang di dekat ruangan tersebut sambil menikmati pijatan Xiaotan di kepalanya.
Dia sudah menyerahkan laporan hasil pengawasan rahasianya kepada pria itu. Wei Linglong sengaja tak kembali ke Istana Fenghuang karena ingin menyaksikan bagaimana pria itu memeriksa dokumen-dokumennya.
“Aku tahu dia habis memarahi menteri-menterinya. Aish, apakah menjadi pengawas rahasia membuatku menjadi pemeran antagonis?” gumam Wei Linglong.
“Yang Mulia itu hebat. Nyonya juga hebat. Kalian pasangan yang serasi,” ucap Xiaotan polos.
“Apanya yang serasi? Xiaotan, aku rasa kau perlu menjernihkan matamu. Lihat pria batu es itu, permaisurinya sedang dikurung dan dia tidak mempedulikannya.”
“Bukankah permaisuri dikurung juga kehendak nyonya? Kenapa sekarang nyonya kasihan kepadanya?”
“Aku tidak kasihan. Aku hanya tidak menyangka kalau apa yang kami rencanakan berakhir seperti itu. Seharusnya Ibu Suri tidak datang waktu itu, agar permaisuri bisa langsung jatuh seketika.”
“Kalau kau ingin menjatuhkan Permaisuri Yi, itu akan sedikit sulit,” ucap Murong Qin yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang kursi santai, memandangi Wei Linglong sambil tersenyum ramah.
“Yang Mulia sudah selesai?” tanya Wei Linglong.
Murong Qin menganggukkan kepala.
“Permaisuri Yi mungkin tidak akan bertindak selama satu bulan ke depan. Sekarang yang harus kau waspadai adalah Ibu Suri. Sayapnya telah patah satu, dia akan berusaha lebih keras lagi.”
“Aku rasa tidak. Ibu Suri adalah orang yang berhati-hati, dia tidak akan bertindak sendirian.”
Entah apapun alasannya, Ibu Suri tetaplah orang yang harus diwaspadai. Dia adalah otak dari segala macam kemalangan yang menimpa Wei Linglong selama ini. Menantu kesayangannya sudah dia kurung, Ibu Suri pasti sangat marah. Jika bukan di hadapan kaisar, sekarang Permaisuri Yi mungkin masih bebas berkeliaran di istana seperti tanpa dosa setelah hampir menganiaya Wei Linglong.
Murong Qin khawatir kalau perkutut tua itu merencanakan hal yang lebih berbahaya. Bendera perang sudah lama berkibar, itu seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja. Apalagi, belakangan dia mendengar kalau beberapa pejabat ibukota bertemu dengannya secara pribadi entah membicarakan apa. Kecurigaan terhadap Ibu Suri dan Permaisuri Yi kian lama kian membesar.
“Yang Mulia, bukankah para menteri memprotes pengurungan Permaisuri Yi?” tanya Wei Linglong.
“Ya. Tapi, kau tidak perlu khawatir. Aku sudah bertarung dalam pengadilan selama bertahun-tahun, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Esok mereka juga akan bersikap seperti biasa,” jawab Murong Qin.
Wei Linglong menegakkan tubuhnya. Saat dia sedikit lengah, Murong Qin merangkul lehernya dari belakang hingga membuat wanita itu terkejut. Napas Murong Qin terasa menepuk halus lehernya yang terbuka. Seluruh buku kuduk Wei Linglong langsung merinding. Tubuhnya bereaksi secara alami.
Alih-alih melepaskan tangannya, Murong Qin malah menyusupkan wajahnya ke bahu Wei Linglong. Wei Linglong bergidik geli. Jantungnya berdebar sangat kencang, perlahan wajahnya mulai memerah. Untung saja Xiaotan ada di belakang, pelayan itu tidak akan melihat wajahnya yang mulai terlihat seperti udang rebus.
“Y-Yang Mulia, apa yang kau lakukan?”
“Memeluk selirku,” ucap Murong Qin sambil tetap membenamkan wajahnya.
“Jangan lepaskan. Kau tidak membiarkanku memelukmu dari depan, setidaknya biarkan seperti ini. Sebentar saja, sebentar saja,” ujar Murong Qin.
Murong Qin baru menyadari kalau tubuh selirnya itu sangat wangi. Kulit bahunya juga sangat halus, putih dan kenyal. Selirnya yang lain mungkin juga memiliki kulit yang bagus, tetapi tidak selembut milik Wei Linglong. Dia menebak kalau wanita ini sangat pandai menjaga tubuhnya.
Itu membuatnya merasa sangat nyaman. Hanya dengan merangkulnya dari belakang saja, Murong Qin merasakan ketenangan dan kenyamanan yang membuat seluruh tubuh lelahnya rileks. Aroma di tubuh Wei Linglong seperti aroma terapi yang merasuk ke dalam indera penciuman, memberikan ketenangan pikiran. Wei Linglong seperti sebuah magnet obat.
Apakah ini karena dia menyukai dan mencintainya?
“A-Ling, aku pasti akan membalas perbuatan Permaisuri Yi yang mencoba membunuhmu berkali-kali. Beri aku waktu, aku pasti akan memberimu keadilan,” ucap Murong Qin. Bibirnya bergetar.
Wei Linglong bergeming akibat gerakan bibir Murong Qin di bahunya. Sebenarnya, permaisuri yang dikurung sudah cukup untuknya. Namun untuk mencegah bencana lebih besar, kaisarnya memutuskan untuk menghukum dengan cara lain namun memerlukan waktu cukup banyak. Menggulingkan seorang permaisuri tidak semudah membalikkan telapak tangan.
“Yang Mulia tidak perlu sampai menggulingkannya. Aku hanya ingin dia dihukum atas perbuatannya,” tukas Wei Linglong.
“Jika kesalahannya fatal, dia sudah tidak pantas menduduki posisi itu. Posisi permaisuri hanya bisa diisi oleh wanita berbudi mulia, tidak hanya wanita yang berambisi besar. Kau tahu, seorang permaisuri seperti wajah seorang kaisar. Jika aku menutup mata atas kesalahannya, kekaisaran ini hanya akan menjadi lelucon di mata semua orang.”
“Terlahir dan masuk ke keluarga kerajaan ternyata memiliki bayaran yang sangat mahal. Tidak hanya terikat banyak aturan, wanita juga menjadi pusat perhatian semua orang hingga setiap langkah kakinya harus dilangkahkan dengan hati-hati,” ucap Wei Linglong getir.
“Itu adalah resiko yang harus ditanggung demi sebuah kehormatan. Betapapun menyakitkannya, mereka yang ingin namanya tertulis di silsilah keluarga kerajaan harus menanggungnya seumur hidup,” Murong Qin menyambung perkataan Wei Linglong.
“Salahkan hati yang tidak konsisten. Kalau hati tidak dipenuhi iri, mungkin kehidupan di dalam istana ini akan jauh lebih baik.”
Murong Qin mengangkat wajahnya, lalu menangguhkan dagunya di bahu Wei Linglong sambil menatap ke depan. Lelah dan getir yang dia rasakan selama hidup di dalam istana ini tidak terhitung, namun dia tidak bisa mengeluh karena seluruh daratan Dinasti Yuan ini memerlukan pengaturan dari seorang pemimpin yang ditunjuk langsung oleh pemimpin mereka sebelumnya.
Dulu, dia tidak pernah mengenal apa itu kasih sayang terhadap seseorang. Murong Qin hanya tahu kalau dia harus menyayangi rakyatnya, memberi mereka pengaturan dan kehidupan yang layak dan sejahtera. Dulu, Murong Qin bersikap dingin dan kejam kepada siapapun yang berbuat jahat dan licik guna memberikan contoh agar perbuatan buruk itu tidak terulang.
Itu berlangsung selama bertahun-tahun hingga hatinya perlahan mengeras dan membeku. Sikap seperti itu juga membuatnya sedikit bicara dan hampir tidak pernah tersenyum. Akan tetapi sekarang, setelah dia mengenal Wei Linglong dan jatuh cinta padanya, hatinya yang mengeras dan membeku itu perlahan mencari mengalirkan rasa yang sebelumnya telah hilang.
“Ya. Hati manusia yang tidak konsisten yang membuat mereka menjadi seperti itu,” kata Murong Qin.
“Karena itulah, aku harus bekerja keras agar hati yang buruk seperti itu tidak menulari yang lain,” tukas Wei Linglong yang tiba-tiba teringat pada pekerjaannya sebagai menteri pengawas rahasia.
“Perlahan saja, A-Ling. Jangan terlalu memforsir diri,” ucap Murong Qin.
Dia tidak tahan untuk tidak mencium Wei Linglong. Kejadian malam itu selalu terbayang di benaknya, menghantuinya hingga dia sering terbangun saat malam. Murong Qin tiba-tiba merindukan bagaimana hangatnya malam itu, tentang bagaimana dia dan Wei Linglong saling mencari satu sama lain meskipun dalam keadaan tidak sadar.
Murong Qin cukup tersiksa. Sekarang, selagi ada kesempatan, dia ingin menyingkirkan perasaan menyiksa itu. Murong Qin lantas menggigit bahu Wei Linglong pelan namun meninggalkan bekas, lalu beralih menggigit telinga Wei Linglong. Wanita itu menggelinjang, terkejut sekaligus geli, juga kesal karena Murong Qin melakukannya dengan sengaja.
Namun sebelum dia membalas Murong Qin, pria itu malah sudah berlalu meninggalkannya.
...***...
...Wah, Murong Qin udah mulai nempel-nempel ke Linglong nih, hihihi......