The Legend Of Chunfei

The Legend Of Chunfei
FRAGMEN 22: MULAI BERTINDAK



Ibu Suri menatap tajam Permaisuri Yi yang tengah berlutut di depan tempat duduknya. Wajahnya begitu garang seolah-olah Permaisuri Yi adalah seorang pendosa yang pantas dihukum berat. Tangannya memegang pegangan kursi berbentuk burung pegar dari emas, menyimpannya di sana tanpa tenaga.


“Yang Mulia, berikan aku kesempatan lagi.”


Permaisuri Yi terus memohon. Di hadapan mertuanya, dia hanya seorang menantu bodoh yang tidak bisa apa-apa. Permaisuri Yi sudah berlutut selama empat jam, tetapi mertua agungnya ini sedikitpun tidak berniat untuk memaafkannya. Lututnya yang berharga sudah sangat sakit. Wajahnya sudah terasa kaku karena sedari tadi tak berhenti bersedih.


Semua ini gara-gara selir baru Kaisar Mingzhu-nya. Jika saja Wei Linglong tidak muncul pada hari perjamuan ulang tahun, Permaisuri Yi tidak perlu berlutut seperti ini. Dia tidak perlu memohon pada Ibu Suri untuk memberinya kesempatan sekali lagi dan memohon ampun padanya atas ketidakmampuannya mengendalikan wanita Istana Dalam.


Permaisuri Yi dianggap tidak cerdas oleh Ibu Suri karena tidak mampu menegur seorang Wei Linglong yang secara implisit telah menghinanya di hadapan semua orang. Sejak hari perjamuan ulang tahun, Ibu Suri terus memberinya tekanan dan ancaman secara tidak langsung. Orang tua itu berkata bahwa sebagai seorang pemimpin Istana Dalam, mengatasi selir tidak sopan seperti Selir Chun seharusnya menjadi tugas yang mudah. Tetapi Permaisuri Yi bahkan tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun saat Wei Linglong terang-terangan menghadiahkan tiga buah wortel pada Ibu Suri.


Lan Shiyi, sebagai seorang permaisuri yang sudah menjabat selama enam tahun, dibuat tidak berdaya oleh seorang wanita yang baru masuk istana. Wei Linglong telah lepas dari pengawasannya. Dia mungkin telah salah membuat pengaturan untuk wanita itu. Di Istana Dalam, dia dan Ibu Suri adalah wanita yang paling dihormati dan paling ditakuti. Selir kecil yang tidak punya dukungan kuat selalu tunduk kepadanya, takut akan keagungan dan kekuasaan yang Permaisuri Yi miliki.


Orang mungkin mengira Permaisuri Yi hanya seorang permaisuri boneka yang dikendalikan oleh Ibu Suri. Akan tetapi, tidak ada yang tahu kalau dia adalah seorang wanita yang memiliki keagungan tersendiri. Di hadapan selir lain, dia adalah sosok permaisuri agung yang auranya sangat kuat. Tubuhnya tinggi semampai, wajahnya seperti bulan purnama, kulitnya seperti susu. Tidak ada yang kurang dari penampilannya. Lan Shiyi mungkin telah mematahkan hati banyak pria ketika dia masuk ke istana sebagai seorang permaisuri.


Tindakannya dalam mengatur Istana Dalam selalu sesuai dengan arahan Ibu Suri hingga dia selalu membuatnya merasa puas. Sekarang, karena keteledorannya, dia telah mengecewakan mertuanya. Berlutut selama empat jam sebenarnya belum cukup untuk membayar kesalahannya.


Ibu Suri menghela napas. Kemarahannya kepada Wei Linglong belum mereda hingga hari ini. Sebagai seorang pemegang kekuasaan tertinggi, Ibu Suri bisa langsung menghukum Wei Linglong saat itu juga. Akan tetapi, dia tidak bisa melakukannya karena wanita itu begitu pandai bermain kata hingga banyak orang yang terjebak. Jika dia bertindak saat itu, dia hanya akan membuat Wei Linglong menang.


Selama puluhan tahun, baru kali ini dia merasa kalah oleh seorang selir kecil. Pertarungan macam apa yang belum dia lalui di istana ini? Sejak dia menjadi permaisuri Kaisar sebelumnya, segala macam tabiat dan sifat licik wanita istana sudah dia kuasai. Dia sudah mengatasi ratusan bahkan ribuan wanita yang tidak patuh hingga tunduk di bawah kakinya. Dia menjadi wanita yang begitu mendominasi, keagungannya bercampur dengan sifat kejam dan tegas yang sudah mandarah daging. Sifatnya terbungkus dalam keanggunan.


Ibu Suri dididik untuk menjadi permaisuri oleh keluarganya. Dia terlahir sebagai seorang wanita calon penguasa istana. Segala aturan keluarga dan aturan istana dikuasai hingga hapal di luar kepala. Bahkan pada saat masih remaja, dia sudah berani membunuh saudarinya sendiri dengan meminjam tangan orang lain. Tangannya sudah berlumuran darah orang lain untuk sampai ke posisinya saat ini.


Ambisius, memiliki tekad kuat, kejam, berhati keras, itu semua hanyalah sebagian kecil dari sifatnya. Ibu Suri sudah terbiasa memenangkan banyak hal. Jadi, ketika dia menemukan kegagalan, dia akan merasa sangat tidak puas. Dia akan menemukan cara lain untuk menghapus kegagalan tersebut.


Itulah yang membuat Ibu Suri begitu marah. Dia sangat tidak puas karena Permaisuri Yi tidak mampu mengatasi seorang selir kecil. Sosok Wei Linglong yang bertampang mengesalkan dengan senyum meremehkan di bibirnya membayang kembali.


Tidak apa-apa jika dia tidak mendapatkan informasi mengenai plakat perintah militer dari mulut wanita itu. Tetapi, membuatnya tunduk dan patuh bukankah seharusnya menjadi pekerjaan mudah? Ibu Suri merasa kalau Permaisuri Yi bahkan lebih bodoh dari Permaisuri Hong yang sudah mati tujuh tahun lalu.


Selir De, Selir Pei, Selir Ou, Selir Han dan Nona Berbakat Qi sebenarnya adalah wanita yang diutus oleh Permaisuri Yi dan Ibu Suri untuk membuat Wei Linglong patuh di bawah perintahnya. Tidak disangka, kelima wanita itu malah pulang dengan kegagalan. Keadaan mereka bahkan lebih mengerikan karena Wei Linglong ternyata mampu melawan mereka semua.


Dia sudah cukup menahan kemarahan dan menanggung malu pada saat Wei Linglong mengatakan dia berada di usia senja dan penglihatannya bisa memburuk. Pada detik itu, Permaisuri Yi seharusnya menegurnya, bukan malah ikut terjebak dalam permainannya. Tapi apa? Menantunya ini malah membiarkan wanita tidak bisa diatur itu menang.


“Panggil Selir Chun kemari!” perintah Ibu Suri pada pelayan.


“Huanghou, bangunlah.”


Permaisuri Yi kemudian bangun dibantu oleh dua pelayannya. Dia didudukkan di sebuah kursi mewah yang ada di dekat kursi Ibu Suri. Kulit wajahnya pias akibat terlalu lama menyentuh lantai yang dingin. Perhiasan di kepalanya bergoyang ketika dia mendongakkan kepala, mempertanyakan untuk apa Ibu Suri memanggil Wei Linglong kemari.


“Ini adalah kesempatan terakhirmu. Jika Permaisuri tidak mampu mengatasi Selir Chun kali ini, jangan salahkan aku jika bertindak kejam padamu.”


“Terima kasih, Yang Mulia.”


Kali ini, Permaisuri Yi berjanji tidak akan melepaskan Wei Linglong. Dia pasti menghukumnya dengan berat. Permaisuri Yi yakin, Wei Linglong sebenarnya tidak mempunyai dukungan dari Murong Qin. Wanita itu mungkin hanya sedang dibantu situasi saja sehingga dia bisa menang. Tetapi kali ini, Permaisuri Yi akan memastikan kalau Wei Linglong tidak akan bisa lari.


Tidak lama kemudian, pelayan Istana Tian Yue memberitahu kalau Selir Chun sudah dibawa kemari. Ibu Suri dan Permaisuri Yi kemudian keluar istana. Di halaman depan, Wei Linglong tengah berdiri dengan wajah kesal. Kedua tangannya dipegang erat oleh dua pelayan wanita Istana Tian Yue. Ekspresinya jelas menunjukkan kalau wanita itu sangat marah.


Bagaimana tidak, dia tiba-tiba didatangai beberapa pelayan wanita yang memintanya pergi ke komplek Istana Dalam saat dirinya sedang bermain ayunan. Para pelayan itu datang dengan tidak sopan. Perkataan mereka sangat sarkas dan tidak menunjukkan rasa hormat sama sekali. Mereka bahkan melupakan aturan bahwa siapapun tidak boleh masuk ke Istana Fenghuang tanpa seizin Kaisar.


Untung saja Murong Yu sudah diantar ke istananya.


Saat Wei Linglong menolak, para pelayan itu mulai bertindak. Mereka mencengkram tangan Wei Linglong. Dia yang kalah dalam jumlah tidak mampu mengimbangi tenaga para pelayan wanita yang ternyata cukup besar juga. Wei Linglong dibawa ke Istana Dalam sambil setengah diseret.


“Masih congkak? Buat dia berlutut!”


Kedua pelayan menekan bahu Wei Linglong, memaksanya berlutut di tanah halaman Istana Tian Yue. Wei Linglong sedikit meringis karena lututnya tiba-tiba harus bersentuhan dengan tanah secara mendadak. Dia berusaha melepaskan diri, tetapi tenaganya tidak cukup.


“Selir Chun, kau sudah tahu kesalahanmu?” tanya Permaisuri Yi.


“Tampaknya, Selir Chun tidak menghapal aturan untuk wanita istana.”


“Memangnya apa kesalahan yang kubuat?”


“Kau masih bertanya? Selir Chun, kau keluar istana tanpa izin bahkan saat kau sedang dalam masa hukuman. Ah, jika aku tidak salah menghitung, kau sudah keluar istana tanpa izin sebanyak tiga kali. Bukankah itu benar?”


“Kau memata-mataiku?”


“Sebagai pemimpin Istana Dalam, itu adalah hal yang sangat wajar.”


Wei Linglong membuang wajahnya ke samping sambil tertawa. Mengapa dia begitu bodoh? Dia bahkan tidak tahu kalau kasim sialan, Kasim Du, sebenarnya adalah mata-mata dari Permaisuri Yi dan Ibu Suri! Seharusnya hari itu dia menyumpal mulut Kasim Du dengan tomat busuk sampai mati lemas.


“Begitukah? Permaisuri Yi, apa Anda salah mendengar? Aku tidak pernah keluar istana tanpa izin.”


“Kau masih menyangkal? Kau bahkan masih pongah setelah menghina Yang Mulia!”


“Benar-benar permaisuri yang pendendam. Kalau Anda berada di zamanku, Anda mungkin sudah diceraikan suami!”


Permaisuri Yi mensejajarkan posisi tubuhnya dengan Wei Linglong, mengangkat tangan, kemudian menampar pipi Wei Linglong dengan tangan kanannya. Bekas tamparan memerah di pipi putih tersebut. Kepala Wei Linglong sempat terkulai sesaat, kemudian kembali mendongak sambil tertawa meremehkan. Dia tidak bisa melawan balik karena kedua tangannya dicekal.


“Kau punya dua pilihan. Ambil kembali plakat perintah militer atau terima hukuman dariku!” seru Ibu Suri.


Mengetahui ancaman dari Ibu Suri, Wei Linglong kembali tertawa. Tamparan seperti ini tidak cukup untuk membuat dirinya ketakutan. Sebaliknya, Wei Linglong justru semakin berani ketika kemarahannya mencapai ambang batas. Dia menatap Ibu Suri dengan remeh, memandangnya seperti sedang memandang kotoran. Dia pikir dirinya penakut, tetapi ketika dia mengalami penindasan, keberaniannya tiba-tiba muncul.


“Jangan pernah berpikir kalau Yang Mulia Kaisar ada di belakangmu!”


“Aku tidak pernah berdiri di atas bayangan orang lain!”


“Selir Chun, apa kau lupa? Kaisar dipersulit para menteri karena perbuatanmu semalam! Kau pikirkan saja, apa yang terjadi jika dia harus kembali menyelamatkanmu karena telah melawan Permaisuri dan Ibu Suri?” ucap Permaisuri Yi sambil memegang dagu Wei Linglong.


“Sayang sekali wajah cantik ini tergores jari.”


Wei Linglong tidak ingin memilih. Mencuri plakat militer sama saja dengan mencari mati. Dia tidak ingin mati lagi. Dia juga tidak mau melibatkan Murong Qin lagi. Jika Murong Qin terlibat, maka Wei Linglong benar-benar tidak akan bisa melepaskan diri dari perasaan berhutang budi.


Semuanya serba salah. Dia tidak ingin melibatkan orang lain tetapi dia sendiri juga tidak mau dihukum. Hukum pukulan untuk wanita di zaman ini sama saja dengan mencelakainya. Apalagi, papan kayu yang dipukulkan dengan keras akan menimbulkan rasa sakit yang luar biasa.


Akan tetapi, ketimbang melibatkan orang lain dan mempersulit mereka lagi, lebih baik dia menanggung hukuman seorang diri. Tidak apa-apa, tubuhnya hanya akan terluka di bagian luar. Wei Linglong hanya akan menderita selama beberapa minggu, setelah itu bisa sembuh kembali. Ini lebih baik daripada membuat orang lain ikut terlibat sampai dia tidak bisa membayarnya seumur hidup.


“Pelayan! Selir Chun tidak menaati peraturan istana dan bertindak sembrono. Dia akan dihukum dua puluh lima kali pukulan!”


Wei Linglong dibaringkan di atas papan kayu dalam posisi telungkup. Kedua tangannya diikat. Tidak lama setelah itu, dua pelayan pria datang membawa papan pemukul. Setelah Permaisuri Yi memberi isyarat, mereka mulai menghukum Wei Linglong sesuai dengan arahan.


Satu persatu pukulan mulai diterima Wei Linglong. Papan kayu itu dipukulkan begitu keras seolah tubuhnya adalah sebuah batu. Permaisuri Yi dan Ibu Suri tampaknya bukan ingin menghukum, tetapi ingin membunuhnya. Wei Linglong menahan suaranya, berusaha keras agar dia tidak berteriak. Peluh sudah membasahi seluruh tubuhnya. Sudut bibirnya mulai memudar warnanya.


Permaisuri Yi justru semakin geram. Pukulannya sudah yang ke sepuluh kali, tetapi wajah itu sama sekali tidak menunjukkan akan menyerah. Sebaliknya, wajah Wei Linglong justru menunjukkan ketegaran dan keteguhan hati yang begitu kuat. Tidak peduli seberapa keras dan seberapa sakit pukulan papan, wajah marah dan tegar itu sama sekali tidak berubah.


Seluruh tubuh Wei Linglong seperti dilemparkan dari atas tebing. Dia sudah tidak punya tenaga untuk menahan rasa sakit dari pukulan tersebut, namun masih berjuang untuk bertahan. Jika dia menyerah sekarang, Permaisuri Yi dan Ibu Suri akan merasa diuntungkan. Wei Linglong tidak ingin membiarkan mereka mendapatkan keinginannya. Jadi, dia harus terus bertahan sampai pukulan terakhir.


Tepat sebelum pukulan kelima belas dilayangkan, para pelayan tiba-tiba berhenti ketika sebuah suara yang agung berseru dari arah gerbang. Seketika, semua orang yang ada di halaman Istana Tian Yue langsung terpaku di tempat.


“Hentikan!”


...***...