The Legend Of Chunfei

The Legend Of Chunfei
SIDE STORY 2: FORECAST



Pasar Kota Yongji, Setahun Sebelum Musim Gugur Terakhir.


Kaisar Mingzhu menatap gadis dua puluh tiga tahun yang tengah berlari menuju sebuah toko penjual jepit rambut dengan begitu riang. Langkah ringannya seperti sebuah kaki bidadari yang tengah menapaki awan putih di angkasa.


Beberapa waktu ini, hari-harinya dilalui dengan datangnya hantu bayangan dari gadis itu. Ada banyak sekali wanita di dunia ini, yang lebih cantik, cerdas dan lebih elegan dibandingkan dengannya, namun entah mengapa hatinya justru tertarik pada gadis yang satu ini.


Selir Chun sudah tampak berbeda sejak pertama kali dia melihatnya di pasar sebagai penjual akar teratai. Kaisar Mingzhu sama sekali tidak menyangka bahwa gadis yang menipunya adalah salah satu istrinya, yang tanpa diketahui telah memasuki Istana Dingin selama beberapa hari.


Apakah dia menyukainya hanya karena gadis itu berbeda dari yang lain?


Entahlah. Kaisar tidak pernah merasakan hatinya bergetar karena seseorang selama hidupnya. Dia hidup sebagai Pangeran Mahkota di Istana Timur, yang mendapat gelar berkat usahanya sendiri, bukan sebuah pemberian atau warisan karena dirinya hanya pangeran yang terlahir dari seorang selir.


Semenjak Kaisar Mingzhu kecil, bakatnya sudah menonjol hingga menarik perhatian Ibu Suri Agung dan Kaisar saat itu. Hatinya tidak pernah diselimuti kehangatan karena seluruh harinya dia gunakan untuk bertahan hidup.


Seharusnya hatinya tetap dingin seperti dahulu. Dengan begitu, dia tidak perlu khawatir akan dihantui oleh rasa bersalah setiap kali menjatuhkan hukuman atau memberi hadiah yang merubah hidup seseorang.


Semua istrinya di Istana Dalam hanyalah putri-putri bangsawan dari seluruh Yuan, yang masuk ke istana untuk mempertahankan keseimbangan kekuasaan di pengadilan. Dia tidak membenci mereka, namun juga tidak menyukai mereka. Kaisar hanya menganggap mereka 'ada' saja.


Kini dia tidak bisa. Hatinya tidak bisa sedingin dulu. Gadis itu telah datang padanya dengan membawa api yang membakar hatinya, melelehkan tembok es yang sangat tebal. Sulit untuk mengatakannya, namun sulit juga baginya untuk mengendalikannya.


Kaisar Mingzhu mengamati gadis itu diam-diam. Di pintu masuk toko, dia melihat Selir Chun tengah memilih jepit rambut dan mencobanya di cermin. Wajah cantiknya itu begitu riang dan bercahaya meski pakaiannya tidak sebagus yang dikenakan para wanita istana.


"Yang Mulia! Belikan yang ini!"


Kaisar Mingzhu terperangah saat gadis itu berteriak memintanya membayar sebuah jepit rambut emas dengan hiasan bunga magnolia yang tengah mekar. Harganya tidak tinggi, hingga dia bertanya-tanya mengapa gadis ini membeli jepit rambut yang bahkan lebih murah dari sebuah kain biasa.


"Ada banyak barang seperti ini di istana. Untuk apa kau membelinya?"


Gadis itu mengedikkan bahunya.


"Hanya suka. Untuk apa perlu alasan? Yang Mulia tidak mungkin tidak punya uang, bukan?"


Kaisar Mingzhu mengeluarkan beberapa tael perak dari saku bajunya. Membawa gadis ini keluar dari istana memang memerlukan sebuah persiapan.


Ketika mereka berdua keluar dari toko, ada banyak orang uang berkerumun di depan toko seolah-olah sedang menunggu seseorang. Kaisar Mingzhu baru menyadari bahwa panggilan Selir Chun kepanya rupanya terdengar sampai keluar, menarik perhatian banyak orang.


"Itu Kaisar Mingzhu dan Selir Chun!"


Ketika seseorang dari kerumunan berteriak, dia dan gadis itu langsung saling berpandangan. Tampaknya, hari ini mereka harus berolahraga dengan bermain kucing-kucingan.


Kaisar dan Selir Chun menerobos kerumunan dengan susah payah. Para penduduk ini sungguh tidak memiliki rasa takut ketika mengepung Kaisar mereka, malah justru sengaja datang seperti hendak menonton pertunjukkan.


"Selir Chun, cepat larinya!"


Selir Chun mengangkat roknya dan mengeluarkan kecepatan terbaiknya untuk menghindari kerumunan. Sejak dirinya datang ke dunia ini, baru pertama kali dia merasakan berlari seperti dikejar setan, yang lebih menegangkan daripada tes ujian olah raga di sekolah formal.


Keduanya berhasil meloloskan diri dari kejaran penduduk. Dengan napas terengah-engah, Kaisar Mingzhu merubah ekspresi wajahnya yang merah dengan ekspresi kesal. Seharusnya mereka menghormatinya dan menyambutnya, bukan berkerumun dan memgejar seperti itu.


Selir Chun menenangkan dirinya dengan menarik napas beberapa kali. Pandangan matanya tiba-tiba menangkap sebuah kedai berisi kertas-kertas bertulisan aneh berwarna kuning yang menggantung di tiang-tiang kedai. Mungkin, itu semacam jimat berisi mantra sakti.


Dia tertarik. Selir Chun mengambil langkahnya, pergi menghampiri kedai tersebut. Seorang kakek berudia enam puluh tahunan sedang duduk menghadapi sebuah papan catur dan satu set batu-batu aneh yang letaknya bersusun membentuk sebuah formasi.


"Matahari datang dari masa yang tidak diketahui. Bersinar bagai musim semi sepanjang tahun, hangat pada musim dingin dan musim gugur. Sayang, musim semi tak berlangsung selamanya. Matahari akan kembali ke tempat asalnya." Kakek tua itu berucap demikian.


"Kakek, apa maksud perkataanmu? Matahari apa?"


Selir Chun tidak pernah tahu bahwa itu adalah sebuah puisi yang terbentuk secara spontan dalam setiap pertemuan singkat.


"Akan ada bunga yang merekah, namun duri telah menyebar ke semua arah. Sepasang merpati akan kembali bersatu, mengasah pedang untuk mendamaikan dunia."


Kaisar Mingzhu menggelengkan kepala ketika melihat ekspresi Selir Chun yang tidak mengerti akan maksud puisi tersebut. Kaisar agak terkejut, namun tidak ia ambil hati karena baginya itu hanya omong kosong belaka.


Kaisar menarik lengan Selie Chun, kemudian membawanya pergi meninggalkan tempat tersebut. Kakek tua itu tersenyum, namun matanya ternyata buta. Dia mengandalkan telinga untuk mendengar dan membantunya menganalisis siapapun yang datang ke kedainya.


"Nona, apakah kau mau beli satu jimatnya? Hidupmu tidak akan aman berada di tempat seperti itu."


"Kakek tua, aku dan tuan mudaku tidak memerlukannya. Kau simpanlah untuk dirimu sendiri."


Kakek tua tersenyum sambil mengusap janggu putihnya. Di sisa hidupnya yang sudah tua ini, akankah dia menyaksikan peperangan yang mengerikan di dunia, atau dunia justru baik-baik saja dan merasakan kedamaian?


Sang kakek tua mengeluarkan kecapinya, lalu memetik senarnya. Lantunan merdunya menggema ke segala arah, menyebarkan kesyahduan dari sebuah syair yang berirama senada.


"Yang Mulia, ada apa dengan kakek tua itu?" Selir Chun bertanya pada Yang Mulianya.


"Dia berkata kalau nasibmu campur aduk."


"Tapi tadi dia tidak mengatakan itu. Apa Yang Mulia salah mendengarnya?"


Gadis bodoh, pikirnya.


Mana ada orang yang meramalkan nasib buruk keluarga kerajaan dengan mengatakannya secara langsung. Sepanjang sejarah, para cendekiawan selalu menyembunyikan sebuah maksud lewat majas-majas yang berirama dalam syair dan puisi. Gadis ini bahkan tidak mengerti.


Kaisar Mingzhu sedikit terusik. Perkataan kakek tua itu sedikit aneh baginya. Mana mungkin gadis ini berasal dari dunia lain? Jelas-jelas dia hanyalah putri Jendal Yun. Bukan orang lain.


"Begini pun kau tidak tahu, cih..."


Selir Chun mengerucutkan bibirnya. Sudahlah jika pria ini tidak mau memberitahu, tapi bisakah dia tidak mengejeknya bodoh? Bagaimanapun, Selir Chun sekarang seperti turis yang tersesat di negara asing. Hanya punya satu sandaran saja.


...***...


...Haloo... Berhubung banyak yang berkomentar kecewa terhadap endingnya, tapi itu memang seharusnya seperti itu. Jadi, untuk menghibur kalian, Author tambahkan sidestory dari kisah mereka. Ingat ya, sidestory ini hanya cerita sampingan, bukan cerita utama. Di sini Author sengaja mengungkap beberapa kisah yang sebelumnya tidak diceritakan di episode-episode utama. So, enjoy with this story, dan sampai jumpa di cerita berikutnya! Kalau kalian ada request mau cerita seperti apa, komen di bawah ya!...