
Murong Qin terdiam menatap tumpukan laporan di meja kerjanya. Sejak pasukan kembali dari perbatasan dan peperangan telah usai, bukan berarti dunia yang ada di genggamannya sudah damai. Ini hanyalah permulaan karena dia yakin, masalah yang lebih besar sedang dalam perjalanan untuk menyerangnya.
Wei Shiji mengetuk pintu, memohon izin untuk masuk. Ada sebuah laporan rahasia yang dia dapat dari hasil penyelidikan bawahan-bawahannya. Saat sudah mendapat izin, dia melengang masuk melewati aula Istana Yanxi yang sangat besar itu. Dia melihat sang kaisar sedang duduk termenung seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Yang Mulia," panggilnya. Murong Qin langsung mengangkat wajahnya.
"Apa yang ingin kau laporkan?" tanya Murong Qin langsung pada intinya.
Wei Shiji mengeluarkan laporannya untuk dibaca. Ketika Murong Qin membacanya, alisnya berkerut. Ada kilatan kemarahan yang tertahan. Wei Shiji dapat melihat bahwa kaisarnya sedang mengkhawatirkan banyak hal dan laporannya kali ini mungkin telah membuat bebannya semakin bertambah. Tetapi apa daya, dia harus tetap melaporkannya karena ini adalah sesuatu yang penting.
"Mantan Gubernur Jiangzhou dan pelayan di penjara rahasia tidak mati karena bunuh diri. Ada semacam racun langka yang ditemukan setelah aku mengautopsi jenazah mereka," terang Wei Shiji.
"Sudah kuduga. Orang itu pasti sudah sangat tidak sabaran."
Wei Shiji kemudian memberikan satu buku laporan lagi. Kali ini tentang perkembangan kasus penculikan pemuda pemudi yang mulai menemui titik terang. Selain tempat, bawahannya juga berhasil menemukan motif para penculik menculik mereka. Ini mungkin akan sedikit membuat Murong Qin marah dan bebannya bertambah lagi.
Benar saja. Setelah membaca laporan kedua, Murong Qin melemparkan buku laporan itu ke lantai dengan keras. Urat-urat di wajahnya menegang dan lengannya terkepal kuat. Sejenak, dia memejamkan matanya untuk mencoba menenangkan diri.
"Para pemuda yang diculik sedang dilatih diam-diam oleh seseorang. Aku masih belum tahu untuk apa tujuannya, tetapi Yang Mulia mungkin harus tetap waspada."
"Bukan itu yang kukhawatirkan. Selama ini, memangnya ada berapa banyak gelagat pemberontakan yang tidak kuketahui?"
"Lalu apa yang Yang Mulia khawatirkan?"
"Tidak penting untuk apa mereka dipekerjakan. Yang penting sekarang adalah bagaimana melepaskan mereka dan memberikan penjelasan pada keluarganya."
Wei Shiji paham. Dia sendiri tidak bisa melepaskan dan membebaskan para pemuda yang diculik karena hal tersebut berada di luar kuasanya. Terlebih, dia tidak punya kekuatan yang cukup untuk menolong mereka. Jika Murong Qin ingin membebaskan mereka, diperlukan kerjasama antara berbagai departemen dan kementrian untuk menyelesaikannya. Bagi kaisar sepertinya itu tidak sulit, hanya saja dia harus berusaha meyakinkan kembali para menterinya yang menyebalkan itu.
Wei Shiji juga punya kekhawatiran. Dia juga punya dendam terhadap orang yang telah menyakiti adiknya. Wei Shiji yakin, semua kejadian malang yang menimpa adiknya adalah ulah satu orang. Bahkan jika itu adalah Permaisuri Yi dan Ibu Suri, dia tetap harus membalaskannya karena keluarganya sudah cukup menderita karena keluarga kerajaan. Dia takut jika tidak ditindaklanjuti, nasib Wei Linglong akan berakhir mengerikan. Cukup Wei Hongxue saja yang berakhir mengenaskan.
"Jika Yang Mulia tidak bisa bertindak leluasa, mengapa kau tidak meminta adikku untuk melakukannya? Dia baru kembali dari medan perang dan mendapatkan penghargaan besar. Tidak dipungkiri bahwa dia telah membuat menteri-menterimu terambil hatinya."
"Aku tidak bisa melibatkannya lagi. A-Ling sudah cukup menderita di medan perang. Bekas luka di tubuhnya saja belum sembuh, bagaimana mungkin aku menambah bekas luka lagi."
Wei Shiji mendengus. Dasar orang kasmaran, lagi-lagi menempatkan cinta di atas segalanya. Dia tahu Murong Qin sangat peduli pada adiknya, namun itu bukan berarti dia bisa membuatnya diam dan tidak melakukan apapun. Wei Linglong juga harus bisa melindungi dirinya sendiri.
"Kalau begitu, Yang Mulia harus ingat bahwa dia adalah Menteri Pengawas Rahasia."
Ketika Murong Qin hendak menyela, pintu istana tiba-tiba terbuka. Wei Linglong melengang masuk sambil membawa semangkuk bubur wortel kesukaan Murong Qin. Melihat kakaknya ada di sini, dia menebak pasti ada sesuatu yang penting yang harus dilaporkan. Itu terlihat dari ekspresi Murong Qin yang menegang menahan marah.
"Yang Mulia, Pangeran Guangping juga harus mengetahui semuanya. Karena Menteri Pengawas Rahasia ada di sini, aku akan pergi."
Setelah itu, Wei Shiji keluar dari Istana Yanxi dengan senyum jenakanya seperti biasa.
"Lihatlah, dia mengejekku. Aku menyesal sudah membiarkannya kembali ke pengadilan," ucap Wei Linglong.
Meski dia ada di sini, ekspresi Murong Qin tak kunjung membaik. Tampaknya, permasalahan serius sudah sampai pada tahap darurat. Setelah meletakkan bubur wortelnya di meja, Wei Linglong kemudian berjalan ke belakang kursi Murong Qin, memijat bahunya pelan dan mencoba merilekskannya. Tumpukan laporan yang menghalangi pandangan dia pindahkan ke lantai.
"Yang Mulia, laporan apa yang membuatmu begitu frustasi seperti ini?"
"Kau bacalah sendiri."
Wei Linglong kemudian membaca laporan yang diberikan oleh kakaknya. Wajahnya juga menegang dan mengeras, pertanda bahwa dia ikut terbawa emosi. Pantas saja Murong Qin berekspresi seperti itu.
"Semua kasus belum selesai. Sekarang, Pangeran Guangping sudah menjadi bawahanku. Aku yakin Ibu Suri akan mencari cara lain dan mempercepat pergerakannya," ucap Murong Qin.
"Semudah itukah?"
"Apa Yang Mulia lupa seperti apa kehidupan para pelayan istana di sini? Yang Mulia cukup menginterogasinya diam-diam untuk mendapatkan pengakuannya."
Murong Qin rasa ide selirnya masuk akal. Baiklah, untuk kasus ini, dia akan melakukannya sesuai arahan Wei Linglong.
"Untuk kasus kedua, aku rasa kasus pertama harus berhasil terlebih dahulu. Meskipun nanti ini tidak ada kaitannya dengan mereka, namun dalang di baliknya pasti terpengaruh. Begitu mereka lengah, kita bisa menemukan celah untuk membebaskan para pemuda itu dan mengembalikannya kepada keluarga mereka."
Walau sudah diberikan ide, namun ekspresi Murong Qin tak kunjung membaik. Masih ada kekhawatiran lain yang mengganggu pikirannya dan Wei Linglong benar-benar tidak tahu apa itu. Dia masih setia memijat bahu suaminya sembari sesekali menyuapinya bubur wortel yang bergizi.
"A-Ling, apa kau tahu apa kekhawatiran terbesar seorang kaisar?"
"Takhta?"
Murong Qin menggelengkan kepala.
"Aku bukan kaisar rakus yang takhtanya takut diambil orang."
"Putra Mahkota?"
Bukan juga. Bukan takhta dan putra mahkota karena Murong Qin tidak pernah khawatir tentang itu. Lalu apa yang sebenarnya dia khawatirkan?
"Kekhawatiran terbesarku adalah tidak bisa menjadi kaisar yang baik. Aku tidak bisa selamanya melawan semua orang, juga tidak bisa berpihak selamanya pada sebagian orang. Ketika takhtaku diambil, aku hanya takut itu akan berakibat fatal pada rakyat. Kau sudah tahu seperti apa situasi perang. Perebutan takhta juga seperti itu. Setiap generasi, Istana Timur sebagai tempat penerus selalu dibanjiri darah antara ayah dan anak atau sesama saudara."
Wei Linglong menyimak dengan saksama. Menarik, menurutnya.
"Kau tahu? Pewarisan takhta dari ayahanda kepadaku adalah satu-satunya pewarisan takhta tanpa pertumpahan darah. Sebelumnya, semuanya selalu diwarnai dengan perang saudara. Jika aku tidak bisa menjadi kaisar yang baik, aku akan kehilangan semua orangku. Terlebih, aku tidak akan bisa melindungi orang-orang terdekatku dan juga diriku sendiri."
Wei Linglong masih menyimak tanpa berkomentar. Dia juga bukan tidak tahu, hanya saja dia belum siap jika kejadian mengerikan itu terjadi pada hidupnya. Meskipun dia belum punya anak, namun dia memiliki Murong Yu, di sisi lain juga ada Murong Yan. Meski keduanya hidup rukun dan Murong Yan tidak berambisi, namun masih ada orang lain seperti Ibu Suri dan Permaisuri Yi. Setelah kemarin, dia yakin kedua wanita itu akan mempercepat ritme serangan mereka.
"Sekarang situasi di pengadilan istana memang lumayan terkendali. Namun, apa itu akan menjamin bahwa semuanya akan aman hingga akhir?" tanya Murong Qin.
"Tentu tidak. Takhta dan pemerintahan itu seperti ombak, naik turun tiada henti. Lalu seperti api, bergejolak hampir setiap saat. Yang Mulia, ternyata bebanmu sebesar itu."
"A-Ling, bagaimana jika kau kuceraikan saja? Kau bisa keluar istana dan bergabung kembali dengan keluargamu."
Pernyataan itu membuat Wei Linglong menghentikan pijatannya. Dia meremas bahu Murong Qin dengan kuat hingga pria itu meringis kesakitan. Bodoh, bagaimana bisa seorang kaisar sepertinya memiliki pikiran sempit seperti itu? Apa? Menceraikannya? Yang benar saja!
"Apa Yang Mulia terlalu khawatir hingga jadi bodoh?"
"Aku hanya ingin kau aman, A-Ling."
"Kita sudah berjanji selalu bersama. Sekali kau terjerat, kau akan terjerat selamanya. Yang Mulia, jangan pernah bermimpi untuk menceraikanku. Tidak, bahkan berpikir pun kau tidak boleh!"
"Tapi, A-Ling,"
Wei Linglong menyuapkan bubur wortel ke mulut pria itu, lalu mengecup bibirnya sekilas. Murong Qin seperti orang bodoh setelah mendapat perlakuan seperti itu.
"Habiskan sendiri bubur wortelnya. Aku akan meneruskan pekerjaanku," tukas Wei Linglong.
Dia meninggalkan Murong Qin yang masih membisu seperti patung.
***