
Para penjaga Istana Yanxi menunduk ketika Kaisar mereka melewati gerbang sambil menggendong seorang wanita yang beberapa waktu ini sering berada di sisinya. Mereka tidak lagi mempertanyakan mengapa Kaisar Mingzhu mereka sekarang bisa dekat dengan seorang wanita karena semakin mereka penasaran, maka nyawa di ujung tanduk mereka akan semakin terancam.
Murong Qin si wajah datar kemudian membaringkan Wei Linglong di ranjangnya dalam posisi telungkup. Dia meregangkan otot lengannya yang sudah pegal karena menggendong Wei Linglong dari Istana Tian Yue ke Istana Yanxi.
Jika Murong Qin memilih Istana Fenghuang, tangannya mungkin tidak akan bisa digerakkan lagi. Tangan berharganya itu harus digunakan untuk memerintah orang dan memegang senjata, bukan untuk menggendong seorang wanita.
“Panggil Tabib Yin kemari!” perintahnya pada Kasim Liu. Kasim setia kemudian berteriak dari arah depan mengatakan ‘ya’ lalu hilang.
“Sampai kapan kau akan terus berpura-pura?”
Wei Linglong langsung membuka matanya. Dia menghela napas lega. Akhirnya, dia bisa terbebas dari tempat menyebalkan seperti Istana Tian Yue. Seluruh tubuhnya terasa remuk redam. Tulang-tulangnya seperti patah, terutama tulang pinggang dan tulang panggul. Pukulan para pelayan itu cukup keras juga, padahal tubuh mereka tampak kurus seperti kurang makan.
Hukuman pukul benar-benar tidak manusiawi. Bagaimana bisa orang zaman dulu memikirkan hukuman seperti ini? Tidak hanya melukai tubuh, tetapi juga bisa membuat orang cacat seumur hidup. Papan kayu keras, jika ditambah pukulan, maka rasa sakitnya akan melebihi cambukan. Jangankan dua puluh lima pukulan, baru tiga pukulan saja, seluruh sendi-sendinya terasa mau copot.
Untung saja Murong Qin datang tepat waktu. Tidak disangka, pemuda itu datang dengan aura kemarahan yang kentara. Wei Linglong tidak pernah melihat ini sebelumnya. Aura kemarahan Murong Qin kali ini lebih mengerikan daripada saat berada di Paviliun Baihua. Wei Linglong benar-benar tidak bisa menebak seperti apa sosok Murong Qin yang sebenarnya.
“Untung saja Yang Mulia datang tepat waktu. Kalau pukulan itu sudah genap dua puluh lima kali, aku mungkin akan dikembalikan ke keluargaku sebagai mayat yang cacat.”
“Gadis bodoh! Mengapa kau tidak melawan? Kau biasanya begitu pintar!”
“Bagaimana caranya? Tanganku dicekal oleh pelayan. Bahkan aku hanya bisa menggerakkan mulutku saja.”
“Mengapa kau tidak meminta bantuanku?”
“Dengan apa? Meminjam namamu untuk menjamin keselamatanku?”
Murong Qin terdiam sejenak.
“Yang Mulia, Permaisuri Yi dan Ibu Suri punya dendam padaku. Jadi, biarkan aku yang menyelesaikannya.”
“Tapi tidak harus dengan hukuman pukul!”
Wei Linglong mendecih. Dia melakukan semua ini karena dia tidak ingin melibatkan orang lain lagi. Kalau saja kedua tangannya tidak ditahan, Wei Linglong pasti sudah menampar kembali Permaisuri Yi dan mengembalikan semua perkataan kejamnya kepadanya. Penindasan kali ini, dia pasti tidak akan pernah melupakannya seumur hidupnya.
Murong Qin menggelengkan kepalanya. Dia tahu, Wei Linglong memilih menanggung hukuman daripada melibatkan orang lain ke dalam masalahnya. Padahal, jelas-jelas dia adalah selir seorang Kaisar. Di zaman ini, seorang selir yang dipandang Kaisar selalu punya kekuatan lebih daripada selir yang lain. Bahkan seorang Permaisuri pun harus berpikir berulang kali jika ingin mengusiknya, tapi wanita ini malah tidak menggunakan kesempatan itu.
Karena Wei Linglong sudah terlibat ke dalam pusaran permasalahan keluarga istana bersama Murong Qin, maka dia dianggap sebagai orang milik Murong Qin. Apalagi wanita itu sudah menarik perhatiannya sejak awal. Siapapun tidak boleh menyentuh orang miliknya, melukai atau melakukan sesuatu tanpa seizinnya. Wei Linglong juga begitu. Meskipun wanita itu berkali-kali menolak dianggap sebagai selir, tetapi pandangan mata Murong Qin tetaplah sama. Dia adalah wanita miliknya.
Murong Qin merasa kalau dia harus memarahi Wei Linglong atas kebodohannya.
“Bekas tamparan di pipimu?”
Wei Linglong menyentuh pipi kirinya.
“Ah, Permaisurimu itu yang melakukannya. Tangannya begitu kecil, tapi tenaganya cukup besar juga. Lihat, dia mampu meninggalkan bekas menjari di pipiku.”
Wanita ini!
Sudah sakit seperti ini, tapi perkataan kasar dan jujurnya masih sejelas ini. Wanita ajaib yang tidak bisa ditebak. Seharusnya Wei Linglong tahu kalau dia sudah dihukum, dia harus diam sampai tabib datang memeriksa lukanya. Di saat seperti ini, wanita itu sama sekali tidak tampak seperti sudah dipukul papan, dia justru tampak semakin bersemangat seolah tidak terjadi apa-apa.
“Yang Mulia, aku dengar para pejabatmu mempersulitmu hari ini. Apa ini ada hubungannya dengan kejadian semalam?”
“Em.”
“Lalu kau bisa membungkan mereka?”
“Hal apa yang tidak bisa kuatasi?”
“Cih, membanggakan diri sendiri.”
“Apa katamu?”
“Tidak, aku tidak mengatakan apapun.”
Tidak lama kemudian, Kasim Liu datang bersama seorang wanita berseragam pejabat istana. Wanita itu adalah Tabib Yin, tabib wanita yang khusus menangani permasalahan kesehatan wanita istana. Dia sempat terkejut ketika Kasim Liu datang ke Biro Kesehatan dan memintanya ke Istana Yanxi. Selama karirnya menjadi tabib istana, dia tidak pernah dipanggil ke Istana Yanxi karena semua orang tahu Kaisar Mingzhu tidak pernah berhubungan dengan istri-istrinya.
Tabib Yin bertanya-tanya siapakah wanita yang mampu membuat dia dipanggil oleh Kaisar Mingzhu. Saat tiba, dia sempat terkejut melihat seorang wanita berbaring telungkup di ranjang Murong Qin. Wajahnya begitu cantik alami bahkan tanpa riasan. Dia juga sempat menangkap interaksi yang terjadi antara Murong Qin dengan wanita itu.
Dalam sekejap, Tabib Yin langsung tahu kalau wanita di ranjang Murong Qin terluka karena hukuman pukul.
“Kau… Dokter wanita ya?” tanya Wei Linglong penasaran.
“Dokter?”
“Ah, sejenis dengan tabib tapi lebih hebat.”
Kasim Liu maju.
“Tabib Yin, Selir Chun terluka. Mohon Anda memeriksanya.”
Oh, jadi wanita itu adalah Selir Chun, batin Tabib Yin.
Murong Qin dan Kasim Liu berbalik badan, memalingkan pandangan ke arah lain. Wei Linglong membiarkan Tabib Yin memeriksa tubuhnya sambil tak berhenti menatapnya. Di dunia ini, dia bisa bertemu dengan seorang manusia yang begitu banyak diceritakan dalam sejarah dan legenda, tentang kehebatan seorang tabib dalam menyembuhkan luka dan sakit hanya berdasarkan obat-obatan herbal, mengetahui suatu penyakit hanya dari pemeriksaan denyut nadi.
Di dalam drama sejarah, seorang tabib seringkali menjadi kambing hitam dalam kasus terbunuhnya wanita-wanita istana atau keluarga kerajaan lain. Seorang tabib juga bisa menjadi pahlawan dan bisa menjadi orang berpengaruh setelah pejabat publik, jika dia berhasil dalam ilmu pengobatannya. Melihat sosok Tabib Yin, seorang tabib wanita, Wei Linglong tiba-tiba merasakan kekaguman di hatinya. Dia ingin sekali memanggil wanita itu dengan sebutan, “Dokter Yin.”
Tabib Yin sama sekali tidak terpengaruh dengan tatapan Wei Linglong yang selalu mengekori setiap pergerakannya. Dia tetap fokus pada pemeriksaan luka memar di sekujur tubuh Wei Linglong. Hatinya sedikit tergerak melihat betapa parahnya luka yang didapat oleh wanita ini. Kulit Wei Linglong ada yang terkelupas dan berdarah. Jika tidak dibersihkan, mungkin akan terjadi infeksi dan berbekas. Tubuh seorang selir sangat berharga karena hanya itulah satu-satunya tameng agar tetap berada di dalam istana.
“Berapa usiamu?”
“Hamba berusia dua puluh empat tahun, Nyonya.”
“Oh, satu tahun lebih tua dariku ya. Kau sudah menikah?”
Tabib Yin tersenyum, kemudian menggelengkan kepala.
“Ah, memang agak sulit mencari suami untuk seorang wanita karir. Tapi, kau tidak perlu khawatir. Dengan profesimu sebagai tabib istana, apalagi tabib wanita, kau tidak akan kelaparan. Gajimu pasti lebih tinggi dari gajiku, ditambah lagi jika kau bekerja di istana selir, selalu ada benda berharga atau uang tambahan dari mereka. Tidak masalah jika kau tidak menikah, kau punya tabungan yang lebih dari cukup untuk membiayai hidupmu.”
Lagi-lagi Tabib Yin hanya tersenyum. Selir yang satu ini memang berbeda. Dia berpikiran terbuka dan berprinsip, jika dia adalah wanita biasa, dia bisa hidup mandiri. Kebanyakan wanita selalu mengandalkan keluarga dan suami ketika mereka dewasa. Mereka bahkan menukarkan kebebasan mereka demi nama baik dan menjadi kebanggaan. Tetapi wanita yang satu ini, sungguh bukan seperti mereka.
“Selir Chun, kalau kau tetap berbicara, aku akan menyuruh Tabib Yin mengoleskan salep racun agar kau tidak bisa sembuh!” seru Murong Qin tiba-tiba. Pemuda itu kesal karena Wei Linglong terus menerus berkicau.
“Lihat, Yang Mulia memarahiku. Tabib Yin, kelak jika kau ingin menikah, carilah suami yang hangat. Jangan seperti seseorang yang bertampang dingin dan suka berkata kejam. Jika tidak, hidupmu akan menderita,” bisik Wei Linglong. Namun, bisikan itu masih dapat didengar oleh Murong Qin.
“Kau mengataiku?”
“Eits, Yang Mulia, jangan berbalik!”
Hanya wanita ini yang berani berdebat dengan Kaisar Mingzhu. Hanya wanita ini yang bisa mengatai Kaisar Mingzhu secara langsung tanpa rasa takut. Bisa bertemu dengan Wei Linglong adalah keberuntungan Tabib Yin. Dia bisa mengetahui seperti apa wanita yang sudah menggerakkan seorang Kaisar Mingzhu yang terkenal dingin dan sangat kejam.
“Yang Mulia, hamba akan meresepkan salep untuk mengobati luka luar Nyonya Chun.”
“Bagaimana dengan luka dalamnya?”
“Nyonya Chun hanya perlu istirahat untuk memulihkan tubuhnya. Dia tidak boleh banyak bergerak.”
“Kau boleh pergi.”
Sepeninggal Tabib Yin, Murong Qin duduk kembali di pinggir ranjang. Kepalanya berdenyut. Hari ini, dia melihat Ibu Suri dan Permaisuri Yi bertindak semena-mena pada orangnya. Jika Murong Yan tidak membawanya ke Istana Tian Yue, Murong Qin tidak akan tahu kalau Wei Linglong sedang dipukuli. Dia pikir setelah wanita itu tinggal di Istana Fenghuang, orang-orang Istana Dalam tidak akan berani menganggunya lagi. Nyatanya, mereka masih tetap melakukan sesuatu ketika dia tidak berada di istana pribadinya.
“Hei, yang tadi itu adikmu ya?”
“Kenapa? Kau ingin memikatnya?”
“Punya suami seorang Kaisar saja sudah cukup merepotkan, apalagi mendekati seorang pangeran. Yang Mulia, jangan-jangan kau ingin aku menjadi wanita penggoda yang memikat raja dan adiknya dalam satu waktu ya? Kau ingin memakai topi hijau ya?”
Murong Qin memalingkan wajah.
“Kau ingin aku berumur pendek ya?”
“Diam.”
Wei Linglong mengatupkan bibirnya. Baiklah, sudah cukup bermain-mainnya. Murong Yan memang tampan, tetapi pemuda itu terlalu kecil. Di belakangnya ada musuh Wei Linglong sekalipun Murong Yan memiliki hubungan yang buruk dengan orang itu. Wei Linglong lebih suka kalau Murong Yan menjadi teman atau adiknya saja. Satu Murong Qin saja sudah cukup membuatnya ketakutan. Wei Linglong tidak ingin menambah masalah hidup dengan mendekati Murong Yan.
“Ah pelayan sialan! Lain kali aku akan menyumpal mulut mereka dengan jus seledri!”
“Dasar pembual.”
“Yang Mulia, kalau kau tidak bisa menghiburku, setidaknya jangan menambah kekesalanku!”
Murong Qin menggelengkan kepala, lalu melengang pergi ke ruang kerja.
...***...