
Jenderal Yang dan pasukan Murong Yan sampai di markas pasukan yang baru saat hari hampir siang. Di kereta kuda yang sudah hampir roboh, tubuh Wei Linglong masih berbaring seperti mayat.
Wanita itu masih tidak sadarkan diri.
Tabib militer yang saat itu baru selesai mengobati para prajurit yang terluka langsung memeriksanya. Karena tidak ada tabib wanita, sang tabib terpaksa menutup mata dan meminta beberapa prajurit wanita untuk membantu membalut luka-luka di tubuh Wei Linglong lalu memberinya obat-obatan herbal agar cepat pulih.
Di luar tenda tempat Wei Linglong berada, Jenderal Yang dan Murong Yan berdiri sambil menunggu. Sudah hampir sore, namun sang tabib yang begitu hebat itu belum keluar dan melaporkan hasil pemeriksaannya.
"Jenderal, Pangeran Kedua," sang tabib tiba-tiba keluar, membuat kedua pria itu menoleh dan menghampirinya.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Jenderal Yang.
"Luka-luka di tubuh Nyonya Chun sudah diobati. Hanya tinggal menunggu pulih setelah beberapa hari," jawab sang tabib dibarengi helaan napas lega dari Jenderal Yang dan Murong Yan.
"Sudah aku duga. Kakak iparku begitu hebat, dia tidak akan mati cepat. Dia sama hebatnya dengan Kakak Kaisar!"
Sang tabib kemudian berjalan meninggalkan tenda. Murong Yan dan Jenderal Yang memutuskan berbincang sebentar di area yang agak jauh dari tenda utama agar tidak menganggu waktu istirahat Wei Linglong.
Perang satu malam penuh benar-benar membuat semua orang seperti mayat hidup yang tidak utuh. Di markas militer yang baru, banyak sisa pasukan yang bertempur semalam kembali dalam keadaan terluka berat. Mereka diobati satu persatu hingga menimbulkan antrian panjang.
Sementara itu, mereka yang gugur langsung dimakamkan di tempat tertinggi dari lokasi ini, berharap roh mereka cepat sampai di langit dan menerima penebusan atas perjuangan mereka. Keluarga-keluarga mereka kelak akan diberikan kompensasi dan kehormatan.
"Apa nyonya memang selalu seperti ini?" tanya Jenderal Yang pada Murong Yan.
"Ah?"
"Maksudku, apakah di istana nyonya juga sekuat ini? Jika dia bisa bertahan, maka para wanita di istana pasti tidak akan betah tinggal di sana," ucap sang jenderal diikuti gelak tawa dari Murong Yan.
"Entahlah. Aku tidak begitu mengenalnya. Yang jelas, dia sudah membuat Kakak Kaisar jatuh hati. Aku melihatnya pertama kali ketika dia dihukum pukul oleh ibunda dqj Permaisuri Yi. Kulihat, wajahnya sangat tenang dan tidak ada ketakutan apapun di matanya. Aku pikir, itu hanya taktiknya saja untuk mendapatkan perhatian kakakku. Tetapi, aku tahu aku sudah salah menilai orang," tutur Murong Yan
"Aku selalu ingin hidup bebas. Aku lelah dengan segala macam rumor dan trik licik ibundaku, yang terus menerus memaksaku dan mempengaruhi jalan pikiranku. Aku sering meninggalkan istana karena bosan. Kebetulan saat itu Raja dan Ratu Dongling datang berkunjung. Kupikir, ini saatnya aku pergi lagi. Ketika aku tinggal di Dongling, Ratu Li banyak membantuku dan mengajariku banyak hal. Dia juga berkata bahwa kakak ipar jauh lebih hebat darinya. Kakak ipar bisa bela diri, sedangkan Ratu Li tidak. Keduanya punya kesamaan, sama-sama sembrono dan tidak berpikiran luas. Ternyata benar. Kakak ipar memang jauh lebih hebat dari Ratu Li. Saat mendengar kabar kalau kakak ipar maju memimpin pasukan, Ratu Li langsung meminta Raja Long untuk mengirim pasukan bantuan di bawah pimpinanku, itulah sebabnya aku bisa membuat kalian menang dalam pertempuran ini," ucap Murong Yan.
Ketika dia berada di Kerajaan Dongling, Ratu Li mengajarkan banyak hal padanya. Murong Yan yang asalnya hanya tahu bermain menjadi dewasa dan berpikiran luas. Jasanya pada Murong Yan yang besar membuat pria itu berpikir berada di pihak Ratu Li, yang secara otomatis langsung memihak pada Wei Linglong.
Selain itu, dia juga kagum karena wanita seperti Wei Linglong-lah yang justru jasanya paling besar dan berhasil meluluhkan hati dingin kakaknya. Wanita pintar dan tangguh sepertinya sangat langka, dia berbeda dari istri-istri kakaknya yang tinggal di Istana Dalam.
"Perihal wanita di istana, aku tidak tahu. Tetapi yang jelas, kakak ipar tidak akan repot-repot mengurusi pesaingnya di Istana Dalam. Dia menggenggam hati Kakak Kaisar, dia tidak pernah takut apapun. Kalaupun Permaisuri Yi dan yang lain ingin menjatuhkannya, kupikir mereka harus berpikir berulang kali," tambah Murong Yan.
Jenderal Yang manggut-manggut mendengar penuturan Murong Yan. Tidak dipungkiri, sejak awal dia juga sudah mengagumi wanita itu. Tidak hanya pintar, tetapi juga memiliki keberanian sekuat baja yang berlapis. Di dunia ini mana ada wanita yang sehebat itu.
Jika bukan karena siasatnya, pertempuran semalam juga tidak akan bertahan sampai pagi hari. Jenderal Yang meskipun telah berperang berkali-kali, namun tidak bisa terlalu lama bertarung jika kekuatannya tidak imbang. Wei Linglong telah memberinya kekuatan batin yang kuat hingga jenderal tua sepertinya bisa gesit dan bertahan sampai hari ini.
"Aku juga akan menyerahkan pasukan ini. Setelah sadar, kakak ipar yang akan memimpinnya sendiri," Murong Yan kembali berkata.
"Mengapa? Bukankah mereka ada di bawah perintahmu, Pangeran Kedua?"
"Aku hanya bertugas memimpin mereka sampai bertemu kakak ipar. Setelah bertemu, dia sendiri yang akan memimpin mereka."
"Apakah Pangeran Kedua tidak ingin kembali ke istana? Mengapa malah ikut berperang di sini? Kalau sampai Ibu Suri tahu, dia pasti sangat marah," ujar Jenderal Yang.
Namun, Murong Yan hanya mengedikkan bahu.
"Untuk apa? Di sana ada Kakak Kaisar, dia hebat dalam segala hal. Selain itu, Adipati Jing juga sudah kembali ke pengadilan istana. Mereka berdua pasti sangat hebat dan bisa menyelesaikan masalah."
"Selain itu, jika aku kembali, bukankah aku hanya akan membuktikan kebenaran terhadap ambisi ibundaku yang terlalu besar itu?"
Semua prasangkanya menguap seketika. Dia pikir sang pangeran akan mengikuti jejak ibunya namun semuanya salah. Sekarang, Jenderal Yang justru mengagumi Murong Yan.
"Saya mengagumi keberanian dan keterbukaan Pangeran Kedua."
Murong Yan hanya tertawa. Di dunia ini, hanya segelintir orang yang benar-benar memahami sifatnya. Orang banyak berkomentar ini itu padanya, namun siapa yang tahu kalau satu-satunya keinginannya adalah kebebasan dan hidup tanpa aturan istana apapun.
Di medan perang ini, jika dia mati, dia juga rela. Murong Yan puas jika bisa membantu negerinya sampai napasnya yang terakhir. Dia puas bisa berperang bersama para jenderal dan kakak iparnya.
"Sekarang aku hanya khawatir kakak ipar tidak bisa pulang ke istana dengan selamat. Kakak Kaisar pasti akan sangat sedih dan marah."
"Saya yakin nyonya akan segera sadar. Dia hebat, dia pasti bisa pulang dengan selamat."
Jenderal Yang dan Murong Yan hanya bisa menunggu sampai Wei Linglong sadar sembari menanti kembalinya pasukan Jenderal Fu.
...***...
"Sialan! Kenapa seluruh keluarga Wei sangat merepotkan?"
Permaisuri Yi meluapkan amarahnya pada semua pelayan dan barang-barang yang ada di istananya. Selama beberapa waktu ini, dia dan Ibu Suri sudah bekerja sangat keras untuk mengacaukan pengadilan istana.
Siapa yang menyangka kalau Adipati Jing justru dipanggil kembali ke pengadilan istana dan kembali menjabat?
Dampak dari kembalinya Adipati Jing sangat berpengaruh pada pemerintahan. Kepandaian Murong Qin sebagai Kaisar Mingzhu ditambah bawahan seperti Wei Shiji yang sangat cerdas dan berbakat adalah sebuah kombinasi sempurna kekuatan kepemimpinan sang kaisar.
Tidak hanya pengadilan yang kembali stabil, namun para pejabat yang sebelumnya berpihak pada Ibu Suri dan dirinya juga mundur satu persatu. Mereka takut ketahuan dan hancur sebelum bertindak.
"Perbatasan utara sedang terancam. Pengadilan juga tidak bisa dijadikan andalan lagi. Mengacau di saat seperti ini hanya akan merugikan kita," ucap Ibu Suri yang sedang menyaksikan Permaisuri Yi meluapkan amarah. Dia membiarkan permaisuri yang dia angkat sendiri bertindak gila di depannya.
Permaisuri Yi berteriak marah. Mengapa situasinya tidak menguntungkan? Mengapa langit selalu tidak berpihak kepadanya?
Dia sudah maju satu langkah, namun dipaksa mundur sesaat karena serangan mendadak yang tidak disangka-sangka. Murong Qin memang hebat, dia bisa membuatnya mundur bahkan tanpa menyentuhnya.
Saat dia punya langkah, situasi justru berbalik memusuhinya. Murong Qin begitu hebat memilih orang untuk memimpin pasukan di perbatasan, juga memilih orang yang bisa membantunya mengembalika kestabilan pengadilan yang sebelumnya telah dikacaukan oleh Permaisuri Yi dan Ibu Suri.
"Kaisar mengirim Selir Chun untuk mengatasi peperangan di perbatasan, juga memanggil kembali Adipati Jing, langkah kita benar-benar terhalang! Yang Mulia, apa yang harus kita lakukan?" tanya Permaisuri Yi.
"Memenangkan pertempuran lebih penting. Kita tidak bisa membiarkan bangsa asing masuk ke Yuan. Perihal rencana, tetap jalankan sesuai rencana awal. Hanya saja, masalah pengadilan saat ini sebaiknya ditunda terlebih dahulu," jawab Ibu Suri.
"Jadi, biarkan Wei Linglong menang, lalu kita akan menyerang saat dia kembali?"
Ibu Suri mengangguk. Rencana mereka memang tertunda, namun bukan berarti tidak terlaksana. Dia hanya perlu mengesampingkan dulu masalah pemerintahan sampai Wei Linglong kembali dengan membawa kemenangan untuk Yuan. Setelah itu, dia akan mulai menyerang pemerintahan kembali.
Permaisuri Yi lagi-lagi menghela napas. Dia sudah tidak sabar. Dendamnya pada Murong Qin dan Wei Linglong sudah menggunung dan membatu, menutupi seluruh hatinya. Rasa sakit hatinya yang terlalu banyak ingin segera dibalaskan.
Dia ingin membuat pria itu merasakan sakitnya ditinggalkan orang yang dicintai. Permaisuri Yi ingin Murong Qin merasakan bagaimana sakitnya dan putus asanya ketika semua miliknya direbut orang lain sekaligus. Dia ingin membuat pria itu tersiksa dengan kehilangan yang begitu banyak. Rasa sakit hatinya akibat pria itu harus dikembalikan berkali-kali lipat.
Permaisuri Yi tidak akan membiarkan Murong Qin mati dengan mudah dan hidup dengan baik. Dia ingin pria itu menderita sepanjang hidupnya.
...***...
...Haloo pembaca kesayangan Author! Mohon maaf Author absen lama, baru ada waktu buat up. Oh ya, selamat hari raya Iduladha untuk kalian yang merayakan. Semoga kalian terus dalam keadaan baik ya! ...