The Legend Of Chunfei

The Legend Of Chunfei
FRAGMEN 52: MASUK JEBAKAN



Hujan deras mengguyur seluruh daratan Dinasti Yuan. Airnya seperti ditumpahkan dari langit, membasahi apa saja yang ada di bawahnya. Awan hitam memayungi udara, menggelapkan hari yang semula cerah diterangi sang surya. Hujan pertama di musim semi, begitulah mereka menyebutnya.


Wei Linglong baru saja hendak berganti pakaian ketika seorang pelayan mengatakan bahwa Murong Qin ingin bertemu dengannya. Dia kemudian bertanya apakah tidak bisa menunggu sampai dia memakai pakaian yang kering, namun pelayan itu berkata lagi kalau Yang Mulia-nya ingin bertemu sekarang juga.


Aneh, padahal mereka baru saja kehujanan bersama beberapa menit yang lalu. Wei Linglong menatap curiga pada pelayan itu, menelisiknya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Penampilannya sangat biasa, wajahnya biasa saja, tidak putih dan tidak hitam, tidak terlalu tinggi, juga tidak terlalu pendek. Tidak ada yang aneh dari penampilan pelayan itu. Pakaian yang digunakannya sama seperti pakaian pelayan istana yang lainnya.


Pelayan yang tidak diketahui namanya menunduk saat Selir Chun milik Kaisar Mingzhu menatapnya seperti itu. Tidak peduli apapun, dia harus membuat Selir Chun ini mengikuti perkataannya. Pelayan itu berkata sekali lagi, “Nyonya, Yang Mulia sudah menunggu.”


Pada akhirnya, Wei Linglong tidak bisa meneruskan kecurigaannya. Pelayan di hadapannya berkata dengan sungguh-sungguh, tidak baik jika dia menyulitkannya. Dengan pakaian yang masih basah, Wei Linglong mengikuti pelayan itu dari belakang tanpa rasa curiga lagi.


Hujan turun semakin deras. Waktu mungkin sudah beranjak sore. Udara di sekitar mulai menurun. Wei Linglong terus mengikuti pelayan itu tanpa bertanya. Aneh, pelayan itu malah membawanya ke belakang tenda kekaisaran, ke tempat yang sedikit lebih jauh dari area peristirahatan.


Saat kakinya melangkah menuju area hutan, Wei Linglong mulai curiga.


“Apa kau yakin Yang Mulia ingin menemuiku?”


“B-benar, Nyonya. Yang Mulia ingin bertemu secara pribadi, jadi mengutus hamba untuk membawa nyonya ke tempat ini.”


“Bicaramu gugup. Kau sedang flu?”


“A-Ah, tidak. Hamba baik-baik saja.”


Saat pelayan itu hendak berjalan lagi, Wei Linglong langsung menarik kerah belakang bajunya hingga pelayan itu tersentak. Raut wajah terkejut begitu jelas terlihat, membuat Wei Linglong semakin curiga. Dia menariknya lebih dekat, lalu mencengkeram leher pelayan itu dengan tangannya.


“Katakan! Siapa yang menyuruhmu untuk menjebakku?”


Pelayan itu terbatuk-batuk. Wei Linglong sedikit mengendurkan cekalannya, membiarkannya bernapas terlebih dahulu. Pantas saja dia merasa aneh, pelayan itu sengaja membawanya ke tempat yang jauh agar tidak diketahui orang. Ada yang tidak beres dengan semua ini.


“Hamba hanya melakukan tugas dari Yang Mulia saja. Hamba tidak berani berbohong,” ucap pelayan itu sambil terbata-bata.


“Lalu apa ini?”


Wei Linglong mengeluarkan sebuah belati putih dari pinggang pelayan itu. Si pelayan membelalakkan mata, lalu mulai menangis. Celaka, dia sudah ketahuan. Selir Chun sudah mengetahui tujuannya, nyawanya pasti tidak akan selamat hari ini. Masa bodoh, pada akhirnya dia juga akan tetap mati.


Belati di tangannya terjatuh ketika sebuah anak panah melesat melukai kulit tangannya. Anak panah yang tajam itu merobek kulitnya, mengucurkan darah segar. Di bawah guyuran hujan, kulit yang robek itu terangsang, membuat pemiliknya merasakan sakit yang sangat kentara.


Wei Linglong langsung membungkus tangannya dengan kain dari pakaian yang dia robek. Setidaknya untuk saat ini, lukanya harus tertutup dulu meskipun dengan kain basah. Dia masih harus mencari tahu siapa orang yang sudah melakukan ini padanya dan siapa tuan dari pelayan kurang ajar ini.


Cekikan di leher pelayan itu sudah terlepas. Memanfaatkan kesempatan yang ada, pelayan itu mengambil belati, lalu bersiap menusukkannya ke dada Wei Linglong. Wei Linglong langsung menendang perut pelayan itu hingga dia jatuh tersungkur, lalu pingsan.


Dia masih memegangi tangannya yang robek ketika beberapa orang berbaju hitam tiba-tiba datang dari segala penjuru. Sudah dipastikan bahwa mereka datang bukan dengan niat baik. Orang-orang itu mengacungkan pedang mereka, bersiap untuk menyerang Wei Linglong.


Tidak ada cara lain lagi. Wei Linglong mau tak mau harus melawan mereka jika ingin keluar hidup-hidup dari hutan ini. Dia menangkis satu serangan dengan menendang tulang kering si pembunuh, lalu merebut pedangnya. Sekarang, dia sudah punya senjata untuk melawan mereka.


“Sudah lama tidak berlatih, pedang ini berat juga,” ucapnya sambil mencoba menyeimbangkan tubuh.


“Aku tidak tahu siapa yang menyuruh kalian, tetapi jika kalian mau bekerja sama denganku, kalian bisa mendapatkan apa yang kalian mau!”


Wei Linglong mengeluarkan sekantong uang perak dari dalam pakaiannya, lalu sekantong lagi dari kaus kaki yang dia pakai. Semuanya dia lemparkan kepada orang-orang itu.


“Bukankah kalian perampok? Jumlah ini seharusnya lebih dari cukup untuk makan satu tahun!”


“Hei, wanita! Kami ini bandit, jumlah itu tidak cukup untuk kami!”


“Bodoh! Mana ada bandit yang mengakui identitasnya!”


“Hei, wanita! Kau mempermainkan kami?”


Wei Linglong tertawa hambar. Hujan masih sangat deras. Dia perlu mengulur waktu sampai Murong Qin datang menyelamatkannya. Saat ini, dia harus membuat para pembunuh ini terkecoh lebih dulu dengan cara bernegosiasi dan berbincang dengannya.


“Aku tidak pandai bermain-main. Kakak pembunuh, kau pasti punya keluarga kan? Kau pasti membutuhkan uang ini untuk biaya makan dan sekolah anakmu kan?”


“Dari mana kau tahu, wanita?” tanya salah seorang pembunuh.


“Permasalahan klasik seperti kalian sudah aku hapal di luar kepala. Jadi, daripada mempertaruhkan nyawa, lebih baik kalian terima uangnya dan biarkan aku pergi, oke?”


“Tuan bilang kami tidak boleh menerima uang dari korban!”


“Ah, tuan kalian terlalu kolot.  Zaman ini mana ada yang tidak menginginkan uang? Lihat, jumlahnya sangat banyak. Coba kalian hitung, keuntungan kalian berlipat ganda!”


Para pembunuh tampak goyah. Mereka saling berpandangan, menimbang-nimbang apakah mereka harus menerimanya atau tidak. Tuan mereka sudah berkata bahwa mereka tidak boleh terperdaya, tetapi apa bedanya dengan diperdaya oleh tuan mereka sendiri? Bukankah keduanya sama-sama dipermainkan?


Para pembunuh tahu resiko yang harus mereka terima ketika menjadi pembunuh bayaran. Berpuluh nyawa mereka tukarkan dengan keuntungan yang tidak seberapa, hanya demi menghidupi keluarga. Entah berapa puluh kepala yang hampir putus di tangan mereka.


“Benarkah?”


“Tentu saja! Aku tidak suka berbohong!”


“Wanita, siapa kau? Mengapa cara bicaramu seperti itu?”


“Kalian ingin tahu? Hitung dulu uangnya, baru akan kuberitahu!”


Tanpa diduga, para pembunuh itu langsung mengambil dua kantong uang perak yang dilemparkan olehnya. Mereka berkerumun, menghitung jumlah kepingan perak yang ada di dalamnya. Jumlahnya memang lebih besar daripada upah yang diberikan oleh tuan mereka. Ini bisa menyambung hidup sampai satu tahun.


Entah mengapa, para pembunuh merasa m kalau wanita yang hendak mereka bunuh adalah seseorang yang dermawan.


“Sekumpulan orang bodoh! Cepat lenyapkan wanita itu!”


Pelayan sialan yang tadi pingsan rupanya telah sadar. Wei Linglong seketika marah. Dia tidak pernah membunuh orang, tetapi dia tidak ingin dibunuh orang. Lagipula, dia sudah tidak bisa mundur. Dia sudah bertekad akan bertahan hidup apapun caranya. Jadi, jika harus membunuh puluhan pelayan pun, dia tidak boleh takut.


Wei Linglong melembarkan sebuah batu ke kepala pelayan itu. Lemparannya mengenai kening hingga berdarah. Karena terlalu kuat, pelayan itu kembali tak sadarkan diri dengan darah bercucuran. Para pembunuh langsung tersadar bahwa mereka sedang dibodohi oleh wanita ini.


“Bodoh! Kita telah ditipu! Cepat serang wanita itu!”


Perkelahian tidak terelakkan lagi. Suara pedang beradu mengiringi suara hujan yang terus turun tiada henti. Wei Linglong diserang dan menyerang, menghindari tebasan pedang dan mengayunkan pedang kepada siapapun yang ada dalam jangkauannya.


“Hei, aku sudah lama tidak berlatih. Pedang ini terlalu berat, bagaimana jika kau memberiku yang lebih ringan?” tanya Wei Linglong sambil terus berusaha menangkis serangan.


“Wanita, berhenti bermain-main dan matilah dengan tenang!”


Wei Linglong pernah belajar kungfu dari seorang master kungfu di dunia modern saat sekolah menengah. Dia bisa menguasai beberapa jurus pertahanan diri yang bisa mempertahankan nyawanya. Namun karena terlalu sibuk dengan tugas sekolah dan ujian, dia berhenti mempelajarinya.


Sekarang jurus yang diajarkan gurunya memang berguna meskipun Wei Linglong harus berusaha keras mengatur tenaga dan mengolah gerakan tubuhnya. Persendiannya sudah kaku untuk melakukan kungfu hingga dia berkali-kali merasa seperti patah tulang. Ditambah lagi, tangannya yang satu lagi terluka dan terus mengeluarkan darah.


Pertarungan di tengah guyuran hujan semakin sengit. Suasana semakin mencekam tatkala hari mulai gelap. Hutan yang ditumbuhi banyak pepohonan, hujan deras serta hari yang beranjak malam membuat suasana semakin menyeramkan. Suara dari pertarungan terus bergema beriringan.


“Bisa kita berhenti sebentar? Hari sudah malam! Bagaimana jika kita lanjutkan esok hari saja?” seru Wei Linglong.


“Wanita, berhenti bicara!”


Para pembunuh sebenarnya kewalahan. Mereka tidak menyangka kalau target mereka ternyata menguasai kungfu dan staminanya sangat kuat. Meskipun kalah jumlah, pertahanan diri wanita itu sangat kuat hingga tak satupun tebasan pedang bersarang di tubuhnya. Mereka benar-benar telah meremehkan target!


“Murong Qin, cepatlah datang atau aku akan benar-benar mati!” ucap Wei Linglong dalam hati. Tubuhnya mulai kehabisan tenaga. Rasa sakit di lengannya semakin menjadi.


...***...