
Kota Beijing, awal musim semi...
Seorang wanita tengah duduk di kursi taman sebuah rumah sakit berteknologi terbaru yang sangat terkenal di seluruh kota. Kala itu, musim semi baru saja tiba dan bunga-bunga bermekaran di sekitar taman.
Wanita itu sesekali menghirup aroma udara dengan kedalaman yang tidak bisa diukur. Taman ini adalah satu-satunya tempat yang tidak tercium aroma pekat dari berbagai jenis obat-obatan yang terkadang membuatnya ingin muntah.
Angkasa di atas sana begitu tinggi dan cerah, pikirnya. Ada banyak kawanan burung yang terbang dengan bebas, menyusuri luasnya langit yang tidak berujung. Tidak seperti dirinya yang harus terus berada di tempat menyebalkan ini sepanjang waktu.
Dia tidak pernah ingin percaya bahwa dia telah tinggal di tempat ini selama dua tahun setengah. Orang mungkin beranggapan bahwa dia adalah mayat hidup yang mendapatkan mukjizat untuk bernapas kembali. Jauh di lubuk hatinya, wanita itu lebih memilih percaya bahwa dia tengah bermimpi.
Ingatan akan kejadian ketika dirinya mengalami kecelakaan kerja mendatanginya samar-samar. Wanita ini ingat betul bagaimana dia terkapar dengan darah bergelambir di sana-sini, yang memungkinkan dirinya akan mati saat itu juga. Dia juga mengingat dengan jelas bunyi percakapan beberapa orang petugas kesehatan yang menanganinya saat itu.
Terkadang, dia berpikir bahwa lebih baik dia mati sekarang daripada harus menanggung kesakitan yang jumlahnya tidak dapat dihitung. Selama periode koma, wanita ini telah menjelajah ke dunia masa lalu, sebuah dunia yang belum pernah dipijaki siapapun dari dunia ini sebelumnya.
Rasa sakit itu muncul ketika dia mengingat setiap momen yang terjadi ketika dia berada di sana. Tentang kehidupan yang keras, konflik yang berkepanjangan, persaingan yang kejam, juga takdir yang tanpa ampun menyiksa siapapun manusia yang terlibat bersamanya.
Wajah dingin yang perlahan berubah menjadi hangat seiring waktu juga datang padanya setiap malam. Ah, wanita ini tiba-tiba sangat merindukan sosok pemilik jubah emas yang sangat agung itu. Tentang bagaimana dia memeluknya, menciumnya, memberinya kehangatan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Bayangan sosok-sosok lain yang turut meramaikan kehidupannya pada masa itu juga ikut datang membayanginya. Terkadang dia marah dan benci ketika ingat bagaimana dia dipaksa pergi dari dunia itu, meninggalkan segalanya tanpa sempat berbicara baik-baik pada mereka semua.
"Hanya mimpi," gumamnya.
Ya, dia lebih suka menganggap semua itu seperti mimpi saja. Sudah berulangkali dia mencoba melupakan itu semua, namun semuanya bagai sudah terpaku di dalam hatinya. Wanita itu tersiksa, tersakiti oleh kenangan-kenangan yang sangat mendalam, menempati seluruh hatinya yang sempit.
"Semoga dia baik-baik saja," ucapnya lagi.
Wanita itu kembali memandangi langit. Kali ini, sekumpulan awan putih lewat perlahan. Orang-orang di sekitarnya, yang mempunyai riwayat sakit di tubuh sepertinya, mungkin tidak akan mengerti tentang rasa sakit yang dialaminya.
Dia tidak hanya sakit secara fisik, luka batinnya jauh lebih parah dari siapapun. Meskipun pemulihan fungsi organ dalam tubuhnya perlahan membaik, namun hatinya tak pernah sembuh. Dia selalu merasa diam dan berhenti di titik yang sama.
Seorang perawat kemudian menghampirinya. Dia tahu ini sudah waktunya untuk pemeriksaan. Setiap hari, petugas kesehatan - para dokter dan perawat akan memeriksanya tiga kali sehari untuk memastikan kondisi tubuhnya.
"Nona, ini sudah waktunya," ucap perawat itu dengan senyum manisnya.
"Ya."
Perawat itu memapahnya kembali ke sebuah ruangan naratama yang sangat luas dan bagus. Dia berbaring, lalu seorang dokter wanita datang bersama beberapa perawat lain. Wanita itu memejamkan matanya, menunggu dan membiarkan orang-orang ini memeriksanya berulang kali.
"Perkembangannya sangat bagus. Nona, jika terus seperti ini, satu minggu lagi mungkin Nona sudah bisa pulang," ucap dokter.
Wanita itu tak bersuara, hanya tersenyum sebagai ungkapan untuk menanggapi perkataan agar dokter itu tidak merasa diacuhkan. Pulang? Ke mana dia harus pulang? Ke mimpinya atau kembali ke dunia lain?
Entahlah. Abu-abu menjadi warna hidupnya sekarang ini. Dia tidak ingin membodohi diri sendiri dengan menaruh harapan apapun. Cukup tidak masuk akal juga bagi wanita moderat sepertinya jika berpikir harapan itu akan terkabul.
"Apakah hari ini sudah cukup? Aku ingin beristirahat," pinta wanita itu pada perawat.
"Aih, sejak kapan aku punya seorang teman seorang artis?"
"Apa Nona ingin menemuinya?"
"Biarkan dia masuk."
Perawat tersebut lalu berjalan pergi. Lima menit kemudian, perawat itu kembali. Di belakangnya ada seorang pria berpakaian ala seorang raja berjalan dengan aneh, menatap ke sekeliling yang mungkin terasa asing baginya.
"Nona, tamu Anda sudah datang."
Jantung wanita itu seperti terhenti pada detik itu juga. Dia menatap pria asing itu dari atas ke bawah. Mahkota itu, jubah itu, juga wajah itu, dia sangat mengenalnya dengan baik!
Apa dia sedang berhalusinasi?
"A-Ling!"
Pria itu tiba-tiba berseru, lalu berlari menghampirinya. Saat jarak mereka sudah terkikis, pria itu langsung memeluknya seperti boneka. Wanita itu mematung, namun tanpa terasa air matanya telah jatuh berulang kali.
"Syukurlah jika kau baik-baik saja!" ucap pria itu lagi.
Dengan terbata-bata dan rasa tidak percaya, wanita itu lantas bertanya, "Apa aku sedang berhalusinasi?"
"Tidak! A-Ling, aku akhirnya menemukanmu!"
"Bagaimana... Bagaimana kau bisa sampai di sini, Yang Mulia?"
"Itu tidak penting. Yang terpenting aku sudah menemukanmu!"
Di dalam ruangan naratama itu, wanita itu menangis tersedu-sedu. Dadanya terasa sesak namun dia sangat bahagia. Meskipun ini mimpi, dia tidak ingin terbangun. Tetapi, sosok yang memeluknya benar-benar nyata.
Keajaiban itu kembali datang kepadanya. Sosok yang dirindukannya datang melintasi dunia untuk menemukannya!
"A-Ling, ayo kita kembali!"
"Kembali? Kau bisa membawaku kembali?"
"Tentu saja! Tidak ada yang tidak bisa kulakukan!"
Wanita itu membalas pelukan pria itu dengan erat. Dia tidak peduli ke mana pria ini akan membawanya. Dia hanya ingin bersama pria ini selamanya, selama-lamanya.
...***...
...Hayooo! Mereka ketemu kan? Bagaimana kelanjutannya? Kita tunggu ya, semoga ada inspirasi untuk season selanjutnya!...