The Legend Of Chunfei

The Legend Of Chunfei
FRAGMEN 87: HAMPIR KALAH



Wei Linglong terdesak.


Kuda yang ditumpanginya mengamuk karena kakinya terkena anak panah musuh. Tubuh gadis itu hampir terjatuh ke lautan darah, namun segera dia seimbangkan tubuhnya yang kecil. Peluh bercampur darah menyatu mengotori seluruh tubuhnya.


Di belakang, Jenderal Yang mencoba menangkis serangan yang dilancarkan secara bersamaan. Pedang sang jenderal menyacar habis kepala dan leher musuh yang semakin merangsek menyerbunya. Satu kali tebasan, lima prajurit musuh langsung tunbang.


Pertempuran seimbang. Lawan dan kawan sama-sama kuat. Malam yang masih panjanh tersebut harus dilalui dengan adegan penuh darah yang begitu mengenaskan jika diceritakan. Namun, meskipun begitu, semangat pasukan terus menggelora.


Lama kelamaan, stamina tubuh mulai menurun akibat bertarung cukup lama. Ditambah lagi, persiapan pasukan kurang karena serangan mendadak. Para prajurit yang lengah telah tumbang satu persatu.


"Nyonya, hati-hati!" teriak Jenderal Yang ketika sebuah pedang hampir menusuk kaki Wei Linglong. Dengan sigap, wanita itu menyingkir hingga pedang tersebut membelah angin.


"Jenderal, di belakangmu!"


Jenderal Yang dan Wei Linglong saling membantu dan saling mengawasi. Malam yang pekat terus bergerak menuju pagi. Banyak pasukan yang gugur setelah bertarung cukup lama.


Situasi didominasi pihak musuh. Wei Linglong dan Jenderal Yang kewalahan melawan pasukan musuh yang begitu bar-bar. Tidak disangka, stamina tubuh lawan lebih kuat dari yang dia duga. Padahal, perang berlangsung di malam hari.


Mereka seperti kuda-kuda liar yang sedang beradu kejantanan. Dalam situasi seperti ini, Wei Linglong tidak bisa membentuk formasi karena pertarungan berlangsung mendadak. Dia berharap pasukan Jenderal Fu segera tiba dan membantu mereka.


Sudah hampir fajar, namun pertarungan di markas utama pasukan Yuan belum berakhir. Meski tanah sudah berubah menjadi sungai darah, namun itu tidak menyurutkan semangat juang. Mereka terus bertahan meski terdesak.


Di detik-detik sulit tersebut, tubuh Wei Linglong sering kehilangan keseimbangan. Dia terjatuh dari kudanya, lalu menangkis serangan sekuat tenaga. Seluruh energinya sudah hampir habis karena stamina tubuhnya menurun dalam waktu cukup lama.


Jenderal Yang yang tubuhnya lebih kuat langsung membantunya. Sang jenderal tidak bisa membiarkan putri sahabatnya mati di medan perang. Bagaimanapun, Wei Linglong tetap harus selamat dan kembali ke istana hidup-hidup. Jenderal Yang tidak peduli pada nyawanya sendiri, karena hidupnya didedikasikan untuk menjaga negara hidup dan mati.


"Nyonya, cepat lari! Carilah tempat tersembunyi dan tunggu Jenderal Fu kembali!" seru sang jenderal.


"Kalau aku lari, bagaimana denganmu?"


"Saya sudah tua. Kalau saya mati, saya tidak menyesal. Nyonya, cepat lari!" Jenderal Yang kembali berseru.


Tidak, Wei Linglong tidak akan lari. Dulu dia memang pengecut karena tidak berani mengambil resiko apapun dalam hidupnya. Tapi di sini, dia telah bertumbuh menjadi gadis dewasa yang sudah tahu cara menempatkan diri.


Kalau dulu dia takut mati, sekarang kematian itu justru seperti teman baginya. Mayat-mayat prajurit kekaisaran yang tergeletak di mana-mana adalah bukti bahwa nilai mereka jauh lebih berharga daripada sekumpulan orang pintar yang mengaku pengabdi negara tetapi selalu berselisih satu sama lain.


Kalau pun dia mati malam ini, dia tidak peduli.


"Aku akan berjuang bersamamu!" seru Wei Linglong.


Dia kemudian melompat menebas leher sekumpulan prajurit yang mengepung Jenderal Yang. Dilihatnya tubuh lelaki itu yang sudah dipenuhi darah. Jenderal Yang adalah jenderal terkuat kedua, tetapi bahkan di pertarungan kali ini justru mendapat banyak luka.


Apakah dulu Murong Qin juga seperti ini saat berperang?


Mungkin, lebih parah dari ini. Dia merindukan pria itu. Namun, tidak ada waktu untuk memikirkannya sekarang. Wei Linglong dan Jenderal Yang saling membelakangi dan saling melindungi, menangkis serangan bersama-sama.


Lama kelamaan, Wei Linglong mulai kehilangan keseimbangannya kembali. Jenderal Yang berkali-kali tersabet pedang. Tubuh Wei Linglong juga tidak jauh berbeda. Hanya saja, mereka tidak bisa menyerah sekarang.


"Jenderal Yang, cari Jenderal Fu! Kalau kau bisa, kembalilah ke ibukota dan laporkan ini pada Yang Mulia. Aku akan menjadi tamengmu!" seru Wei Linglong, namun tubuhnya tidak sekokoh tekadnya.


"Tidak! Yang Mulia tidak akan mengampuni saya jika nyonya tidak kembali!" tolak Jenderal Yang.


"Si bodoh Murong Qin pasti akan mengerti! Jenderal Yang, cepat pergi!"


Jenderal Yang tetap menolak pergi. Dia tidak bodoh, mana mungkin dia meninggalkan seorang wanita di medan perang. Walau dia harus mati, dia rela. Jenderal Yang terus melindungi Wei Linglong tanpa mempedulikan tubuhnya sendiri yang sudah dipenuhi luka.


Lalu, suara jejak ribuan kaki kuda terdengar semakin dekat dari arah selatan. Jenderal Yang dan Wei Linglong tertegun sejenak, lalu mereka melihat cahaya dari obor bergerak menuju markas yang sudah hancur. Dalam bayang-bayang gelap tersebut, banyak ujung tombak dan pedang terlihat samar-samar.


Tidak lama kemudian, pasukan tidak dikenal datang menerobos basis pasukan musuh. Gerakan mereka gesit dan cepat hingga pasukan musuh tumbang dalam beberapa saat. Situasi berbalik menjadi di bawah kendali pasukan asing.


Wei Linglong merasa kalau pasukan asing itu sedang membantunya. Tapi, siapa mereka dan dari mana mereka datang?


Perhatiannya kemudian tiba-tiba tertuju pada sosok gagah perkasa berjubah perang warna putih yang sedang duduk di atas kuda. Kemunculannya tepat setelah pasukan asing itu menyerang pasukan Mongolia. Samar-samar, Wei Linglong melihat bayangan wajah familiar.


"Murong Yan?" gumamnya tanpa sadar.


"Kakak ipar, aku datang!" seru si penunggang kuda.


Murong Yan, si penunggang kuda langsung menyerang pihak musuh. Walau masih belum bisa mencerna apa sebabnya, Wei Linglong meneruskan perjuangannya dalam melumpuhkan musuh bersama Jenderal Yang.


Satu jam kemudian, pertarungan berakhir dengan kemenangan didapatkan oleh pasukan Yuan di bawah pimpinan Jenderal Yang dan Wei Linglong. Pasukan musuh dilumpuhkan berkat bantuan pasukan bawaan Murong Yan. Mereka yang masih hidup dan terluka dijadikan tawanan.


Wei Linglong dan Jenderal Yang bernapas lega. Setelah semalaman bertarung, akhirnya mereka bisa mendapatkan kemenangan. Dengan tubuh lunglai kehabisan tenaga, dia berjalan perlahan menghampiri Murong Yan yang masih berdiri teguh walau bercak-bercak darah mengotori jubah putihnya.


"Murong Yan," ucapnya pelan.


"Kakak Ipar! Kau hebat!"


Wei Linglong tertawa tanpa tenaga. Bahkan di saat seperti ini, adik iparnya masih bersikap santai. Tidak peduli pada keadaan sekitar yang terlihat mengerikan, Murong Yan masih bisa sejenaka itu. Itu membuat Wei Linglong sedikit terhibur.


"Kakak ipar, Ratu Li dan Raja Long sudah mendengar kabar peperangan di perbatasan utara Yuan. Jadi, mereka menyuruhku memimpin pasukan untuk membantumu!" ucap Murong Yan.


"Jadi, pasukan Kerajaan Dongling yang membantuku?" tanya Wei Linglong.


"Ya. Wah, kakak ipar, kau benar-benar bukan wanita biasa!"


Pada saat itu, Jenderal Yang menghampiri keduanya, lalu menyapa Murong Yan.


"Pangeran Kedua, terima kasih sudah membantu kami."


"Aih, jenderal tua, harusnya kau berterima kasih pada kakak ipar karena punya saudara yang sangat baik dari kerajaan lain."


Benar, Jenderal Yang harus banyak berterima kasih kepada Wei Linglong. Wanita tidak biasa tersebut sudah melakukan banyak hal untuk pasukan. Pertarungan malam ini juga tidak akan bertahan jika tidak ada wanita itu.


"Nyonya!"


"Kakak ipar!"


Murong Yan dan Jenderal Yang berteriak bersamaan ketika Wei Linglong ambruk di tanah yang tergenang darah. Jubah perang wanita itu sudah hampir tidak berbentuk. Wajahnya pias.


Wei Linglong terlalu lelah berperang. Dia kehilangan tenaganya dan darahnya. Jenderal Yang dan Murong Yan panik, lalu segera membawa Wei Linglong ke tempat yang aman. Luka-luka di tubuh wanita itu begitu banyak. Pias, kuyu, lusuh, juga kotor.


Fajar menyingsing di ufuk timur, namun Wei Linglong masih tidak sadarkan diri.


...***...


...Haloo pembaca kesayangan Author! Akhirnya Author bisa sempetin waktu buat update. Beberapa hari ini Author belum bisa up maksimal karena ada kegiatan. ...


...Nah, akhirnya bantuan telah tiba! Linglong dapat bantuan nih! Jadi, siapa yang bakal menang di perang besar nanti? Bagaimana keadaan di istana? Stay tune terus ya, sampai jumpa di episode selanjutnya! ...