The Legend Of Chunfei

The Legend Of Chunfei
FRAGMEN 82: HANYA KAMU



Dua hari kemudian, Bu Guanxi kembali membawa kabar mengejutkan yang membuat Murong Qin marah lagi. Sore hari ketika matahari hampir terbenam, sang komandan memberitahukan bahwa pelayan yang dipenjara di penjara rahasia kekaisaran mati menelan racun.


Karena marah, sang kaisar langsung bergegas ke penjara rahasia kekaisaran untuk melihat langsung mayat pelayan itu. Petugas di sana tampak ketakutan karena kaisar mereka datang sendiri dengan wajah sangat garang dan memerah.


Di sel yang letaknya paling pojok, pelayan yang mencoba membunuh Wei Linglong atas perintah Permaisuri Yi terkapar tak bernyawa. Seluruh lubang di tubuhnya mengeluarkan darah. Bau amis langsung menyebar di ruangan lembab itu.


"Perkiraan kematiannya sekitar satu jam lalu, Yang Mulia," Bu Guanxi memberitahu.


"Satu jam lalu? Apa tidak ada petugas yang memperhatikannya?"


"Tidak ada, Yang Mulia."


"Selidiki lagi! Aku ingin penjelasan yang logis!"


Murong Qin juga tidak percaya kalau pelayan ini mati bunuh diri. Sama seperti mantan gubernur Jiangzhou, kalau ingin mati mengapa tidak dari dulu, mengapa harus sekarang. Baginya seseorang telah bertindak membunuh mereka secara terencana.


Mayat pelayan itu langsung dibawa ke Kementrian Kehakiman untuk autopsi. Malam itu, penjara rahasia kekaisaran yang dihuni oleh penjahat kelas atas menjadi ricuh karena dalam satu minggu, dua penjahat mati bunuh diri. Mereka meronta dan berteriak, meminta kaisar mengampuni mereka karena siapa yang tahu, esok atau lusa nyawa merekalah yang melayang.


Lampu-lampu temaram di penjara rahasia kekaisaran membuat suasana di dalam sana tampak menyeramkan. Hanya manusia bermental baja yang tahan melewati malam di sana. Karena itulah, para petugas penjara kekaisaran dipilih dari orang terhebat yang sudah melalui seleksi ketat dan disumpah langsung oleh kaisar.


Citranya baik. Petugas penjara rahasia kekaisaran dikenal sebagai petugas jujur, misterius dan bersih. Namun, berkat dua kejadian ini, citra itu harus lepat karena tampaknya, ada beberapa tikus kecil yang sudah belajar mencuri. Murog Qin berspekulasi bahwa orang yang membunuh pelayan dan mantan gubernur Jiangzhou adalah orang di penjara kekaisaran sendiri.


Murong Qin kembali ke Istana Yanxi dengan langkah gontai. Dia duduk di kursi taman, lalu memandangi langit yang ditaburi jutaan bintang. Purnama masih menggantung, namun hatinya begitu bingung.


Kegalauan seorang raja atau kaisar adalah kegalauan rakyat. Di penghujung musim panas ini, Murong Qin dihujani masalah yang terus menghujam tiada henti. Dia sampai bingung harus menyelesaikannya dari mana karena begitu ia mencoba dari satu sisi, sisi yang lain malah muncul.


"Yang Mulia,"


Murong Qin langsung menoleh ketika suara yang begitu dia kenal memanggilnya. Dari pintu istana, Wei Linglong berdiri dalam balutan hanfu merah jambu. Rambutnya terurai indah. Wanita itu menatapnya dengan khawatir, lalu berjalan menghampirinya.


Wei Linglong duduk di samping suaminya. Murong Qin pasti baru kembali dari penjara rahasia kekaisaran. Tadi sore, Liu Ting datang ke istananya untuk memberitahu semua yang terjadi selama beberapa hari ini, termasuk kematian mantan gubernur Jiangzhou dan pelayan wanita yang mencoba membunuhnya.


Awalnya dia marah karena Murong Qin menyembunyikannya, namun pikirannya langsung jernih begitu dia memikirkan kembali kemungkinan alasan mengapa pria itu membohonginya. Melihat pria yang membuatnya jatuh cinta tampak rapuh sekarang, hatinya benar-benar tidak tega.


"Mengapa Yang Mulia menyembunyikannya? Apa Yang Mulia tidak mempercayaiku?"


"A-Ling, aku hanya tidak ingin kau khawatir."


Dugaannya benar. Pria ini memilih memikul semua bebannya sendirian. Wei Linglong membuatnya menghadapnya, lalu memegang bahu Murong Qin sambil menatapnya.


"Bahu yang kuat ini, kalau bebannya terlalu berat tetap tidak akan bisa dipikul. Bukankah kita sudah berikrar bahwa kita akan melewati semuanya bersama-sama?" tanya wanita itu. Tatapannya begitu dalam.


"Kita sudah melewati banyak hal. Yang Mulia seharusnya tidak menanggung semuanya sendirian. Ada aku, jika bebanmu terlalu berat, bahuku masih kuat untuk meringankannya," tambah Wei Linglong.


"Tidak peduli sesulit apapun itu, kita akan melewatinya bersama-sama. Bahkan jika malam ini langit runtuh dan tiada hari esok, kita harus melewatinya bersama. Yang Mulia, fondasi sebuah hubungan yang sehat adalah kejujuran. Aku tidak ingin Yang Mulia menyembunyikan sesuatu dariku," Wei Linglong menyambung kalimatnya.


Mata setajam elang itu ditatap demikian dalam. Di dunia ini, Wei Linglong tidak mengharapkan apapun lagi selain hidup bersama dengan satu-satunya orang yang dicintainya. Bahkan jika harus mati pun, dia sangat rela selama pria yang dicintainya tidak menderita.


"A-Ling, maaf," ucap Murong Qin pelan.


"Aku tidak bisa mempertahankan nyawa kedua orang itu sebelum kita mengungkap semua kebenarannya," tambahnya lagi.


Wei Linglong menangkup wajah Murong Qin dengan kedua tangannya. Dia memberikan senyuman terbaiknya kepada pria itu, berharap itu bisa sedikit memberinya ketenangan.


"Tidak apa-apa. Kita sudah mendapat pengakuan pelayan itu. Perihal mantan gubernur Jiangzhou, aku yakin langit akan mengemukakan kebenarannya."


Wei Linglong mengecup Murong Qin. Liu Ting dan beberapa pelayan lain langsung menghadap tembok dan memejamkan mata.


"Mari, lepaskan sejenak segala penat dan lelah ini," Kemudian, Wei Linglong mengecup kembali Murong Qin. Kali ini, sedikit bertenaga.


Penguatan itu memberi Murong Qin dorongan yang kuat. Dia membalasnya, lalu mereka saling berebut satu sama lain. Wei Linglong merangsek ke pangkuan pria itu, memberikan akses lebih bebas kepadanya.


Tangan Murong Qin tanpa sadar menyusup ke rok pakaian Wei Linglong, menyentuh kulit mulusnya dan memberikan sedikit sentuhan lembut yang membuat tubuh Wei Linglong bereaksi cepat. Seluruh syarafnya seperti tersengat listrik.


"Yang Mulia, jangan di sini!"


Tidak, tidak boleh di sini. Meskipun Liu Ting dan pelayan menghadap tembok, mereka tidak boleh melakukannya di sini. Terlalu terbuka. Terlalu banyak orang.


Murong Qin tidak peduli. Pria itu menyusupkan wajahnya, menghirup aroma persik yang manis. Lalu, dia menggigiti kain penutup di bagian bahu, menggesernya hingga kulit bahunya terbuka.


"Yang Mulia...."


Murong Qin membawa Wei Linglong ke dalam istana. Liu Ting segera berjaga di depan pintu sementara pelayan-pelayan disuruh kembali ke tempat istirahat. Benar-benar pasangan kaisar dan selir yang sedikit edan. Keduanya selalu berhasil membuat Liu Ting dan bawahan lain memerah wajahnya.


Di tepian ranjang, Wei Linglong asyik bermain bersama Murong Qin. Dia masih berada di pangkuan pria itu, namun pergerakan mereka sudah sangat jauh dari sekadar bercumbu biasa. Pakaian Wei Linglong sudah acak-acakan. Bahunya sudah terbuka dan bagian dadanya sudah melorot.


Selain itu, tangannya juga bergerak membuka tali pengait jubah dan ikat pinggang Murong Qin. Hanya Wei Linglong yang bisa mempermainkannya dan melihatnya sesuka hati.


"A-Ling, hanya aku milikmu dan kau hanya milikku," ucap Murong Qin parau. Wajah yang semula pucat dan murung kini seperti api membara.


"Ya. Hanya kau milikku dan aku hanya milikmu," balas Wei Linglong.


Mereka kembali bermain. Murong Qin melucuti semua pakaian istrinya, begitu pula sebaliknya. Mereka saling mencari satu sama lain, terombang-ambing di samudera luas yang kesekian kalinya.


Semua penat dan lelah hari ini menguap akibat penyempurnaan di peraduan yang mewah itu. Lembut, namun begitu menuntut. Perasaan ini berulangkali datang.


Rasa lelah pikiran dan batin yang melanda selama beberapa hari ini terganti dengan kepuasan yang tiada bandingannya. Lelah itu kini bukan lagi lelah karena menghadapi masalah yang tidak ada habisnya, tapi lelah karena mengarungi samudera di surga dunia yang ombaknya sangat menggelora.


Dini hari yang dingin itu malah begitu hangat untuk sepasang suami istri yang baru melampiaskan seluruh perasaannya.


...***...


Pagi-pagi sekali, Liu Ting sudah ribut dengan seseorang di depan Istana Yanxi.


"Tidak bisa! Yang Mulia masih tertidur!" kata Liu Ting pada orang itu.


"Tapi ini sangat darurat! Kasim Liu, tolong mengertilah. Mohon izinkan aku bertemu dengan Yang Mulia sekarang!" Orang itu tetap memaksa ingin masuk.


"Yang Mulia masih beristirahat. Kembalilah beberapa saat lagi!"


"Tidak bisa! Ada ribuan nyawa yang sedang terancam. Kasim Liu, biarkan aku bertemu Yang Mulia, ini sangat mendesak!"


Suara ribut itu membangunkan Murong Qin. Sang kaisar turun dari ranjangnya, lalu memakai kembali jubahnya. Setelah menyelimuti Wei Linglong, dia berjalan menuju pintu masuk.


"Ada apa?"


...***...