The Legend Of Chunfei

The Legend Of Chunfei
FRAGMEN 66: MEMELUKNYA



Wei Linglong tak pernah mengalihkan perhatian dari Murong Qin. Pria yang tengah berbaring di ranjangnya itu ditatap setiap waktu, berjaga-jaga jika dia tersadar, orang yang dilihat olehnya pertama kali adalah dirinya.


Pria itu sudah tertidur selama dua puluh empat jam. Tabib yang mengobatinya berkata kalau racunnya sudah hilang, hanya saja memerlukan waktu lebih banyak untuk membuatnya sadar. Tabib itu juga meminta Wei Linglong untuk mengganti perban secara rutin.


Semua pekerjaan menjadi tertunda. Itu tidak penting, Murong Qin harus sadar terlebih dahulu.


Wei Linglong ketakutan. Dia takut pria itu tidak akan membuka matanya lagi. Dia lebih takut kalau pria itu tidur lebih lama dan tidak mau bangun. Wei Linglong sudah terbiasa akan kehadiran pria itu. Dia sungguh tidak tahu akan bagaimana jika Murong Qin benar-benar tidak mau sadarkan diri.


Wei Linglong menepis jauh pemikiran buruknya. Hatinya berkata bahwa Murong Qin pasti bangun, dia hanya perlu menunggunya beberapa saat lagi. Tabib istana juga sudah berkata kalau sang kaisar sudah baik-baik saja. Wei Linglong hanya perlu bersabar.


Di luar, hujan di awal musim panas malah turun dengan deras. Ada aroma rumput samar-samar yang tercium bersama aroma tanah kering yang tersiram. Sudah hampir tiga musim, sudah lebih dari setengah tahun Wei Linglong tinggal di sini.


"Murong Qin, ayo bangun! Bukankah kau menyukaiku? Kalau kau benar-benar menyukaiku, ayo buka matamu! Aku akan membuatkan bubur wortel yang banyak untukmu," ucap Wei Linglong sambil menyeka dahi Murong Qin dengan lap basah.


"Aku belum menanyakan apa yang terjadi pada malam itu padamu. Kalau kau tidak bangun, aku bisa mati penasaran. Lihat, sekarang bibirku masih sedikit bengkak," ucapnya lagi.


Wei Linglong sebenarnya malu mengatakan itu. Sebagai seorang wanita dewasa, dia bahkan tidak menyadari kalau dia telah melakukan sesuatu yang mengarah pada perbuatan adegan dewasa bersama pria itu, bahkan berusaha menghindari pertemuan dengan pria itu.


Tapi demi membuat pria itu tersadar, dia terpaksa mengatakannya. Di dunia modern, dokter-dokter di rumah sakit sering bilang kalau seorang pasien yang tidak sadarkan diri boleh diajak berbicara agar terangsang indera pendengarannya. Cara ini mungkin bisa diterapkan pada orang zaman kuno.


"Ayo bangun. Katakan padaku kalau kau menyukaiku. Aku akan menolakmu, bukan karena aku tidak suka. Aku hanya ingin melihat wajah kesalmu saja," ujar Wei Linglong.


Dia duduk di bawah, di lantai yang dingin sambil bersandar. Entah kenapa rasa kantuk tiba-tiba datang menyerangnya. Wei Linglong menguap, lalu menyandarkan kepalanya di pinggir ranjang. Wajahnya menghadap Murong Qin.


Satu jam sudah berlalu. Perlahan, tangan Murong Qin yang semula kaku mulai bergerak. Bulu matanya yang lentik juga bergerak perlahan hingga mata yang setajam elang tersebut terbuka sepenuhnya.


Sang kaisar menolehkan kepala pada sosok wanita yang tertidur pulas di dekatnya. Senyumnya mengembang dan tangan yang masih sedikit lemah tersebut bergerak menyentuh kepala wanita itu, membelai rambut hitamnya dengan lembut.


Pergerakannya membuat Wei Linglong terbangun. Ketika dia melihat mata Murong Qin menatapnya sambil tersenyum, dia seketika bangkit.


"Yang Mulia!"


Wei Linglong langsung memeluk Murong Qin. Murong Qin sempat meringis, namun rasa sakitnya terlalu kecil untuk menyaingi kebahagiaan yang mencuat di hatinya.


Dia selalu merindukan gadis ini. Berhari-hari sudah berlalu namun Wei Linglong tak juga mau menemuinya hingga Murong Qin harus menahan perasaannya. Sekarang melihatnya menjaga dan merawatnya, dia benar-benar merasa bahagia.


"A-Ling, jangan terlalu erat. Aku sesak," ucap Murong Qin.


"Oh, maaf. Aku hanya terlalu senang," tukas wanita itu.


Wei Linglong lantas membantunya untuk duduk.


"Sudah berapa lama aku tertidur?" tanya Murong Qin.


"Satu hari lebih. Lihat, langit bahkan sudah gelap! Untung saja Yang Mulia bangun, kalau tidak, aku sudah akan membuangmu ke Danau Dongting!"


Dari nada bicaranya, Murong Qin tahu kalau wanita itu kesal. Wei Linglong pasti kesal karena dia pingsan terlalu lama. Atau, dia kesal karena khawatir dirinya tidak akan bangun lagi. Murong Qin sangat memahami pemikiran wanita itu.


"Tapi sekarang aku sudah sadar. Katakan, apa yang mau kau ketahui?" tanya Murong Qin.


Wei Linglong tampak menimbang-nimbang. Pria ini baru saja bangun, tetapi sudah memintanya bertanya. Itu artinya dia sudah sembuh.


"Kenapa Yang Mulia bisa terluka?" tanya Wei Linglong.


"Bukankah kau ingin aku bertindak pada Permaisuri Yi?" Murong Qin bertanya balik.


Wei Linglong mengangguk namun sambil mengerutkan kening.


"Aku sedang mencoba mencari rahasia lain dari Permaisuri Yi. Aku menelusuri gudang keluarganya, lalu berjalan ke dalam hutan mengikuti jejak," terang Murong Qin.


"Lalu?"


"Lalu ada beberapa pembunuh datang. Beladiri mereka sangat hebat. Aku tidak membawa senjata, jadi kulawan dengan tangan kosong," tambah pria itu.


"Bodoh! Mana bisa melawan pembunuh dengan tangan kosong? Yang Mulia sudah tidak sayang pada nyawa lagi ya?" gerutu Wei Linglong.


"Bukankah itu membuatmu terus berada di sisiku? A-Ling, kelak kau akan lebih sering merawatku."


"Kenapa aku harus merawatmu?"


"Karena aku Kaisar dan aku adalah suamimu."


Murong Qin memeluk Wei Linglong sekali lagi.


"Sudah, A-Ling. Ayo berbicara hal lain," ucapnya sambil melerai pelukan.


"Aku tidak menemukan apapun pada gudang keluarganya. Permaisuri Yi sepertinya sangat pandai menjaga rahasia. Kita hanya bisa membuat dia mengakui kejahatannya agar bisa mengurungnya," ujar Murong Qin.


"Membuat dia mengakui kejahatannya sendiri?"


Murong Qin mengangguk.


"Itu mudah. Yang Mulia, bagaimana kalau kita mencoba cara ini?"


"Cara apa?"


Wei Linglong lalu membisikkan sesuatu ke telinga Murong Qin. Murong Qin mengangguk tanda mengerti.


"Baik, kita akan mencoba cara ini," seloroh pria itu, menyetujui rencana Wei Linglong.


...***...


Entah siapa yang memulai, tetapi berita mengenai kaisar yang terluka telah sampai ke istana permaisuri.


Permaisuri Yi tampak marah mendengar hal ini. Di istana ini, mengapa kabar sepenting itu baru sampai hari ini? Apa para bawahannya begitu tidak berguna sampai tidak tahu hal seperti ini?


"Yang Mulia, Yang Mulia Kaisar dirawat di Istana Fenghuang," lapor seorang pelayan wanita.


"Istana Fenghuang? Mengapa? Mengapa Yang Mulia pergi ke tempat itu?" tanya Permaisuri Yi sambil menahan emosi.


Tekanan darahnya selalu naik ketika telinganya mendengar Istana Fenghuang atau Selir Chun. Permaisuri Yi sangat membenci wanita itu. Setiap hal yang berhubungan dengannya selalu membuatnya marah.


"Selir Chun merawatnya sepanjang hari. Para pelayan di sana juga tidak diperbolehkan masuk," tambah pelayan itu.


Permaisuri Yi mengepalkan tangan dan menggebrak meja. Ini sudah yang kesekian kalinya dia kalah. Bahkan di saat terluka pun, sang kaisar lebih memilih menahannya dan berjalan menuju istana itu ketimbang kembali ke istananya sendiri?


Permaisuri Yi mendecih. Benar, selama ini dia memang tidak pernah dianggap. Entah apa yang istimewa dari putri Jenderal Yun itu hingga kaisar sendiri pun sampai menyukainya sebegitu dalamnya. Padahal jika dilihat dari latar belakang keluarga dan kecantikan, Permaisuri Yi jelas lebih unggul. Perihal kecerdasan, dia juga unggul. Dia bisa bertarung di harem, menguasai takhta wanita di sana selama bertahun-tahun.


Jika menimbang untung dan rugi, Permaisuri Yi jelas lebih menguntungkan daripada Selir Chun. Wanita itu hanya punya ayah seorang jenderal saja, berbeda dengan keluarganya yang telah menjabat selama beberapa generasi dan sangat kuat.


Sekali saja, sekali saja pria itu memandangnya, maka Permaisuri Yi bisa melakukan apapun untuk membantunya. Jika Murong Qin bersedia mengakuinya, atau menganggapnya, Permaisuri Yi tidak akan jatuh terlalu dalam seperti ini.


Sekarang, hatinya sudah dipenuhi kebencian. Dia mencintai pria itu sangat dalam, namun pria itu bahkan mengabaikannya selama lebih dari tujuh tahun. Sampai sekarang, perasaannya tetap tidak berubah.


"Xiaoyao, apakah aku sangat tidak berguna?" tanya Permaisuri Yi kepada pelayannya.


Xiaoyao yang telah berada di sisinya sejak kecil menggelengkan kepala. Majikannya dibesarkan dengan cara bangsawan dan dididik untuk menjadi permaisuri, mana bisa dikatakan tidak berguna. Pencapaiannya sejak masuk istana begitu gemilang.


"Yang Mulia begitu hebat. Mengapa berkata seperti itu?" tanya Xiaoyao.


"Sayang sekali dia tidak bisa melihatku," jawab Permaisuri Yi dengan dingin.


Setiap kali mendengar perihal Kaisar Mingzhu, majikannya akan terlihat sedih, marah dan senang sesaat, lalu sikapnya berubah menjadi dingin seolah-olah ada tembok es yang tiba-tiba muncul.


Xiaoyao tahu Permaisuri Yi sangat cerdas sejak muda. Majikannya ambisius dan bemimpi besar, dia bisa menggunakan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia suka.


"Bukankah aku lebih suka merusak barang yang aku suka daripada membiarkannya jatuh ke tangan orang lain ketika aku tidak mendapatkannya?" tanya Permaisuri Yi lagi.


Xiaoyao mengangguk.


"Kalau begitu, dia juga tidak akan bisa mendapatkannya."


Ada sebuah pisau yang sangat tajam tersembunyi di balik perkataan itu. Karena dia sudah mengatakannya, itu berarti dia sudah mengambil keputusan dan sudah membuat rencana. Permaisuri Yi tersenyum dingin sambil menyesap aroma tehnya.


"Xiaoyao, sampaikan pesan pada Ibu Suri. Aku ingin membicarakan sesuatu dengannya," perintah Permaisuri Yi.


Xiaoyao mengangguk hormat.


...***...


...Halooo pembaca kesayangan Author! Duh, maaf nih Author nggak update karena ada kesibukan lain. Nanti kalau Author senggang, Author usahain up lagi. FYI, part ini adalah awal konflik dari kisah ini. Permaisuri yang dengki itu nanti akan berulah. So, stay tune terus ya! Sampai jumpa di episode berikutnya! ...