
Bulu mata lentik Wei Linglong bergerak. Kelopak matanya perlahan terbuka. Dia melihat tirai penutup berwarna emas. Beberapa detik setelah kesadarannya berkumpul, Wei Linglong langsung menyadari kalau kamar asing ini bukanlah miliknya, bukan milik Istana Fenghuang karena sejak pertama kali pindah, dia sudah mengganti semua kain emas dengan kain warna-warni.
Satu-satunya hal yang berkaitan dengan warna emas ini hanyalah: Kaisar. Mengingat hal ini, Wei Linglong seketika menolehkan kepala. Matanya membelalak ketika dia melihat wajah Murong Qin begitu dekat dengannya. Pria itu masih terpejam dan tampak sangat tenang.
“Kenapa aku bisa berakhir tidur di sampingnya? Bukankah aku sedang berada di Restoran Yumai?” tanyanya pelan.
Untunglah, tidak ada orang lain di sini. Wei Linglong mendekatkan wajahnya, melihat lebih dekat wajah sosok pria yang membuat hatinya tidak nyaman akhir-akhir ini. Selain tampan dan sangat berkelas, pria ini juga memiliki aura kuat di wajahnya. Ketika alisnya berkerut atau terangkat, itu sudah cukup untuk membuat semua orang lari ketakutan.
“Alis ini begitu hitam. Kalau berkerut atau terangkat, orang-orang bisa lari,” gumam Wei Linglong sambil menyentuh alis hitam Murong Qin.
Gerakan kecil itu membuat pemiliknya terbangun. Murong Qin membuka mata, hal pertama yang dia lihat adalah wajah Wei Linglong yang begitu dekat. Murong Qin menarik sudut bibirnya, lalu menggeliat meregangkan sendi-sendinya.
“Selamat pagi, A-Ling,” sapa Murong Qin.
Wei Linglong seketika mematung.
“Kenapa aku ada di sini?”
“Kau mabuk semalam.”
Wei Linglong langsung meraba pakaiannya. Untunglah, semuanya masih utuh. Dia sungguh tidak bisa membayangkan apa jadinya jika dia melakukan sesuatu bersama Murong Qin ketika dirinya mabuk. Wei Linglong menyesal telah meneguk secangkir arak di Restoran Yumai kemarin.
Murong Qin malah semakin melebarkan senyumnya. Ini masih pagi, tapi sudah ada orang yang membuat suasana hatinya membaik bahkan sebelum dia memulai hari. Dia tahu Wei Linglong pasti berpikiran macam-macam. Kalau wanita itu tahu semalam mereka hampir lepas kendali, Murong Qin mungkin akan ditendang dari ranjangnya sekarang juga.
“Yang Mulia, saatnya menghadiri pengadilan,” ucap Liu Ting dari luar.
“Apa dia berjaga di sana semalaman?” tanya Wei Linglong.
Murong Qin mengangguk. Pria itu bangkit dari tempat tidurnya, memakai alas kakinya lalu berjalan ke balik tirai penutup. Wei Linglong juga ikut bangkit, namun belum berniat turun dari tempat tidur. Wanita itu duduk, mengumpulkan sebagian nyawanya sambil meraba bibirnya yang sedikit membengkak.
Apa dia digigit nyamuk? Apa istana raja terdapat nyamuk?
“Tidak gatal. Tapi kenapa bisa bengkak seperti ini?” tanyanya sambil menekan beberapa bagian.
Tidak ingin memikirkannya lebih jauh, Wei Linglong lalu turun dari ranjang. Wanita itu mengenakan kembali kaus kakinya, lalu mengikuti Murong Qin dari belakang. Di ruangan luas itu, dia duduk di depan Murong Qin yang tengah bersiap menghadiri pengadilan istana pagi ini.
“Ada apa?” tanya Murong Qin ketika melihat wanitanya duduk memegangi bibir.
“Tidak apa-apa. Mungkin ada nyamuk yang menggigit bibirku,” jawab Wei Linglong.
Murong Qin salah tingkah. Dia berdehem untuk mengalihkan kegugupannya.
“Ya, ada nyamuk yang menggigitmu semalam.”
Lalu, pria itu buru-buru mengenakan jubahnya, lalu pergi.
Wei Linglong merasa pria itu begitu aneh. Apa Murong Qin sebegitu gugupnya karena tidur bersama seorang wanita? Ini juga tidak bisa menyalahkan Wei Linglong, siapa suruh pria itu membawanya kemari, bahkan sampai menyuruh Liu Ting berjaga di luar semalaman. Orang yang salah pandangannya mungkin akan mengira kalau Kaisar Mingzhu dan Selir Chun sedang melakukan malam pertama!
Wei Linglong menepis jauh pikiran itu. Kemarahannya pada pria itu tiba-tiba hilang seperti angin. Wei Linglong kini justru merasa kalau semua tindakan pria itu adalah untuk melindunginya, sama seperti yang dikatakan oleh kakaknya. Mungkin, dia yang terlalu banyak berpikir dan terlalu larut dalam kemarahan hingga menelan bulat-bulat akibat dari ulahnya sendiri.
Hari ini dia tidak ingin bekerja. Karena pemilik istana ini sudah pergi, biarkan dia yang menjadi penghuninya sebentar. Wanita itu mengelilingi bagian dalam Istana Yanxi, melihat semua perabotan di dalam sana sambil mengira-ngira berapakah total biaya yang dibutuhkan untuk membangun istana ini.
Kalau istana ini dijual, apakah dia bisa menjadi seorang miliarder?
Wei Linglong tertawa ketika memikirkan itu. Jika itu benar, dia mungkin bisa dipenjara karena menjual aset negara. Dia tiba-tiba menatap sebuah pedang yang digantung di dalam kamar Murong Qin. Pedang itu panjangnya sekitar satu meter. Di ujungnya ada sebuah rumbai berwarna biru yang disulam menjadi bunga di tenganya. Berdasarkan pengamatan, pedang yang tergantung itu seharusnya memiliki berat lebih dari satu kilogram.
“Nyonya, Pangeran Sulung mencari Anda,” ucap seorang pelayan saat Wei Linglong sedang asyik memperhatikan pedang.
“Xiao Yu? Bawa dia masuk!” perintah wanita itu.
Beberapa saat kemudian, Murong Yu masuk ke dalam kamar.
“Bibi, apa kau sedang melihat pedang itu?” tanya bocah kecil itu.
“Ya. Aku rasa dia pedang legendaris. Xiao Yu, bagaimana menurutmu?”
“Itu adalah pedang Lanyin, pedang milik ayahanda sewaktu berperang. Pedang itu sudah tergantung di sana selama lebih dari sepuluh tahun.”
“Mungkin karena ayahmu tidak pernah berperang lagi sejak naik takhta. Tetapi, itu bukan berarti pedang itu akan tergantung di sana selamanya.”
“Bibi, apa kau sedang meramal?”
Wei Linglong mendelik. Bocah kecil ini sungguh bermulut pedas.
“Aku bukan peramal,” ucap Wei Linglong.
“Bibi, aku juga ingin menjadi seperti ayahanda. Aku ingin menjadi ksatria hebat yang melindungi negara, melindungi rakyat, dan melindungi orang-orang terdekatku.”
“Kalau begitu, Xiao Yu harus belajar dengan baik.”
“Bibi, apa kau tahu kalau pedang itu ada sepasang?” tanya Murong Yu. Jarinya menunjuk pedang Lanyin.
“Sepasang? Lalu di mana yang satunya lagi?”
“Master Lan membuat sepasang pedang yang dinamai Lanyin dan Lanhua. Master Lan memberikan pedang Lanyin pada ayahanda, lalu Master Lan menghilang,” ucap Murong Yu.
“Jadi, tidak ada yang tahu di mana pedang Lanhua?”
“Lanyin dan Lanhua adalah sepasang. Kalau ayahanda sudah menerima pedang Lanyin, maka pedang Lanhua mungkin juga akan sampai di istana. Tapi, tidak ada yang tahu kapan pedang itu akan bersanding kembali dengan pedang Lanyin.”
Menarik, pikir Wei Linglong.
Dia hanya tahu kalau pedang seperti itu berada di dunia persilatan saja, bukan di dunia kerajaan biasa seperti ini. Murong Yu memang pintar, bocah itu sudah memberinya informasi yang menarik. Namun, ekspresi bocah itu justru terlihat murung.
“Ada apa, Xiao Yu? Apa ada yang membuatmu tidak nyaman?” tanya Wei Linglong sambil memegang bahu bocah kecil itu.
“Bagaimanapun, Lanyin dan Lanhua adalah pedang. Kalau Lanhua datang, itu artinya datang dengan peperangan. Pada saat itu, ayahanda mungkin akan kembali melumuri Lanyin dengan darah untuk menyambut Lanhua-nya,” jawab Murong Yu.
Ah, benar juga. Pedang sehebat itu mana mungkin muncul tiba-tiba tanpa membawa bencana. Di dunia ini, ada hal yang datang tanpa kebaikan, tetapi bisa begitu menghancurkan. Lanyin dan Lanhua mungkin hanya pedang, tetapi untuk mempertemukan kedua pedang itu kembali, mungkin harus melakukan pengorbanan besar.
Entah bencana yang menyambutnya adalah peperangan atau bencana di istana dan keluarga kerajaan, tidak pernah ada yang tahu. Wei Linglong berpikir sebaiknya pedang itu jangan pernah muncul saja, atau Master Lan bisa membawanya dikubur bersamanya agar tidak ada orang yang mengincarnya.
“Xiao Yu-ku yang pintar, jangan memikirkan hal-hal yang tidak menyenangkan hatimu. Kalau kau mau sehebat ayahmu, kau harus belajar dengan baik. Ingat, umurmu memang baru tujuh atau delapan tahun, tetapi kau istimewa. Situasi dan statusmu khusus, kelak masih ada tanggung jawab besar yang harus kau pikul di pundak kecilmu ini,” ujar Wei Linglong.
Wei Linglong membatalkan ideologinya bahwa seorang anak di bawah umur sepuluh tahun tidak boleh belajar terlalu keras pada Murong Yu. Situasi anak itu khusus, statusnya istimewa. Kelak, dia adalah kandidat paling relevan untuk seorang penerus. Jika tidak belajar dari sekarang, kelak anak ini hanya akan menjadi boneka dan diperalat orang.
“Aku selalu rajin belajar. Aku juga sudah membaca banyak buku. Bibi, aku akan menjadi pelindungmu dan ayahanda!” seru bocah itu berapi-api.
Wei Linglong mengusap rambutnya dengan lembut. Rasa kepercayaan diri yang begitu tinggi ini pasti menurun dari ayahnya. Murong Yu memang sudah mulai berpikir dewasa. Bocah kecil yang dulu menemuinya hanya untuk menanyakan tomat sekarang sudah menjadi seorang anak yang punya pemikiran dalam dan matang. Bakatnya tidak biasa.
“Oh, bibi, kenapa kamu menginap di istana ayahanda?” tanya bocah itu tiba-tiba.
“Aku juga tidak tahu,” jawab Wei Linglong jujur.
“Apa terjadi sesuatu semalam?”
Wei Linglong menggelengkan kepala.
“Tapi, kenapa bibir bibi bengkak?”
“Mungkin digigit nyamuk.”
“Itu bukan gigitan nyamuk, tapi gigitan manusia!” ucap Murong Yu polos. Bocah itu pernah mendengar teori tentang hal semacam ini dari seorang guru.
“Gigitan…manusia?”
Wei Linglong terduduk lesu. Apa yang dia dan Murong Qin lakukan semalam?
...***...
...Hallo pembaca kesayangan Author! Hihi, kemarin Author kasih up tiga karena Author absen update dua hari gara-gara lagi sibuk, hari ini pun Author update malam-malam karena baru selesai. Nah, apapun alasannya, Author tetap bakal lanjutin cerita kok sampai tamat, enggak akan digantung karena Author tahu para pembaca enggak suka digantung (apalagi digantungin sama ayang). ...
...Ya, episode ini akan jadi awal menuju konflik utama. Penasaran? Stay tune terus ya! ...