
Akhir musim panas di kekaisaran Dinasti Yuan berlangsung dalam dekapan panas para penghuninya. Manusia-manusia pada abad ini sangat suka menghabiskan waktu di tempat hiburan, menikmati musik dan arak ditemani wanita cantik. Tidak jarang, mereka terlena dan berakhir dalam buaian yang pada akhirnya menjerumuskan mereka ke jurang yang sangat dalam.
Hari ini, Wei Linglong keluar istana seorang diri. Berada dalam penyamaran, wanita itu keluar masuk beberapa restoran untuk mencari informasi. Selain restoran, dia juga pergi ke beberapa bangunan lain yang sekiranya menjadi tempat pertukaran kabar dari seluruh daratan Dinasti Yuan.
Ini dilakukannya untuk menyelidiki kasus hilangnya para pemuda di beberapa wilayah. Penculik misterius masih belum terkuak beserta motif penculikannya. Jika memang diculik untuk dijadikan penghibur di rumah musim semi, maka yang diculik tentu hanya pemuda tampan dan bertubuh bagus serta memiliki bakat musik yang baik.
Namun, beberapa hari ini dia mendapat kabar bahwa setelah para pemuda yang menjadi pelajar di Akademi Kerajaan hilang, beberapa tuan muda lain dan para pekerja di beberapa tempat juga menghilang tanpa jejak. Penculik gaib ini sangat mahir menyembunyikan jejak hingga petugas keamanan tidak bisa mengetahuinya.
Di restoran yang berada di ujung kotalah saat ini Wei Linglong berada. Dalam setelan pria tampan, dia duduk manis di kursinya sembari menikmati pemandangan yang ada di bawahnya. Dia ingin tahu apakah ketika dia menyamar menjadi pria, akan ada orang yang menculiknya atau tidak.
Mengumpankan diri sendiri, memang benar-benar pengawas rahasia kesayangan kaisar.
Wei Linglong agak terusik dengan pembicaraan beberapa wanita muda di belakangnya. Tadi, mereka membicarakan dirinya, kemudian topiknya berubah ke sebuah hal yang menurut Wei Linglong sangat aneh.
"Dinasti kita sepertinya sedang tidak baik-baik saja," ucap seorang wanita muda berbaju hijau.
"Kenapa kau berkata begitu?"
"Beberapa waktu lalu, pengadilan istana digemparkan dengan kasus penculikan para pemuda berbakat. Hari ini, aku melihat beberapa nyonya bangsawan menabuh gendang keadilan di kantor kehakiman. Katanya, putri-putri mereka hilang tanpa jejak," kata wanita muda tadi. Temannya langsung terkejut.
"Maksudmu, sekarang penculiknya juga mengincar wanita?"
Perempuan berbaji hijau mengangguk. Tampaknya, dia juga mulai ketakutan.
Wei Linglong tertegun sesaat untuk mencerna apa yang sedang terjadi. Berdasarkan perkataan wanita muda itu, itu artinya penculik misterius tersebut benar-benar berhati jahat dan bermaksud ingin menghancurkan Yuan. Jika hanya ingin mendapat keuntungan, menculik pria sebanyak itu sudah sangat cukup.
Kasus penculikan pemuda saja belum menemui titik terang, sekarang justru malah muncul masalah baru. Wanita muda di belakangnya mengatakan bahwa wanita yang diculik rata-rata berusia 16 hingga 21 tahun dan semuanya belum menikah.
"Keparat sialan!" umpat Wei Linglong pelan. Dia mengepalkan lengannya hingga buku-buku jarinya memerah.
Situasi itu membuatnya sangat marah. Murong Qin pasti sedang kesulitan sekarang. Para menteri yang mengetahui ini pasti sedang mendesaknya menemukan solusi agar permasalahan aneh ini tidak membesar dan meluas ke wilayah lain.
Wei Linglong kemudian pergi dari restoran. Dia mendatangi kantor hakim setempat untuk mencari informasi terkait kasus aneh tersebut. Sang hakim menolaknya keras, hingga memancing kemarahan Wei Linglong. Wanita itu langsung mengeluarkan token emas kaisar yang menandakan bahwa dia adalah petugas istimewa.
"Sekarang, apa kau bisa memberitahuku, Tuan Hakim?" tanya Wei Linglong dengan nada tinggi.
Hakim tersebut gemetar. Tidak disangka pemuda yang tidak seperti pemuda ini memiliki aura menakutkan dari seorang wanita yang marah.
"Ke-kebanyakan adalah nona muda dari kediaman bangsawan. Me-mereka belum menikah dan umurnya masih belia," jawab hakim.
"Berapa orang yang hilang?"
"Hari ini totalnya ada tiga puluh orang, Tuan."
Wei Linglong berusaha menyembunyikan kemarahannya.
"Ada lagi?" tanya Wei Linglong.
"Kejadiannya berlangsung malam hari ketika penjagaan di kediaman para bangsawan tidak ketat. Penculiknya tidak meninggalkan jejak apapun. Selain pelayan dan barang, penculiknya hanya menginginkan nona muda. Tidak mengambil yang lain lagi," tutur sang hakim.
"Baik. Hari ini jangan katakan pada siapapun kalau kau bertemu denganku!"
Usai mengatakan itu, Wei Linglong meninggalkan kantor hakim dengan langkah kesal. Dia kembali ke istana memakai kereta rahasia tanpa bendera. Tanpa sadar, seseorang telah memperhatikannya dari kejauhan.
...***...
Pria itu sedang duduk di kursi kerjanya sembari memegangi kepala dengan kedua tangan. Saat tahu wanita tercintanya datang, dia segera bangkit untuk menyambutnya. Namun, belum lima langkah, Murong Qin sudah hampir ambruk.
"Yang Mulia!" seru Wei Linglong panik.
Tubuh suaminya itu dipapah kembali ke kursi. Wajahnya begitu pucat. Wei Linglong yakin kalau Murong Qin sedang tidak baik-baik saja. Ekspresi dingin ketika di luar dan hangat ketika mereka hanya berdua tidak lagi dia temukan hari ini.
"A-Ling, syukurlah kau baik-baik saja," ucap Murong Qin.
"Apa maksud Yang Mulia? Aku justru khawatir pada kondisimu saat ini! Apa yang terjadi?"
Murong Qin hanya tersenyum. Melihat senyuman itu, hati Wei Linglong terasa sakit. Senyuman yang terlihat tulus namun tidak begitu di matanya. Di senyuman itu, ada banyak tekanan dan kegalauan yang dipaksa ditutupi.
Mungkinkah seorang kaisar memang seperti ini, tersenyum di saat keadaan tidak baik-baik saja?
Wanita itu mencoba menenangkannya. Wajahnya yang lesu jelas menunjukkan bahwa sesuatu telah terjadi di pengadilan istana. Itu pasti ulah para menteri yang ingin berkhianat padanya.
"Aku baik-baik saja. A-Ling, bagaimana hasilnya?" tanya Murong Qin setelah berusaha menenangkan diri. Dia melihat wanitanya menghela napas.
"Tidak ada hasil. Kasus itu tetap gelap. Sekarang justru bertambah kasus baru," jawab Wei Linglong.
"Kasus baru?"
"Bukan hanya pria, sekarang wanita muda pun jadi korban. Yang Mulia, aku rasa ini tidak sederhana, bagaimana menurutmu?"
Ekspresi Murong Qin berubah semakin pucat.
"Kau benar, ini aneh. Para menteri juga mengungkitnya."
"Aku mungkin melewatkan sesuatu. Oh ya, apakah dari Istana Dalam ada pergerakan akhir-akhir ini?" Wei Linglong mencoba mencari tahu. Murong Qin menggelengkan kepala.
"Ibu Suri dan Permaisuri Yi patuh di dalam istana. Pengaturan di Istana Dalam juga berjalan lancar. Tidak ada yang mencurigakan."
Aneh, pikir Wei Linglong. Diam seperti itu bukanlah gaya kedua wanita itu. Terutama Permaisuri Yi. Sang permaisuri biasanya akan langsung mencari perhitungan dengannya, apalagi setelah dia bebas dari hukuman. Ibu Suri juga. Tidak biasanya perkutut tua itu diam tanpa melakukan apa-apa.
Apa mereka sudah bertobat?
Entahlah. Semuanya belum pasti. Semua situasi ini terlalu aneh. Terlalu banyak kasus yang misterius. Dengan kemampuan Kementrian Kehakiman beserta Kementrian Hukum dan Keamanan, mustahil jika kasus seperti ini tidak terselesaikan. Kecuali, ada orang di dalam sana yang ikut terlibat.
"It's okay, Your Majesty. Aku yakin kita dapat melewati ini," ujar Wei Linglong sembari memegang tangan Murong Qin.
Melihat itu, perlahan wajah Murong Qin mulai membaik. Kehadiran Wei Linglong membuatnya memiliki semangat untuk bangkit. Ini memang bukan pertama kalinya terjadi. Di setiap momen mengesalkan ini, dulu dia tidak punya siapapun untuk berkeluh kesah. Kini, di sisinya ada Wei Linglong. Dia bisa berbagi apapun kepadanya.
Diangkatnya wajah cantik itu, lalu diciumnya bibir manis itu. Semua gundah gulana di hati Murong Qin serasa menguap terbawa angin musim panas. Wei Linglong membalasnya. Keduanya larut dalam pergulatan beberapa saat.
Di dekat pintu, Liu Ting dan Bu Guanxi berdiri menghadap tembok. Mereka tidak punya nyali untuk melihat keromantisan kaisar dan selirnya. Perlahan wajah mereka memerah. Meskipun tidak melihat, mereka tahu apa yang sedang dilakukan oleh kaisar mereka dengan selirnya.
Kedua abdi setia itu tidak bisa pergi sebelum kaisar menyuruh mereka. Yang malu di sini adalah mereka. Kaisar memang hebat, dia bisa melakukan apapun yang dia suka di situasi dan tempat apapun. Di sini, Bu Guanxi dan Liu Ting seperti nyamuk.
"Kasim Liu, aku tidak melihat apapun," ucap Bu Guanxi sambil memejamkan mata.
"Aku juga tidak melihat atau mendengar apapun, Komandan Bu."
...***...