
Beberapa hari kemudian.
“Berapa hari yang aku punya untuk keluar dari sini?”
Permaisuri Yi bertanya pada Xiaoyao perihal sisa masa kurungannya. Sang permaisuri sudah mendekam di dalam istananya akibat hukuman itu. Kemarahannya tidak pernah hilang, hanya saja dia sangat pandai menyembunyikannya. Di istananya, Permaisuri Yi seperti seorang tahanan yang hanya bisa melihat cahaya matahari lewat jendelanya.
“Tersisa 18 hari lagi, Yang Mulia. Setelah itu Yang Mulia Permaisuri bisa keluar dari istana,” jawab Xiaoyao.
“Kudengar, dua ratus orang pejabat dari klan Lan dan Nona Kekaisaran ditangka, benar?” tanyanya lagi.
Xiaoyao tidak bisa tidak terkejut. Tidak disangka, meskipun majikannya terkurung di dalam istana, dia masih bisa mengetahui informasi penangkapan dua ratus orang pejabat pemerintah. Xiaoyao benar-benar kagum karena majikannya selalu tampil cerdas dalam situasi apapun.
“Benar, Yang Mulia. Semuanya sudah masuk ke penjara Kementrian Kehakiman dan Kementrian Hukum,” jawab Xiaoyao.
“Sampah-sampah itu sudah tidak berguna. Xiaoyao, kau tahu apa yang harus kau lakukan.”
Xiaoyao mengangguk mengerti. Pelayan tersebut undur diri untuk melakukan pekerjaannya. Sebagai seorang pelayan dari seorang permaisuri, Xiaoyao adalah kaki tangan, mata dan telinga dari Permaisuri Yi yang melakukan apapun sesuai perintah dari majikannya. Dia mengerti banyak hal, sehingga tanpa dikatakan dengan jelas pun dia sudah tahu maksud dari perkataan Permaisuri Yi.
Pelayan tersebut mengeluarkan sebuah kotak kayu dari dalam lemari, lalu membawanya ke halaman belakang istana. Di sana, dia membakar kotak kayu tersebut. Setelah pekerjaannya dirasa selesai, Xiaoyao kembali ke dalam istana untuk menemani majikannya lagi.
“Siapapun pengawas rahasia itu, aku pasti akan menghancurkannya!” ucap Permaisuri Yi.
“Yang Mulia, hari ini Selir Chun datang ke Istana Dalam dan memanggil semua Nona Kekaisaran keluar,” ujar Xiaoyao.
“Untuk apa dia datang?”
“Hamba tidak tahu, tetapi Selir Chun datang atas perintah Yang Mulia Kaisar.”
Permaisuri Yi memejamkan mata sesaat. Aroma dupa yang dibakar di dalam istananya tak lagi memberinya rileks. Otak sang permaisuri kemudian memberikan sinyal bahwa dia harus bertindak cepat selagi wanita itu ada di sini. Ketika Wei Linglong tidak ada di sisi Murong Qin, ini mungkin menjadi kesempatan yang bagus untuknya.
“Yang Mulia, hamba sudah meminta bawahan kita di Istana Yanxi untuk melakukan tugasnya. Ini adalah kesempatan bagus untuk Yang Mulia Permaisuri,” kata Xiaoyao.
“Ya. Kau melakukannya dengan baik. Aku akan mempersiapkan diri terlebih dahulu.”
Setelah itu, Permaisuri Yi bersiap mengganti pakaiannya.
...***...
Di halaman Istana Dalam yang sangat luas dan asri, Wei Linglong berdiri menantang bahaya. Dia mengumpulkan tujuh puluh orang Nona Kekaisaran di tengah halaman, menyuruh mereka untuk berbaris rapi.
Para Nona Kekaisaran yang tidak terbiasa berada di luar ruangan mendengus kesal dan berbicara omong kosong karena mereka diganggu oleh seorang selir dari Istana Fenghuang.
Meskipun status selir sebenarnya lebih tinggi dari Nona Kekaisaran sehingga mereka harus hormat, namun jika yang datang adalah Selir Chun, itu semua tidak berlaku.
Para Nona Kekaisaran ini tahu kalau Selir Chun adalah wanita yang berhasil menarik perhatian kaisar mereka sehingga mereka membencinya. Jika bukan karena pelat perintah kaisar ada di tangan Selir Chun, para Nona Kekaisaran ini sangat malas sekali bertemu dengannya.
Ada yang menarik di sini. Tidak semua Nona Kekaisaran berwajah centil, ada juga yang berwajah biasa saja. Di antara mereka yang mengeluh hari ini, ada beberapa orang yang terlihat panik. Wei Linglong tersenyum kecil, aksinya sudah saatnya dimulai.
“Selir Chun, apa maksudmu?” tanya Nona Berbakat Qi.
“Benar. Untuk apa kau mengumpulkan kami di sini?” tanya yang lain.
“Apa kau ingin pamer karena Yang Mulia menyukaimu?” tanya yang lain.
Wei Linglong menggeleng sambil tersenyum.
“Kau salah, Nona Zhang. Aku di sini untuk menyelesaikan tugas,” jawab Wei Linglong.
Tujuh puluh orang Nona Kekaisaran di halaman itu ribut. Mereka bertanya-tanya tugas apa yang sebenarnya sedang diemban oleh wanita di depan mereka. Para nona ini lebih suka orang yang berterus terang, tidak bertele-tele seperti yang dilakukan oleh Wei Linglong. Membuang-buang waktu.
“Beberapa hari yang lalu, dua ratus pejabat pemerintah ditangkap karena berbuat curang dalam pekerjaan mereka. Aku di sini untuk menyelesaikan tugas dari Yang Mulia, agar aku bisa memberitahu kalian siapakah di antara kalian yang ikut terlibat. Ya, meskipun Yang Mulia memang meminta pengawas rahasia untuk menyelidikinya, aku yang menyelesaikan akhirnya,” terang Wei Linglong panjang lebar.
Para nona saling pandang. Jadi, di antara mereka ada yang terlibat dalam kejahatan itu? Mereka memang mendengar kalau dua ratus orang di dua belas kementrian ditangkap dan dipenjara. Namun, mereka tidak mengira kalau mereka yang ditangkap ternyata ada hubungannya dengan keberadaan Nona Kekaisaran yang hidup berdampingan di Istana Dalam.
“Jadi, apakah di antara kalian ada yang ingin menyerahkan diri terlebih dahulu?”
Dari kejauhan, Ibu Suri tampak sedang berjalan dari Istana Tian Yue menuju halaman tempat semua orang berkumpul. Pelayan di sisinya membantunya berjalan sambil mengangkat ekor jubahnya yang panjang. Ekspresi wanita tua itu begitu menyeramkan dengan tatapan mata tajam.
“Lancang! Selir Chun, apa kau benar-benar tidak tahu aturan?” tanya Ibu Suri ketika dia sampai di depan Wei Linglong.
“Hormat kepada Yang Mulia Ibu Suri,” ucap para Nona Kekaisaran serentak.
“Yang Mulia Ibu Suri yang terhormat, aku tidak berani. Aku sungguh tidak ingin ribut. Aku datang untuk melaksanakan tugas khusus dari Yang Mulia dan pengawas rahasia,” jawab Wei Linglong.
“Tugas apa?”
“Membawa nona-nona ke penjara!” seru Wei Linglong seperti orang gila.
“Kurang ajar! Berani kau!”
“Tunggu, Ibu Suri. Aku sungguh hanya menjalankan tugas. Aku diutus untuk menangkap beberapa nona kekaisaran yang terlibat kejahatan dengan dua ratus orang pejabat pemerintah yang sudah ditangkap kemarin. Apakah Ibu Suri ingin menghalanginya?”
Mendengar hal tersebut, Ibu Suri langsung terdiam. Dadanya bergemuruh karena marah. Kemarin, dia sudah cukup marah karena para pejabat yang ditangkap tidak bisa mengendalikan napsu keserakahan hingga pengawas rahasia menemukan celah dan menangkap mereka. Tidak disangka, hari ini dia harus kembali marah karena penyelidikan pengawas rahasia sudah sampai ke anggota Istana Dalam yang dia jaga separuh hidupnya.
“Daftar namanya ada di sini,” ucap Wei Linglong. Tangannya mengangkat tinggi-tinggi sebuah buku laporan yang cukup tebal. Semua orang di halaman itu bisa melihatnya.
Wei Linglong kemudian membuka buku tersebut. Di bawah matahari musim panas di sore hari, dia membacakan isi laporan dengan suara lantang. Lalu, Wei Linglong menyebutkan nama-nama Nona Kekaisaran yang tertulis dalam buku laporan, kemudian meminta mereka maju ke depan.
Keringat dingin bercucuran di tubuh para wanita yang namanya terpanggil. Cemas dan panik, itulah yang mereka alami. Para wanita ini juga ketakutan hingga tubuh mereka sedikit bergetar. Wei Linglong menatapnya, lalu beralih menatap Ibu Suri yang berdiri tak jauh darinya. Jemari wanita tua itu menggenggam ujung bajunya hingga kusut.
“Selir Chun, aku tidak bersalah! Yang Mulia, aku difitnah!” ucap seorang nona di barisan paling depan.
“Aku juga tidak bersalah! Pejabat jahat itu sama sekali tidak ada hubungannya denganku!” ucap yang lain.
Seketika, mereka yang dipanggil ke depan mengatakan hal yang sama hingga ribut. Nona yang lain memandang jijik pada mereka, namun ada juga yang berekspresi tidak percaya. Wei Linglong menghela napas. Sudah seperti ini, apa masih berguna jika mengaku tidak bersalah? Mengapa tidak dari dulu mereka mengatakannya?
“Bersalah atau tidak, kau tidak bisa mengatakannya sendiri. Komandan Bu, serahkan hasil temuannya!”
Dari belakang barisan, Bu Guanxi bersama adiknya, Bu Xiandi berjalan dengan gagah bersama para prajurit kekaisaran yang lain. Mereka membawa beberapa barang yang berasal dari istana kediaman para Nona Kekaisaran. Wei Linglong menyuruh mereka menggeledah istana para nona yang namanya ada di dalam daftar selagi dia memeriksa mereka.
Barang-barang tersebut adalah buku catatan transaksi, daftar barang, daftar hadiah dan beberapa benda berharga lain yang dicurigai sebagai benda hasil transaksi korupsi para pejabat dengan mereka. Wei Linglong membukanya satu persatu, lalu menunjukkan pada mereka.
“Nona Zhang, kau masuk ke istana setelah membunuh kakakmu. Kau menyuap petugas seleksi dengan sejumlah uang agar kau bisa masuk ke istana. Nona Zhang, apa kau mengakuinya?”
Wanita yang disebut Nona Zhang menunduk.
“Nona Bijaksana Lin, kau membantu ayahmu menutupi korupsi pajak rakyat dan menerima keuntungan dari Kementrian Perpajakan. Apakah kau mengakuinya?”
Sama seperti Nona Zhang, wanita yang disebut Nona Bijaksana Lin juga menundukkan kepala.
“Nona Mulia Xue, kau menutupi kasus pembunuhan seorang pejabat di Kementrian Kehutanan untuk menyelamatkan ayahmu yang menjadi tersangka utama. Apa kau mengakuinya?”
Ibu Suri menggeram marah. Wanita-wanita yang dipelihara di Istana Dalam benar-benar bodoh. Mereka benar-benar tidak bisa menjaga rahasia dan bertindak cerdas setelah bertindak licik sampai tidak bisa menutupinya. Mereka juga tidak bisa melawan dengan tegas dan hanya pasrah ketika kejahatan mereka terbongkar. Sekumpulan manusia tidak berguna ini tidak bisa ditolong lagi.
Wei Linglong terus menerus membacakan jenis kejahatan yang dilakukan oleh para nona di hadapannya dan mengaitkannya dengan pejabat yang ditangkap kemarin. Hasilnya, ada tiga puluh Nona Kekaisaran yang terlibat dengan bukti konkret yang tidak terbantah.
“Bawa mereka ke penjara!” perintah Wei Linglong.
Tiga puluh wanita diiring ke penjara Kementrian Kehakiman dan Kementrian Hukum untuk diadili bersama dua ratus pejabat pemerintah yang bersalah. Masa depan mereka sudah hancur. Tiga puluh orang ini tidak akan bisa menginjakkan kaki di istana atau menjadi wanita raja lagi karena nama baik mereka sudah tercoreng. Tiga puluh orang wanita ini telah kehilangan masa-masa emas mereka di dalam Istana Dalam.
Ibu Suri tidak bisa menghentikan mereka. Semua itu karena kesalahan mereka yang terlalu bodoh. Ibu Suri ingin memprotes mengapa tugas hukum seperti ini diberikan kepada seorang selir, yang tentu saja tidak sesuai dengan aturan istana.
Namun, setelah pelayannya memberitahu bahwa Selir Chun datang atas perintah kaisar, Ibu Suri mengurungkan niatnya. Saat ini, Permaisuri Yi sedang dikurung di istananya, dia tidak boleh menambah masalah lain dengan menentang utusan kaisar.
Wei Linglong masih berdiri di halaman untuk melihat reaksi empat puluh orang wanita yang tersisa. Setelah kejadian ini, dia berharap tidak ada wanita istana lain yang terlibat kejahatan serupa. Saat dia membalikkan badan, Wei Linglong tiba-tiba melihat Xiaoyao yang baru datang dari gerbang Istana Dalam. Sepertinya, pelayan itu baru saja kembali dari luar.
“Xiaoyao?” tanya Wei Linglong.
Menurut aturan, jika majikan dihukum, pelayannya juga dihukum. Mengapa Xiaoyao bisa ada di luar?
Xiaoyao tampak sangat terkejut. Semua mata memandang ke arahnya.
“Gawat!” seru Wei Linglong.
Tanpa mengindahkan para wanita yang masih berbaris, Wei Linglong langsung berlari keluar dari komplek Istana Dalam dengan panik.
...***...
...Waduh, kayaknya permaisuri kabur nih! Ayok bantu Author menangkap Permaisuru Yi!...